-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
Behalf Of suryati
Sent: Monday, April 18, 2005 7:26 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [Kisah_Islam] Rudy Mulyadi Foorste S.Th: Tertarik Islam Justru Saat
Sedang MengKristenkan Seorang Muslim
Rudy Mulyadi Foorste S.Th:
Tertarik Islam Justru Saat Sedang MengKristenkan Seorang Muslim
"Dua Kalimat Syahadat Membisik di Telingaku"
Sebagai seorang mantan pendeta Pantekosta, aku dulu sangat membenci Islam,
hingga aku senantiasa berusaha merusak akidah umat nabi Muhammad SAW,
melalui ekabaran Injil kepada umat yang beragama Islam khususnya. Sering aku
mengatakan bahwa agama Islam adalah agama penyesat, dan sungguh tidak bisa
dijadikan pedoman atau dasar iman bagi kehidupan manusia.
Pada suatu hari, aku harus membaptis satu keluarga muslim. Sebelumnya, aku
sudah banyak memberikan bantuan materi untuk hidup mereka sehari-hari. Tentu
saja bantuan itu tidak kuberikan secara cuma-cuma, tetapi dengan imbalan,
keluarga ini harus masuk kristen.
Ketika aku bertanya kepada keluarga ini, apakah mereka sungguh menerima
yesus sebagai Tuhan dan juruselamat? Mereka akhirnya mengangguk setuju,
hingga seminggu kemudian, aku membaptis seluruh keluarga ini, dan menyuruh
mereka membakar semua atribut yang berbau Islam. Saat itu mataku tiba-tiba
tertuju pada satu tulisan kaligrafi AlQuran yang ditempel didinding. Aku
bertanya pada si pemilik rumah yang hendak kubaptis, tulisan apa itu ?.
Ia menjawab kalau itu adalah tulisan dua kalimat syahadat, yang artinya
"Tiada Tuhan Selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah".
Tiba-tiba dadaku terasa bergemuruh saat mendengar makna dari tulisan Arab
itu. Niatku yang ingin merobek kertas itu mendadak lenyap. Dalam perjalanan
kembali ke rumah, ada satu peristiwa yang sungguh di luar jangkauan manusia,
karena saat itu kurasakan di telingaku berbisik sebutan dalam bahasa
Indonesia "Tiada Tuhan Selain Allah, dan Muhammad utusan Allah".
Lama aku termenung memikirkan bisikan itu. Pikiranku tertuju pada kalimat
"Tiada Tuhan Selain Allah". Kalimat itu dimulai dengan kata tidak, suatu
makna yang menandakan penolakan terhadap Tuhan-tuhan lain selain Allah.
Sejak itulah, aku mulai tertarik pada Islam. Dan otomatis, ketertarikanku
pada Islam sangat mempengaruhi aktivitasku sebagai pendeta.
Istriku yang juga penginjil, ternyata tanggap dengan perubahan yang terjadi
dalam diriku, dan mempertanyakannya padaku. Kupikir, alangkah baiknya kalau
kuceritakan saja mengenai kegelisahanku ini, dan mengajaknya berdoa bersama
sebagai seorang pendeta. Namun anehnya, saat berdoa bersama itu
konsentrasiku hilang, saat kalimat itu kembali terngiang ditelingaku.
Akhirnya, aku sadar kalau batinku menuntut untuk mencari kebenaran yang ada
pada Islam, salah satunya dengan membeli buku-buku bacaan tentang Islam,
yang berhasil kutemukan di daerah Senen, Jakarta.
Dari beberapa buku yang kupilih, ada satu buku yang menarik minatku, yaitu
buku berjudul "Hidup Sesudah Mati" karangan almarhum Bey Arifin. Setiap buku
yang kubaca, pasti didukung oleh referensi ayat-ayat AlQuran, yang sungguh
kukagumi karena semuanya tidak bertentangan dengan fitrah manusia.
Sementara asyik dengan buku-buku mengenai Islam, kegiatanku berkhotbah di
gereja tetap kujalani, meski otomatis jadi sedikit ngawur. Materi ceramahku
tidak lagi bicara mengenai Yesus, melainkan lebih kepada hubungan antar
manusia.
Selain itu, rapat-rapat kependetaan pun perlahan-lahan mulai kutinggalkan.
Melihat semua ini, rekan-rekanku yang lain tentu saja mulai curiga, dan
memanggilku dalam pertemuan khusus para pendeta. Singkat cerita, aku dipecat
dari kedudukan sebagai seorang pendeta, dan resikonyaadalah meninggalkan
kemewahan.
Di daerah Depok I, Jawa barat, tempatku menginap saat usia senja ini
terdapat masjid yang letaknya persis di depan rumah.
Ketika kulihat masjid hanya penuh pada saat sholat Jumat, aku sempat jadi
bimbang, apa bedanya dengan agama Kristen yang gerejanya penuh jamaat hanya
pada hari Minggu. Namun setelah kukaji Al Quran, ternyata perintah sholat
telah jelas diwajibkan, hanya saja manusianya saja yang senantiasa
melalaikan kewajiban itu. Akupun tenang kembali.
Semula istriku tidak setuju dengan keinginanku menjadi seorang muslim.
Bahkan ketika malam hari sebelum aku mengucapkan dua kalimat syahadat,
kukatakan keinginanku padanya, ia malah menghardikku sebagai pengkhianat.
Aku tak peduli. Bahkan aku cuma bisa berharap istri dankedua anak-anakku
ikut jejakku masuk Islam.
Akhirnya pada tanggal 13 Februari 1994, di Beji, Depok, aku resmi menjadi
muslim. Dan namaku pun berganti menjadi Rudi Mulyadi Foorste, yang semula
bernama Rudy Rudolf Otto Foorste. (beliau keturunan Belanda, orang tuanya
berasal dari Galela, Halmahera Utara - red).
Selang tiga bulan kemudian, istri dan kedua anakku pun mengikuti jejakku,
masuk Islam. Ternyata Allah SWT kembali memberikan taufik dan hidayah
kepadaku dengan berkumpulnya kami sekeluarga, dalam naungan Islam. Dan yang
paling aku syukuri adalah kerelaan istri dan anak-anakku untuk hidup
sederhana, jauh dari kemewahan seperti yang dulu pernah kami alami.
Islam telah memberiku jalan, kebenaran dan kehidupan yang sesungguhnya. Dan
kebahagiaan seperti ini, tidak kuperoleh dari Yesus Kristus.
Karena hanya melalui agama Islam, aku dapat memperoleh keselamatan di dunia
dan akhirat nanti. Kepada mereka yang pernah kubaptis, aku mohon dibukakan
pintu maaf sedalam-dalamnya. Dan mari kembali pada Islam.
Sumber: Journey to Islam - 14 Apr 2005 - 8:36 pm
=============================================
[EMAIL PROTECTED]
Kisah nyata bernafaskan Islam di negeri ini, dan saat ini pula.
Berlangganan, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
=============================================
Yahoo! Groups Links
Mari bersama-sama mengharumkan Islam lewat kebudayaan/seni Islami
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/nasyid-indonesia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/