Ada yg japri ke gw...die minta CS : Cerita Sex.
 ok bro desna.. saya kirim nih..


Pembokat Cilik

Sebut saja namaku Paul. Aku bekerja di sebuah instansi pemerintahan
di kota S, selain juga memiliki sebuah usaha wiraswasta. Sebetulnya aku
sudah menikah, bahkan rasanya istriku tahu akan hobiku mencari
daun-daun muda untuk “obat awet muda”. Dan memang pekerjaanku menunjang
untuk itu, baik dari segi koneksi maupun dari segi finansial. Namun
semenjak istriku tahu aku memiliki banyak sekali simpanan, suatu hari
ia meninggalkanku tanpa pamit. Biarlah, malah aku bisa lebih bebas
menyalurkan hasrat.
Karena pembantu yang lama keluar untuk kimpoi di desanya, aku
terpaksa mencari penggantinya di agen. Bukan saja karena berbagai
pekerjaan rumah terbengkalai, juga rasanya kehilangan “obat stress”.
Salah seorang calon yang menarik perhatianku bernama Ningsih, baru
berusia (hampir) 16 tahun, berwajah cukup manis, dengan lesung pipit.
Matanya sedikit sayu dan bibirnya kecil seksi. Seandainya kulitnya
tidak sawo matang (meskipun bersih dan mulus juga), dia sudah
mirip-mirip artis sinetron. Meskipun mungil, bodinya padat, dan yang
terpenting, dari sikapnya aku yakin pengalaman gadis itu tidak sepolos
wajahnya. Tanpa banyak tanya, langsung dia kuterima.
Dan setelah beberapa hari, terbukti Ningsih memang cukup cekatan
mengurus rumah. Namun beberapa kali pula aku memergokinya sedang sibuk
di dapur dengan mengenakan kaos ketat dan rok yang sangat mini. Tanpa
menyia-nyiakan kesempatan, aku mendekat dari belakang dan kucubit paha
gadis itu. Ningsih terpekik kaget, namun setelah sadar majikannya yang
berdiri di belakangnya, ia hanya merengut manja.
Sore ini sepulang kerja aku kembali dibuat melotot disuguhi
pemandangan yang ‘menegangkan’ saat Ningsih yang hanya berdaster tipis
menungging sedang mengepel lantai, pantatnya yang montok bergoyang
kiri-kanan. Tampak garis celana dalamnya membayang di balik dasternya.
Tidak tahan membiarkan pantat seseksi itu, kutepuk pantat Ningsih
keras-keras.
“Ngepel atau nyanyi dangdut sih? Goyangnya kok merangsang sekali!”
Ningsih terkikik geli mendengar komentarku, dan kembali meneruskan
pekerjaannya. Dengan sengaja pantatnya malah digoyang semakin keras.
Geli melihat tingkah Ningsih, kupegang pantat gadis itu kuat-kuat
untuk menahan goyangannya. Saat Ningsih tertawa cekikikan, jempolku
sengaja mengelus selangkangan gadis itu, menghentikan tawanya. Karena
diam saja, perlahan kuelus paha Ningsih ke atas, menyingkapkan ujung
dasternya.”Eh… Ndoro… jangan..!” cegah Ningsih lirih.
“Nggak pa-pa, nggak usah takut, Nduk..!”
“Jangan, Ndoro… malu… jangan sekarang..!”
Dengan tergesa Ningsih bangkit membereskan ember dan kain pel, lalu bergegas 
menuju ke dapur.
Malam harinya lewat intercom aku memanggil Ningsih untuk memijat
punggungku yang pegal. Seharian penuh bersidang memang membutuhkan
stamina yang prima. Agar tenagaku pulih untuk keperluan besok, tidak
ada salahnya memberi pengalaman pada orang baru.
Gadis itu muncul masih dengan daster merah tipisnya sambil membawa
minyak gosok. Ningsih duduk di atas ranjang di sebelah tubuhku.
Sementara jemari lentik Ningsih memijati punggung, kutanya, “Nduk, kamu sudah 
punya pacar belum..?”
“Disini belum Ndoro…” jawab gadis itu.
“Disini belum..? Berarti di luar sini sudah..?”
Sambil tertawa malu-malu gadis itu menjawab lagi, “Dulu di desa saya pernah, 
tapi sudah saya putus.”
“Lho, kenapa..?”
“Habis mau enaknya saja dia.”
“Mau enaknya saja gimana..?” kejarku.
“Eh… itu, ya… maunya ngajak gituan terus, tapi kalau diajak kimpoi nggak mau.”
Aku membalikkan badan agar dadaku juga turut dipijat.
“Gituan gimana? Memangnya kamu nggak suka..?”
Wajah Ningsih memerah, “Ya… itu… ngajak kelonan… tidur telanjang bareng…”
“Kamu mau aja..?”
“Ih, enggak! Kalau cuma disuruh ngemut burungnya saja sih nggak pa-pa.
Mau sampai selesai juga boleh. Tapi yang lain Ningsih nggak mau..!”
Aku tertawa, “Lha apa nggak belepotan..?”
“Ah, enggak. Yang penting Ningsih juga puas tapi tetep perawan.”
Aku semakin terbahak, “Kalau kamu juga puas, terus kenapa diputus..?”
“Abis lama-lama Ningsih kesel! Ningsih kalau diajak macem-macem mau,
tapi dia diajak kimpoi malah main mata sama cewek lain! Untung Ningsih
cuma kasih emut aja, jadi sampai sekarang Ningsih masih perawan.”
“Main emut terus gitu apa kamu nggak pengin nyoba yang beneran..?” godaku.
Wajah Ningsih kembali memerah, “Eh… katanya sakit ya Ndoro..? Terus bisa 
hamil..?”
Kini Ningsih berlutut mengangkangi tubuhku sambil menggosokkan
minyak ke perutku. Saat gadis itu sedikit membungkuk, dari balik
dasternya yang longgar tampak belahan buah dadanya yang montok alami
tanpa penopang apapun.
Sambil tanganku mengelus-elus kedua paha Ningsih yang terkangkang, aku
menggoda, “Kalau sama Ndoro, Ningsih ngasih yang beneran atau cuma
diemut..?”
Pipi Ningsih kini merah padam, “Mmm… memangnya Ndoro mau sama Ningsih? Ningsih 
kan cuma pembantu? Cuma pelayan?”
“Nah ini namanya juga melayani. Iya nggak?”
Ningsih hanya tersenyum malu.
“Aaah! Itu kan cuma jabatan. Yang penting kan orangnya..!”
“Ehm.., kalau hamil gimana..?”
“Jangan takut Nduk, kalau cuma sekali nggak bakalan hamil. Nanti Ndoro yang 
tanggung jawab..”
Meskipun sedikit ragu dan malu, Ningsih menuruti dan menanggalkan dasternya.
Sambil meletakkan pantatnya di atas pahaku, gadis itu dengan tersipu
menyilangkan tangannya untuk menutupi kemontokan kedua payudaranya.
Untuk beberapa saat aku memuaskan mata memandangi tubuh montok yang
nyaris telanjang, sementara Ningsih dengan jengah membuang wajah.
Dengan tidak sabaran kutarik pinggang Ningsih yang meliuk mulus agar ia
berbaring di sisiku.
Seumur hidup mungkin baru sekali ini Ningsih merasakan berbaring di
atas kasur seempuk ini. Langsung saja kusergap gadis itu, kuciumi
bibirnya yang tersenyum malu, pipinya yang lesung pipit, menggerayangi
sekujur tubuhnya dan meremas-remas kedua payudaranya yang kenyal
menggiurkan. Puting susunya yang kemerahan terasa keras mengacung.
Kedua payudara gadis itu tidak terlalu besar, namun montok pas
segenggaman tangan. Dan kedua bukit itu berdiri tegak menantang, tidak
menggantung. Gadis desa ini memang sedang ranum-ranumnya, siap untuk
dipetik dan dinikmati.
“Mmmhh… Oh! Ahhh! Oh… Ndorooo… eh.. mmm… burungnya… mau Ningsih emut
dulu nggak..?” tanya gadis itu diantara nafasnya yang terengah-engah.
“Lepas dulu celana dalam kamu Nduk, baru kamu boleh emut.”
Tersipu Ningsih bangkit, lalu memelorotkan celana dalamnya hingga kini
gadis itu telanjang bulat. Perlahan Ningsih berlutut di sisiku, meraih
kejantananku dan mendekatkan wajahnya ke selangkanganku. Sambil
menyibakkan rambutnya, gadis itu sedikit terbelalak melihat besarnya
kejantananku. Mungkin ia membayangkan bagaimana benda berotot sebesar
itu dapat masuk di tubuhnya.
Aku segera merasakan sensasi yang luar biasa ketika Ningsih mulai
mengulum kejantananku, memainkan lidahnya dan menghisap dengan mulut
mungilnya sampai pipinya ‘kempot’. Gadis ini ternyata pintar membuat
kejantananku cepat gagah.
“Ehm… srrrp… mmm… crup! Ahmm… mmm… mmmh..! Nggolo (ndoro)..! Hangang 
keyas-keyas(jangan keras-keras)..! Srrrp..!”
Gadis itu tergeliat dan memprotes ketika aku meraih payudaranya yang
montok dan meremasinya. Namun aku tak perduli, bahkan tangan kananku
kini mengelus belahan pantat Ningsih yang bulat penuh, terus turun
sampai ke bibir kemaluannya yang masih jarang-jarang rambutnya. Maklum,
masih perawan.
Gadis itu tergelinjang tanpa berani bersuara ketika jemariku
menyibakkan bibir kemaluannya dan menelusup dalam kemaluannya yang
masih perawan. Merasa kejantananku sudah cukup gagah, kusuruh Ningsih
mengambil pisau cukur di atas meja, lalu kembali ke atas ranjang.
Tersipu-sipu gadis perawan itu mengambil bantal berusaha untuk menutupi
ketelanjangannya.
Malu-malu gadis itu menuruti perintah majikannya berbaring telentang
menekuk lutut dan merenggangkan pahanya, mempertontonkan rambut
kemaluannya yang hanya sedikit. Tanpa menggunakan foam, langsung
kucukur habis rambut di selangkangan gadis itu, membuat Ningsih
tergelinjang karena perih tanpa berani menolak. Kini bibir kemaluan
Ningsih mulus kemerah-merahan seperti kemaluan seorang gadis yang belum
cukup umur, namun dengan payudara yang kencang.
Dengan sigap aku menindih tubuh montok menggiurkan yang telanjang
bulat tanpa sehelai benang pun itu. Tersipu-sipu Ningsih membuang wajah
dan menutupi payudaranya dengan telapak tangan. Namun segera kutarik
kedua tangan Ningsih ke atas kepalanya, lalu menyibakkan paha gadis itu
yang sudah mengangkang. Pasrah Ningsih memejamkan mata menantikan
saatnya mempersembahkan keperawanannya.
Gadis itu menahan nafas dan menggigit bibir saat jemariku
mempermainkan bibir kemaluannya yang basah terangsang. Perlahan kedua
paha mulus Ningsih terkangkang semakin lebar. Aku menyapukan ujung
kejantananku pada bibir kemaluan gadis itu, membuat nafasnya semakin
memburu. Perlahan tapi pasti, kejantananku menerobos masuk ke dalam
kehangatan tubuh perawan Ningsih. Ketika selaput dara gadis manis itu
sedikit menghalangi, dengan perkasa kudorong terus, sampai ujung
kejantananku menyodok dasar liang kemaluan Ningsih. Ternyata kemaluan
gadis ini kecil dan sangat dangkal. Kejantananku hanya dapat masuk
seluruhnya dalam kehangatan keperawanannya bila didorong cukup kuat
sampai menekan dasar kemaluannya. Itu pun segera terdesak keluar lagi.
Ningsih terpekik sambil tergeliat merasakan pedih menyengat di
selangkangannya saat kurenggutkan keperawanan yang selama ini telah
dijaganya baik-baik. Tapi gadis itu hanya berani meremas-remas bantal
di kepalanya sambil menggigit bibir menahan sakit. Air mata gadis itu
tak terasa menitik dari sudut mata, mengaburkan pandangannya. Ningsih
merintih kesakitan ketika aku mulai bergerak menikmati kehangatan
kemaluannya yang serasa ‘megap-megap’ dijejali benda sebesar itu. Namun
rasa sakit dan pedih di selangkangannya perlahan tertutup oleh sensasi
geli-geli nikmat yang luar biasa.
Tiap kali kejantananku menekan dasar kemaluannya, gadis itu
tergelinjang oleh ngilu bercampur nikmat yang belum pernah
dirasakannya. Kejantananku bagai diremas-remas dalam liang kemaluan
Ningsih yang begitu ‘peret’ dan legit. Dengan perkasa kudorong
kejantananku sampai masuk seluruhnya dalam selangkangan gadis itu,
membuat Ningsih tergelinjang-gelinjang sambil merintih nikmat tiap kali
dasar kemaluannya disodok.
“Ahh… Ndoro..! Aa… ah..! Aaa… ahk..! Oooh..! Ndorooo… Ningsih pengen… pih… 
pipiiis..! Aaa… aahh..!”
Sensasi nikmat luar biasa membuat Ningsih dengan cepat terorgasme.
“Tahan Nduk! Kamu nggak boleh pipis dulu..! Tunggu Ndoro pipisin kamu, baru 
kamu boleh pipis..!”
Dengan patuh Ningsih mengencangkan otot selangkangannya sekuat tenaga
berusaha menahan pipis, kepalanya menggeleng-geleng dengan mata
terpejam, membuat rambutnya berantakan, namun beberapa saat kemudian…
“Nggak tahan Ndorooo..! Ngh…! Ngh…! Ngggh! Aaaiii… iik..! Aaa…
aaahk..!” Tanpa dapat ditahan-tahan, Ningsih tergelinjang-gelinjang di
bawah tindihanku sambil memekik dengan nafas tersengal-sengal.
Payudaranya yang bulat dan kenyal berguncang menekan dadaku saat gadis
itu memeluk erat tubuh majikannya, dan kemaluannya yang begitu rapat
bergerak mencucup-cucup.
Berpura-pura marah, aku menghentikan genjotannya dan menarik kejantananku 
keluar dari tubuh Ningsih.
“Dibilang jangan pipis dulu kok bandel..! Awas kalau berani pipis lagi..!”
Tampak kejantananku bersimbah cairan bening bercampur kemerahan, tanda
gadis itu betul-betul masih perawan. Gadis itu mengira majikannya sudah
selesai, memejamkan mata sambil tersenyum puas dan mengatur nafasnya
yang ’senen-kamis’. Di pangkal paha gadis itu tampak juga darah perawan
menitik dari bibir kemaluannya yang perlahan menutup.
Aku menarik pinggang Ningsih ke atas, lalu mendorong sebuah bantal
empuk ke bawah pantat Ningsih, membuat tubuh telanjang gadis itu agak
melengkung karena pantatnya diganjal bantal. Tanpa basa-basi kembali
kutindih tubuh montok Ningsih, dan kembali kutancapkan kejantananku
dalam liang kemaluan gadis itu. Dengan posisi pantat terganjal, klentit
Ningsih yang peka menjadi sedikit mendongak. Sehingga ketika aku
kembali melanjutkan tusukanku, gadis itu tergelinjang dan terpekik
merasakan sensasi yang bahkan lebih nikmat lagi dari yang barusan.
“Mau terus apa brenti, Nduk..?” godaku.
“Aii… iih..! He.. eh..! Terus Ndorooo..! Enak..! Enak..! Aahh… Aiii… iik..!”
Tubuh Ningsih yang montok menggiurkan tergelinjang-gelinjang dengan
nikmat dengan nafas tersengal-sengal diantara pekikan-pekikan manjanya.
“Ooo… ohh..! Ndoroo.., Ningsih pengen pipis.. lagiii… iih..!”
“Yang ini ditahan dulu..! Tahan Nduk..!”
“Aa.. aak..! Ampuuu… unnhh..! Ningsih nggak kuat… Ndorooo..!”
Seiring pekikan manjanya, tubuh gadis itu tergeliat-geliat di atas ranjang 
empuk.
Pekikan manja Ningsih semakin keras setiap kali tubuh telanjangnya
tergerinjal saat kusodok dasar liang kegadisannya, membuat kedua
pahanya tersentak mengangkang semakin lebar, semakin mempermudah aku
menikmati tubuh perawannya. Dengan gemas sekuat tenaga kuremas-remas
kedua payudara Ningsih hingga tampak berbekas kemerah-merahan. Begitu
kuatnya remasanku hingga cairan putih susu menitik keluar dari
putingnya yang kecoklatan.
“Ahhhk..! Aaa.. aah! Aduu.. uhh! Sakit Ndorooo..! Ningsih mau pipiiiiss..!”
Dengan maksud menggoda gadis itu, aku menghentikan sodokannya dan mencabut 
kejantanannya justru disaat Ningsih mulai orgasme.
“Mau pipis Nduk..?” tanyaku pura-pura kesal.
“Oohh… Ndorooo… terusin dong..! Cuma ‘dikit, nggak pa-pa kok..!” rengek gadis 
itu manja.
“Kamu itu nggak boleh pipis sebelum Ndoro pipisin kamu, tahu..?” aku terus 
berpura-pura marah.
Tampak bibir kemaluan Ningsih yang gundul kini kemerah-merahan dan bergerak 
berdenyut.
“Enggak! Enggak kok! Ningsih enggak berani Ndoro..!”
Ningsih memeluk dan berusaha menarik tubuhku agar kembali menindih
tubuhnya. Rasanya sebentarlagi gadis itu mau pipis untuk ketiga kalinya.
“Kalau sampai pipis lagi, Ndoro bakal marah, lho Nduk..?” kuremas kedua buah 
dada montok Ningsih.
“Engh… Enggak. Nggak berani.” Wajah gadis itu berkerut menahan pipis.
“Awas kalau berani..!” kukeraskan cengkeraman tangannya hingga payudara
gadis itu seperti balon melotot dan cairan putih susu kembali menetes
dari putingnya.
“Ahk! Aah..! Nggak berani, Ndoro..!”
Ningsih menggigit bibir menahan sakitnya remasan-remasanku yang
bukannya dilepas malah semakin kuat dan cepat. Namun gadis itu segera
merasakan ganjarannya saat kejantananku kembali menghajar kemaluannya.
Tak ayal lagi, Ningsih kembali tergiur tanpa ampun begitu dasar liang
kemaluannya ditekan kuat.
“Ngh..! Ngh..! Nggghhh..! Ahk… Aaa… aahhh..! Ndorooo… ampuuu… uun..!”
Tubuh montok gadis itu tergerinjal seiring pekikan manjanya.
Begitu cepatnya Ningsih mencapai puncak membuat aku semakin gemas
menggeluti tubuh perawannya. Tanpa ampun kucengkeram kedua bukit montok
yang berdiri menantang di hadapanku dan meremasinya dengan kuat,
meninggalkan bekas kemerahan di kulit payudara Ningsih. Sementara
genjotan demi genjotan kejantananku menyodok kemaluan gadis itu yang
hangat mencucup-cucup menggiurkan, bagai memohon semburan puncak.
Gadis itu sendiri sudah tak tahu lagi mana atas mana bawah,
kenikmatan luar biasa tidak henti-hentinya memancar dari
selangkangannya. Rasanya seperti ingin pipis tapi nikmat luar biasa
membuat Ningsih tidak sadar memekik-mekik manja. Kedua pahanya yang
sehari-hari biasanya disilangkan rapat-rapat, kini terkangkang lebar,
sementara liang kemaluannya tanpa dapat ditahan-tahan berdenyut
mencucup kejantananku yang begitu perkasa menggagahinya. Sekujur tubuh
gadis itu basah bersimbah keringat.
“Hih! Rasain! Dibilang jangan pipis! Mau ngelawan ya..!” Gemas
kucengkeram kedua buah dada Ningsih erat-erat sambil menghentakkan
kejantananku sejauh mungkin dalam kemaluan dangkal gadis itu.
Ningsih tergelinjang-gelinjang tidak berdaya tiap kali dasar
kemaluannya disodok. Pantat gadis itu yang terganjal bantal empuk
berulangkali tersentak naik menahan nikmat.
“Oooh… Ndorooo..! Ahk..! Ampun..! Ampun Ndoroo..! Sudah..! Ampuuu..
unn..!” Ningsih merintih memohon ampun tidak sanggup lagi merasakan
kegiuran yang tidak kunjung reda.
Begitu lama majikannya menggagahinya, seolah tidak akan pernah
selesai. Tidak terasa air matanya kembali berlinang membasahi pipinya.
Kedua tangan gadis itu menggapai-gapai tanpa daya, paha mulusnya
tersentak terkangkang tiap kali kemaluannya dijejali kejantananku,
nafasnya tersengal dan terputus-putus. Bagian dalam tubuhnya terasa
ngilu disodok tanpa henti. Putus asa Ningsih merengek memohon ampun,
majikannya bagai tak kenal lelah terus menggagahi kegadisannya. Bagi
gadis itu seperti bertahun-tahun ia telah melayani majikannya dengan
pasrah.
Menyadari kini Ningsih sedang terorgasme berkepanjangan, aku tarik
paha Ningsih ke atas hingga menyentuh payudaranya dan merapatkannya.
Akibatnya kemaluan gadis itu menjadi semakin sempit menjepit
kejantananku yang terus menghentak keluar masuk. Ningsih berusaha
kembali mengangkang, namun dengan perkasa semakin kurapatkan kedua paha
mulusnya. Mata Ningsih yang bulat terbeliak dan berputar-putar,
sedangkan bibirnya merah merekah membentuk huruf ‘O’ tanpa ada suara
yang keluar. Sensasi antara pedih dan nikmat yang luar biasa di
selangkangannya kini semakin menjadi-jadi.
Aku semakin bersemangat menggenjotkan kejantananku dalam hangatnya
cengkeraman pangkal paha Ningsih, membuat gadis itu terpekik-pekik
nikmat dengan tubuh terdorong menyentak ke atas tiap kali kemaluannya
disodok keras.
“Hih! Rasain! Rasain! Nih! Nih! Nihh..!” aku semakin geram merasakan
kemaluan Ningsih yang begitu sempit dan dangkal seperti mencucup-cucup
kejantananku.
“Ahh..! Ampuuu…uun… ampun… Ndoro! Aduh… sakiit… ampuuu… un..!”
Begitu merasakan kenikmatan mulai memuncak, dengan gemas kuremas
kedua payudara Ningsih yang kemerah-merahan berkilat bersimbah keringat
dan cairan putih dari putingnya, menumpukan seluruh berat tubuhku pada
tubuh gadis itu dengan kedua paha gadis itu terjepit di antara tubuh
kami, membuat tubuh Ningsih melesak dalam empuknya ranjang.
Pekikan tertahan gadis itu, gelinjangan tubuhnya yang padat
telanjang dan ‘peret’-nya kemaluannya yang masih perawan membuatku
semakin hebat menggeluti gadis itu.
“Aduh! Aduu… uuhh… sakit Ndoro! Aaah… aaamm… aaammpuuun… ampuuu… uun Ndoro.. 
Ningsih… pipiiii… iiis! Aaammm… puuun..!”
Dan akhirnya kuhujamkan kejantananku sedalam-dalamnya memenuhi kemaluan
Ningsih, membuat tubuh telanjang gadis itu terlonjak dalam tindihanku,
namun tertahan oleh cengkeraman tanganku pada kedua buah dada Ningsih
yang halus mulus.
Tanpa dapat kutahan, kusemburkan sperma dalam cucupan kemaluan
Ningsih yang hangat menggiurkan sambil dengan sekuat tenaga
meremas-remas kedua buah dada gadis itu, membuat Ningsih tergerinjal
antara sakit dan nikmat.
“Ahk! Auh..! Aaa… aauuhh! Oh… ampuuu…uun Ndoro! Terus Ndoro..! Ampuuun! Amm… 
mmh..!Aaa… aaakh..!”
Dengan puas aku menjatuhkan tubuh di sisi tubuh Ningsih yang sintal,
membuat gadis itu turut terguling ke samping, namun kemudian gadis itu
memeluk tubuhku. Sambil terisak-isak bahagia, Ningsih memeluk tubuhku
dan mengelus-elus punggungku.
Sambil mengatur nafas, aku berpikir untuk menaikkan gaji Ningsih
beberapa kali lipat, agar gadis itu betah bekerja di sini, dan dapat
melayaniku setiap saat. Dengan tubuh yang masih gemetar dan lemas,
Ningsih perlahan turun dari ranjang dan mulai melompat-lompat di
samping ranjang.
Keheranan aku bertanya, “Ngapain kamu, Nduk..?”
“Katanya… biar nggak hamil harus lompat.. lompat, Ndoro..” jawab gadis itu 
polos.
Aku tertawa terbahak-bahak mendengarnya, melihat cairan kental meleleh
dari pangkal paha gadis itu yang mulus tanpa sehelai rambut pun.

 Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus TL,Ngaceng Teruuusss... !



----- Pesan Diteruskan ----
Dari: desna rahandi <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Sab, 7 November, 2009 12:35:02
Judul: ada lagi g har..?


bro..ada lag gak nich cerpen / film yg hot hhe..
kalo bs yg blow....


      Mulai chatting dengan teman di Yahoo! Pingbox baru sekarang!! Membuat 
tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah. 
http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/

Kirim email ke