Dugh, sumberna unknown :p
Sent from my BlackBerry�
powered by INDOSAT MENTARI

-----Original Message-----
From: "jimmi" <[EMAIL PROTECTED]>

Date: Sat, 8 Nov 2008 09:13:03 
To: <Undisclosed-Recipient:;><Invalid address>
Subject: [mxrider] OOT :  "Rudy Habibie dan Rudy Chaerudin, Sukses Mana?"




OOT : "Rudy Habibie dan Rudy Chaerudin, Sukses Mana?"










--------------------------------------------------------------------------------

BAGUS BANGET UTK DIBACA :

Saya ingat waktu di SMA dulu, kami (murid) harus menjalani test IQ untuk 
penjurusan. Sekolah saya menetapkan bahwa murid2 dengan IQ tinggi bisa 
masuk ke jurusan IPA/Science. Murid dengan IQ sedang hanya bisa masuk 
jurusan Sosial dan yang paling rendah IQnya hanya diijinkan untuk masuk 
ke jurusan Bahasa.

Aturan di sekolah saya ternyata berlawanan dengan aturan dari SMA swasta 
terkenal di Yogyakarta yang mengarahkan anak-anak yang ber IQ paling 
tinggi justru ke jurusan Bahasa.

Sewaktu saya diskusi dengan Romo Mangun Wijaya (Alm) tentang kurikulum 
sekolah, Beliau mengatakan bahwa pen didikan di Indonesia masih mewarisi 
"budaya" kolonial Belanda.

Menurut beliau, seharusnya anak-anak yang kecerdasannya tinggi 
seharusnya diarahkan untuk masuk jurusan Sosial supaya di masa mendatang 
akan lahir ekonom, hakim, jaksa, pengacara, polisi, diplomat, duta 
besar, politisi dsb yang hebat2. Tetapi rupanya hal itu tidak 
dikehendaki oleh penguasa (Belanda). Belanda menginginkan anak-anak yang 
cerdas tidak memikirkan masalah2 sosial politik. Mereka cukup diarahkan 
untuk menjadi tenaga ahli/scientist, arsitektur, ahli computer, ahli 
matematika, dokter, dsb yang asyik dengan science di laboratorium 
(pokoknya yang nggak membahayakan posisi penguasa). Saya nggak tahu 
persis yang benar Romo Mangun Wijaya atau pemerintah Belanda. Hanya saja 
waktu itu saya yang kuliah ambil jurusan Kurikulum jadi patah semangat 
karena kayaknya kurikulum di Indonesia ini hampir tidak ada hubungannya 
dengan kehidupan yang akan dijalani orang setelah keluar dari sekolah.

Kita bisa lihat, Insinyur yang menjadi politisi bahkan memimpin 
parlemen,kemudian dokter (umum) bisa menjadi kepala Dinas P & K atau 
tenaga marketing, sarjana theologia yang jadi pengusaha, dsb. Sampai 
saat ini,masih banyak orang tua dan masyarakat yang beranggapan bahwa 
anak yang hebat adalah anak yang nilai matematika dan science-nya menonjol.
Paradigma berpikir orang tua/masyarakat ini sangat mempengaruhi konsep 
anak tentang kesuksesan. Bulan Juni 2003 yang lalu, lembaga tempat saya 
bekerja mengadakan seminar anak-anak.

Di depan 800-an anak, Kak Seto Mulyadi (Si Komo) menunjukkan 5 Rudy.
- Yang Ke-1 : Rudy Habibie (BJ Habibie) yang genius, pintar bikin 
pesawat dan bisa menjadi presiden.
- Yang Ke-2 : Rudy Hartono yang pernah beberapa menjadi juara bulu 
tangkis kelas dunia.
- Yang Ke-3 : Rudy Salam yang suka main sinetron di TV
- Yang Ke-4 : Rudy Hadisuwarno yang ahli di bid. kecantikan dan punya 
byk salon kecantikan di bbrp kota.
- Yang Ke-5 : Rudy Choirudin yang jago masak dan sering tampil memandu 
acara memasak di TV.

Sewaktu Kak Seto bertanya "Rudy yang mana yang paling sukses menurut 
kalian?" Hampir semua anak menjawab "Rudy Habibie" Sewaktu ditanyakan 
"Mengapa, kalian bilang bahwa yang paling sukses Rudy Habibie?"

Anak-anakpun menjawab "Karena bisa membuat pesawat terbang, bisa menjadi 
presiden, dsb" Sewaktu Kak Seto menanyakan "Rudy yang mana yang paling 
tidak sukses?" Hampir seluruh anak menjawab "Rudy Choirudin" Ketika 
ditanyakan "Mengapa kalian mengatakan bahwa Rudy Choirudin bukan orang 
yang sukses?"

Anak-anakpun menjawab "Karena Rudy Choirudin hanya bisa memasak"

Memang begitulah pola pikir dan pola asuh dalam keluarga dan masyarakat 
Indonesia pada umumnya yang masih menilai kesuksesan orang dari 
karya-karya besar yang dihasilkannya. Masyarakat kita banyak yang belum 
bisa melihat kesuksesan adalah pengembangan talenta secara optimal 
sehingga bisa dimanfaatkan dalam kehidupan yang dijalaninya dengan "enjoy".

Banyak masyarakat kita yang beranggapan bahwa IQ adalah segala-galanya. 
Padahal kenyataannya EQ, SQ dan faktor2 lain juga sangat menentukan. 
Dalam seminar tsb Kak Seto hanya ingin merubah paragidma berpikir 
anak-anak (dan juga orang tua/keluarga) . Anak-anak dan orang tua harus 
menyadari dan mensyukuri setiap talenta yang diberikan oleh Tuhan.

Bila talenta tersebut dikembangkan dengan baik, maka kita bisa mencapai 
kesuksesan di "bidangnya". Jadi untuk anak-anak yang tidak pintar 
matematika, anak2 tidak perlu minder dan orang tua tidak perlu malu atau 
menekan anak. Anak-anak yang lebih menyukai pelajaran menggambar 
daripada pelajaran2 lain, bukanlah anak-anak yang bodoh karena justru 
anak2 yang punya imajinasi tinggilah yang pintar menggambar/ melukis. 
Anak-anak yang suka ngobrol, kalau kita arahkan bisa saja kelak menjadi 
politisi atau negotiator yang baik.

Anak-anak yang banyak bicara, kalau diarahkan untuk menuliskan apa yang 
ingin dibicarakan bisa2 menjadi penulis yang hebat. *** Mbak Dwi Setyani 
juga mengingatkan kita untuk lebih memfokuskan pada kekuatan kita dari 
pada "wasting time" bersungut-sungut, hanya memikirkan kelemahan kita.

Saya pernah membaca pengalaman hidup seorang penyanyi di Amerika. 
Penyanyi tsb dulunya tidak PD karena wajahnya tidak terlalu cantik dan 
giginya tonggos. Saat menyanyi di pub, dia repot mengatur bibirnya 
supaya giginya yang tonggos tidak dilihat orang. Hasilnya: ia hanya bisa 
menghasilkan suara yang pas-pasan. Ketika temannya meyakinkan bahwa 
giginya yang tonggos itu bukanlah masalah, maka iapun bisa menyanyi 
dengan bebas dan meng-eksplore suara emasnya. Ternyata orang-orang 
mengingat penyanyi itu
karena kualitas suaranya, bukan parasnya yang jelek dengan gigi tonggosnya.

*** Kitapun meyakini bahwa Tuhan menciptakan setiap kita (manusia)dengan 
maksud yang terbaik demi kemuliaan-Nya. Kalau saja kita meyakini hal 
tersebut, maka semua orang akan mensyukuri keadaan dan memanfaatkan 
talenta yang Tuhan berikan untuk kemuliaan-Nya.

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)


 

__________ NOD32 3028 (20080415) Information__________

This message was checked by NOD32 antivirus system.
http://www.eset.com

Kirim email ke