Maaf pak ketu and om moderator, OOT lg...Semoga bermanfaat.

coba dibaca sampai habis pak, serem nih kita sedang dipermainkan
bisa dibaca di http://swaramuslim.com/more.php?id=5962_0_15_0_M

Laissez-Faire Pak SBY, Laissez-Faire
Oleh : Redaksi 22 May 2008 - 5:30 pm

Oleh: Amran Nasution *
Harga bahan bakar minyak (BBM) naik akhir Mei 2008. Itu sudah keputusan 
Pemerintah SBY–YK. Mahasiswa bisa saja menolak dan melakukan demonstrasi 
merata hampir di seluruh Indonesia, dari Padang sampai Kendari, dari 
Jakarta sampai Ternate. Tapi harga bensin tetap harus naik.

Para ekonom atau pengamat bisa saja protes. Kwik Kian Gie siap dengan 
hitung-hitungan bahwa tak betul rakyat disubsidi lewat harga BBM. 
Pemerintah ternyata sudah memperoleh keuntungan berlipat-lipat selama 
ini, dengan menjual bensin Rp 4500/liter. ‘’Mau debat dengan siapa saja, 
di mana saja, dari dulu saya siap. Tapi mereka diam saja,’’ kata mantan 
Kepala Bappenas itu.

Ekonom dan anggota DPR Drajat Wibowo bisa saja bersikukuh tak ada 
mashalat dengan APBN sekali pun harga BBM tak naik. Ia ajari cara 
menyusun APBN, antara lain, dengan menunda pembayaran cicilan utang.

Dengan itu Drajat ingin menunjukkan adalah bohong pernyataan yang 
menyebutkan APBN akan jebol kalau harga minyak tak dinaikkan. Ia 
prihatin, begitu harga BBM naik harga semua kebutuhan pokok turut naik 
pula. Maka rakyat yang selama ini daya belinya sudah merosot, menjadi 
korban. Pengalaman kenaikan harga BBM tahun 2005, menunjukkan begitu.

Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang diberikan pemerintah tak ada artinya, 
rakyat tetap saja bertambah miskin. BLT tampaknya memang sekadar proyek 
politik pencitraan – bahwa Presiden kita pemurah – guna menghadapi 
pemilihan umum.

Padahal rakyat sudah amat menderita. Percuma saja Biro Pusat Statistik 
(BPS) memilih-milih dan memilah-milah data untuk mendukung citra 
pemerintah. Semua orang tahu di mana-mana sekarang rakyat makan nasi 
aking. Berita radio, koran dan TV menunjukkan berapa banyak anak-anak 
kurang gizi dan kelaparan. Di Makasar, seorang ibu hamil meninggal dunia 
karena berhari-hari tak tersentuh makanan. Mereka tak mungkin 
diselamatkan hanya dengan data BPS.

Lagi pula, apa pun data BPS, faktanya Indonesia masuk indeks 60 negara 
gagal 2007 (failed state index 2007) yang disusun Majalah Foreign Policy 
bekerja sama dengan lembaga think-tank, The Fund for Peace. Majalah itu 
amat berwibawa, milik The Carnegie Endowment, think-tank dengan jaringan 
internasional paling luas di Amerika Serikat. Salah satu pendiri majalah 
itu adalah Profesor Samuel Huntington, ahli ilmu politik senior dari 
Harvard University.

Yang hendak dikatakan, Foreign Policy bukan majalah yang diterbitkan 
dari pinggir got. Indonesia memang betul-betul negara gagal, satu 
kelompok dengan Sudan, Somalia, Iraq, Afghanistan, Zimbabwe, Ethiopia, 
atau Haiti. Shalat satu ukurannya: pemerintah pusat sangat lemah dan tak 
efektif, pelayanan umum jelek, korupsi dan kriminalitas menyebar, dan 
ekonomi merosot. Nah, kalau mau jujur, memang begitulah persis potret 
negeri kita sekarang.

Data indeks pembangunan manusia (human development index) dari badan 
PBB, UNDP, memberikan indikator serupa. Indonesia menduduki peringkat 
107 dari 177 negara, jauh di bawah Singapore, Arab Saudi, Malaysia, atau 
Thailand. Malah kita di bawah Filipina, Vietnam, Palestina, atau 
Srilangka. Padahal Srilangka itu negeri rusuh karena pemberontakan Macan 
Tamil dan Palestina lebih rusuh lagi akibat penjajahan Israel.

Begitu pun kenyataannya tetap saja harga minyak harus naik. Apakah 
rakyat tambah menderita seperti dikhawatirkan Kwik Kian Gie atau Drajat 
Wibowo dan kawan-kawan, tak ada mashalat bagi pemerintah. Soalnya, ini 
sudah tak bisa ditawar. Ini sebetulnya untuk kepentingan ideologi.

Ideologi? Barang siapa membaca buku terlaris dari Naomi Klein, The Shock 
Doctrine, The Rise of Disaster Capitalism (The Penguin Group, September 
2007), akan terang-benderanglah motif sebenarnya di balik langkah 
pemerintah menaikkan harga BBM atau mengobral 37 perusahaan BUMN (Badan 
Usaha Milik Negara) kepada asing. Itu semata-mata untuk menegakkan 
ideologi kapitalisme-laissez-faire, atau di sini dikenal sebagai sistem 
ekonomi liberal, yang dianut pemerintah kita.

Inilah sistem ekonomi pasar yang menyerahkan urusan ekonomi kepada 
perusahaan swasta dengan campur tangan pemerintah sebisa mungkin 
dihilangkan. Sistem ini menginginkan pemerintah tidur saja. Pemerintah 
tetap tak boleh mencampuri urusan ekonomi, sekali pun hanya untuk 
meningkatkan taraf hidup orang miskin.

Dalam pandangan ideologi ini, jika pemerintah mengurusi perekonomian 
orang miskin, itu sama artinya melakukan redistribusi kekayaan, 
menyebabkan orang menjadi malas dan kehilangan kreativitas. Kalau orang 
jadi miskin, biarkan saja miskin. Karenanya dia disebut sistem 
laissez-faire, dari bahasa Perancis: biarkan terjadi.

Ciri khasnya: deregulasi, pajak rendah (terutama untuk pengusaha kaya, 
agar mereka lebih cepat melakukan akumulasi modal untuk meningkatkan 
kemampuan bersaing), swastaisasi/privatisasi, anti-subsidi, 
anti-pengaturan upah buruh minimal, dan semacamnya.

Tentang upah buruh, misalnya, serahkan saja kepada mekanisme pasar, 
jangan diatur-atur pemerintah atau serikat buruh. Mekanisme pasar akan 
bekerja menentukan upah yang pantas untuk buruh. Artinya, semua terserah 
pengusaha. Karena itu belum bisa terlaksana, dunia perburuhan kita 
memakai sistem buruh terputus (off-sourcing), sehingga posisi tawar 
pengusaha kuat ketika berhadapan dengan serikat buruh.

Ideologi ini pertama kali dirumuskan ekonom Skotlandia, Adam Smith, di 
akhir abad ke-18. Tapi setelah ekonomi dunia dilanda krisiss dahsyat 
(great depression) di akhir 1920-an, mulai banyak negara 
meninggalkannya. Ideologi ini dituduh sebagai biang keladi kehancuran 
ekonomi, meski para pendukungnya selalu membela diri.

Ia kembali berkibar di awal 1980-an, ketika Presiden Amerika Serikat 
Ronald Reagan dan Perdana Menteri Inggris Margaret Teatcher 
mengkampanyekannya, terutama untuk menghadapi sistem ekonomi komunisme 
Uni Soviet, dalam perang dingin. Maka ambruknya Uni Soviet, dengan 
simbol rubuhnya Tembok Berlin, 1989, diklaim sebagai kehebatan sistem ini.

Dalam prakteknya sistem ini menyebabkan orang kaya bertambah kaya, orang 
miskin bertambah miskin. Dunia pun terus-menerus dilanda krisis ekonomi, 
mulai great depression sampai krisis yang melanda Asia 1997, atau 
Amerika Serikat sekarang.

Banyak para ahli berpendapat, multi-krisis yang melanda Amerika saat ini 
karena laissez-faire. George Soros, investor sukses pasar modal, 
termasuk berpendapat begitu. Padahal Soros justru dianggap simbol sukses 
kapitalisme global di tahun 1990-an.

Naomi Klein, 38 tahun, aktivis, penulis dan wartawati terkemuka Kanada, 
lulusan London School of Economics, berhasil mengungkap sebuah metode 
dari sistem kapitalisme laissez-faire. Itu dikembangkan pemenang nobel 
ekonomi 1976, Profesor Milton Friedman, dan pengikutnya di Chicago 
School of Economics, University of Chicago.

Klein menyebutnya Doktrin Kejut (The Shock Doctrine) dan itu yang ia 
jadikan judul buku setebal 558 halaman, dan banyak mendapat pujian. 
Sebuah artikel di Dow Jones Business News, Oktober 2007, menyebut The 
Shock Doctrine, The Rise of Disaster Capitalism (Doktrin Kejut, 
Bangkitnya Kapitalisme Bencana) sebagai buku terpenting tentang ekonomi 
di abad 21.

The Chicago Boys
Begini. Pada 2005, badai Katrina diikuti gelombang pasang 
meluluh-lantakkan New Orleans, kota berpenduduk 500.000 jiwa di tepi 
Sungai Mississippi, di tenggara Negara Bagian Louisiana. Hampir 2000 
penduduk meninggal, rumah, jembatan, dan berbagai infrastruktur hancur. 
Inilah bencana alam dengan korban material terbesar di Amerika.

Paman Miltie – begitu Milton Friedman dipanggil hormat pengikutnya – 
ternyata punya pendapat tersendiri atas bencana itu. Melalui kolom di 
koran The Wall Street Journal, 3 bulan setelah bencana, Paman Miltie 
menulis, ‘’Banyak sekolah di New Orleans rusak. Begitu juga rumah tempat 
anak-anak berteduh. Anak-anak terpencar di seluruh negeri. Ini adalah 
sebuah tragedi. Ini juga sebuah peluang.’’

Bagaimana bencana begitu dahsyat disebut Profesor Friedman sebagai 
peluang? Ternyata itu beralasan. Hanya dalam tempo 19 bulan, ketika 
banyak penduduk masih tinggal di pengungsian, sebuah kompleks sekolah 
telah berdiri di bekas sekolah negeri (public school) yang dihanyutkan 
badai. Sekolah itu dilengkapi berbagai fasilitas dan guru. Tapi ia bukan 
lagi sekolah negeri melainkan sekolah swasta yang didirikan pemodal. 
Reformasi pendidikan telah terjadi dengan gampang. Tanpa badai Katrina 
tak mudah memprivatisasi sekolah publik itu.

Para bekas guru menyebut apa yang terjadi pada sekolah mereka sebagai 
perampasan lahan pendidikan. Naomi Klein menyebutnya aksi kapitalisme 
bencana (disaster capitalism). Ternyata sudah lebih tiga dekade Profesor 
Friedman dan pendukungnya yang biasa dijuluki The Chicago Boys, 
mentrapkan strategi itu: Menunggu datang krisis atau bencana lalu dengan 
cepat bergerak mereformasi status-quo.

Semua yang berbau pemerintah dijadikan swasta (swastaisasi/privatisasi), 
ketika orang-orang masih dirundung kaget. Krisis bisa saja terjadi 
karena perang, bencana alam, teror, ambruknya pasar modal, atau krisis 
ekonomi lainnya.

Dalam sebuah esei menarik, Friedman menulis bahwa hanya krisis – aktual 
atau hanya persepsi – yang bisa menghasilkan reformasi sesungguhnya 
untuk mengubah status-quo. Maka di New Orleans, orang bersiap-siap 
dengan stok makanan dan air minum, sementara para pendukung Friedman 
datang dengan ide-ide pasar bebas (free-market). Friedman meninggal 
dunia setahun kemudian, November 2006, dalam usia 94 tahun.

Dari riset Naomi Klein, diketahui bahwa pengalaman pertama Friedman 
mengeksploitasi krisis atau kejut (shock) terjadi pertengahan 1970-an, 
ketika Chili mengalami kudeta oleh Jenderal Augusto Pinochet. Negeri di 
Amerika Latin itu juga terkena trauma inflasi yang amat tinggi 
(hyperinflation). Friedman datang menasehati Diktator Pinochet untuk 
melakukan reformasi ekonomi dengan cepat: deregulasi, pemotongan pajak, 
perdagangan bebas, privatisasi BUMN, pemotongan anggaran sosial, antara 
lain, pemangkasan subsidi untuk rakyat miskin.

Semua dijalankan Diktator Pinochet dengan tangan besi. Maka Chili 
mengalami reformasi sistem ekonomi menjadi kapitalisme laissez-faire 
paling ekstrim yang pernah terjadi, dan dijuluki sebagai revolusi The 
Chicago School. Kebetulan sejumlah penasehat ekonomi diktator itu adalah 
bekas mahasiswa Friedman di Chicago University.

Naomi Klein mulai melakukan riset tentang ketergantungan kapitalisme 
pasar pada situasi krisis atau shock ketika Amerika Serikat menduduki 
Iraq, 2003. Penyerbuan itu betul-betul menimbulkan shock yang luar biasa 
bagi rakyat Iraq mau pun dunia. Lalu apa yang kemudian terjadi di negeri 
sosialis itu?

Luar biasa: Privatisasi massif berbagai perusahaan pemerintah, penurunan 
pajak sampai tinggal 15%, deregulasi dan perampingan fungsi pemerintah 
secara dramatis, terutama menyangkut urusan ekonomi dan praktek 
perdagangan bebas, sebebas-bebasnya. Friedman dan The Chicago Boys 
berperan dari belakang. Ia diketahui berteman akrab dengan Donald 
Rumsfeld, Menteri Pertahanan Amerika waktu itu, dan sejumlah pemikir 
neo-konservatif yang mengelilingi Presiden George Bush.

Coba bayangkan, militer saja diprivatisasi di Iraq. Pemerintah 
mengontrak perusahaan Amerika, Blackwater Worldwide – yang sebelumnya 
sudah terancam bangkrut – untuk proyek jasa pengamanan para kontraktor 
minyak dan proyek bisnis lainnya. Termasuk untuk mengamankan Kedutaan 
Besar Amerika Serikat dan personalnya di kawasan zona hijau 
(Green-zone), Baghdad. Sekitar 30.000 pasukan Blackwater betul-betul 
mirip tentara dengan persenjataan lengkap berkeliaran di Baghdad dan 
sekitarnya.

Pasukan bayaran itu berhak menembak dan membunuh orang tanpa bisa 
diadili. Dia tak tunduk pada hukum Iraq, tidak pula pada hukum Amerika 
Serikat. Oktober lalu, DPR Amerika membuat undang-undang, bahwa 
kontraktor yang bekerja pada Pemerintah Amerika di daerah konflik di 
luar negeri, bertanggung-jawab pada hukum Amerika. Tapi Gedung Putih 
menolaknya, dan sampai kini undang-undang itu terkatung-katung di Senat.

Padahal September lalu, sejumlah pasukan Blackwater, pengawal konvoi 
pejabat Departemen Luar Negeri Amerika Serikat yang berkunjung ke 
Baghdad, entah mengapa tiba-tiba menembaki kendaaran yang ada di jalan 
umum sekitarnya. Akibatnya, 17 orang meninggal, sejumlah lainnya 
luka-luka. Para pelaku penembakan sampai sekarang bebas tanpa diadili, 
dengan dalih belum ada undang-undangnya.

Serangan dahsyat tsunami akhir 2004 di Sri Langka, tak luput dari 
inceran kaum kapitalis. Penanam modal asing bekerjasama dengan bank 
internasional memanfaatkan situasi panik akibat bencana, untuk menguasai 
garis-garis pantai yang indah. Di sepanjang pantai dengan cepat berdiri 
resor wisata yang megah, hotel, villa, motel, dan sebagainya, 
menyebabkan ratusan ribu nelayan yang semula mendiami kawasan itu, kini 
tergusur.

Jelaslah sekarang bagaimana sistem kapitalisme global bekerja untuk 
mencapai tujuan: memanfaatkan momentum trauma kolektif dari suatu 
krisis, musibah atau bencana, untuk melaksanakan rekayasa sosial dan 
ekonomi di berbagai belahan bumi. [berlanjut....]

Laissez-Faire Pak SBY, Laissez-Faire [2]
Raksasa Carrefour dan Kios Eceran

Krisis ekonomi yang menimpa Asia pada 1997, jelas momentum yang 
ditunggu-tunggu oleh operator utama sistem kapitalisme global – IMF, 
Bank Dunia, dan WTO – dan itu dengan lengkap dilaporkan Klein di dalam 
The Shock Doktrine. Operasi IMF di Indonesia, misalnya, ditulis detil. 
Bagaimana IMF yang katanya datang untuk mengobati krisis, ternyata 
bekerja lebih untuk kepentingan ideologi kapitalisme.

Bagaimana deregulasi, privatisasi, dan berbagai perangkat ideologi 
laissez-faire dipaksakan. Dan untuk itu, menurut The Shock Doktrine, IMF 
bisa sukses karena bekerja sama dengan kelompok Mafia-Berkeley di 
Indonesia yang dipimpin Profesor Widjojo Nitisastro (halaman 271). 
Biarlah sejarah kelak membuktikan, apakah tindakan kelompok 
Mafia-Berkeley itu penghianatan kepada bangsa Indonesia, atau tidak.

Sejak itu, bukan rahasia lagi kalau banyak undang-undang kita yang amat 
liberal disahkan DPR atas pesanan IMF. Dikabarkan sejumlah draf 
undang-undang disiapkan NDI (National Democratic Institute for 
International Affairs), organisasi yang dibentuk dan dibiayai pemerintah 
Amerika Serikat – dekat dengan Partai Demokrat – dengan dalih untuk 
menyebarkan demokrasi di negeri berkembang. Dulu NDI sempat punya ruang 
khusus di Gedung DPR-RI. Jadi DPR kita tinggal mengetuk palu.

Operasi IMF dalam krisis ekonomi Asia amat menakjubkan. Dalam tempo 20 
bulan, terjadi 186 merger dan aquisisi (pengambil-alihan) atas 
perusahaan-perusahaan negeri yang dilanda krisis -- Indonesia, Thailand, 
Malaysia, Filipina, dan Korea Selatan -- oleh perusahaan multi-nasional, 
terutama dari Amerika Serikat. Itu tercatat sebagai aquisisi terbesar 
yang pernah terjadi di dunia. Merrill Lynch dan Morgan Stanley, 
perusahaan Amerika yang banyak berperan sebagai agen merger dan aquisisi 
itu, panen keuntungan komisi yang cukup besar.

Carlyle Group yang suka merekrut ‘’pensiunan’’ pejabat tinggi Amerika – 
mulai bekas Menlu James Baker sampai bekas Presiden George H.W.Bush – 
sebagai konsultan, memborong perusahaan telkom Daewoo dan perusahaan 
informasi Ssangyong. Yang disebut terakhir merupakan shalat satu 
perusahaan teknologi tinggi terbesar di Korea Selatan. Dengan menguasai 
perusahaan itu, Carlyle menjadi pemegang saham mayoritas di shalat satu 
bank terbesar di negeri ginseng itu.

Semua transaksi itu tak normal, atau dengan kata lain dijual obral. 
Sekadar contoh, perusahaan mobil Korea Daewoo yang sebelum krisis 
bernilai 6 milyar dollar, waktu itu diambil-alih perusahaan mobil 
Amerika, General Motor, hanya dengan 400 juta dollar.

Di Indonesia, sistem penyediaan air minum dikavling oleh Thames Water 
dari Inggris dan Lyonnaise des Eaux dari Perancis. Westcoast Eergy dari 
Kanada menguasai proyek pembangkit listrik yang besar.

Sejak IMF menguasai Indonesia, perusahaan raksasa pengecer Carrefour 
dari Perancis masuk ke sini, menyapu perusahaan lokal yang sudah lama 
ada, seperti Golden Truly atau Hero, atau perusahaan kecil-kecil di 
pasar tradisional Tanah Abang dan Cipulir, yang jumlahnya begitu banyak. 
Nasib mereka tambah parah karena kemudian super-market raksasa dari 
Malaysia, Giant, hadir kemari. Dia telan Hero yang memang sudah 
ngos-ngosan. Itulah hasil konkret reformasi 1998.

Ternyata itu belum cukup. Belum lama, perusahaan Perancis itu membeli 
Alfa-Mart, super-market yang aktif masuk ke pedesaan. Dengan demikian, 
kini Carrefour dengan bebasnya akan menghancurkan kios eceran di 
desa-desa. Itulah laissez-faire yang sesungguhnya.

Karena laisses-faire, Presiden SBY lebih memilih menyerahkan proyek 
minyak dan gas di Cepu yang amat menguntungkan kepada Exxon-Mobil, 
perusahaan minyak terbesar dan tertua Amerika Serikat, daripada kepada 
Pertamina, perusahaan BUMN milik sendiri.

Ternyata setelah resep-resep IMF ditrapkan, artinya prinsip kapitalisme 
laissez-faire dilaksanakan, menurut The Shock Doktrine, justru penduduk 
miskin bertambah 20 juta orang di Korea Selatan, Malaysia, Thailand, 
Filipina, dan Indonesia. Pengangguran meledak.

Organisasi buruh internasional ILO, mencatat terjadi 24 juta penganggur 
baru. Itu justru terjadi pada masa puncak pelaksanaan reformasi IMF. Di 
Indonesia, angka pengangguran meloncat dari 4% menjadi 12%, dan dua 
tahun kemudian melambung tiga kali lipat. Setiap bulan ada 60.000 buruh 
di Thailand dan 300.000 buruh di Korea Selatan yang harus diberhentikan.

Di balik angka-angka statistik itu banyak kisah mengharukan, terutama 
menimpa anak-anak dan perempuan. Di pedesaan Korea Selatan dan Filipina 
banyak orang tua harus menjual anak gadisnya kepada pedagang manusia, 
untuk kemudian dijadikan pelacur di Australia, Eropa, dan Amerika Utara. 
Di Thailand, pejabat kesehatan melaporkan hanya dalam setahun terjadi 
peningkatan pelacuran anak-anak sebesar 20%. Data yang mirip terjadi di 
Filipina.

Tapi sudahlah, ini semua cerita masa lalu. Sekarang, krisis baru terjadi 
lagi karena harga minyak meningkat di atas 120 dollar/barel. Dunia kian 
terguncang setelah harga pangan ikut menggila. Artinya, berdasarkan 
tesis The Shock Doktrine, kapitalisme global dan para operatornya 
sekarang sedang bekerja.

Tapi di sini apalagi yang mau direformasi? Sejak 1998, Indonesia sudah 
menjadi shalat satu negara kapitalisme laissez-faire paling liberal di 
dunia. Lihatlah berbagai undang-undang yang dilahirkan DPR, semua 
liberal. Mulai UU Migas, UU privatisasi air, Pendidikan, Pertanahan, dan 
terakhir Undang-Undang Pelabuhan.

Karena liberalisme, siapa yang ingin masuk perguruan tinggi negeri harus 
menyediakan uang Rp 100 juta. Habis bagaimana lagi, kampus sedapat 
mungkin harus membiayai diri sendiri. Dengan demikian, anak petani, 
nelayan, buruh, pedagang kecil, jangan harap bisa mendaftar ke sana. 
Padahal kalau tak universitas negeri kemana lagi mereka belajar untuk 
meningkatkan taraf hidupnya?

Artinya, dengan sistem ini orang miskin sampai kapan pun akan terus 
miskin. Hampir tertutup kemungkinan bagi mereka melakukan mobilitas 
vertikal lewat pendidikan. Inilah kemiskinan yang diciptakan oleh sebuah 
struktur.

Era Universitas Gajah Mada (UGM) dijuluki Ndeso karena banyak anak desa 
kuliah di sana, sudah berakhir. Institut Pertanian Bogor (IPB) serupa. 
Zaman ketika anak-anak desa dari seluruh Indonesia berlomba-lomba 
belajar ke sana, kini agaknya sudah menjadi nostalgia.

Perusahaan minyak Pertamina yang dulu perkasa kini sudah dirontokkan. 
Bulog yang dulu efektif sebagai penjamin stabilitas pangan sudah tamat 
riwayatnya. Bahwa akibatnya rakyat bertambah melarat dan segelintir 
konglomerat berlipat-ganda kekayaannya, itu soal lain.

Majalah bisnis Forbes, 13 Desember 2007, menulis sepanjang tahun lalu 
kekayaan para konglomerat Indonesia meloncat dua kali lipat. Sungguh 
fantastis. Jadi kalau BPS menyodorkan angka pertumbuhan ekonomi kita 
tahun ini sekian persen, percayalah, itu berasal dari pertumbuhan 
kekayaan konglomerat kita. Bukan pertumbuhan kekayaan rakyat banyak.

Yang paling menakjubkan adalah Menko Kesra Aburizal Bakrie. Pemilik 
perusahaan kelompok Bakrie itu, kekayaan bersihnya tahun lalu meroket 
empat kali lipat. Itu menjadikannya sebagai orang terkaya Indonesia, 
dengan kekayaan 5,4 milyar dollar.

Apakah Aburizal punya lampu Aladin? Sebuah artikel di Asia Times Online, 
22 Juli 2006, sebenarnya sudah pernah membongkar rahasia lampu Aladin 
itu. Antara lain, karena politik dan bisnis di Indonesia di zaman 
Presiden SBY, tak terpisah melainkan menyatu.

Memang begitulah yang selalu terjadi di negeri dengan sistem 
laissez-faire. Begitulah Rusia di zaman Boris Yeltsin dulu. Para 
konglomerat dalam tempo singkat mendadak jadi kaya-raya, sampai Vladimir 
Putin datang menertibkannya. Para konglomerat itu kini lari ke luar 
negeri atau masuk penjara di Siberia. Tapi nantilah dalam kesempatan 
lain soal ini dibahas.

Di mata kaum kapitalisme laissez-faire, masih ada status-quo yang 
tersisa di Indonesia. BBM belum sepenuhnya mengikuti harga pasar dan 
perusahaan BUMN masih eksis. Mumpung suasana shock akibat kenaikan harga 
minyak dan krisis pangan masih berlangsung, sektor hilir pertambangan 
harus direformasi. Artinya, pemerintah harus menaikkan harga BBM, dan 
BUMN harus diobral. Semuanya harus dilakukan sekarang, mumpung krisis 
masih terjadi.


Masih kurang jelas? Silahkan berkeliling Jakarta dan sekitarnya. 
Lihatlah bagaimana perusahaan minyak internasional Shell, dan Petronas 
dari Malaysia, telah dan sedang membangun sejumlah pompa bensin raksasa. 
Kabarnya izin yang dikeluarkan pemerintah sudah lebih 100.

Semua pompa bensin Shell atau Petronas itu buka sampai malam dengan 
lampu yang terang-benderang, tapi betul-betul sepi pembeli. Seharian 
puluhan petugasnya yang berseragam hanya duduk-berdiri sampai capek 
sendiri, tak pernah melayani konsumen. Coba dicek, penghasilannya setiap 
bulan, mungkin tak cukup walau untuk sekadar membayar rekening listrik.

Ini terjadi karena mereka hanya menjual BBM non-subsidi yang konsumennya 
hanya segelintir mobil mewah milik orang kaya. Bahwa mereka terus 
membangun pompa bensin baru, pasti karena ada jaminan subsidi minyak 
akan dicabut.

Dengan demikian mereka bisa bersaing bebas dengan pompa bensin Pertamina 
milik pengusaha lokal yang selama ini menguasai pasar karena menjual BBM 
bersubsidi. Bila itu terjadi, pompa bensin multi-nasional yang raksasa 
itu pasti dengan mudah menelan pompa bensin lokal yang kecil-kecil.

Kasus Carrefour merontokkan Hero atau pedagang Tanah Abang, akan 
berulang. Itu sebabnya Shell dan Petronas dengan sabar menunggu 
laissez-faire. Cukup jelas? [habis/www.hidayatullah.com]

------------------------------------

======================================================================
MX Rider Community (MXRC) Official Website : http://www.mxrider.or.id/

- Posting     : email ke [email protected]
- Berlangganan: email ke [EMAIL PROTECTED]
- Berhenti    : email ke [EMAIL PROTECTED]
- Digest      : email ke [EMAIL PROTECTED]
- Baca di web : email ke [EMAIL PROTECTED]
- Reset email : email ke [EMAIL PROTECTED]
- Bouncing    : http://groups.yahoo.com/myprefs?edit=2
- Mailinglist : http://groups.yahoo.com/group/mxrider/
======================================================================
*** SAVE BANDWIDTH!,  Mohon buang message yang tidak diperlukan ***

Moderator [mxrider]Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mxrider/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mxrider/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke