Diambil dari http://www.thaniago.blogspot.com
Tersinggunglah!




Seorang kawan yang baru lulus kuliah ditolak di mana-mana ketika melamar 
pekerjaan. Kesalahannya cuma satu, Ia terlalu bangga memakai bahasa Indonesia.

TIDAK seperti kebanyakan pelamar lain yang berfoya-foya dalam bahasa Inggris, 
kawan tadi memakai bahasa Indonesia dalam surat lamarannya. Jumlah alasannya 
memakai bahasa Indonesia pun sama dengan kesalahannya itu, cuma satu, yakni, ia 
melamar pada perusahaan yang ada di Indonesia, yang masyarakat, rekan kerja, 
dan pimpinannya berbahasa Indonesia. Perusahaan yang pekerjaanya bisa 
dikerjakan dalam bahasa Indonesia. Sialnya, kawan tadi lupa, kalau perusahaan 
di Indonesia merasa hebat ketika berhasil mengaudisi karyawannya dalam bahasa 
Inggris. Biar sedikit intelek, bro!

Dari perusahaan dengan banyak istilah asingnya – meeting, outing, order, 
customer, owner, break event point, part time, office boy – mari beralih ke 
bidang lain. Dalam pemerintahan, kebanggaan meminjam istilah Inggris juga amat 
mengenaskan – kalau tidak mau disebut mengesalkan atau memuakkan. Tampak sekali 
kalau para pejabat kewalahan untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia 
sepenuhnya, sehingga merasa perlu meminjam istilah asing. Tengoklah istilah 
seperti impeachment, smart card, voting, sampai yang paling tolol, busway.

Entah, tulah apa yang menelanjangi identitas kebangsaan kita. Kenapa kata-kata 
asing bertaburan dalam percakapan sehari-hari? Bahasa Indonesia seakan tak 
mampu bersolek dengan anggun bila tidak menggandeng bahasa Inggris. Orang 
paling bodoh sekali pun diatur gaya berbahasanya agar fasih melafal tengkyu, 
sori, serprais, sekuriti, syoping sebagai syarat penduduk berwawasan global – 
walau pengetahuan dan nalarnya tidak diajak mengglobal.

Tidak ketinggalan – dan ini yang paling menyakitkan – institusi publik yang 
seharusnya mendidik masyarakat, malah melayani kekeliruan berbahasa tersebut. 
Kita lihat bagaimana sekolah-sekolah berbangga dengan mengganti namanya dengan 
bahasa Inggris. Universitas mengiklankan dirinya di media dengan istilah 
Inggris seperti admission, free laptop, the leading university, faculty of 
management, dan seterusnya. Padahal target pemasarannya adalah orang-orang yang 
sehari-hari berbahasa Indonesia.

Media cetak maupun elektronik juga melayani semua kekenesan ini. Simak saja 
kata-kata yang mondar-mandir di halaman mata kita. Ada Today Dialogues, Woman 
of the Year, Sport, Headline News, dan sebagainya. Pada SINDO, sebuah media 
massa nasional, yang logikanya adalah sebuah media yang turut bertanggungjawab 
terhadap budaya berbahasa, pun bersikap demikian. Coba periksa koran ini pada 
tiap edisinya. Di halaman depan, mata pembaca sudah dihadang dengan rubrik 
‘news’ dan ‘quote of the day’. Usaha meng-inggris ini belum usai, karena 
disusul di lembar-lembar berikutnya: rubrik ‘financial revolution’-nya Tung 
Desem Waringin, rubrik ‘people’, rubrik ‘fashion’, rubrik ‘food’, rubrik 
‘rundown’, atau cap ‘special report’ pada artikel tertentu. Jangan tersenyum 
geli dulu, karena bukan saja SINDO, koran-koran lainnya pun tak luput dari 
gaya-gayaan berbahasa ini.

Mau contoh lain? Tak usah pergi jauh, karena cukup sambil duduk menggenggam 
halaman ini, bayangkanlah segala sesuatu di sekitar anda: merek permen, 
keterangan dalam bungkus mie instan, nama restoran, keterangan dalam gedung 
(exit, toilet, emergency), dan seterusnya, dan sebagainya, yang kalau 
dituliskan semua, artikel kali ini hanya akan memuat daftar ‘dosa’ tersebut. 
Dan tentunya memanjangkan rasa jengkel.

Lalu, menjadi sehebat Inggris atau Amerika-kah bangsa ini ketika berhasil 
mengadopsi bahasa mereka? Apakah dengan serta merta ekonomi negara menjadi 
seciamik mereka? Apakah dengan begitu terlihat cerdas karena berhasil 
mensejajarkan diri dengan bangsa Barat? Sampai sebegitu jijiknyakah kita 
terhadap bahasa Indonesia sehingga pada kata ‘peralatan kantor’ perlu ditemani 
kata dalam kurung ‘stationery’, ‘nyata’ ditemani kata dalam kurung ‘real’, atau 
‘kekuatan’ yang ditemani ‘power’? Seakan mata kita lebih karib dengan kata di 
dalam kurung ketimbang kata dalam bahasa Indonesia-nya.

Masih cukup waraskah kita ketika menertawakan seorang artis muda yang 
ber-Inggris ria, “hujan..beychek..ojhek”, yang padahal adalah cermin dari 
ketidakberpribadian diri kita sendiri? Atau celakanya, latah pun kalau bisa 
dibuat-buat agar yang keluar secara spontan adalah kata, ‘oh my god’, ‘monkey’, 
‘shit’, ‘fuck you’, atau ‘event organizer’.

Pada kasus lain kita temukan bagaimana sikap sok inggris ini tidak diimbangi 
dengan pengetahuan memadai. Contoh paling fatal, juga paling tolol, ada  pada 
isitilah ‘busway’ yang tidak mengindahkan aturan bahasa, terlebih logika. Mana 
ada frase, “ke Blok M naik ‘jalanan bis’ sangat nyaman”.

Coba perhatikan, bagaimana kita melafal ‘AC’ (Air Conditioner) dan’HP’ (Hand 
Phone). Bukankah kita menyepel a-se untuk ‘AC’ dan ha-pe untuk ‘HP’? – padahal 
kalau sok Inggris layaklah dieja ei-si dan eitch-pi. Tapi tidak pada ‘VCD’ 
(Video Compact Disc) dan ‘PC’ (Personal Computer), karena kita menyepel 
vi-si-di dan pi-si. Konyolnya, ‘Media Nusantara Citra’ (MNC), dieja dengan 
em-en-si, bukan em-en-ce.

Yang paling menyedihkan, justru yang menghargai budaya (bahasa) Indonesia 
adalah orang asing. Mungkin kita sudah bosan mendengar bagaimana bertaburnya 
kelompok musik gamelan Jawa di Amerika. Di Eropa, beberapa konservatori musik 
malah menyediakan jurusan musik karawitan atau gamelan bali. Tengoklah yang 
terdekat, misalnya di Erasmus Huis, sebuah pusat budaya Belanda di Kuningan, 
Jakarta Selatan. Dalam program bulanan kegiatan yang dicetak di atas brosur, 
bahasa Indonesia-lah yang didahulukan, kemudian baru disusul dengan bahasa 
Belanda kemudian Inggris. Bila ada pementasan pun, buku acara, bahkan kata 
sambutannya pun – walau terbata-bata – mendahulukan bahasa Indonesia. Gilanya, 
hal ini justru terbalik bila artis Indonesia yang tampil.

Pada konser Nusantara Symphony Orchestra yang berkolaborasi dengan Tokyo 
Philharmonie Orchestra di Balai Sarbini, 10 Juni 2008 lalu, sebagai perwakilan 
dari Indonesia, Miranda Goeltom yang orang Indonesia memberi sambutan, tentunya 
dalam bahasa Inggris. Lalu, sebagai perwakilan Jepang, kata sambutan dari ‘Duta 
Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Jepang untuk Republik Indonesia’, Kojiro 
Shiojiri menyusul. Shiojiri yang asli Jepang ini, yang tidak ada untungnya 
karena memakai bahasa Indonesia, malah dengan pede-nya berpidato dalam bahasa 
Indonesia, meski terbata. Sudah cukup muakkah membaca kenorakan kita di atas?

Memang, bahasa yang hidup adalah bahasa yang dinamis dan terus dirusak. Tidak 
seperti bahasa yang sudah mati seperti bahasa Latin. Namun dalam konteks ini, 
sama sekali tidak menandakan bahwa masyarakat Indonesia sedang mengembangkan 
bahasanya secara sadar. Sebaliknya, masyarakat kita tidak mempunyai kemampuan 
untuk mengenali fenomena budaya yang menggigiti identitas bangsa.  Tidak mampu 
mengatasi kekagokkannya sendiri terhadap budaya asing. Mirip orang kampung yang 
merias berlebihan dengan segala pernak-pernik kota sepulangnya ke kampung 
halaman.

Bangsa yang persoalan budaya-nya dianggap sepele bukan Indonesia sendiri. 
Tenang saja, kita ada kawan. Bangsa Romawi adalah kawan yang dimaksud. Secara 
militer Romawi memang menjajah Yunani, tapi dalam hal kultural, Yunani-lah yang 
menjajah. Kalau kita, militer dijajah, budaya dijajah, ekonomi juga dijajah. 
Lalu apa yang bisa membuat bangsa ini tidak terjajah? Ketika tersinggung saat 
membaca artikel ini, begitu jawabnya.

Jadi, tersinggunglah! 

--
Posted By  Roy Thaniago  to Saung Kata at  10/29/2008 08:01:00 PM


      Coba Yahoo! Messenger baru

Kirim email ke