*"Teaching is the one profession that creates all other professions"*

Saya memilih menyebut diri (antara lain) sebagai “guru biasa untuk
orang-orang luar biasa” sejak beberapa tahun silam. Saya tidak sedang
bergurau. Frasa itu saya pilih dengan hati-hati dan penuh pemikiran yang
mendalam.

Frasa “guru biasa untuk orang-orang luar biasa” mencerminkan pandangan
pribadi saya tentang apa yang diperlukan untuk menjadi seorang trainer
andalan (superb trainer). Kualifikasi terpenting untuk menjadi trainer
andalan bukanlah atribut akademis atau gelar kesarjanaan yang panjang
berderet-deret. Juga bukan sertifikasi yang berlapis-lapis dari berbagai
lembaga tingkat nasional dan internasional. Kualifikasi yang terpenting
untuk menjadi trainer andalan bukan soal berapa berat dan tinggi badan;
bukan tata busana yang memesona orang lain; bukan pula suara yang
mikrofonik seperti penyiar radio yang jadi idola pendengarnya. Semua itu
–gelar, sertifikasi, berat/tinggi badan, tata busana, suara, dan
sebagainya– bisa jadi penting atau sekurang-kurangnya pastilah berguna,
tetapi bukan yang terpenting.

Lalu apa kualifikasi terpenting untuk menjadi seorang trainer andalan?

Kualifikasi terpenting untuk menjadi trainer andalan adalah kemampuan untuk
melihat keluarbiasaan dalam diri setiap peserta pelatihan (trainee) yang
merasa dirinya biasa-biasa saja; yang merasa dirinya bukan siapa-siapa;
bahkan yang merasa dirinya memiliki banyak kekurangan di sana sini. Dan
untuk mampu melihat hal itu, seorang trainer andalan harus bisa menempatkan
dirinya sebagai orang biasa. Itulah alasan mengapa saya memilih frasa “guru
biasa untuk orang-orang luar biasa”. Dengan cara itu saya dibantu
mengingatkan diri sendiri agar selalu berusaha untuk melihat dan menyimak
keluarbiasaan dalam diri setiap peserta yang hadir dalam pelatihan yang
saya fasilitasi. Tugas terpenting saya adalah membantu mereka menemukan
sendiri keluarbiasaannya itu dengan latihan-latihan tertentu di kelas.
Hanya bila mereka keluar dari kelas dengan keyakinan diri yang lebih besar
atas kemampuan mereka sendiri, maka saya boleh menganggap diri saya
berhasil sebagai trainer.

Saya teringat suatu pengalaman memberikan pelatihan Effective Speaking and
Human Relations di sekitar akhir tahun 1992 sampai awal 1993. Waktu itu
seorang peserta bernama Jody menarik perhatian saya. Ia sarjana baru
lulusan Fakultas Ekonomi, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, yang berhasil
mendapatkan pekerjaan pertamanya di PT Toyota Astra Motor. Lulus dengan
predikat cum laude jelas menunjukkan betapa cerdasnya lelaki kelahiran
Jambi itu.

Namun bekerja di sebuah perusahaan terkemuka kelas dunia sebagai pegawai
baru, tentu merupakan tantangan khusus baginya. Ia harus menyesuaikan diri
dengan tuntutan dunia kerja yang sama sekali berbeda dengan kebiasaan di
ruang-ruang kuliah. Posisi yang diperolehnya adalah hasil dari persaingan
ketat dengan puluhan sampai ratusan pelamar lain. Dan dalam pekerjaannya ia
juga masih harus berhadapan dengan rekan-rekan kerja yang tidak semua
menyukai kehadirannya. Intrik dan politik perkantoran adalah hal yang tak
terhindarkan bagi siapa saja yang bekerja di perusahaan kelas dunia.
Tambahan lagi ia perlu menyesuaikan diri dengan ritme kota megapolitan
Jakarta yang amat sangat berbeda dengan kota kelahirannya Jambi maupun kota
pelajar Yogyakarta.

Ketika pertama kali diberi kesempatan berbicara di depan kelas, ia tidak
menunjukkan keyakinan diri yang kuat. Wajahnya yang tampan dan postur
tubuhnya yang cukup tinggi memudahkan audiens untuk menyukainya. Namun,
nada bicaranya yang cenderung datar dan keyakinan diri yang belum kuat
membuat kata-kata yang diucapkannya tak bertenaga. Pelatihan itu sendiri
berlangsung mulai jam 5 sore hingga jam 9 malam, satu sesi per minggu,
selama 12 minggu berturut-turut. Ia masih nampak gugup kalau berbicara di
depan kelas bahkan sampai 5-6 sesi berlangsung.

Meski demikian, sejak awal saya memiliki keyakinan yang sangat kuat bahwa
Jody kelak akan menjadi salah seorang tokoh penting di jajaran manajemen
puncak perusahaan. Ia memiliki segala hal yang diperlukan untuk bergerak
maju dalam kariernya sampai ke posisi puncak. Dalam sejumlah hal ia
memiliki potensi yang jauh lebih besar dari saya sendiri. Dan itulah yang
berulang kali saya katakan kepadanya, setiap ada kesempatan mengomentari
penampilannya di kelas. Sehingga dalam waktu 12 minggu pertumbuhan
kepercayaan dirinya sangatlah mengagumkan. Ia mendapatkan sejumlah
penghargaan di kelas dan menjadi salah satu alumni terbaik dari
angkatannya. Ia meninggalkan kelas saya sebagai Jody yang lain; Jody yang
optimis melihat kariernya di masa depan; Jody yang mulai menyadari
keluarbiasaan dalam dirinya sendiri.

Selang beberapa bulan kemudian, ia ikut lagi di kelas Professional Selling
and Negotiation Techniques yang saya fasilitasi. Dan kali ini ia belajar
dengan sangat cepat sehingga membuat kagum banyak teman di angkatannya.
Saya sama sekali tidak terkejut sebab sejak awal saya melihat keluarbiasaan
di dalam dirinya.

Singkat cerita ia kemudian menjadi klien sekaligus sahabat saya selama 3-4
tahun. Ia telah mengikuti hampir semua program pelatihan yang saya
fasilitasi di paruh pertama tahun 1990-an. Lalu Jody berhasil mendapatkan
beasiswa untuk mengejar pendidikan yang lebih tinggi di Queenland,
Australia. Ia pulang dengan dua gelar master dan berkarier di Citibank
untuk beberapa tahun. Belakangan, ia ditarik kembali di lingkungan Toyota
Astra Motor dan sekarang menduduki jabatan sebagai CEO di salah satu anak
perusahaan Astra. Saya percaya ia berpotensi untuk menduduki posisi lebih
tinggi di Astra Group dalam beberapa tahun ke depan.

Kemampuan melihat keluarbiasaan dalam diri peserta pelatihan sebelum yang
bersangkutan itu sendiri menyadari potensinya adalah kualifikasi terpenting
yang diperlukan untuk menjadi trainer andalan. Sebab sesungguhnya trainer
andalan haruslah berhati guru, orang yang kebahagiaan tertingginya adalah
melihat keberhasilan murid-muridnya di masa-masa mendatang; bukan orang
yang mengelu-elukan kehebatan dirinya sendiri di muka kelas. Itulah
semangat dari frasa “guru biasa untuk orang-orang luar biasa.”

Bukankah seharusnya demikian? [*]

*) Andrias Harefa
Penulis 40 Buku Best-Seller
Pembicara Publik dan Trainer Berpengalaman 22 Tahun

http://bit.ly/MasteringTraining

http://bit.ly/BE-Trainer

-- 
Info program lengkap dan jadwal training Proaktif terdekat silahkan hubungi 
kami di: 

Tel. 021 22103478
Email: [email protected]
Website: www.mitrapembelajar.com

Untuk keluar dari grup ini, kirimkan email ke:
[email protected]
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "Pembelajar" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke