Nabi Kata

: buat Hudan Hidayat

Telah kutandangi banyak pengajian. Aku selalu kebagian 

ujung tikar paling belakang. Mulut-mulut itu 

maulana-maulana. Entah siapa yang mendengar, siapa yang 

berkata. Aku jengah, dua puluh tahun kaki ini bersila 

dan hanya pada satu posisi yoga telinga. Tidak, mereka 

bukan instruktur-instrutur surga. 



Tuan Ismail, sudah seperti Ibrahim yang kelimpahan 

Taufik kebekuan-Nya ketika Namrud bersekongkol dengan 

tentara Api. Seakan percintaan telanjang "Tuan dan Nona 

Kosong" bukanlah lagi butiran cairan anggur yang berdiam 

di dasar cawan-cawan pembuluh darah adam dan hawa. 



Aku jengah. Dua puluh enam tahun dada ini hanya 

menghafalkan alif-ba-ta. Di ruang-ruang dengan delapan 

sisi dan delapan titik sudut, telah retakkah 

dinding-dinding kerucut dan bola? Orang-orang yang 

pandai berhitung, cuma fasih merumuskan pajang kali 

lebar kali tinggi saja, untuk mengetahui volume makna.



Dimensi bertumbuh angka pangkatnya diantara 

patahan-patahan logika dan sejarah. Sebagai 

pendeklarasian hamba tuhan, selalu ada ruang lain untuk 

ranjang peraduan "Tuan dan Nona Kosong" mengerang lebih 

panjang dan kian panjanglah eranganÂ… Bila mulut-mulut 

itu masih betah sebagai maulana-maulana, erangan-erangan 

panjang yang telah mengalir dari mulut "Tuan dan Nona 

Kosong"mu, dimanakah sulbi dan corong vaginanya, Tuan?



Badan gelap ini ingin segera basah, tenggelam di air 

kolam cahaya. Air yang mengalir dari sela jari nabi itu. 

"Nabi Tanpa Wahyu". Nabi yang hidup dan mengajarkan 

kemerdekaan "kata" dalam tubuh-Mu.   
"Untuk mengerti mati, tidak perlu jadi sufi"






Rawamangun, Rabu pagi, 25062008
Om Hudan, rasanya menyelamimu, 
adalah hamparan gurun pasir tanpa tepi, 
dimana terlahir nabi,

blalang_kupukupu
di "Short Time In Heaven"
http://asharjunandar.wordpess.com

Kirim email ke