gw makin cinta ama elo bro...
 
bener kata lo sekolah skrg BUSINESS ORIENTED...
contohnya kmrn di hari pertama Zidane masuk kelas 2, yg pada awalnya ada
pernyataan uang daftar ulang yg harus dibayar bisa dicicil 3x,
dan cicilan pertama paling lambat tgl 31....buat gw yg rada seret duitnya
lumayan nih abis bulan baru bayarnye :P
eh ternyata di hari pertama itu sebagian anak2 yg sudah bayar cicilan
pertama dikasih buku pelajaran dan yg belom nyicil GAK DIKASIH...
coba ente bayangin betapa sedihnya anak gw dan sebagian anak2 lain gak
dikasih buku sedangkan yg lainnya dikasih...
GOBLOG bgt gak sih kalo begitu, mbok ya ngomong dari jauh2 hari kalo di hari
pertama akan dibagikan buku pelajaran bagi yg sudah mencicil.
jadinya kan gak bikin anak gw manyun di hari pertama dia masuk sekolah :((
MAU NGAMUK DEH..!!!!!

  _____  

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of
heru herlambang
Sent: Wednesday, July 16, 2008 9:52 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [mxrider] Anak TK Belajar Huruf & Angka >7thn


Saya juga mengalami hal seperti itu, ketika anak saya sempat jenuh sekolah
di TK, akhirnya keluhan ini saya sampaikan kepada pihak sekolahan, namun
saya juga tidak bisa berbuat banyak karena mereka sendiri hanya mengikuti
peraturan dari pemerintah yang menetapkan standarisasi yang menurut saya
terlalu berlebihan. hingga akhirnya anak saya sempat 3 bulan tidak mau
bersekolah.
Kasus serupa terjadi pada tetangga saya yang anakknya sempat masuk UGD
karena stress berat saat akan menghadapi cawu SD, terutama pada mata
pelajaran bahasa inggris, akhirnya dia harus mengikuti ujian susulan.

Yang parah ada anak teman saya hingga kelas 4 SD di salah satu madrasah
negeri ternama di kota malang yang boikot untuk tidak masuk sekolah, hingga
akhirnya dia memilih home schooling dan sebelumnya sempat miris saya
melihat, ketika si anak tersebut dihadapkan pada buku yang belum tentu buku
itu untuk belajar namun dia langsung seperti orang yang mabuk...lantas
meraung-raung tidak mau menyentuh buku itu. Orang tuanya juga sempat sedih
dan menyesal karena harus memaksakan anaknya masuk sekolah yang tergolong
favorit itu padahal si anak secara mental belum siap.

Terlebih parahnya saat ini sekolahan lebih banyak pada business orientednya
ketimbang pada masalah pendidikannya. Banyak sekolahan yang saya datangi
sebelum mendaftarkan anak saya masuk ke SD di malang. Ada pihak sekolah yang
berlagak cuek seakan-akan tidak butuh kami, dan menyodorkan sekian banyak
persyaratan dan biaya yang menurut saya Non Sense untuk sekolah negeri.
Belum lagi sekolah swasta islam yang meminta uang pembangunan sebesar 7jt
rupiah. Lucunya mereka memberi tahukan pada saya jika nantinya anak saya
gagal pada gelombang satu maka bisa ikut lagi di gelombang dua tentunya
harus sudah melunasi dulu uang masuk sebesar tersebut diatas. Saya cuma
tersenyum kecut karena melihat cara-cara mereka menyodorkan
keunggulan-keunggulan sekolahnya. Bagi saya yang dididik oleh orang tua yang
dibesarkan dengan cara otodidak dan lebih menanamkan prinsip tanggung jawab
atas amanah, hal itu tentunya sangat menyedihkan, terlebih lagi ujian masuk
SD tersebut menyodorkan materi-materi ujian yang setaraf level kelas 4 SD,
benar-benar BULLSHIT!!! bagaimana mungkin seorang anak yang baru mengenal
alpabet dan cara membaca yang masih terbata-bata harus menyelesaikan ujian
tersebut.... BODOH!! itu jawab saya, anak itu nantinya akan lebih GOBLOK dan
GILA jika saya harus memaksakan dia sekolah di situ. Yang paling parah
adalah kenyataan bahwa para gurunya inginnya tahu beres, artinya orang tua
harus aktif berperan dalam menunjang pendidikan si anak, salah satunya
menyiapkan seperangkat GURU-GURU LES PRIVAT agar si anak bisa mengikuti pola
pendidikan di sekolah itu. Lantas, Apa gunanya guru??? TOTALY BULLSHIT!! and
WASTING MY MONEY FOR AN IDIOT !!

Akhirnya saya mencoba alternatif lain dan konsultasi dengan beberapa mantan
guru sma saya, yang mengatakan ada sekolah swasta yang justru cara
mengajarnya jauh lebih manusiawi dan mengutamakan pendekatan psikologis
ketimbang penetrasi pada kurikulum yang ada. Dan saya salutnya ternyata
prestasi siswanya tidak main-main, mulai dari akademik, hingga olahraga dan
keorganisasian semuanya gemilang, dan yang paling mengagumkan saya adalah
BIAYANYA LUAR BIASA masuk budget saya :D . saat itu anak saya di suruh
melihat-lihat lingkungan sekolahnya dulu hingga berkenalan dengan
kakak-kakak kelasnya sampai akhirnya dia memutuskan, Abel Pilih sekolah ini
Yah...!! saya pastikan lagi dengan pertanyaan "SERIUS??" dengan yakin dia
menjawab. YA!! ok. hari itu juga saya daftarkan dan lusa dia ujian dan lulus
dengna cemerlang, khususnya di bidang Berhitung dengan sangat cepat dan
tepat.

Hari senin kemarin adalah hari pertama dia sekolah, dengan antusiasnya jam
4.30 pagi dia sudah bangun dan memaksa saya untuk memandikannya hingga
menyiapkan sarapannya, jam 6 pagi dia siap untuk berangkat, sampai di
sekolah langsung naik kekelasnya dan berkenalan dengna kawan-kawannya,
padahal bagi saya dia anak yang pemalu ketimbang adiknya. namun di situ
ternyata kawan-kawannya beserta kakak-kakak kelasnya ikut membantu
bersosialisasi. Suatu budaya yang luar biasa bagus menurut saya. dan yang
menyenangkan saya, ternyata satu kelas maksimal hanya bisa di isi 16 siswa,
dan pihak sekolah memang menolak quota yang berlebih dengan alasan, konsep
mengajar mereka adalah fokus pada kepribadian dan pengembangan kemampuan si
anak murid. GOOD!! ini yang memang saya harapkan. Saya bersyukur karena
tidak harus menguras tabungan dan asuransi pendidikan saya hanya untuk
sekolah-sekolah yang justru membuat anak saya akan jadi lebih BODOH
ketimbang sekarang.

Beberapa minggu lalu saya juga kedatangan rekan saya yang native orang NZ
namun beristri orang Indonesia, saya bertanya tentang banyak hal, termasuk
maslaah pendidikan. Dia menyatakan bahwa di sana anak-anak akan maksimal
mengenal segala macam huruf dan angka beserta aplikasinya pada saat di kelas
4 SD. selama dari playgroup hingga kelas 3 mereka lebih diarahkan pada
kematangan psikologisnya. Saya bertanya kenapa begitu, bukankah lebih baik
anak itu dikenalkan dan di "push" sejak awal untuk masalah itu. Dia bilang,
disana tidak begitu. Banyak kenyataan bahwa mereka2 yang matang secara
psikologis dimasa kecilnya memiliki kepribadian dan semangat juang , serta
inovatif yang sangat tinggi ketimbang anak2 dari "maaf" indonesia yang sejak
awalnya memang pintar, namun ketika di hadapkan pada permasalahan aplikasi
keilmuan pada kehidupan sehari-hari, mereka lebih mudah menyerah...!! namun
secara teoritis mereka unggul. Tp keunggulan teoritis tidak menjamin mereka
bakal menjadi orang yang sukses dalam kemandirian kan?? itu jawabnya. banyak
teman2nya yang dari indo tidak bisa seberhasil dia yang bisa membangun usaha
yang MEGA Business, padahal pendidikannya biasa-biasa saja. justru mereka2
yang pandai secara teoritis menjadi bawahan-bawahannya. Ini menandakan apa?
bahwa sikap mental menentukan keberhasilan manusia itu. 

Coba kita perhatikan kenyataan-kenyataan saat ini, berapa banyak kasus yang
terjadi dalam kurun waktu tahun ini yang banyak melibatkan para siswa,
pelajar, mahasiswa dalam hal perilaku-perilaku yang tidak berbudi pekerti???
berapa banyak tindak kekerasan justru muncul dari kalangan yang nota bene
"Terpelajar" ??? Mohon di jawab!! Apa yang menyebabkan semua ini terjadi??
Apa masih berlaku dan sesuaikah 'PENDIDIKAN 9 TAHUN' ?? jika setiap tahun
harus ada lebih dari 5% siswa yang tidak lulus, bisa2 jadi pola belajar
15tahun tuh....hahhahahahahha...  Paman saya, hanya lulusan STM itupun
berkali-kali bermasalah dan terpaksa diluluskan oleh sekolahnya, sekarang???
Dia menjadi salah satu EXPATRIAT yang di perhitungkan di benua AUSTRALIA ,
amerika , dan Afrika dengan gaji sebulannya 20 kali lipat presiden Kita
...hehehhehhe..... sekalipun pernah ditempatkan di indonesia, dia selalu
mendapatkan fasilitas "orang bule dengan gaji dolar" Bukan karena
peruntungan atau nasib, tp dari kerja keras , kemauan untuk belajar
sekalipun tidak mengenyam bangku pendidikan tinggi dan bukan orang yang
terpelajar kalo orang lain tahu masa lalunya.Namun yang membuat saya kagum
ketika seorang senior teknisi lulusan MIT yang juga orang Amrik sono tidak
bisa menyelesaikan satu kasus teknikal pada sistem dispatch pertambangan di
salah satu alat berat tambang di perusahaan ternama di papua, Dia mengatakan
pada paman saya, "Hey Ardian, you are the man!! you save my life!! what can
I do to thank you?" paman saya cuma bilang, Buy Me a Drink pale!! . Paman
saya berhasil menyelesaikan kasus teknikal yang mereka sendiri para expert
tidak bisa menyelesaikannya, mungkin bukan karena faktor lucky, tp karena
faktor pengenalan terhadap suatu masalah. Dia memang senior, tp bukan
berarti dia setiap hari mengalami permasalahan yang sama atau mungkin dia
sebagai senior teknisi hanya bersifat managerial, sementara paman saya lebih
bersifat practical dan tidak mau terpaku pada panduan teknikal begitu saja.

So guys, apa yang saya jabarkan di atas, merupakan sebuah gambaran bagaimana
pola pendidikan di indonesia saat ini. Saya tidak pernah menyangka seperti
ini, bahkan saya dulunya pun tidak pernah merasakan jadi orang pinter di
sekolah namun mampu untuk terus bertahan hidup, sementara adik2 kelas saya
sungguh menyedihkan. 
Pesan saya, Jika kalian merupakan orang tua baru, belajarlah pada pengalaman
kalian sendiri dimasa lalu, rasakanlah apa yang pernah kalian rasakan dan
give it to your children!! , biarkan mereka berkembang, kita hanya
mengawasinya dan mendukung penuh potensi dan kreatifitasnya. Jangan pernah
malu jika anakmu bercita-cita jadi musisi atau montir bengkel, karena tidak
ada yang salah dari semua itu. Tapi malulah dan menangislah Kalian jika
anak-anak kalian menjadi orang yang tidak mampu menjadikan bangsa ini lebih
baik di kemudian hari hingga harus mengabaikan Kalian di hari tua...!! 

Take care..
Heru Herlambang
Malang.


Pada 9 Juli 2008 10:56, Junianto M <[EMAIL PROTECTED]> menulis:


kalo soal kuri & kulum janganla dipaksa-paksakan..
lebi disarankan atas kerelaan pribadi aja.

Regards,
Junianto M

Januarius W. Hadi wrote:
> 
> 
> Alasannya sih simple, anak dibawah umur 5 thn itu hanya boleh 
> beraktifitas bermain kalo pun belajar hanyalah untuk melatih motorik 
> saja. Sebab jika dipaksakan belajar semenjak dini, justru nanti pada 
> masa dewasanya yg kasihan. Si anak bisa bosen, jenuh, bahkan cenderung 
> berperilaku suicidal (gampang bunuh diri). Coba Tanya ke orang2 yg 
> belajar psikologi pendidikan deh. Gue sih udeh Tanya ke guru2 (bini, 
> kakak dan temen IT satu ktr gue pan guru, hehehe), kata mereka, 
> kurikulum skrg ini terlalu memaksakan.
> 
> 
> 
> 
> 
> DJ
> 
> 
> 
> *From:* [email protected] <mailto:mxrider%40yahoogroups.com>
[mailto:[email protected] <mailto:mxrider%40yahoogroups.com> ] *On 
> Behalf Of *Jonet
> *Sent:* Wednesday, July 09, 2008 9:48 AM
> *To:* [email protected] <mailto:mxrider%40yahoogroups.com> 
> *Subject:* Re: [mxrider] FW: (OOT pada sebagian milis) Anak TK Belajar 
> Huruf & Angka, Penganiayaan Terselubung
> 
> 
> 
> kok agak janggal ya "kebijakan" german ini, seperti setengah otoriter 
> hanya melarang tanpa memberikan alasan yang make sense, atau karena yang 
> menyampaikan cerita tidak lengkap? :P
> 
> maaf bro Jan, soalnya mail seperti ini bisa menyesatkan jikalau tidak 
> lengkap, dan harap jika memfoward mail silahkan ditelusuri terlebih 
> dahulu alasan dan sumbernya.
> 
> 
> 
> YangPernahDiProtesGara2Foward2an....
> 
> 
> 
> L. Jonet W
> 







-- 
Heru Herlambang
www.geraihosting.com - Hostingnya Blogger dan CMS Mania.
www.writemethecode.com - Template Development and Converter.
www.vandenito.com - Web and Multimedia Stock
www.webito.web.id - Code Development and Application Service Provider
www.masheru.web.id - My Personal Blog Journey.
www.mxrider.or.id - Yamaha Jupiter MX135LC Rider's Community
http://mx135.multiply.com
milis: [EMAIL PROTECTED]
KSNET Port Malang (Internet Service Provider) 
 

Kirim email ke