FYI dari milis tetangga..

 

Di awal tahun 2007 ini, kita dikejutkan dengan berita jatuhnya pesawat Adam
Air, dalam perjalanan menuju Manado.  Berbagai media, baik cetak maupun
elektronik, berlomba-lomba untuk memberitakan peristiwa ini. Selang sehari
sesudah peristiwa ini, headline berbagai media menuliskan bahwa "Reruntuhan
pesawat Adam Air Ditemukan!". Walaupun, saya bukan salah satu anggota
keluarga yang menjadi penumpang dalam pesawat naas tersebut,tetapi  membaca
berita tersebut saya merasa lega dan puas dengan usaha pemerintah yang telah
melakukan pencarian.  Akan tetapi, betapa kagetnya saya, ketika  membaca
koran esok harinya, yang mengatakan bahwa pesawat Adam Air belum ditemukan!
Lalu, dimana kebenaran berita yang saya baca sehari sebelumnya?

 

Kesalahan pemberitaan juga pernah dialami oleh seotang ibu rumah tangga yang
saya baca dari surat pembaca salah satu koran terkenal sebagai berikut,
"Akhir-akhir ini sedang ramai dibicarakan mengenai daftar produk minuman
yang dianggap berbahaya bagi kesehatan. Informasinya simpang siur dan
disebarkan melalui media massa, sms, e-mail, dan selebaran. Sebagai orangtua
dari anak yang masih di sekolah dasar, saya merasa resah mengingat banyak
minuman itu ternyata masih dijual bebas di sekolah"  

Walaupun terlihat sederhana, namun kesimpang siuran ini pastinya sering
merepotkan banyak ibu rumah tangga.  

 

Isu serupa pernah saya temui, ketika saya sedang menemani ibu saya
berbelanja di supermarket.  Salah seorang SPG menunjukkan kepada saya
potongan artikel dari koran yang menuliskan suatu produk makanan yang
berbahaya dan ditarik dari pasaran.   Padahal saya berlangganan koran
tersebut dan yakin benar, bahwa saya tidak pernah membaca berita tersebut.
Karena penasaran, sepulangnya di rumah, saya langsung mengecek koran
tersebut. Betapa kagetnya saya, ternyata berita tersebut tidak dimuat  di
koran tersebut pada tanggal yang sama dengan yang ditunjukkan SPG tadi.
Sedih rasanya setelah saya mengetahui, bahwa teknologi telah disalahgunakan
pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan kebohongan publik.  

  

Kejadian yang lebih parah lagi mengenai salah pemberitaan, adalah ketika
salah satu tetangga saya, yang baru saja terkena PHK dari perusahaan tempat
dia bekerja.  Menurut ceritanya,  baru-baru ini perusahannya memang terkena
isu yang tidak sedap, mengenai bahan pengawet yang terkandung di dalam
produknya, sehingga diberitakan bahwa produknya berbahaya. Alhasil dalam
beberapa bulan, penjualan produk mereka turun drastis, sehingga terjadi
pengurangan beberapa karyawan di bagian produksi. Padahal berita tersebut
tidaklah benar, karena produknya telah mendapatkan izin beredar dari
pemerintah. Tidak mungkin dong, pemerintah mengizinkan produk berbahaya
untuk beredar di pasaran.  Saat ini, tetangga saya itu masih mencari
pekerjaan alias job seeker. Padahal dia punya 3 anak yang masih kecil-kecil
dan membutuhkan biaya sekolah.  

 

Dari situlah, hati saya tergerak untuk menulis e-mail ini.  Sedih rasanya
melihat nasib tetangga saya tersebut.  Dia menjadi salah satu korban
kesimpang-siuran berita yang sering kita baca di koran, majalah, televisi,
flyer, maupun sms. 

 

Sebuah berita dibuat, selayaknya memang bertujuan untuk menginformasikan
kepada khalayak umum mengenai informasi terkini. Namun dibalik itu,
terkadang suatu berita juga mengandung unsur-unsur lainnya, misalnya saja
unsur dagang. 

 

Suatu media pastinya ingin oplahnya meningkat, seiring dengan pembaca yang
semakin tertarik membeli medianya.  Oleh karena itu, tak heran di beberapa
media, memasang headline mengenai isu yang bombastis.  Walaupun isu tersebut
belum tentu jelas kebenarannya.  

Selain itu, berita media juga sering dijadikan alat oleh suatu perusahaan
untuk menjatuhkan kompetitornya.  Berita yang tidak benar sengaja
dihembuskan untuk membentuk penilaian negatif terhadap suatu produk, hingga
akhirnya produk tersebut menjadi tidak laku.   Hal seperti inilah yang
disebut dengan persaingan dagang. 

 

 

Belajar dari peristiwa di atas, saya ingin menghimbau agar kita lebih
berhati-hati dalam menelaah berita ataupun isu yang sering beredar
akhir-akhir ini. Sebagai pembaca dan konsumen yang kritis, seharusnya kita
jangan mudah percaya pada judul-judul berita yang terkesan bombastis.  Baca
terlebih dahulu, keseluruhan berita sebelum Anda menyebarkannya kepada rekan
Anda.  Jangan mudah panik, apalagi gegabah dalam mengambil tindakan.

Cari dahulu sumber berita tersebut. Apakah dapat dipercaya? Akan lebih baik
lagi, jika terdapat surat keterangan dari pihak terkait/pemerintah mengenai
berita tersebut. Untuk lebih meyakinkan lagi, Anda dapat menghubungi
customer service produsen, posko bencana, BPOM, ataupun lembaga pemerintah
yang bersangkutan.

 

Dan untuk semua pihak yang tidak bertanggung jawab, saya secara pribadi
menghimbau agar tidak lagi menyebarkan berita yang tidak jelas kebenarannya.
Karena, selain bertentangan dengan ajaran agama, berita-berita "ngaco"
tersebut bisa menyangkut hajat hidup orang lain.  

 

Jika Anda merasa peduli dengan berita diatas, sebarkanlah e-mail ini ke
teman dan sahabat Anda... 

 

  _____  

Lelah menerima spam? Surat Yahoo! mempunyai perlindungan terbaik terhadap
spam. 
http://id.mail.
<http://sg.rd.yahoo.com/mail/id/footer/def/*http:/id.mail.yahoo.com/>
yahoo.com/

 

Kirim email ke