Setubuh cak…..eits jangan pada piktor dulu, setubuh = setuju buhanget. System 
pendidikan Indonesia skrg emang terlalu memaksakan. Gue masih inget, jaman tk 
dulu. Gue cuman di suruh pasang2in gbr, maen puzzle, masukin benda2 dengan 
bentuk2 tertentu ke tempat yg pas, belajar makan sendiri, maen prosotan dll. 
Toh sampe skrg gue gak ketinggalan kok. Malah gue enjoy belajar dan belajar 
hal2 baru tiap hari, terutama dibidang IT.
Btw cak, sharing nama sekolahnya dong, jenis dan biayanya. Dan barangkali 
sekolah2 semacam itu ada juga di Jakarta. Gue sih ngerasa kasihan ama anak gue 
kalo harus dipaksa belajar calistung pada pre school.
 
 
DJ
 
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of heru 
herlambang
Sent: Wednesday, July 16, 2008 9:52 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [mxrider] Anak TK Belajar Huruf & Angka >7thn
 
Saya juga mengalami hal seperti itu, ketika anak saya sempat jenuh sekolah di 
TK, akhirnya keluhan ini saya sampaikan kepada pihak sekolahan, namun saya juga 
tidak bisa berbuat banyak karena mereka sendiri hanya mengikuti peraturan dari 
pemerintah yang menetapkan standarisasi yang menurut saya terlalu berlebihan. 
hingga akhirnya anak saya sempat 3 bulan tidak mau bersekolah.
Kasus serupa terjadi pada tetangga saya yang anakknya sempat masuk UGD karena 
stress berat saat akan menghadapi cawu SD, terutama pada mata pelajaran bahasa 
inggris, akhirnya dia harus mengikuti ujian susulan.

Yang parah ada anak teman saya hingga kelas 4 SD di salah satu madrasah negeri 
ternama di kota malang yang boikot untuk tidak masuk sekolah, hingga akhirnya 
dia memilih home schooling dan sebelumnya sempat miris saya melihat, ketika si 
anak tersebut dihadapkan pada buku yang belum tentu buku itu untuk belajar 
namun dia langsung seperti orang yang mabuk...lantas meraung-raung tidak mau 
menyentuh buku itu. Orang tuanya juga sempat sedih dan menyesal karena harus 
memaksakan anaknya masuk sekolah yang tergolong favorit itu padahal si anak 
secara mental belum siap.

Terlebih parahnya saat ini sekolahan lebih banyak pada business orientednya 
ketimbang pada masalah pendidikannya. Banyak sekolahan yang saya datangi 
sebelum mendaftarkan anak saya masuk ke SD di malang. Ada pihak sekolah yang 
berlagak cuek seakan-akan tidak butuh kami, dan menyodorkan sekian banyak 
persyaratan dan biaya yang menurut saya Non Sense untuk sekolah negeri. Belum 
lagi sekolah swasta islam yang meminta uang pembangunan sebesar 7jt rupiah. 
Lucunya mereka memberi tahukan pada saya jika nantinya anak saya gagal pada 
gelombang satu maka bisa ikut lagi di gelombang dua tentunya harus sudah 
melunasi dulu uang masuk sebesar tersebut diatas. Saya cuma tersenyum kecut 
karena melihat cara-cara mereka menyodorkan keunggulan-keunggulan sekolahnya. 
Bagi saya yang dididik oleh orang tua yang dibesarkan dengan cara otodidak dan 
lebih menanamkan prinsip tanggung jawab atas amanah, hal itu tentunya sangat 
menyedihkan, terlebih lagi ujian masuk SD tersebut
 menyodorkan materi-materi ujian yang setaraf level kelas 4 SD, benar-benar 
BULLSHIT!!! bagaimana mungkin seorang anak yang baru mengenal alpabet dan cara 
membaca yang masih terbata-bata harus menyelesaikan ujian tersebut.... BODOH!! 
itu jawab saya, anak itu nantinya akan lebih GOBLOK dan GILA jika saya harus 
memaksakan dia sekolah di situ. Yang paling parah adalah kenyataan bahwa para 
gurunya inginnya tahu beres, artinya orang tua harus aktif berperan dalam 
menunjang pendidikan si anak, salah satunya menyiapkan seperangkat GURU-GURU 
LES PRIVAT agar si anak bisa mengikuti pola pendidikan di sekolah itu. Lantas, 
Apa gunanya guru??? TOTALY BULLSHIT!! and WASTING MY MONEY FOR AN IDIOT !!

Akhirnya saya mencoba alternatif lain dan konsultasi dengan beberapa mantan 
guru sma saya, yang mengatakan ada sekolah swasta yang justru cara mengajarnya 
jauh lebih manusiawi dan mengutamakan pendekatan psikologis ketimbang penetrasi 
pada kurikulum yang ada. Dan saya salutnya ternyata prestasi siswanya tidak 
main-main, mulai dari akademik, hingga olahraga dan keorganisasian semuanya 
gemilang, dan yang paling mengagumkan saya adalah BIAYANYA LUAR BIASA masuk 
budget saya :D . saat itu anak saya di suruh melihat-lihat lingkungan 
sekolahnya dulu hingga berkenalan dengan kakak-kakak kelasnya sampai akhirnya 
dia memutuskan, Abel Pilih sekolah ini Yah...!! saya pastikan lagi dengan 
pertanyaan "SERIUS??" dengan yakin dia menjawab. YA!! ok. hari itu juga saya 
daftarkan dan lusa dia ujian dan lulus dengna cemerlang, khususnya di bidang 
Berhitung dengan sangat cepat dan tepat.

Hari senin kemarin adalah hari pertama dia sekolah, dengan antusiasnya jam 4.30 
pagi dia sudah bangun dan memaksa saya untuk memandikannya hingga menyiapkan 
sarapannya, jam 6 pagi dia siap untuk berangkat, sampai di sekolah langsung 
naik kekelasnya dan berkenalan dengna kawan-kawannya, padahal bagi saya dia 
anak yang pemalu ketimbang adiknya. namun di situ ternyata kawan-kawannya 
beserta kakak-kakak kelasnya ikut membantu bersosialisasi. Suatu budaya yang 
luar biasa bagus menurut saya. dan yang menyenangkan saya, ternyata satu kelas 
maksimal hanya bisa di isi 16 siswa, dan pihak sekolah memang menolak quota 
yang berlebih dengan alasan, konsep mengajar mereka adalah fokus pada 
kepribadian dan pengembangan kemampuan si anak murid. GOOD!! ini yang memang 
saya harapkan. Saya bersyukur karena tidak harus menguras tabungan dan asuransi 
pendidikan saya hanya untuk sekolah-sekolah yang justru membuat anak saya akan 
jadi lebih BODOH ketimbang sekarang.

Beberapa minggu lalu saya juga kedatangan rekan saya yang native orang NZ namun 
beristri orang Indonesia, saya bertanya tentang banyak hal, termasuk maslaah 
pendidikan. Dia menyatakan bahwa di sana anak-anak akan maksimal mengenal 
segala macam huruf dan angka beserta aplikasinya pada saat di kelas 4 SD. 
selama dari playgroup hingga kelas 3 mereka lebih diarahkan pada kematangan 
psikologisnya. Saya bertanya kenapa begitu, bukankah lebih baik anak itu 
dikenalkan dan di "push" sejak awal untuk masalah itu. Dia bilang, disana tidak 
begitu. Banyak kenyataan bahwa mereka2 yang matang secara psikologis dimasa 
kecilnya memiliki kepribadian dan semangat juang , serta inovatif yang sangat 
tinggi ketimbang anak2 dari "maaf" indonesia yang sejak awalnya memang pintar, 
namun ketika di hadapkan pada permasalahan aplikasi keilmuan pada kehidupan 
sehari-hari, mereka lebih mudah menyerah...!! namun secara teoritis mereka 
unggul. Tp keunggulan teoritis tidak menjamin
 mereka bakal menjadi orang yang sukses dalam kemandirian kan?? itu jawabnya. 
banyak teman2nya yang dari indo tidak bisa seberhasil dia yang bisa membangun 
usaha yang MEGA Business, padahal pendidikannya biasa-biasa saja. justru 
mereka2 yang pandai secara teoritis menjadi bawahan-bawahannya. Ini menandakan 
apa? bahwa sikap mental menentukan keberhasilan manusia itu. 

Coba kita perhatikan kenyataan-kenyataan saat ini, berapa banyak kasus yang 
terjadi dalam kurun waktu tahun ini yang banyak melibatkan para siswa, pelajar, 
mahasiswa dalam hal perilaku-perilaku yang tidak berbudi pekerti??? berapa 
banyak tindak kekerasan justru muncul dari kalangan yang nota bene "Terpelajar" 
??? Mohon di jawab!! Apa yang menyebabkan semua ini terjadi?? Apa masih berlaku 
dan sesuaikah 'PENDIDIKAN 9 TAHUN' ?? jika setiap tahun harus ada lebih dari 5% 
siswa yang tidak lulus, bisa2 jadi pola belajar 15tahun 
tuh....hahhahahahahha...  Paman saya, hanya lulusan STM itupun berkali-kali 
bermasalah dan terpaksa diluluskan oleh sekolahnya, sekarang??? Dia menjadi 
salah satu EXPATRIAT yang di perhitungkan di benua AUSTRALIA , amerika , dan 
Afrika dengan gaji sebulannya 20 kali lipat presiden Kita ...hehehhehhe..... 
sekalipun pernah ditempatkan di indonesia, dia selalu mendapatkan fasilitas 
"orang bule dengan gaji dolar" Bukan karena peruntungan
 atau nasib, tp dari kerja keras , kemauan untuk belajar sekalipun tidak 
mengenyam bangku pendidikan tinggi dan bukan orang yang terpelajar kalo orang 
lain tahu masa lalunya.Namun yang membuat saya kagum ketika seorang senior 
teknisi lulusan MIT yang juga orang Amrik sono tidak bisa menyelesaikan satu 
kasus teknikal pada sistem dispatch pertambangan di salah satu alat berat 
tambang di perusahaan ternama di papua, Dia mengatakan pada paman saya, "Hey 
Ardian, you are the man!! you save my life!! what can I do to thank you?" paman 
saya cuma bilang, Buy Me a Drink pale!! . Paman saya berhasil menyelesaikan 
kasus teknikal yang mereka sendiri para expert tidak bisa menyelesaikannya, 
mungkin bukan karena faktor lucky, tp karena faktor pengenalan terhadap suatu 
masalah. Dia memang senior, tp bukan berarti dia setiap hari mengalami 
permasalahan yang sama atau mungkin dia sebagai senior teknisi hanya bersifat 
managerial, sementara paman saya lebih bersifat
 practical dan tidak mau terpaku pada panduan teknikal begitu saja.

So guys, apa yang saya jabarkan di atas, merupakan sebuah gambaran bagaimana 
pola pendidikan di indonesia saat ini. Saya tidak pernah menyangka seperti ini, 
bahkan saya dulunya pun tidak pernah merasakan jadi orang pinter di sekolah 
namun mampu untuk terus bertahan hidup, sementara adik2 kelas saya sungguh 
menyedihkan. 
Pesan saya, Jika kalian merupakan orang tua baru, belajarlah pada pengalaman 
kalian sendiri dimasa lalu, rasakanlah apa yang pernah kalian rasakan dan give 
it to your children!! , biarkan mereka berkembang, kita hanya mengawasinya dan 
mendukung penuh potensi dan kreatifitasnya. Jangan pernah malu jika anakmu 
bercita-cita jadi musisi atau montir bengkel, karena tidak ada yang salah dari 
semua itu. Tapi malulah dan menangislah Kalian jika anak-anak kalian menjadi 
orang yang tidak mampu menjadikan bangsa ini lebih baik di kemudian hari hingga 
harus mengabaikan Kalian di hari tua...!! 

Take care..
Heru Herlambang
Malang.
Pada 9 Juli 2008 10:56, Junianto M <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
kalo soal kuri & kulum janganla dipaksa-paksakan..
lebi disarankan atas kerelaan pribadi aja.

Regards,
Junianto M

Januarius W. Hadi wrote:
> 
> 
> Alasannya sih simple, anak dibawah umur 5 thn itu hanya boleh 
> beraktifitas bermain kalo pun belajar hanyalah untuk melatih motorik 
> saja. Sebab jika dipaksakan belajar semenjak dini, justru nanti pada 
> masa dewasanya yg kasihan. Si anak bisa bosen, jenuh, bahkan cenderung 
> berperilaku suicidal (gampang bunuh diri). Coba Tanya ke orang2 yg 
> belajar psikologi pendidikan deh. Gue sih udeh Tanya ke guru2 (bini, 
> kakak dan temen IT satu ktr gue pan guru, hehehe), kata mereka, 
> kurikulum skrg ini terlalu memaksakan.
> 
> 
> 
> 
> 
> DJ
> 
> 
> 
> *From:* [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] *On 
> Behalf Of *Jonet
> *Sent:* Wednesday, July 09, 2008 9:48 AM
> *To:* [email protected]
> *Subject:* Re: [mxrider] FW: (OOT pada sebagian milis) Anak TK Belajar 
> Huruf & Angka, Penganiayaan Terselubung
> 
> 
> 
> kok agak janggal ya "kebijakan" german ini, seperti setengah otoriter 
> hanya melarang tanpa memberikan alasan yang make sense, atau karena yang 
> menyampaikan cerita tidak lengkap? :P
> 
> maaf bro Jan, soalnya mail seperti ini bisa menyesatkan jikalau tidak 
> lengkap, dan harap jika memfoward mail silahkan ditelusuri terlebih 
> dahulu alasan dan sumbernya.
> 
> 
> 
> YangPernahDiProtesGara2Foward2an....
> 
> 
> 
> L. Jonet W
> 



-- 
Heru Herlambang
www.geraihosting.com - Hostingnya Blogger dan CMS Mania.
www.writemethecode.com - Template Development and Converter.
www.vandenito.com - Web and Multimedia Stock
www.webito.web.id - Code Development and Application Service Provider
www.masheru.web.id - My Personal Blog Journey.
www.mxrider.or.id - Yamaha Jupiter MX135LC Rider's Community
http://mx135.multiply.com
milis: [EMAIL PROTECTED]
KSNET Port Malang (Internet Service Provider) 
 
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG - http://www.avg.com
Version: 8.0.138 / Virus Database: 270.4.11/1554 - Release Date: 7/15/2008 6:03 
PM


      Get your new Email address!
Grab the Email name you&#39;ve always wanted before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/sg/

Kirim email ke