Assalaamu'alaikum wr wb
 Sobat muda muslim, ini artikel Studia edisi 345/Tahun ke-8. Edisi cetaknya 
insya Allah sudah beredar di Jadebotabek sejak hari Jumat kemarin. Selamat 
membaca...
 
 *[Dapatkan juga edisi cetaknya di jaringan kami di berbagai kota besar 
lainnya: NAD, Padang, Pekanbaru, Bengkulu, Palembang, Pangkalpinang, 
Bandarlampung, Serang, Sukabumi, Bandung, Sumedang, Majalengka, Cirebon, 
Indramayu, Yogyakarta, Solo, Pekalongan, Semarang, Jepara, Bangil, 
Pasuruan, Malang, Surabaya, Probolinggo, Jember, Banyuwangi, Banjarmasin, 
Samarinda, Balikpapan, Kendari, dan Makasar]
 
 Saran dan kritik, silakan kirim ke:
 Redaksi: [EMAIL PROTECTED]
 Penerbit: [EMAIL PROTECTED]
 HP: 0856-1943803
 Kunjungi situs kami di: http://www.studia-online.com
 Akses via HP: http://mobile.dudung.net (dan dapatkan arsip artikel 
sebelumnya. Free!)
 
 Ingin diskusi, ngasih info, ngasih masukan berupa kritik dan saran, gabung 
aja di tempat mangkal kita: http://studia-online.com
 
 Untuk berlangganan edisi cetak, hubungi bagian pemasaran: 0817-109797
 Untuk pendaftaran menjadi mitra STUDIA dengan berencana mencetak sendiri 
(luar Jabodetabek), hubungi via e-mail: [EMAIL PROTECTED] atau 
Call/SMS ke: 0251-7115520        
 Salam,
 Redaksi Buletin Studia
 Bogor
 --- 
 
         
STUDIA Edisi 345/Tahun ke-8 (11 Juni 2007)        

http://studia-online.com        

http://dudung.net        

http://gaulislam.com        

         Suka Sejenis? Amit-amit!        

         Bahasan kali ini mungkin nggak menarik bagi kamu-kamu yang merasa 
normal. Maksudnya normal karena nggak bakal ada bibit-bibit untuk suka 
sejenis. Kalo cewek ya suka sama cewek, kalo cowok demen sama cowok. Demen 
dan suka di sini bukan sekadar untuk berteman, tapi sudah menjurus ke 
hubungan khusus alias mengarah ke hubungan seksual. Hiiii...        

Jangan kaget. Fenomena seperti ini memang belum umum terjadi di sekitar 
kita. Tapi bukan berarti kejadian seperti ini nggak nyata. Secara sekilas, 
kelainan suka sejenis memang nggak mudah terlihat. Jadi, seringnya kita 
merasa aman-aman saja dan merasa: “Ah... nggak mungkin itu terjadi di 
aku or temen-temenku”. Ati-ati lho!         

Jangan salah. Sesuatu yang nggak mungkin bisa berubah menjadi mungkin kalo 
kita nggak waspada. Masalahnya ’penyakit’ beginian bersifat 
laten, bisa muncul sewaktu-waktu tergantung situasi dan kondisi yang 
menyertai.         

         Kenali gejalanya        

Mengenali gejala penyakit suka sejenis emang nggak mudah. Karena awalnya 
emang bermula dari perasaan yang kemudian berimbas ke tingkah laku. 
Biasanya ’si penyakitan’ akan menyimpannya cukup dalam hati 
saja. Secara fisik, mungkin ia nggak beda dengan anak lainnya. Nggak harus 
karena fisiknya terlihat tomboy, terus kamu main curiga aja jangan-jangan 
dia lesbi. Begitu juga buat cowok, nggak perlu kudu lemah gemulai untuk 
menjadi homo. Kamu tahu grup band Boyzone yang sempat tenar beberapa tahun 
lalu? Nah, salah satu dari cowok macho itu homo loh.        

Jadi lesbi dan homo memang nggak bisa dideteksi dari penampilan. Biasanya 
pada tataran awal, gejala ketidaknormalan ini akan membuat pelakunya suka 
gelisah. Biasalah, kayak gejala orang kalo poling in lop gitu, cuma bedanya 
ini dengan sesama jenis. So, hati-hati dengan teman yang suka meraba-raba 
misalnya. Atau memandang dengan pandangan yang mupeng (muka pengen) 
dicampur nafsu.         

Lagi, gejala di atas tidak mutlak harus ada pada seorang yang berpenyakit 
lesbi dan homo. Yang penting kamu bersikap waspada dan hati-hati bila ada 
teman yang tingkah lakunya mulai membuat resah teman yang lain. Suka 
intip-intip teman yang lagi ganti baju, misalnya.         

         Penyebab suka sejenis        

Penyebab penyakit ini bisa macam-macam. Ada yang karena dikecewakan pacar, 
terus jadi trauma dengan lawan jenis. Ada juga yang karena broken home. 
Saya dulu punya teman yang sering banget melihat bapaknya memukul fisik 
baik ibu maupun anak-anaknya, termasuk teman saya ini. Terus ia juga sering 
banget lihat cowok-cowok urakan yang gampang banget mempermainkan cewek. Ia 
pernah bilang kalo ia jadi illfeel sama yang namanya makluk berjenis cowok. 
Untungnya doi belum parah. Alhamdulillah akhirnya ia rajin belajar Islam, 
berjilbab dan menikah.        

Salah asuh juga bisa menjadi biang keladi penyakit suka sejenis ini. Anak 
yang dibesarkan dengan pola asuh yang kering kasih sayang dan 
dibeda-bedakan antara anak laki dan perempuan, bisa jadi pemicunya. 
Diperparah dengan jauhnya suasana keimanan dalam keluarga makin membuat 
anak semakin ’sakit’.         

Kondisi lingkungan juga punya andil besar dalam menyuburkan penyakit ini. 
Tayangan sinetron dan film layar lebar banyak diproduksi seputar tema suka 
sejenis. Ambil contoh Cornelia Agatha dan Shanty di filmnya yang terbaru 
juga berkisah tentang gadis lesbi ini.        

Sobat, yang paling parah adalah lesbi dan homo yang tidak merasa bahwa 
mereka ini sedang sakit. Berdalih atas nama Hak Asasi Manusia dengan 
kebebasan berekspresinya, mereka merasa sah-sah saja untuk menjalani hidup 
sebagai ’penyakitan’. Toh, perbuatan itu tidak merugikan 
siapa-siapa, selalu itu yang menjadi alasan pembenaran untuk kerusakan yang 
mereka perbuat.         

Sejatinya, ide inilah yang jadi biang kerok kompleksnya permasalahan yang 
ada. Ibarat benang kusut, nggak ketahuan ujung pangkal untuk mengurainya. 
Ide HAM yang merupakan anak kandung demokrasi inilah yang menjadikan 
fenomena suka sejenis begitu merebak.         

Kehidupan yang ’berakidah’ sekulerisme alias memisahkan agama 
dari kehidupan menjadi ide yang diadopsi bersama-sama. Orang tak lagi takut 
dosa melakukan hal yang melanggar perintah agama. Sekedar ditakut-takuti 
sama yang namanya dosa, nggak bakalan mempan. Dosa kan nggak kelihatan. 
Dosa kan entar aja urusannya di akhirat. Ihh... nggak beriman banget dalih 
seperti ini.         

         Solusi dong!        

Harus ada solusi bagi semua permasalahan kehidupan. Kalo suatu sistem yang 
berlaku dalam masyarakat nggak punya solusinya, buang ke laut aja tuh 
sistem dan ganti dengan yang baru. Membiarkan fenomena lesbi dan homo 
dengan alasan HAM dan kebebasan bertingkah laku bukan solusi, tapi bom 
waktu. Tinggal menunggu aja ledakan dahsyatnya yang akan menghancurkan bumi 
seisinya.         

Di tataran awal, ketiga komponen solusi harus ada. Apakah itu? Kontrol diri 
dengan keimanan yang kuat pada individu-individunya. Kedua, kontrol 
masyarakat yang tak segan untuk beramar makruf nahi mungkar bila melihat 
gejala penyimpangan prilaku pada pelaku lesbi dan homo. Bukan malah sok 
nggak mau tahu karena sudah terjangkitnya masyarakat oleh penyakit 
individualisme. Dan yang ketiga serta paling menentukan posisinya adalah 
kontrol negara. Negara nggak bisa menutup mata bahwa fenomena lesbi dan 
homo sudah ada di tengah masyarakat kita.         

Bukan jamannya lagi negara melalui perantara DPR yang sok mengaku sebagai 
wakil rakyat melakukan rapat dan cuma rapat untuk menentukan rumus baru 
tentang definisi suatu kejahatan dan hukumannya. Kelamaan boo. Hukum 
Indonesia yang digali dari hukum Belanda itu notabene buatan manusia dan 
nggak akan mungkin bisa menjangkau kesempurnaan hukum buatan Sang Pencipta. 
So, waktunya kita menoleh dan mengambil sistem hukum Yang Maha Sempurna. 
Solusi tuntas atas semua permasalahan kehidupan tanpa menimbulkan masalah 
baru.        

Harus ada solusi hukum yang praktis bagi mereka yang masih bengal hobi 
lesbi dan homo. Solusi hukum yang akan membuat mereka jera. Bukan solusi 
hukum yang bisa dijadikan tawar menawar rupiah. Allah Swt. dan RasulNya 
telah menetapkan hukum bunuh bagi pelaku liwath (homoseksual). Rasulullah 
saw bersabda: “Barangsiapa menjumpai orang yang berbuat homoseks 
seperti praktek kaum Luth, maka bunuhlah si pelaku dan yang diperlakukan 
(pasangannya)” (HR Bukhari, Muslim, at-Turmudzi, Abu Daud, dan 
an-Nasa’i)        

Ide ini jelas janggal banget untuk orang yang sudah terasuki ide kebebasan 
bertingkah laku. Wong suka sama suka kok dibunuh. Jangankan sesama jenis 
yang sulit pembuktiannya, seks bebas antar lawan jenis yang jelas-jelas ada 
bukti hamil tanpa suami aja masih bisa dilindungi oleh negara dan adat. 
Dengan cara apa? Yup, dicarikan ’pejantan’ untuk melindungi aib 
keluarga. Jadilah lingkaran setan, anak-anak lahir dengan nasab yang 
amburadul, anak-anak nakal karena berasal dari keluarga yang broken home 
dan penyakit demi penyakit ’aneh’ muncul sebagai peringatan 
terhadap pembangkangan manusia ini.        

Kembali ke bahasan suka sejenis. Kalo ada temanmu yang sudah terlanjur kena 
penyakit lesbi dan homo ini, segera ingatkan dia untuk segera taubatan 
nasuha. Taubat yang sebenar-benarnya dan tidak akan pernah diulangi lagi. 
Saya yakin, tingkat penyakit ini bila menjangkiti orang yang masih percaya 
keberadaan Allah dan hari akhir, ada harapan untuk bisa disembuhkan. 
Levelnya juga belum menjurus ke hubungan seksual, semoga. Paling masih 
taraf getaran rasa bila berdekatan dengan orang tertentu, sesama jenis yang 
lagi disuka.         

Jangan memberi solusi yang aneh dan mengakibatkan masalah baru. Biasanya 
solusi aneh yang diberikan adalah dikenalkan dengan lawan jenis dan 
didorong untuk pacaran. Walah, ini namanya menyembuhkan penyakit dengan 
mengundang penyakit baru. Menghindar dari mulut harimau malah lari ke mulut 
buaya. Sama-sama bahaya dan binasanya, Non.         

         Mencegah suka sejenis        

Mencintai seseorang karena Allah memang harus. Tapi mencintai seseorang 
karena nafsu seksual apalagi sesama jenis, naudzhubillah. Jangan sampai 
kamu jadi penerus jejak kaum Nabi Luth yang dimusnahkan Allah karena bengal 
dan nggak mau sembuh dari penyakit lesbi dan homo ini. Nah, supaya nggak 
terjerumus, ada kiat-kiat tertentu neh.        

Pertama, meskipun berteman atau bersahabat dengan sesama jenis, jangan 
keterlaluan dekatnya. Ada batas-batas tertentu yang nggak boleh dilanggar. 
Tidur (bagi kamu yang ngekost atau bermalam di rumah teman), jangan sampai 
satu selimut. Hal ini cucok banget dengan apa yang telah diperingatkan oleh 
Rasulullah. Mandi, teramat sangat tidak boleh alias haram berdua. Ada 
batasan aurat sesama perempuan yang tidak boleh dilihat oleh perempuan 
lain. Begitu juga laki-laki. Antara pusar dan lutut itu tak boleh diumbar 
sembarangan. Sayangnya masih banyak di sekitar kita para gadis memakai 
celana sangat pendek dengan cueknya keluar rumah. Begitu juga dengan 
cowok-cowok yang pada enggan menutup aurat di atas lutut.        

Kedua, saling menasihati dalam kebenaran dan kebaikan. Kalo ada temanmu 
yang kelihatannya mulai terjangkit penyakit ini, jangan dijauhi. Coba 
nasehati pelan-pelan dan pahamkan tentang Islam. Ajak ia lebih mendekat 
pada Allah agar gejala penyakitnya itu tak semakin parah.        

Yang ketiga, jangan diam saja. Jadikan Islam sebagai solusi dalam semua 
aspek kehidupan. How? Sebarkan pemahaman Islam sebagai the way of life. 
Kita tadi sudah paham kan bahwa kejadian suka sejenis ini hanya salah satu 
imbas saja dari kerusakan ide HAM dan demokrasi. Kerusakan-kerusakan yang 
lain sudah tak terkatakan banyaknya. AIDS adalah salah satunya. Menjadi 
tanggung jawab kita bersama untuk menyerukan agar ide-ide rusak seamcam ini 
dibuang aja ke tong sampah peradaban. Ganti dengan yang sudah pernah 
terbukti menyejahterakan satu pertiga penduduk bumi, yaitu Islam sebagai 
ideologi.         

Kalo kita nggak mau turut andil berpartisipasi mengukir sejarah menyongsong 
peradaban baru yang lebih baik dengan Islam? Yakinlah, bahwa Islam nggak 
butuh kita tapi kitalah yang butuh Islam. Dengan mudah Allah akan 
menggantikan orang-orang pembangkang di muka bumi ini dengan orang-orang 
yang akan nurut serta cinta pada Allah. Allah pun pasti akan mencintai 
mereka. Masa dengan janji mendapat cinta dan surga Allah, kamu masih malas 
untuk berubah dan turut andil dalam perjuangan? Ih... rugi banget!         

So, ayo kita babat lesbi dan homo dengan penerapan Islam secara kaffah, 
buang ide demokrasi dengan anak turunannya berupa HAM--yang salah satu 
aturannya membolehkan kebebasan bertingkah laku. Yuk, tegakkan Islam! [ria: 
[EMAIL PROTECTED]    
-- 
Buletin Remaja Studia terbit setiap Senin sejak Januari 2000, "Gaul, Syar'i, 
dan Mabda'i"
Penerbit: Studia Publication. HP 0856-1943803. Pemasaran: 0817-109797. Website: 
http://www.dudung.net dan http://buletinstudia.multiply.com, e-mail: [EMAIL 
PROTECTED] dan [EMAIL PROTECTED] Mailing List: [EMAIL PROTECTED]

Psssst! Schon vom neuen GMX MultiMessenger gehört?
Der kanns mit allen: http://www.gmx.net/de/go/multimessenger


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke