"Saya suka cari aman dalam bersosialisasi. Intinya pas banget dengan
ceritanya Mas Hendri. Cuma saya belum bisa berinisiatif untuk keluar dari
zona nyaman. Saya tidak tahu bagaimana memulainya. Ada perasaan geli dan
canggung kalau saya memaksakan diri untuk bersosialisasi dengan teman-teman
atau orang sekitar. Mungkin mas bisa ngasih kesan awal-awal peralihan yang
bisa mengubah pribadi seseorang dari introvert ke extrovert?"


Berikut isi surel -yang aku bahasakan ulang- dari salah satu sobat
Kompasiana (saya sebut saja Bung R) sebagai respon atas tulisanku yang
berjudul "Introvert yang Memberontak"
<http://www.kompasiana.com/hendribun/introvert-yang-memberontak_55fbd2dc187b61af07674d08>.
Sebuah pertanyaan menarik yang mungkin muncul juga di batinku saat aku
masih seorang introvert yang belum beradaptasi. Aku tidak tahu seberapa
banyak sobat yang punya pertanyaan serupa. Kalau pun tidak ada, aku merasa
harus menulis artikel ini -paling tidak- untuk menjawab surel-nya Bung R :)

Pertama, ijinkan aku untuk mengapresiasi Bung R atas niatnya (atau kalau
boleh aku bilang keberaniannya) mengirim surel dan bertanya. Kenapa? Karena
tindakan tersebut sudah merupakan modal yang berharga baginya untuk mulai
membuka pintu bersosialisasi. Aku menduga ada sobat lain yang sebenarnya
ingin menanyakan hal yang sama -atau gak ada ya? Aku yang terlalu geer saja
:)- tetapi mereka tidak berinisiatif melakukannya. Jadi kalau Bung R sudah
meniatkan diri mengirimkan email, that's a great move to change. Karena ada
teori yang mengatakan bahwa kalau kita ingin mengubah sesuatu (terlebih
kebiasaaan), segala sesuatu harus dimulai dengan adanya niat (intensi).
Setuju?

Selanjutnya setelah ada niat, apa yang bisa dilakukan? Jawabannya sederhana
: SPEAK UP!

Sebuah niat atau tekad atau resolusi kalau tidak diekspresikan sama saja
dengan tidak melakukan apa-apa. Setuju dengan pernyataan itu? Hal ini
berlaku juga bagi seorang intorvert yang ingin beradaptasi ke arah
ekstrovert. Memang benar kalau ada rasa enggan, malas, canggung, atau risih
ketika kita melakukan sesuatu di luar kebiasaan kita. Tapi kalau kita tidak
memulainya, bisa dipastikan niat tersebut perlahan tapi pasti padam.
Akhirnya perubahan tidak terjadi.

Kalau begitu, untuk melakukannya harus mulai dari mana?

Kalau aku boleh usul, mulai dengan perbanyak mengobrol dengan orang lain.
Wah ... usul yang sepele bukan? Iya bagi mereka yang ekstrovert. Tetapi
bagi introvert, mengobrol adalah sebuah kegiatan yang 'menakutkan'. Atau
kalau aku perhalus bahasanya, mengajak orang lain mengobrol, apalagi dengan
orang baru, bagi orang introvert adalah sebuah ketidaknyamanan.

Lantas, apakah ada tips untuk itu? Jawabannya pasti ada. Namun sebelum aku
beberkan tipsnya, pernahkah sobat melihat atau berada dalam kondisi seperti
ini?

Sebutlah ada dua orang yang baru berkenalan dalam suatu pertemuan. Setelah
'berkenalan' dengan menyebutkan sejumlah data utama seperti nama, tinggal
di mana, kerja di mana, dll ... suasana tiba-tiba menjadi hening
sehening-heningnya. Apa pasal? Yup. Mereka tidak tahu harus ngobrol apa
lagi alias kehabisan bahan bicara. Alhasil keduanya akan sama-sama
mengheningkan cipta sambil berharap lawan bicaranya mulai mengajukan topik
bicara.

Nah, orang-orang seperti apakah yang sering mengalami kejadian di atas?
Sepengamatanku kebanyakan dari mereka adalah orang belakang layar (konteks
perusahaan kami menyebutnya orang back office). Dan kalau menarik benang
merahnya lebih jauh, tipe apakah mayoritas orang back office? Yup.
Introvert.

Tempatku bekerja mendesain satu program pelatihan komunikasi yang dibingkai
dengan tema "Speak Up and Be Counted". Sasaran dari pelatihan ini adalah
membantu orang yang menghadapi kendala dalam berkomunikasi untuk mahir
berbicara dalam berbagai situasi sehingga mereka bisa diperhitungkan, baik
dalam dunia kerja maupun sosial. Dasar pemikiran adanya program ini juga
karena ada riset yang mengatakan bahwa kemajuan karir seseorang sangat
ditentukan oleh seberapa luwes orang tersebut dalam berkomunikasi. Sehingga
kalau berbicara training pengembangan diri, tema komunikasi adalah tema
abadi yang dibutuhkan oleh banyak orang.

Nah, salah satu bagian yang dieksplore di awal-awal pelatihan Speak Up and
Be Counted adalah bagaimana berkenalan dengan orang baru. Tidak sebatas itu
saja, pelatihan ini juga memberikan sejumlah tips untuk mampu
mempertahankan pembicaraan sehingga suasana kaku dan canggung bisa
diminimalisasi. Aku pikir tips ini akan berguna bagi orang introvert dalam
melawan ketidaknyamanan mereka dalam bersosialisasi dengan orang lain.

Nah, ijinkan aku akan share 5 tips yang dianalogikan dengan simbol-simbol
(dalam dunia training metode ini dikenal dengan Stacking). Siap untuk itu?

Pertama, bayangkan di lantai ada sebuah kartu nama raksasa ukuran 2x3
meter. Kemudian di atasnya diletakkan sebuah jam dinding ukuran jumbo. Lalu
di atas jam dinding, letakkan sebuah meja kerja sehingga kaca jam dinding
tersebut retak. Di pojok kiri meja letakkan sebuah gelas berisi es krim,
dan di pojok kanan meja letakkan juga sebuah gelas berisi banyak lalat
hijau.

Ok, sudah terbayang 5 benda tersebut? Mereka adalah simbol sejumlah hal
yang bisa dipakai untuk mengobrol. Apa arti dari simbol-simbol tersebut?

Pertama: kartu nama. Artinya saat bersosialisasi dengan orang yang baru
kita kenal, gunakanlah data-data yang ada di kartu nama sebagai bahan
obrolan. Apakah saja yang ada di kartu nama? Tentu saja ada nama, kerja di
mana, bagian apa, kantornya ada di mana, dll. Kalau konteks sobat yang
belum bekerja, bisa menggantinya dengan kuliah di mana, ambil jurusan apa,
kampusnya daerah mana, dll.

Kedua, jam dinding. Artinya carilah bahan obrolan yang berkaitan dengan
waktu. Misalnya, sudah berapa lama kerja di Perusahaan A. Atau sudah berapa
lama tinggal di kota B. Bisa juga sudah berapa lama pakai kacamata. Sudah
berapa lama menikah. Sejak kapan menyukai pete? Sejak kapan ngefans sama
MU? Dan banyak pertanyaan sudah berapa lama-sejak kapan lainnya. Jadi ingat
jam dinding ingat obrolan berbasis waktu.

Ketiga, meja kerja. Artinya hubungkan hal-hal yang berkaitan dengan job
desk sebagai bahan obrolan. Contohnya, seorang culture specialist itu
kerjaannya apa sih? Atau kuliah di jurusan DKV itu belajar apa saja?
Langkah-langkah apa saja yang dilakukan seorang analis kredit sehingga
keluar hasilnya diapprove atau tidak aplikasi calon klien?

Keempat, gelas berisi es krim. Artinya kaitkan obrolan kita dengan hal-hal
yang disukai. Es krim-es krim yang bisa diobrolkan bisa berupa hobi,
makanan, film, tempat wisata, dll. Yakin deh, kalau ketemu hal-hal yang
disukai, maka obrolan bisa menyerempet ke topik-topik lain.

Terakhir gelas berisi lalat hijau. Tentu selain hal yang disukai ada pula
hal-hal yang tidak disukai oleh tiap orang. Apa saja topiknya? Sama saja
dengan topik hal yang disukai. Bedanya cuma konteksnya saja.

Tentu saja ada syarat supaya obrolan bisa berjalan lancar. Syaratnya adalah
harus ada tik-tok alias saling menimpali, bukan model satu arah ala
interogasi. Dan yang lebih penting adalah lawan bicara mau diajak ngobrol.
Jangan melihat lawan bicara kita sedang asyik baca buku, terus kita
tanya-tanya terus. Bisa-bisa kita dijitak sama lawan bicara kita hehehe ...

Pertanyaan penutup. Apakah dalam memulai percakapan harus urut seperti
simbol yang ada? Jawabannya tidak. Kalau kita sudah terbiasa, kita bisa
masuk dari pintu mana saja. Jadi yang penting adalah
latihan-latihan-latihan. Ala bisa karena biasa bukan?

Itulah sedikit share dari aku bagaimana proses aku mengalami peralihan dari
introvert ke ekstrovert. Bagaimana dengan sobat? Punya pengalaman lain
untuk ditambahkan?

-Hendri Bun
[email protected]
@hendribun - www.hendribun.com

-- 
Info program lengkap dan jadwal training Proaktif terdekat silahkan hubungi 
kami di: 

Tel. 021 22103478
Email: [email protected]
Website: www.mitrapembelajar.com

Untuk keluar dari grup ini, kirimkan email ke:
[email protected]
[email protected]
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "Proaktif Network" dari 
Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke