Obrolan Ibu-Ibu tentang IPDN
Suatu sore di sebuah kampung sekelompok ibu-ibu
berkerumun sedang belanja sayur sambil ngobrol seru,
nampak wajah mereka sangat serius. Asyik sekali..
pikir saya pasti sedang ngegosipin artis sinetron.
Namun dilihat dari raut mukanya tampaknya mereka kesal
sekali, diam-diam saya mendekat bukan maksud mau
nguping tetapi penasaran aja dengan tema yang sedang
dibicarakan.
Ooh.. aku baru tau nampaknya mereka sedang ngobrolin
tayangan berita sebuah stasiun TV tentang kasus
penganiayaan di IPDN. Berikut sedikit petikan
pembicaraan yang seru dan meledak-ledak dari para
"pengamat berita" ini....
" tuh kan apa gue bilang IPDN itu, Institut
Penganiayaan Dalam Negeri... ! masak anak orang
dihabisin hanya gara-gara telat datang ke acara yang
nggak jelas, dasar gak tau diri !".
" Bukan nyak tapi IPDN itu, Institut Pembantaian Dalam
Negeri..!" sahut ibu penjual
sayur tak mau kalah.
"Kalo nurut saya sih masih jadi pelajar aja kayak gitu
ntar kalo udah jadi pejabat pasti jadi diktator,
makanya IPDN itu, Institut Pengkaderan Diktator
Negara..!" seru ibu yang sedari tadi bolak balikin
sayur bayam.
" Betul juga jeng Neni tapi saya paling gak suka sama
kelakuan mereka yang suka maen keroyok kalo berani
kenapa gak satu lawan satu tuh kayak di pilem koboy
makanya dinamain aja IPDN, Institut Paling Demen
Ngeroyok..!! " seru ibu gendut itu gemas sambil
membanting labu siam diantara sayur yang makin
berserakan.
"Iya betul tuh sekalian aja dinamain IPDN, Ikatan
Praja Doyan Nonjok ...!" sambar bu RT sambil
bersungut-sungut.
"IPDN, Injak Pukul Dorong Nah ... mati..!! celetuk ibu
bertubuh kerempeng itu sambil praktekkan gaya
silatnya.
"Inginnya Pendidikan Dapetnya Nisan nah itulah IPDN
kasihan orang tua yang udah susah payah kirim anaknya
kesana pulang-pulang bikin batu nisan... !!" tukas bu
Neni makin kesal.
" Yang kayak gini neh pasti kerjaan para pejabat yang
gak punya tanggung jawab dan wawasan kebangsaan,
mestinya kan mereka sebagai pengontrol dan pengawas
tetapi kenapa korban udah berjatuhan kayak gini kok
didiemiin aja dari dulu, kayaknya sih sengaja biar
budaya pejabat junior harus takut dengan senior tetap
hidup, kan ntar gampang diajak kongkalikong kali ya ?
namanya juga IPDN, Ideologi Pejabat Durjana
Negara", sahut ibu setengah baya berkerudung itu.
"Yah IPDN, Inilah Pendidikan Dalam Negeri kita..
pantas aja korupsi gak habis-habis
wong mentalnya aja udah kayak mafia.
Tiba-tiba nenek tua yang sedari tadi diam saja
tergopoh-gopoh keluar dari kerumunan menuju kearah
rumah bu RT, sambil iseng saya pun bertanya, "nek kalo
menurut nenek
IPDN itu apa ?".
Nenek itu melotot kesal kearahku sambil berteriak,
.........
"Ingin Pipis Dulu Nak ...!!".
Ups..!
calam......nizzzzz
.
<Disclaimer> : This e-mail is confidential. If you are not the intended recipient you must not disclose, distribute or use the information in it as this could be a breach of confidentiality. If you have received this message in error, please advise us immediately by return e-mail and delete the document. The address from which this message has been sent is strictly for business mail only and the company reserves the right to monitor the contents of communications and take action where and when it is deemed necessary. Thank you for your co-operation.
