Di Dua Puluh Enam Tahun yang Tereram Dua puluh enam tahun yang tereram, dari gelombang rambut dadaku kau merangkak pelan ke cekungan selangkang. Entah karena letih dari medan perang dan sekujur tubuh yang dilintahi luka, kau hirup semerbak angin bunga yang diwahyukan pada buih sabun sudah.
"Aku butuh lebih dari sekedar aroma" rontamu meronta mencari pintu keluar selangkang itu. Kau jengah, gerah, terdedah, kau dirajami durjana-durjana gairah. "Lekaslah, di tungku perapian ini aku telah rebah" pintamu padaku, memelas bocah. "Saban malam, kaulah yang menekan tuts-tuts piano itu hingga menjalin lilitan-lilitan nada, yang mengikatku, yang erat, yang terlampau erat, sampai sesaklah dada, dan teruntuhkanlah semua dinding-dinding udara. Kau yang menghardik dan menggeleparkan mimpi hingga gentar menjumpai mata" "Kau harus segera menggerayangiku, mengucup-ngucup putik tertinggi daratan tubuhku, menghujam dengan hujaman paling dalam, tepat di dasar klitoris pulsar palungku. Kau harus berulang-ulang seperti lilitan-lilitan nada piano itu. Melonggar, mengencang, meninggi, memelan, sampai aku di lautan lagu itu, benar-benar tertelan. Harus kau sembur aku dengan cairanmu, atau aku benar-benar terbakar di atas tungku perapian, dan sebuah tubuh yang perawan, tak akan pernah ada lagi yang kembali menyusup ke muara dadamu. Kau harus segera melemaskan sendi-sendi tulang belakangku, di dua puluh enam tahun yang tereram. Tertanam" Rawamangun, Selasa malam, 15072008 blalang_kupukupu http://asharjunandar.wordpress.com <http://asharjunandar.wordpress.com/> Short Time in Heaven
