----- Forwarded Message ----
From: Trinzi M
Subject: dee lestari: alasan berpisah dari marcell
Entah bullshit, entah retorika, entah kenyataan.
Tapi seperti biasa, tulisan Dee Lestari, selalu menarik ;)
Zie
Perpisahan, sebagaimana kematian, adalah hal yang paling dihindari manusia.
Padahal sama seperti pertemuan dan kelahiran, kedua sisi itu melengkapi bagai
dua muka dalam satu koin. Hadir sepaket tanpa bisa dipisah. Seberapa lama jatah
kita hidup, kita tidak pernah tahu. Yang jelas, kita selalu berjuang setengah
mati untuk bisa menerima mati.
Saya sempat termenung melihat salah satu adegan dalam film "Earth" di mana
seekor kijang berlari sekuat tenaganya hingga pada satu titik dia begitu
berpasrah saat digigit oleh harimau, menghadapi kematiannya dengan alami.
Adegan yang tadinya begitu mencekam akhirnya bisa berubah indah saat kita mampu
mengapresiasi kepasrahan sang kijang terhadap kekuatan yang lebih besar
darinya. Persis bagaikan kijang yang berlari, manusia dengan segala macam cara
juga menghindari kematian. Orang yang sudah tidak berfungsi pun masih ditopang
oleh segala macam mesin agar bisa hidup. Perpisahan tak terkecuali. Kita pasti
akan berjuang habis-habisan untuk bertahan terlebih dahulu. Namun, sebagaimana
kijang yang akhirnya berlutut pasrah, sekeras-kerasnya kita menolak kematian
dan perpisahan, setiap makhluk bisa merasakan jika ajal siap menjemput, jika
ucapan selamat tinggal siap terlontar. Dan pada titik itu, segala perjuangan
berhenti.
Dalam semua hubungan, kita bisa saja menemukan 1001 alasan yang kita anggap
sebab sebuah perpisahan. Namun saya percaya, penyebab yang paling mendasar
selalu sederhana dan alami: memang sudah waktunya. Hidup punya masa kadaluarsa,
hubungan pun sama. Jika tidak, semua orang tidak akan pernah mati dan semua
orang tidak pernah ganti pacar dari pacar pertamanya. Kita bisa bilang,
putusnya hubungan A karena dia selingkuh, karena bosan, karena ketemu orang
lain yang lebih menarik, belum jodoh, dan masih banyak lagi. Padahal intinya
satu, jika memang sudah waktunya, perpisahan akan menjemput secara alamiah
bagaikan ajal. Bungkus dan caranya bermacam-macam, tapi kekuatan yang
menggerakkannya satu dan serupa. Tentu dalam prosesnya kita berontak, protes,
menyalahkan ini-itu, dan seterusnya. Namun hanya dengan terus berproses dalam
aliran kehidupan, kita baru menyadari hikmah di baliknya.
Jadi, semua faktor yang selama ini diabsahkan orang-orang sebagai penyebab
perpisahan (orang ketiga, KDRT, tidak dinafkahi, dan lain-lain) menurut saya
sebenarnya adalah gejala yang terlihat, bukan penyebab. Sama halnya batuk
sebagai gejala penyakit flu. Batuk bukan penyebab, tapi gejala penyakit yang
terlihat. Kita sendiri tidak bisa melihat virusnya, cuma merasakan akibatnya,
yakni batuk atau beringus. Tapi seringkali kita tertukar memilah mana efek dan
mana sebab, hanya karena efek yang terlihat lebih mudah dijelaskan. Alasan
sesederhana "memang sudah waktunya" dirasa abstrak, teoritis, filosofis, dan
mengada-ada.
September 2006 adalah momen penyadaran saya dengan Marcell, saat kami merasa
bahwa hubungan kami sudah kadaluarsa. Susah sekali kalau disuruh menjelaskan:
kok bisa tahu? Tapi kami sama-sama merasakan hal yang sama. Dan pada saat
itulah kami memutuskan untuk belajar berpisah, saling melepaskan. Jadi, masalah
intinya bukan memaafkan dan memaklumi efek apa yang terlihat, tapi menerima
bahwa inilah adanya. Hubungan yang kadaluarsa. Perkembangan yang akhirnya
membawa kami ke titik perpisahan. Dan, untuk sampai pada penerimaan ini, dua
tahun saya jalani dengan berbagai macam cara: meditasi, penyembuhan diri, dan
sebagainya, hingga kami bisa saling melepaskan dengan lapang dada, dengan
baik-baik, dengan pengertian, dengan kesadaran.
Memaafkan bagi saya adalah menerima. Menerima kondisi kami apa adanya. Segala
penyebab mengapa sebuah kondisi tercipta, barangkali kita cuma bisa tahu sekian
persennya aja. Tidak mungkin diketahui semua. Apalagi dimengerti. Sama halnya
saya tidak tahu persis kenapa dulu bisa bertemu dengan Marcell, menikah, dan
seterusnya. Fate, atau destiny, menjadi cara manusia menjelaskan apa yang tidak
bisa dijelaskan. Perpisahan pun sama hukumnya. Meski sepertinya keputusan
berpisah ada "di tangan kita", tapi ada sesuatu kekuatan yang tidak bisa
dijelaskan, hanya bisa dirasakan.
Namun seringkali konsep "memaafkan" yang kita kehendaki adalah kemampuan untuk
mengembalikan situasi ke saat sebelum ada masalah. Alias rujuk lagi seperti
dulu. Dan keinginan kami untuk berpisah dianggap sebagai ketidakmampuan kami
untuk saling memaafkan. Menurut saya, pemaafan yang sejati hanya bisa diukur
oleh masing-masing pribadi, di dalam hatinya sendiri. Dan bagi kami, dalam
masalah ini, "memaafkan" tidaklah identik dengan "pengembalian situasi ke
kondisi semula". Dalam proses pemaafan ini, kami pun bertumbuh. Dan di sinilah
saya menyadari, juga Marcell, dinamika kami sebagai suami-istri lebih baik
disudahi sampai di sini. Kami menemukan wadah yang lebih kondusif untuk
menopang dinamika kami sebagai dua manusia, yakni sahabat tanpa wadah
pernikahan.
Lantas, orang-orang pun berargumen: semua suami-istri juga pada ujungnya jadi
sahabat! Mungkin iya. Mungkin juga tidak. Bahkan ada suami-istri yang menjadi
musuh bagi satu sama lain meski mereka tetap menikah. Ketika sepasang
suami-istri menjadi sahabat, mereka tentu bisa merasakan wadah apa yang paling
tepat untuk menopang dinamika mereka. Jika pernikahan masih dirasakan sebagai
wadah yang pas, maka mereka akan meneruskan persahabatan dalam cangkang
pernikahan. Evolusi saya dan Marcell ada di kompartemen yang lain lagi.
Cangkang pernikahan tidak lagi kami rasakan sebagai wadah yang "pas". Jika
dijalankan pun, cuma jadi kompensasi sosial yang alasannya bukan lagi
kebahagiaan kami, melainkan kebahagiaan masyarakat, keluarga, sahabat, dan
seterusnya. Satu opsi yang menurut saya sangat tidak sehat, membunuh
pelan-pelan, dan kepalsuan berkepanjangan.
Lantas, bagaimana dengan Keenan? Apakah kebahagiaannya juga tidak kami
perhitungkan? Analogi yang barangkali bisa membantu menggambarkan ini adalah
petunjuk emergensi di pesawat. Dulu, saya sering bingung, kenapa orang tua
disuruh memakai masker oksigen duluan sebelum anaknya. Sekarang saya mengerti,
dan setidaknya ini adalah kebenaran bagi saya: kita tidak bisa membahagiakan
orang lain sebelum kita sendiri bahagia. Satu buku yang sangat terkenal,
"Celestine's Prophecy", juga bicara soal ini. Kita harus "penuh" dulu sebelum
bisa "memenuhi" orang lain. Cinta bukanlah dependensi, melainkan keutuhan yang
dibagi.
Saya menikah bukan karena Keenan, dan kalaupun saya bertahan menikah,
seharusnya juga bukan karena Keenan. Karena kalau cuma karena Keenan, dengan
demikian saya menaruh beban yang luar biasa besar dan bukan porsinya Keenan,
bahkan saya menjadi seseorang yang tidak bertanggungjawab, dengan meletakkan
fondasi pernikahan saya pada seorang anak. Ini barangkali bukan pandangan yang
umum. Kita tahu betapa banyak orang di luar sana yang bicara bahwa anak
harusnya menjadi pengikat, bahkan dasar. Bagi saya, Keenan bukan tali atau
fondasi. Dia adalah busur yang akan melesat sendiri satu saat nanti. Kewajiban
utama saya adalah menjadi manusia yang utuh agar saya bisa membagi keutuhan
saya dengan dia. Dan keutuhan jiwa saya tidak saya letakkan dalam pernikahan,
tidak juga pada siapa-siapa, melainkan pada diri saya sendiri. Saya hanya bisa
bahagia untuk diri saya sendiri. Kalau ada yang lain merasa kecipratan, ya,
syukur. Kalau tidak pun bukan urusan saya.
Di dunia di mana seorang martir selalu memperoleh citra istimewa, apa yang saya
ungkap barangkali terdengar egois. Sama seperti narasi yang kerap digaungkan
infotainment, yang berbicara soal kebahagiaan anak bernama Keenan dan "hatinya
yang terkoyak karena keegoisan ayah-bundanya" , seorang anak yang tidak mereka
kenal sama sekali tapi mereka berbicara seolah bisa menembus ke dalam hatinya.
Padahal, kalau direnungi dalam-dalam, sesungguhnya kita tidak pernah berbuat
sesuatu untuk orang lain, meski kita berpikir demikian. Kita berbuat sesuatu
karena itulah yang kita anggap benar bagi diri kita sendiri. Dan kebenaran ini
sangatlah relatif. Jika ada 6,5 miliar manusia di dunia, maka ada 6,5 miliar
kebenaran dan ukuran kebahagiaan. Norma berubah, agama berubah, sains berubah,
segalanya berubah dan tidak pernah sama. Kebahagiaan pun sesuatu yang hidup,
berubah, dan tidak statis.
Membahagiakan Keenan, keluarga, para penggemar, masyarakat, juga menjadi
keinginan saya. Tapi saya pun tidak bisa selamanya mencegah mereka semua dari
ketidakbahagiaan. Karena apa? Seseorang berbahagia karena dirinya sendiri.
Kebahagiaan bukan mekanisme eksternal, tapi internal. Ilustrasinya begini, dua
orang sama-sama dikasih apel, yang satu bahagia karena memang suka apel, yang
lain kecewa karena sukanya durian. Berarti bukan apelnya yang bisa bikin
bahagia, tapi reaksi hati seseoranglah yang menentukan. Yang tidak suka apel
baru bisa bahagia kalau akhirnya dia bisa menerima bahwa yang diberikan
kepadanya adalah apel dan bukan durian-sebagaimana yang dia inginkan. Alias
menerima kenyataan. Saya tidak bisa membuat siapa pun berbahagia, sekalipun
saya ingin berpikir demikian. Kenyatannya, hanya dirinya sendirilah yang bisa.
Saya hanya bisa menolong dan memberikan apa yang orang tersebut butuhkan,
SEJAUH yang saya bisa. Namun saya tidak memegang kendali
apa pun atas kebahagiaa nnya.
Seseorang lantas mampir ke blog ini dan bertanya: Tuhan seperti apa yang saya
anut? Karena kasih Tuhan seharusnya mengingatkan saya untuk terus bersatu,
sebab tidak ada Tuhan yang menyukai perpisahan. Bagi saya, Tuhan berada di luar
ranah suka dan tak suka. Jika dunia ini berjalan hanya berdasarkan kesukaan
Tuhan, dan Tuhan hanya suka yang baik-baik saja, mengapa kita dibiarkan hidup
dengan peperangan, dengan air mata, dengan patah hati, dengan ketidakadilan,
dengan kejahatan? Mengapa harus ada hitam bersanding dengan putih? Lantas,
kalau ada orang yang kemudian berargumen bahwa bagian hitam bukan jatahnya
Tuhan tapi Setan, maka jelas Tuhan yang demikian bukan Yang Maha Kuasa. Ia
menjadi terbatas, kerdil, dan sempit. Bagi saya, Tuhan ada di atas hitam dan
putih, sekaligus terjalin di dalam keduanya. Tidak ada yang bukan Tuhan. Ia tak
mengenal konsep "kecuali".
Selama beberapa hari terakhir, begitu banyak pesan dan komentar yang
dilayangkan pada kami. Dari mulai bertanya, kecewa, prihatin, sedih, kaget,
bahkan bak seorang Nabi bernubuat, ada yang meramalkan ini-itu sebagai
konsekuensi keputusan kami. Tak sedikit juga yang memilih tidak berkomentar dan
bertanya, hanya memberi dukungan. Kami berterima kasih untuk semua. Kami pun
tak meminta banyak, hanya satu hal: hargai keputusan kami. Yang kami selamatkan
di sini bukan "keutuhan keluarga" melainkan keutuhan hati dan jiwa
masing-masing. Karena buat kami, itu lebih penting daripada keluarga utuh tapi
dalamnya rapuh. Maaf jika itu membuat beberapa dari Anda kecewa. Saya juga
mengerti begitu banyak yang berupaya mendorong kami untuk terus berusaha,
mempertanyakan usaha kami, dan bereaksi seolah-olah kami memutuskan keputusan
ini dalam semalam. Sungguh, ini bukan keputusan "kemarin sore". Kita semua tahu
keputusan bercerai adalah keputusan yang besar. Intinya,
terima kasih atas perhatian nya, dan mari kita kembali urus diri masing-masing.
Saya bukan penonton infotainment dan juga bukan pembaca tabloid, tapi dari
beberapa info yang kebetulan sampai ke pengamatan saya, bisa disimpulkan bahwa
manusia begitu haus drama. Mungkin karena itulah kita begitu rajin membuat
sinetron dengan akting-akting berlebihan dan cerita-cerita ekstrem, karena
hanya dengan cara demikianlah kita bisa menerima realitas. Kita begitu terbiasa
dengan drama dan tragedi. Kondisi di mana saya dan Marcell bisa duduk
berdampingan, berpisah dengan baik-baik, seolah-olah terlewatkan sebagai buah
upaya kami yang nyata karena semua orang sibuk mengedepankan pertunjukan teater
versinya masing-masing. Apa pun yang saya katakan, pada akhirnya selalu
dibingkai narasi, entah lisan atau tulisan, yang merupakan ramuan opini si
penulis naskah. Itulah yang akhirnya membuat saya dan Marcell lebih banyak
tertawa sendiri, pers hiburan rasanya seperti servis sosial di mana kami
mengumpankan dongeng untuk kepentingan hajat hidup mereka,
bukan lagi berbagi keben aran. Dengan info-info sepotong yang mungkin lebih
banyak asumsinya ketimbang faktanya, mereka bisa merangkai pertunjukan teater
apa pun yang mereka mau. Dan itulah yang menghibur. Sisanya? Kenyataan yang
membosankan. Nyata, tapi tidak seru. Dan bukan itu yang orang mau.
Hari ini, saya ditunjukkan tabloid C&R yang terbaru. Kami berdua menjadi sampul
depan, dengan laporan empat halaman. Saya sempat tercengang karena mereka
mengutip hal yang tidak pernah saya lontarkan, menuliskan pertanyaan yang tidak
pernah mereka tanyakan, tapi ditulis sedemikian rupa seolah terjadi dialog
langsung antara saya dan penulis/wartawan. Bahkan, mereka menuliskan alamat
rumah saya dengan lengkap, tanpa izin terlebih dahulu. Plus, ditambah
unsur-unsur dramatis bahwa kepindahan saya adalah untuk "mengubur masa lalu".
Padahal saya berencana pindah sejak tahun lalu karena semata-mata alasan
pekerjaan. Tidak hanya mereka menulis sesuai dengan bingkai yang mereka mau,
bahkan untuk mengepas "gambar realitas" ke bingkai tersebut, mereka melakukan
hal yang tidak etis. Saya tidak tahu fungsi dari alamat lengkap saya untuk
bumbu berita mereka, tapi mereka menuliskannya seolah tidak berpikir bahwa hal
tersebut menyangkut isu sekuritas, dan juga privasi.
Media seharusnya tidak memberikan alamat seseorang begitu saja. Sejauh saya
berkarier, pihak media selalu meminta izin jika ingin memberikan alamat. Entah
zaman yang sudah berubah, atau privasi sudah jadi kata-kata kosong dalam realm
pers hiburan.
Beberapa debat dan diskusi di internet pun merebak, bahkan terkadang menjadi
pengadilan tak resmi. Ada banyak nama yang disebut, dispekulasikan, dan sampai
didiskreditkan. Orang-orang yang juga punya kehidupan, keluarga, karier, dan
privasi. Sekalipun dengan tegas saya dan Marcell mengatakan bahwa alasan kami
berpisah bukan karena pihak ketiga atau ketujuhbelas, tapi seperti angin lalu,
mereka tak jemu mengorek sana-sini, termasuk ke sahabat-sahabat terdekat saya.
So, seriously, they don't have any concern for the truth. They have concern on
"stories". Lucu. Yang menjalani saja santai-santai, yang kebakaran jenggot
malah orang-orang lain. Jika dilihat secara keseluruhan, sesungguhnya inilah
dagelan kita bersama. Barangkali demikian juga halnya nasib semua berita
hiburan (bahkan non-hiburan) yang beredar selama ini.
Lalu, hendak ke mana setelah ini? Saya tidak tahu. Apakah akan ada penyesalan?
Saya tidak tahu. Apa pun yang menanti saya sesudah ini, itulah konsekuensi,
tanggung jawab, dan karma saya. Pahit atau manis. Tak seorang pun yang tahu.
Namun inilah pelajaran hidup yang menjadi jatah saya, dan saya menerimanya
dengan senang hati. Saya tidak berdagang dengan Tuhan. Setiap detik dalam hidup
adalah hadiah. Setiap momen adalah perkembangan baru. Bagi saya, itu sudah
cukup. Bagi saya, itulah bentuk kesadaran.
Jadi, kalau pertanyaan emas itu kembali dilontarkan: apa penyebab Dewi dan
Marcell bercerai? Mereka sadar, menerima, dan memaafkan. bahwa hidup telah
membawa mereka ke titik perpisahan.
Abstrak? Filosofis? Teoritis? Utopis? Saya sangat mengerti mengapa label-label
itu muncul. Kebenaran kadang memang sukar dipahami. Hanya bisa dirasakan. Sama
gagapnya kita berusaha mendefinisikan Cinta. Pada akhirnya, kita cuma bisa
merasakan akibatnya.
________________________________
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
___________________________________________________________________________
Yahoo! Toolbar kini dilengkapi dengan Search Assist. Download sekarang juga.
http://id.toolbar.yahoo.com/