Tinggi badannya di atas 170 centimeter. Dengan postur tubuh sedang dan
berat badan ideal, ia nampak lebih jangkung ketimbang rata-rata orang
Indonesia. Wajahnya bulat, nyaris menyerupai bola voli. Suara, diksi dan
bahasa tubuhnya menunjukkan keberanian dan ketegasan dalam bersikap. Gaya
bicaranya yang blak-blakan sedikit banyak dipengaruhi lingkungan dimana ia
dibesarkan.

Ya. Ia dilahirkan dan melewati masa kecilnya di desa Gantung, Kecamatan
Manggar, Belitung Timur, Sumatera. Wilayah yang sama telah melahirkan
seorang sastrawan populer negeri ini, Andrea Hirata, penulis tetralogi *Laskar
Pelangi.* Hanya saja, berbeda dengan Andrea Hirata yang lahir dalam
keluarga miskin, ia datang dari keluarga pengusaha yang relatif mapan. Itu
sebabnya, ketika usai SMP, ia bisa segera melanjutkan sekolah ke Jakarta
dan masuk ke universitas swasta terkemuka, Universitas Trisakti. Gelar
Insinyur dari Trisakti dipadankannya dengan MM dari Sekolah Tinggi
Manajemen Prasetiya Mulya. Ketiga adiknya pun berpendidikan strata-2. Ada
yang dokter PNS dan menjadi Bupati Belitung Timur periode 2010-2015; ada
yang praktisi hukum bergelar SH. LLM; dan ada yang praktisi dan konsultan
pariwisata-perhotelan bergelar MBA. Jelas bahwa ayah dan ibunya benar-benar
mempersiapkan anak-anak mereka dengan bekal pendidikan yang mantap.

Matanya yang sipit segera menginformasikan latar belakang etnisnya. Namanya
Zhong Wan Xie, anak Zhong Kim Nam dan Bun Nen Caw. Almarhum ayahnya
kemudian menggunakan nama Indra Tjahaja Purnama, dan ibunya menjadi
Buniarti Ningsih. Ia, yang biasa dipanggil Ahok, memakai nama Basuki
Tjahaja Purnama.

Ahok merupakan sosok fenomenal dalam kancah politik Indonesia kontemporer.
Karier politiknya dimulai dari keikutsertaannya sebagai kader Partai
Perhimpunan Indonesia Baru-nya Dr. Sjahrir almarhum. Ia tercatat sebagai
anggota DPRD Belitung Timur 2004-2009. Diposisi itu Ahok hanya bertahan 7
bulan. Dukungan rakyat membuatnya terpilih menjadi Bupati Belitung Timur
2005-2010 dengan 37,13% suara di daerah basis Masyumi dan Partai Bulan
Bintang, tempat asal Yusril Ihza Mahendra. Kiprah pria beragama Kristen
Protestan ini membuat masyarakat Belitung Timur menikmati kesehatan gratis,
tunjangan kematian, sekolah gratis 12 tahun, dan pengaspalan jalan sampai
daerah pelosok. Itu sebabnya majalah *Tempo* menempatkan namanya diantara
10 Tokoh Yang Mengubah Indonesia (2006). Oleh Gerakan Tiga Pilar Kemitraan,
yakni KADIN, Kementerian PAN dan Masyarakat Transparansi Internasional, ia
juga dinobatkan menjadi Tokoh Antikorupsi (2007).
Sekitar dua tahun menjabat Bupati Belitung Timur, Ahok kemudian ikut
berlaga dalam pemilihan Gubernur Bangka-Belitung. Ia meninggalkan kemapanan
posisi yang sebenarnya bisa dinikmatinya sampai dua periode, untuk
memperjuangkan program yang memberikan manfaat lebih besar bagi rakyat di
propinsinya. Sayang ia gagal.

Dari Bangka-Belitung, Ahok merangsek ke Jakarta. Perubahan sistem nomor
urut ke sistem suara terbanyak dalam pemilihan anggota legislatif tahun
2009 membuatnya lolos ke Senayan, menjadi anggota DPR dari Partai Golkar,
partai yang semula menempatkannya di nomor urut 4 yang bukan nomor jadi. Di
Komisi II DPR, Ahok mengkampanyekan proses berpolitik yang Bersih,
Transparan dan Profesional, disingkat BTP sesuai dengan inisial namanya
sendiri. Ia membuat situs Ahok.org yang memuat informasi mengenai dirinya
dan apa yang ia lakukan sebagai wakil rakyat. Belum pernah ada anggota DPR
yang begitu berani mempublikasikan berbagai penghasilan sebagai wakil
rakyat seperti yang dilakukan Ahok. Ia berusaha membongkar setiap tipu
muslihat yang merampok uang rakyat.

Nama Ahok makin melambung di kancah politik nasional, ketika ia diajak Joko
Widodo menjadi Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI 2012-2017. Diusung
PDIP dan Gerindra, pasangan Jokowi-Ahok kemudian unggul meraih 53,82% suara
rakyat pemilih. Mereka, yang oleh Jokowi dikatakan merupakan koalisi
rakyat, berhasil mengalahkan koalisi partai yang berdiri di belakang
Foke-Nara. Rakyat Jakarta menginginkan perubahan.

Belum sebulan menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI, Ahok melakukan berbagai
gebrakan untuk mengkomunikasikan spirit Jakarta Baru dan spirit BTP
(Bersih, Transparan, dan Profesional). Salah satu yang ramai
diperbincangkan media elektronik dan dihangatkan oleh media sosial adalah
tayangan di akun resmi pemda DKI, yakni saat Ahok menerima paparan Dinas
Pekerjaan Umum, 8 November silam. Dalam rapat yang berdurasi 46 menit itu,
ia meminta kesanggupan Kepala Dinas PU DKI dan jajarannya untuk memotong
pagu anggaran 25% tanpa mengubah spesifikasi.

“Kalau kita hitung kasar, dipotong 40% juga masih bisa, tapi kita cuma
minta 25% untuk kami (Gubernur-Wagub), untuk dikembalikan ke APBD,” katanya
sambil mengingatkan bahwa Dinas Perhubungan punya perhitungan proyek
jembatan mahal karena hitungan dari Dinas PU. Dan untuk menyikapi soal itu
Ahok menawarkan, “Potong anggaran atau saya hapus seluruh proyek itu dan
saya bangun dengan dana operasional saya sendiri. Kalau (terbukti) bisa,
maka akan kita periksa semua proses pekerjaan yang lalu, saya akan proses
ke KPK atau jaksa atau pun siapa pun. Jadi kita buka koreng lama. Jadi
kalau kita tidak mau buka koreng lama, mari kita mulai Jakarta Baru.
Kedengarannya tidak enak, tapi tugas saya memang tidak enak. … (Dinas)
Perhubungan kasarnya kita suruh pulang dua kali. Kalau tidak (potong
anggaran) kita lebih baik tidak ada pembangunan. Atau kita ganti semua
sampai Eselon III. Mohon maaf bapak-bapak ibu-ibu. Kita potong sampai
eselon III, Dinas PU. Kasarnya seperti itu. Tapi saya lebih suka apa
adanya. Kita kan baru kenalan pertama. Lebih baik nggak enak dulu lah.
(Potong) 25% pun masih ada ruang gerak…”.

Sikap mantan Staf Direksi Bidang Analisa Biaya dan Keuangan Proyek
perusahaan kontraktor pembangkit listrik PT Simaxindo Primadaya ini tegas
dan to-the-point. Dengan demikian rapat berjalan sangat efisien dan pesan
spirit Jakarta Baru langsung terasa, saling melengkapi dengan apa yang
dilakukan Jokowi, Sang Gubernur.
Ditengah kegalauan rakyat menyaksikan kasus-kasus korupsi berjemaah yang
tiap hari tayang di media cetak-elektronik-sosial, kehadiran Ahok sungguh
merupakan embun segar. Kita memerlukan ribuan insan yang bersedia
berpolitik secara BTP, Bersih, Transparan, dan Profesional. *New spirit.
New hope.*
Selamat bertugas Koh Ahok! *We love you full.*

-- 
Info program lengkap dan jadwal training Proaktif terdekat silahkan hubungi 
kami di: 

Tel. 021 22103478
Email: [email protected]
Website: www.mitrapembelajar.com

Untuk keluar dari grup ini, kirimkan email ke:
[email protected]
[email protected]
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "Proaktif Network" dari 
Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke