Buletin Elektronik

www.Prakarsa-Rakyat.org



SADAR 

Simpul Untuk Keadilan dan Demokrasi
Edisi: 139 Tahun IV - 2008
Sumber: www.prakarsa-rakyat.org


  _____  


2009: SIAPA YANG INGIN BERGOLPUT?

 

Oleh Eka Pangulimara H*

 

Cukup mengejutkan! Belum lama ini ketua umum partai berlambang banteng
moncong putih, Megawati, anak Bung Karno. Yang juga mantan presiden pertama
di republik ini mengucapkan, "Orang-orang golput seharusnya tidak boleh
menjadi WNI, karena mereka menghancurkan sistem dan tatanan demokrasi serta
perundang-undangan di negara ini." Ketika menjadi juru kampanye untuk
pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Maluku, Karel Albert Ralahalu -
Said Assagaff (RASA) pada kampanye putaran terakhir di lapangan Merdeka,
Ambon, Sabtu, 5 Juli 2008.

Tidak boleh menjadi WNI? Menghancurkan sistem dan tatanan demokrasi serta
perundang-undangan di negara ini? Jangan-jangan Megawati sudah melakukan
diskriminasi melihat bangsa, dan Rakyat Indonesia, jika terdapat suara
politik yang berbeda? Perilaku semacam ini pernah terjadi di masa Orba.

Apakah benar di negara ini sudah betul-betul terbangun sistem dan tatanan
berdemokrasi? Meskipun kerangka demokrasi prosedural menunjukkan berjalannya
lembaga-lembaga penyelenggara pemilu, perundang-undangan, akuntabel,
transparan, dan partisipatif. Yang terpenting apa hasil perubahan yang bisa
dirasakan rakyat, di era transisi demokrasi, setelah pemilu usai? 

Bangsa ini baru saja terlepas dari belenggu tirani orde baru. Itu saja.
Kebebasan berpikir dan berideologi, belum bisa dikatakan mau wujud seutuhnya
di negeri ini. Justru pernyataan bernada kecaman sekaliber Megawati,
berpretensi menyumbat kembali arus kebebasan menentukan pilihan, dimana
orang-orang yang golput, mau tidak mau, diakui merupakan bagian ekspresi
berdemokrasi. 

Di tingkat pabrik saja, kebebasan berserikat masih banyak yang
dihalang-halangi, dan mendapat intimidasi, hingga di-PHK secara sepihak. 

Jelas sekali Megawati ceroboh, dan amat gegabah. Upaya mendulang suara,
malahan dipakai untuk menebar konflik. Utamanya para pemegang otoritas
secara demokratis untuk melakukan golput. Misalnya Gus Dur, sudah
mengeluarkan statement golput. Bedanya, Gus Dur bermaksud mengancam.
Lantaran konflik internal partainya, berindikasi diintervensi pemerintahan
SBY-JK.

Wapres Jusuf Kalla pernah berucap bahwa, "Golput itu anti demokrasi, apalagi
kalau yang berteriak itu yang suka ngomong demokrasi." Ketua Umum Partai
Golkar ini, telah kehilangan jejak sejarah, dimana Golkar pernah menjadi
kendaran politik Orde Baru. Faktanya, menjadi bagian pemasung demokrasi di
masa rejim otoritarian. Lalu demokrasi yang dimaksud JK, menjadi milik
siapa?

Menimbang konstelasi politik dan ekonomi kekinian, pemilu akhir-akhir ini
telah mengisyaratkan sebuah restorasi kekuatan lama. Konsolidasi demokrasi
bergeser makin liberal, berpangku pada kekuatan modal.

Ancaman neoliberalisme

Sekurang-kurangnya, ada tiga masalah dalam negara, yang mengadopsi
neoliberalisme sebagai rumusan praktek bernegara. Pertama, sistem politik
pemerintahan dan partai politiknya. Paska tergulingnya Soeharto, arus besar
reformasi berhenti, dan berbelok arah. Liberalisasi politik menancapkan pada
faktor permodalan, sebagai infrastruktur membangun bangsa ini. Maka panggung
politiknya, hanya mempertontonkan wajah kaum pemodal. Hukum besi pemilik
modal berlaku di sini, siapa yang menggelontorkan miliaran rupiah, kans yang
didapat sejumlah itu. 

Kebanyakan pengusaha, dan adanya relasi pemilik modal internasional
berkepentingan mengeruk sejumlah sumber daya di Indonesia. Aset nasional
dijuali. Minyak dikuasi Exxon Oil Mobil, hutan dibabati, sampai pulau
berpindah tangan, dan jutaan manusia dimobilisasi mengais nafkah di negeri
orang, menjadi TKI.

Kemudian fenomena parpol. Bisa dipastikan, jelang pemilu seperti ini, banyak
parpol bermunculan bak cendawan di musim penghujan. Padahal tak banyak yang
dilakukan. Paling-paling, aktivitasnya tak salah kalau dibilang, hanya
sebatas mesin pencetak suara. Seolah merasa berada di sisi rakyat, parpol
hanya terbiasa mengadakan pengobatan massal, pembagian sembako plus kaos,
dan kegiatan filantropi lainnya. Setelah itu, menghilang dan sulit dimintai
pertanggungjawabannya. Eksistensi yang diperlihatkan tak jauh dari datangnya
tahun kabisat. Cuma selisih satu tahun pas pemilu saja. Sewaktu-waktu,
parpol mendadak menghiasi lembaran media massa, tersebab pejabatnya setelah
terpilih terlibat skandal, korupsi, ataupun sang pandai bicara di depan
televisi, serta seminar ke seminar saja.

Yang kedua, produk kebijakannya. Saat ini Indonesia, di bawah kekuasaan
SB-JK sudah tiga kali menaikkan harga BBM. Padahal kebutuhan yang satu ini,
jelas menyentuh semua lapisan sosial masyarakat, terlebih rakyat mayoritas.
Meningginya harga BBM di Indonesia, berdampak pada harga kebutuhan pokok
masyarakat. Seperti: sembako, biaya transportasi, sewa kontrakan, dan masih
banyak lagi. Apalagi kebutuhan pokok rakyat di bidang pendidikan dan
kesehatan. Sudah banyak perguruan tinggi, dan rumah sakit negeri yang
diprivatisasi. Biaya untuk bersekolah, melahirkan, berobat, biaya
pernikahan, hingga tanah pemakaman pasti semakin mahal, dan tak terjangkau. 

Masalah ketiga, rakyat mayoritas yang dirugikan. Dalam hal ini, kaum buruh,
tani, nelayan, dan kaum miskin, akibat tekanan struktural yang dilakukan
negara. Meluasnya sistem kerja kontrak dan outsourcing, PHK massal sejurus
dengan menyempitnya lapangan pekerjaan, serta upah murah sudah dialami kaum
buruh Indonesia. Yang jauh dari kesejahteraan atas hasil kerjanya. Begitu
juga para petani yang berhadapan dengan realitas ongkos produksi pertanian
yang melangit, sementara harga gabah rendah, dan minimnya peran negara
meningkatkan teknologisasi pertanian. Nelayan di pesisir harus berhenti
melaut, karena solar tak didapat. Penggusuran kaum miskin di kota,
berbarengan dengan proyek pengadaan gedung, pembangunan jalan, yang diberi
label harga untuk kaum kaya.

Payung hukumnya disediakan, dengan empat kali amandemen UUD 1945, merubah
konsititusi negara, melegitimasi peran kaum pemodal menggenggam sistem
ekonomi dan politik. Begitulah penjajahan bentuk baru -neoliberalisme-
bekerja memarginalkan, membuat rakyat makin terasing di negerinya sendiri. 

Memaknai golput

Pemilu 2009 sebentar lagi memang perlu memperoleh tanggapan politik rakyat.
Ujar-ujar tentang sikap golput, sebaiknya dipandang arif, dan menjadi cermin
ketidakpuasaan, serta kekecewaan rakyat atas problem yang disampaikan
penulis di atas. 

Sedikitnya, ada dua tolak ukur mengedepankan realitas golput sebagai
pilihan. Pertama, sama sekali tidak berpartisipasi masuk ke bilik-bilik
suara. Dan kedua, mencoblos lebih dari satu pilihan. Setidaknya kondisi ini
terjadi pada pemilu 2004 lalu. Yaitu sebanyak 34 juta (22,56%) dari total
jumlah calon pemilih, yaitu sebanyak 150 juta penduduk, terbukti golput.

Perjalanannya, golput bertambah manifes di sejumlah pilkadal yang
terselenggara secara nasional pula. Di antaranya, pada Pilgub Sulsel,
sebanyak 1.596.825 (golput) dari total suara yang masuk 3.701.306. Pilgub
Jabar (golput 35, 7%), Pilgub DKI Jakarta (golput 36,2%), Pilgub Banten
(golput 39,28%), Pilgub Sumatera Utara (golput 41%). Pilgub Sumbar (golput
35,70%), Pilbup Pati (golput mencapai 50%), Pilgub Jawa Tengah (golput 45,
25%), dan Pilgub NTT (golput 20%).

Sebut saja, Marselina (di NTT), salah seorang warga Kelurahan Sikumana,
Kupang. Menurut pengakuannya, "Para gubernur tidak memiliki program
pengentasan kemiskinan. Seharusnya, para calon gubernur menawarkan program
pembangunan yang cocok dengan kebutuhan warga".

Ungkapan Marselina nampak mewakili ekspresi kesadaran politik yang patut di
hargai dan dikembangkan. Jadi, golput bukanlah apatisme, golput tidak sama
dengan anti demokrasi, golput bukan barang mubazir, seperti yang disayangkan
Amien Rais, dan pemboroskan anggaran negara. Sebaliknya, para pejabatlah
yang sering melakukan pemborosan anggaran dengan anggaran sidang sekaligus
menginap di hotel mewah, tunjangan laptop, mesin cuci, masih tak jera untuk
ber-KKN di gedung dewan. Dan Amien Rais pernah berada di gedung itu. Suara
golput ialah menolak jendral pelanggar HAM untuk kembali menduduki
kekuasaan.

Golput lebih memiliki moril politik secara kritis dalam menilai elit
politik, dan sistem pemerintahan yang hanya menghantarkan segelintir
orang-orang yang ber-vested interest. Dan kembali paska pemilu 2009,
berperilaku korup berjamaah, mengkonstitusionalkan sistem kerja
kontrak/outsourcing, dan upah murah. Menaikkan harga BBM, mencabut subsidi,
sembari menikmati kucuran hutang, dan modal asing. Tak banyak harapan
perubahan yang dicita-citakan di pemilu 2009.

Bersikap golput, apabila dilakukan secara terbuka, dan terang-terangan
menjadi bagian pendidikan politik dari, dan untuk rakyat. Ke depan, dapat
menjadi kekuatan politik yang signifikan bagi perjuangan menentukan nasib
perubahan rakyat. Sekali lagi, golput merupakan solusi, untuk bereaksi
terhadap rejim yang sewenang-wenang, dan tidak pro rakyat, pada saat pemilu
mendatang ini.

Keterpurukan belakangan ini, ibarat kapal yang sedang limbung. Benarkan ini
perlu diselamatkan? Sebelum kapal itu bertabrakan dengan batu karang besar,
sudah seharusnya kita periksa dulu siapa nahkoda dan awak kapal itu. Bila
sudah terbukti para koruptor dan pro kaum pemodal, akan lebih baik jika
kapal itu diambil alih kemudinya oleh para penumpang. Dan, jika rakyat ingin
bergolput di pemilu 2009? Sebaiknya, golput sajalah!

 

* Penulis adalah Pengurus Pusat Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia,
sekaligus anggota Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat dari Simpul
Jabodetabek.

** Siapa saja dipersilahkan mengutip, menggandakan, menyebarluaskan sebagian
atau seluruh materi yang termuat dalam portal ini selama untuk kajian dan
mendukung gerakan rakyat. Untuk keperluan komersial pengguna harus
mendapatkan ijin tertulis dari pengelola portal Prakarsa Rakyat. Setiap
pengutipan, penggandaan dan penyebarluasan sebagian atau seluruh materi
harus mencantumkan sumber (portal Prakarsa Rakyat atau
www.prakarsa-rakyat.org).

 

 


 


 <http://www.prakarsa-rakyat.org> [EMAIL PROTECTED]   

 

Kirim email ke