‘’Anakku Dimas, Ibu hari ini hanya punya uang seratus ribu, ibu tidak
mampu membelikan kamu ticket untuk nonton Film 'Up,' bahkan Kakak Asma
yang sudah berjanji dengan kawan-kawannya untuk menonton Film Emak Naik
Haji pun belum sempat ibu pikirkan darimana mendapatkan uangnya,
sementara ibu tahu, gaji ayah belum cukup untuk memenuhi semua yang
kalian inginkan. Ibu harus pandai mengatur semua uang yang ayah
berikan, hari ini ibu ada rezeki dari hasil membetulkan jahitan seragam
anak jisc, sebanyak seratus ribu rupiah, ibu akan membagi; limapuluh
ribu untuk membayar cicilan mesin jahit ibu, duapuluh ribu untuk
membayar uang les kakak, sepuluh ribu bisa ibu pakai untuk membeli
alat-alat tulismu yang katamu terjatuh di depan selokan rumah Amir, dan
sisanya duapuluh ribu lagi akan ibu gunakan untuk membayar pendaftaran
taekwondo abangmu."
Demikian ungkap ibu didalam suratnya, ketika
aku menemukan surat itu didalam kantung baju ibu. Pagi itu aku bertugas
membawa pulang semua baju ibu, ketika ayah memberitahu kami, bahwa ibu
masuk rumah sakit ketika mengendarai motor tua ayah untuk pergi
membayar uang les bimbel kakak ke Jalan Simatupang. Mungkin karena
cuaca hujan, dan ibu juga terlupa membawa kacamata ibu, maka ibu tidak
begitu melihat perbedaan jalur lambat dan jalur cepat, sehingga ketika
dari jalur lambat ibu ingin pindah ke jalur cepat, ibu tidak melihat
minibus Kopaja no 57 dari arah Mampang ke Kemang.
Ibu katanya
sempat terseret sejauh 7 meter, oh ibu, walau dikabarkan hanya luka
ringan dan sedikit gegar otak, kami bertiga tak sanggup membayangkan
betapa pengorbanan ibu untuk kami sangat luar biasa. Ibu mendahulukan
pembayaran uang les dan uang bimbel serta membeli beberapa alat tulis
bagi anak-anaknya, karena kami masih melihat, dalam dompet ibu masih
tersisa uang Rp.50.000 yang sedianya akan Ibu bayarkan untuk cicilan
mesin jahit, coba misalnya ibu bayar mesin jahit dulu, tentu ibu tidak
akan masuk rumah sakit, karena pasti ayah yang akan mengantar kami
membayar uang les ini dan itu sekalian mengantar kami pergi les. Namun
itulah ibu, ibu selalu mendahulukan kepentingan kami, dan ibu
seringkali mengabaikan kepentingannya asalkan kepentingan kami,
anak-anaknya telah selesai dikerjakan.
Oh ibu... dengan apa aku
akan membalas cintamu?! Aku terisak dibalik tumpukan baju-baju yang
belum dicuci. Dan malam itu, aku memilih untuk tidak kemana-mana dan
menghabiskan malamku dengan mencuci semua baju-baju ibu dan membantu
kerjaan ibu, kapan lagi aku dapat berbuat untuk ibu, walau ibu tidak
melihat tapi aku merasakan bahwa ingatanku pada perjuangan ibu akan
memberikanku kekuatan untuk mencuci baju, sesuatu yang hampir tak
pernah kulakukan dalam usiaku yang baru sepuluh tahun ini. Setelah 5
jam penuh aku mencuci baju yang hanya 7 helai saja, aku baru merasakan
bahwa menjadi ibu sangat berat,dan tangisku semakin keras ketika aku
menjumpai celana panjangku yang kotor dan sobek di beberapa bagian
telah ditambal ibu namun sobek lagi dan sobekannyapun penuh dengan
lumpur yang mengeras, dan aku sendiri memerlukan waktu hampir satu jam
untuk mengorek dan menguceks semua lumpur dari celana panjangku sendiri.
Bercampur
dengan airmataku, aku membayangkan tangan ibu yang kurus dan kecil
setiap hari harus mengusek celana panjangku yang selalu penuh dengan
robekan dan lumpur bekas aku main bola tak kenal waktu, baik hujan
maupun musim kemarau, ibu tidak pernh mengeluh, hanya menegur dengan
halus, agar aku tidak mudah merobekkan celana panjangku. Kata ibu, bila
celana panjang banyak bolongnya, malu dengan malaikat bila aku pakai
celana panjang itu untuk sholat.
Oh ibu, teguranmu begitu halus,
dan kau tidak pernah mengeluh akan beratnya mencuci celana panjangku
yang mengeras dengan lumpur. Aku berjanji dibalik cucianku, dibalik
isaktangisku dan buramnya mataku bahwa aku akan selalu membantu ibu,
menjaganya agar tidak berat bila mengurus semua keperluanku dan akan
selalu menyayangi ibu. Sambil menjemur dengan susah payah diteras
belakang rumahku, aku melihat ke langit dan bintang-bintang, dan aku
berkata pada bulan; "mampirlah ke jendela kamar ibu di Rumah Sakit
Harapan Bunda kamar kelas 3 lantai 4, katakan padanya bahwa aku Dimas
anak bungsunya sangat cinta padanya, nama Ibuku Suriati Jamillah… I
love you mom," bisikku lamat-lamat.
(Happy Mother’s Day)
*Copy paste*
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus TL,Ngaceng Teruuusss... !
Mulai chatting dengan teman di Yahoo! Pingbox baru sekarang!! Membuat
tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah.
http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/