duh dollar naik mulu nih mau beli notebook ga jadi dah, naiknya 1juta 
lebih....:-( mau cari yang murah jadi mahal dah...

[EMAIL PROTECTED]
or
[EMAIL PROTECTED]

--- Pada Sab, 11/10/08, bunder dowo <[EMAIL PROTECTED]> menulis:

Dari: bunder dowo <[EMAIL PROTECTED]>
Topik: [mxrider] Detik Detik Kehancuran Amerika
Kepada: [EMAIL PROTECTED], [email protected]
Tanggal: Sabtu, 11 Oktober, 2008, 3:12 AM







Let's be No One....
Bagaimana, masih silau dengan gemerlapnya Amerika Serikat?



Analisa: Bangkrutnya Lehman Brothers dan Nasib Perekonomian AS

Amerika telah bangkrut. Tidak ada lagi mitos sebagai superioritas. Sebagai 
adidaya. Negeri Paman Sam ini menuju kehidupan pariah. Kesombongan yang 
dipertontonkan Presiden George Walker Bush telah berakhir. Menjelang akhir 
kekuasaannya George W.Bush hanya menyisakan cemoohan oleh bangsanya sendiri.

Di Iraq Presiden Bush telah gagal. Menteri Pertahanan Robert Gate dan Jendral 
David Petraeus, Panglima Komandan Pasukan AS di Iraq, menyatakan: "Amerika 
telah kalah di Iraq", tegasnya.

Amerika tidak lagi seperti ketika menyerbu Iraq. Di mana Presiden Bush dengan 
gagahnya mengumumkan perang terhadap rejim Saddam Husien. Sesudah hampir lima 
tahun, tak berhasil menciptakan stabilitas. Kekacauan terus berkecamuk. Tentara 
Amerika banyak yang mati di negeri 1001 malam itu. Presiden Bush dengan malu 
mengumumkan menarik 8.000, dan akan dipindahkan ke Afghanistan.

Di Afghanistan Amerika dan sekutunya terseok-seok. Menghadapi Taliban. Tak 
berdaya. Armada daratnya tak ampuh. Untuk menghadapi Taliban menggunakan 
serangan udara. Justru banyak salah sasaran. Warga sipil banyak yang mati. 
Bukan Taliban. Di sebuah buku yang ditulis seorang peniliti Pakistan, yang 
berjudul: Afghanistan: "Taliban Return and Future Scenario", menjelaskan bahwa 
tentara Amerika dan Nato, tidak bakal memenangkan perang. Afghanistan mempunyai 
pengalaman panjang dalam perang. Pernah menaklukan pasukan Inggris, dan 
terakhir imperium Soviet. Jadi di dalam buku digambarkan, Taliban akan kembali 
mengambil alih kekuasasan.

Amerika menghadapi serangan alam. Lebih dahsyat. Badai tropis telah 
memporak-porandakan pantai Mexico, dan beberapa negara bagian, terutama 
Lousiana. Negara bagian ini luluh lantak. Melebihi serangan militer yang 
menggunakan senjata atom, seperti yang pernah dijatuhkan Amerika di Nagasaki 
dan Hiroshima, waktu Perang Dunia II. Malapetaka telah mengakibatkan hancurnya 
bangunan, infrastruktur, dan rumah-rumah penduduk, dan nilai kerugian mencapai 
puluhan milyar dolar.


Bangkrutnya Lehman Brothers, perusahaan sekuritas berusia 158 tahun milik 
Yahudi ini menjadi pukulan berat bagi perekonomian AS yang sejak beberapa tahun 
terakhir mulai goyah. Sekaligus membuktikan rapuhnya sistem ekonomi kapitalis 
neo-liberal.

Bangkrutnya Lehman Brothers, perusahaan sekuritas berusia 158 tahun milik 
Yahudi ini menjadi pukulan berat bagi perekonomian AS yang sejak beberapa tahun 
terakhir mulai goyah. Para analis menilai, bencana pasar keuangan akibat 
rontoknya perusahaan keuangan dan bank-bank besar di Negeri Paman Sam satu per 
satu, tinggal menunggu waktu saja. Inikah tanda-tanda kehancuran sebuah 
imperium, negara adi daya bernama Amerika Serikat?


Krisis terburuk

Pernyataan bangkrutnya Lehman Brothers hari Senin kemarin, langsung mengguncang 
bursa saham di seluruh dunia. Dalam pembukaan perdagangan hari Selasa (16/9), 
bursa saham di kawasan Asia seperti di Jepang, Hongkong, China, Asutralia, 
Singapura, India, Taiwan dan Korea Selatan, mengalami penurunan antara 2 sampai 
7 persen. Termasuk bursa saham di kawasan Timur Tengah, Rusia, Eropa, Amerika 
Selatan dan Amerika Utara. Tak terkecuali di AS sendiri, para investor di Bursa 
Wall Street mengalami kerugian besar, bahkan surat kabar New York Times 
menyebutnya sebagai kerugian paling buruk sejak peristiwa serangan 11 September 
2001.

Mantan Kepala Federal Reserve Alan Greenspan mengatakan, krisis keuangan yang 
terjadi di AS merupakan krisis keuangan terburuk yang pernah ia saksikan dan 
masih berlangsung dalam jangka waktu lama. Ia meyakini krisis ini akan makin 
mendalam yang bisa mengakibatkan resesi ekonomi di AS. "Kemungkinan AS bisa 
lolos dari resesi ekonomi sangat kecil, di bawah 50 persen, " kata Greenspan 
dalam wawancara dengan ABC News hari Minggu kemarin.

Pernyataan Greenspan bertolak belakang dengan pernyataan-pernyata an Presiden 
AS George W. Bush dan jajaran pejabat perekonomiannya. Bush mengatakan, apa 
yang terjadi saat ini cuma penyesuaian kecil dan ia akan bekerja keras untuk 
meminimalkan dampaknya guna mencegah terjadinya kekacauan ekonomi.

"Saya percaya perekonomian negeri ini akan bergairah kembali. Dalam jangka 
pendek, penyesuaian di pasar finansial akan terasa sangat menyakitkan. Tapi 
dalam jangka panjang, saya percaya pasar modal kita sangat fleksibel dan mampu 
menyesuaikan diri dengan penyesuaian ini, " kata Bush yakin.

Sementara Menteri Keuangan AS Henry Paulson mengatakan, dirinya akan 
bekerjasama dengan dewan legislatif AS dan otoritas keuangan di berbagai negara 
untuk memulihkan "stabilitas dan ketertiban" di pasar modal AS setelah krisis 
yang menimpa.

Namun para analis bersikap skeptis dengan optimisme Bush dan para pejabat 
perekonomiannya. "Orang-orang di pemerintahan tidak paham apa yang dialami 
rata-rata rakyat Amerika. "Mereka saat ini dalam kondisi sangat tertekan. 
Rumah-rumah mereka sudah tidak ada harganya lagi, mereka terlilih hutang kartu 
kredit, " kata Israel Adelman, seorang trader dari perusahaan Fordham 
Financials di Wall Street.

Kepala ekonom di The Saudi British Bank (SBB), John Sfakianakis mengatakan, 
krisis perbankan yang terjadi di AS menunjukkan bahwa tak ada satu pun 
institusi finansial yang sempurna dan AS perlu segera memperbaiki regulasinya.

Ia juga mengatakan bahwa sentimen negatif akibat krisis itu akan berlanjut dan 
tantangan bagi insitusi keuangan adalah bagaimana mereka menjaga kesehatan 
finansial perusahaannya. " Waktu akan menunjukkan apakah sebuah institusi 
keuangan bisa keluar dari krisis ini, " kata Sfakianakis.

"Mereka yang pesimis meyakini situasi pasar modal akan lesu sampai tahun 2009 
nanti dan baru akan bangkit kembali pada tahun 2010. Harus diakui, 
menyeimbangkan antara kepanikan dengan kepercayaan pasar bukan hal yang mudah. 
Sikap pemerintah AS yang menolak memberikan kucuran dana buat Lehman 
menunjukkan bahwa otoritas AS tidak mau menolong perusahaan-perusaha an yang 
bermasalah, " sambungnya.

Krisis keuangan yang terjadi saat ini juga memicu tanda tanya soal moralitas 
para bankir dan pemegang saham. Ketika kondisi sedang bagus, mereka jor-joran 
memberikan modal pada masyarakat kelas atas, menerima gaji, bonus dan 
keuntungan yang sangat besar. Tapi ketika kondisi keuangan sedang dilanda 
krisis, para bankir dan pemegang saham seolah lepas tangan dan membebankan 
tanggung jawabnya pada pembayar pajak.

Dampak paling nyata dari bangkrutnya Lehman Brothers adalah meningkatnya jumlah 
pengangguran di AS, bahkan di berbagai belahan dunia. Di seluruh dunia, jumlah 
pegawai jaringan perusahaan Lehman Brothers mencapai 25.000 orang. Pada bulan 
Agustus 2008, Lehman sudah mengumumkan akan memecat 5 persen dari jumlah 
pegawainya atau sekitar 1.500 orang.

Sebelum Lehman, sejumah perusahaan di AS sudah melakukan pemangkasan karyawan. 
Misalnya perusahaan penerbitan koran Gannett Co. Inc. menyatakan akan 
merumahkan 600 karyawannya dan Ford Motor Co. akan megurangi 300 orang 
karyawannya. Para analis mempekirakan tingkat pengangguran AS sampai 
pertengahan tahun 2009 akan meningkat dari 5, 7 persen menjadi 6, 5 persen. 
Bertambahnya pengangguran berarti bertambahnya beban perekonomian pemerintah.


AS Diambang Kehancuran?

Setelah Lehman Brothers, kebangkrutan masih menghantui perusahaan-perusaha an 
di Wall Street. Apalagi sejumlah perusahaan finansial yang selama ini dipercaya 
kuat juga mengalami kesulitan keuangan. Perusahaan pesaing Lehman, Merrill 
Lynch misalnya, sudah diambil oleh pemerintah AS. Perusahaan raksasa lainnya, 
American International Group (AIG)-salah satu perusahaan asuransi terbesar di 
dunia-saat ini juga sedang mencari pinjaman sebesar 40 milyar dollar.

Sejumlah analis berpendapat, inilah detik-detik kehancuran ekonomi negara 
adidaya AS. Negara yang menganut sistem ekonomi neo-liberal dan menancapkan 
ekonomi imperialisnya ke berbagai belahan negara, akhirnya ambruk juga.

"Esensinya, riwayat Amerika Serikat sebagai kekuatan ekonomi global sudah 
tamat, " kata Max Keiser, seorang analis pasar di Paris.

"Sejarah dollar AS sebagai mata uang cadangan dunia sudah selesai dan kita akan 
melihat negara lain yang akan muncul sebagai kekuatan baru, yang paling 
memiliki peluang besar adalah negara China, " papar Keiser.

Menurutnya, krisis keuangan yang menghantam AS sebenarnya sudah diprediksi. AS 
yang menganut sistem keuangan neo-liberal secara bebas memberikan kredit. 
Tiba-tiba, ketika kredit tak tersedia sejak musim panas kemarin, bank-bank 
mulai kelimpungan.

Tapi, kata Keiser, skenario "kiamat" ini tidak akan terjadi di negara-negara 
berkembang yang memiliki sumber minyak seperti di Timur Tengah atau 
negara-negara yang masyarakatnya memiliki dana simpanan yang besar, seperti di 
China.

"Skenario kiamat ini hanya akan terjadi di AS dan Inggris, di mana 
masyarakatnya hidup dari uang pinjaman dari generasi ke generasi, " tukas 
Keiser.

Hal serupa diungkapkan Andrew Critchlow, redaktur pelaksana Dow Jones Timur 
Tengah yang berbasis di Dubai. "Saya pikir ini adalah saat-saat yang menentukan 
bagi perekonomian dunia, bagi AS, bagi kita semua, yang akan selalu diingat 
sepanjang hidup kita, " kata Andrew.

Ia menyamakan krisis keuangan di AS saat ini dengan kondisi era tahun 1920-an, 
ketika masyarakat dunia mengalami apa yang disebut Great Depression. Secara 
teknis, bisnis perbankan dan keuangan sudah tidak berjalan.

"Yang paling mengkhawatirkan jika kondisi ini benar-benar menghantam 
perekonomian riil, menghantam orang-orang di jalan. Mereka tidak punya uang 
lagi, tidak punya pekerjaan dan berpotensi akan kehilangan rumah-rumah mereka 
juga, " sambung Andrew.

Allister Heath, editor surat kabar finansial London's City A.M menambahkan, 
ketika bank-bank besar seperti Lehman mengalami kebangkrutan, yang terkena 
dampaknya juga masyarakat kecil, termasuk para pensiunan yang mempercayakan 
uang pensiunnya diinvestasikan di bursa-bursa saham yang kebanyakan ditanamkan 
di sektor perbankan. Selain itu, kata Heath, ribuan orang juga akan menjadi 
pengangguran.

Pada akhirnya, situasi ini akan menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat pada 
lembaga keuangan termasuk pada pemerintah dengan sistem perekonomian 
neo-liberalnya yang ternyata rapuh. Sebuah gambaran yang tragis bagi sebuah 
imperium bernama AS, yang selalu sesumbar dengan sistem perekonomian kapitalis 
yang disebarkannya ke seluruh dunia, ternyata tak mampu menolong perekonomian 
di negerinya sendiri ketika terancam kebangkrutan.

 














      
___________________________________________________________________________
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru.
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

Kirim email ke