diambil dari http://www.thaniago.blogspot.com

Selamat Pagi, Mas Presiden!
Oleh: Roy Thaniago




 

 
“Ya, yang bisa mengubah hanyalah generasi angkatan muda…”
-Pramoedya Ananta Toer -

Mulailah membaca catatan kecil ini – yang mungkin tidak ada gunanya, juga 
gaungnya – dengan sepotong ucapan: Selamat malam generasi tua!

BUKAN karena benar-benar sudah malam kalau ucapan itu kita layangkan. Tapi ini 
semacam salam perpisahan, salam menjelang tidur. Sepucuk salam pengantar 
istirahat buat para pemimpin tua sebuah bangsa yang juga mulai menua.

Sayangnya, menuanya bangsa ini tidak diimbangi dengan kedewasaan dan kearifan, 
kesejahteraan dan kemapanan. Tapi malah, dengan rapor buruk negara, ketuaan 
bangsa Indonesia makin renta dengan hadirnya ‘keriput’ korupsi, ‘flek’ 
kemiskinan, ‘TBC’ buta huruf, ‘osteoporosis’ terorisme, ‘asma’ pelanggaran HAM, 
serta ‘stroke’ pendidikan rendah. Maka sudah lengkaplah sosok renta bangsa 
Indonesia dengan segala tetekbengek yang melacur di sekujur tubuhnya. Bangsa 
Indonesia laksana seorang saudagar kaya yang menghabiskan sisa hidupnya dengan 
berjuang melawan penyakit di atas ranjang. Saudagar itu, dengan puluhan hiasan 
mewah yang menggelayot di tubuhnya, tidak lagi mampu berdiri melihat 
cucu-cucunya yang gemuk sedang berlarian di halaman rumahnya yang luas.

Sudah 10 tahun sejak lengsernya Mbah Harto, kumandang reformasi didengungkan. 
Tapi bangsa ini masih duduk manis di depan televisi menonton sinetron tolol. 
Tak mencoba menggeser tubuh untuk memperbaiki bagian rumah yang rusak. Tak 
berupaya mencari sofa yang lebih empuk atau mengganti warna cat dinding yang 
mulai mengelupas. Hingga mulai sadar dengan lahirnya ketidaknyamanan dan 
keengganan untuk tetap berkata: Saya baik-baik saja.
Silih berganti – seperti menang gambreng – satu per satu pemimpin gaek menjabat 
sebagai presiden. Mulai dari Habibie, Gus Dur, Megawati, sampai SBY. Semuanya 
menjalankan pemerintahan dengan baik. Bahkan teramat baik hingga tak berani 
melakukan perubahan radikal yang membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik.

Di antara generasi tua itu seperti ada halangan untuk berpikir dan bertindak 
revolusioner. Mekanisme menjadi presiden lewat parpol membuat mereka melakukan 
kompromi-kompromi politik yang anomali bagi masyarakat awam. Misalnya saja, 
dengan dukungan beberapa parpol yang berkoalisi, seorang presiden terpilih 
menjadi tidak mudah dalam membuat keputusan yang mungkin saja merugikan salah 
satu parpol. Kompromi-kompromi macam inilah yang senantiasa menghambat kemajuan 
Indonesia.

Lain hal, para generasi tua, dengan rentang usia yang melintas pada zaman Orde 
Lama dan Orde Baru, dijangkiti kultur kebanyakan birokrat kita yang busuk. Dari 
kolusi sampai korupsi. Nepotisme sampai jual beli hukum. Yang mungkin daftar 
kebusukan itu tak cukup ditampung dari Sabang sampai Merauke.

Kultur macam ini jugalah yang sangat mengganggu proses Indonesia menjadi negara 
yang disegani. Sistem boleh ciamik dan modern. Fasilitas boleh canggih dan 
mengadopsi Barat. Tapi selama kultur manusia yang menjalankan sistem tersebut 
busuk, tidak menjadi istimewalah ke-ciamik-an dan ke-modern-an itu. Selama 
kultur manusia pemakai fasilitas tersebut bobrok, ada baiknya sikap malu yang 
mesti dipasang ketika menggotong predikat canggih dan adopsi Barat itu.

Bukan itu saja, para generasi tua sudah terperangkap dalam perspektif waktu 
yang sempit. Mereka hidup di jaman yang baru, tapi membawa pemikiran lama. 
Sebuah jaman harus diperlakukan lewat tuntutan kebutuhan jaman tersebut. Itu 
syarat sebuah kebaruan.
Namun, yang terjadi sekarang, kepemimpinan bangsa hanya dihuni oleh nama-nama 
lama yang mengalami rentang waktu yang dipenuhi kultur busuk para birokrat dan 
juga melalui proses mekanisme parpol yang buruk. Sebut saja nama Megawati (61), 
Wiranto (61), Amien Rais (64), Akbar Tanjung (62), SBY (58), Sutiyoso (63), 
Sultan Jogja (62), serta Jusuf Kalla (66). Mereka semua pernah hidup di era 
pemerintahan yang kulturnya busuk. Mereka juga bertumbuh dalam sistem parpol 
yang tidak berorientasi kepada rakyat. Jadi percuma saja bila ada generasi tua 
yang bersih, memimpin. Karena sebersih apapun, dia sudah terbiasa dengan kultur 
busuk birokrat, akrab dengan kompromi-kompromi, serta terperangkapnya dalam 
perspektif waktu yang sempit.

Oleh karena itu, kita sekalian BERHAK menolehkan perhatian pada orang-orang 
lain di luar generasi tua. Orang-orang lain tersebut dengan ideologi dan 
mimpinya pantas dibukakan jalan menuju kepemimpinan bangsa. Orang-orang lain 
tersebut, yang tidak pernah terlibat dalam kultur busuk tersebut, layak diberi 
kesempatan menggawangi kursi Presiden Indonesia. Tak lain dan tak bukan, adalah 
mereka orang-orang baru dengan semangat dan pemikiran yang baru, yakni para 
generasi muda bangsa.

Maka layaklah ucapan selamat malam di awal tadi, kita serukan pada mereka 
generasi tua. Dan dengan santun kita antarkan mereka untuk beristirahat 
menunggu gerbong Indonesia Jaya yang dikomandoi para generasi muda.

Siapa Generasi Muda?

Tapi masih adakah generasi dengan syarat-syarat yang sudah diurai pada halaman 
sebelah tadi di dalam negara berjumlah 230 juta penduduk ini? Agak sulit 
menjawabnya bila kita belum memahami siapa generasi muda yang dimaksud.

Generasi muda adalah mereka yang berusia muda. Kalau bicara angka, mungkin 
angka 35-50 adalah kisarannya. Tapi sebuah angka bukanlah syarat mutlak 
seseorang dikategorikan sebagai generasi muda. Ia bisa saja berusia di atas 50, 
namun memiliki pikiran yang baru (muda), kultur yang baru (belum pernah 
terlibat dalam kerja parpol atau pemerintahan yang korup), semangat yang baru, 
juga mimpi yang baru.

Dalam wacana mencari pemimpin muda ini, generasi tua yang dituduh 
bertanggungjawab karena tidak melakukan regenerasi, berkilah. Mereka menganggap 
bahwa kepemimpinan mereka bukanlah mau diri sendiri, tapi keadaan yang 
mengharuskan mereka maju kembali dalam bursa capres. Bahkan dengan sangat 
jantan mereka menantang lahirnya para pemimpin dari generasi yang lebih muda 
dari mereka.

Namun apa yang terjadi menunjukkan mereka tidak dengan sungguh mengatakan itu. 
Orang muda selalu berdiri di bawah bayang-bayang generasi tua. Coba kita lihat 
PAN (Partai Amanat Nasional) yang dipimpin oleh orang muda seperti Soetrisno 
Bachir, ternyata masih dibayangi oleh sosok Amien Rais di belakangnya. Sehingga 
belakangan kita sama-sama saksikan usaha mati-matian dari Soetrisno Bachir 
dalam mencitrakan dirinya ke masyarakat lewat iklan-iklan yang kerap menganggu 
kenyamanan ketika menonton atau pun membaca media massa.

Bukankah ini akibat dari tidak mulusnya regenerasi partai politik? Atau pada 
regenerasi PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) yang memasang Muhaimin Iskandar 
sebagai boneka. Karena toh suara Gus Dur tetap yang menahkodai arah PKB. Sebuah 
gerontokrasi1 yang tidak dengan sungguh memberi peluang bagi orang muda untuk 
memimpin.

Pada hal lain, kita bisa lihat bagaimana orang muda hanya dijadikan komoditi 
politik semata. Tentunya parpol-parpol amat menyadari suara besar yang dapat 
diraup dari kaum muda. Dalam konteks berbicara Pemilu 2009, dari 170 juta usia 
pemilih, 59% berusia muda, yakni 20-40 tahun. Dengan mewacanakan pemimpin kaum 
muda, yakni dengan memasangkan kaum tua dengan kaum muda dalam bursa capres, 
parpol berharap dapat mendulang suara banyak dengan kandidat kaum muda sebagai 
pemikat. (bandingkan dengan kemenangan Pilkada Jawa Barat yang mengusung 
Heryawan dengan Dede Yusuf sebagai orang muda – keduanya berumur 41 tahun. Atau 
Pilkada Sulawesi Selatan yang dimenangi oleh pasangan Syahrul Yasin Limpo dan 
Agus Arifin Nu’mang, di mana Nu’mang masih berusia 45 tahun)

Hal inilah yang disebutkan di atas sebagai komoditi politik.. Orang muda hanya 
diberi posisi sebagai alasan strategis menjalankan program tim sukses. Orang 
muda hanyalah alat. Orang muda hanya sebuah objek, bukan subjek yang berhak 
menentukan arahnya sendiri. 


Jadi, memang susah – bukan tidak mungkin – mencari pemimpin dari generasi muda. 
Mereka dianggap tidak ada oleh masyarakat. Kalaupun ada, mereka hanya 
pribadi-pribadi yang kadang anonim dan berdiri sendiri tanpa basis massa. 
Mereka bukan tidak ada, tapi mereka ditiadakan kaum tua.

Orang Muda Becus

Mendengar nama Benigno Aquino Jr., mungkin kita langsung mengasosiasikannya 
pada sebuah nama, Corazon Aquino. Ya, Ninoy – panggilan Beningno – adalah suami 
dari Corazon, mantan presiden Filipina. Benigno muda aktif berpolitik. Ia 
menjadi walikota pada usia yang sangat muda, 22 tahun. Lalu berlanjut menjadi 
gubernur pada usia 28 tahun. Dalam usia 34 tahun, ia masuk sebagai senator 
termuda Filipina saat itu. Akhirnya karena tindaktanduk politiknya, ia dihukum 
mati oleh Ferdinand Marcos, presiden Filipina saat itu. Namun tak lama sang 
istri, Corazon, melanjutkan misi politik suaminya, yang mengantarnya pada kursi 
Presiden Filipina di tahun 1986.

Di belahan dunia lain, ada tokoh muda seperti Evo Morales yang memimpin Bolivia 
pada usia 47 tahun. Juga ada Bashar Al Assad dari Suriah yang menjadi presiden 
pada usia yang belum genap 45 tahun. Ada juga Hugo Chaves yang menjadi presiden 
Venezuela pada usia 44 tahun. Di Amerika, nama pemimpin muda berderet dari J.F. 
Kennedy (berusia 43 tahun ketika menjabat presiden), Bill Clinton (47), sampai 
yang ramai dibicarakan sekarang, Barack Obama (47).
Nama-nama dalam negeri pun tak kalah bersaing. Soekarno, Sang Fajar dari Timur 
itu, memimpin PNI (Partai Nasional Indonesia) pada usia yang belia, 26 tahun. 
Dan akhirnya menduduki kursi kepresidenan pada usia 44 tahun.. Atau lihat Hatta 
dan Sjahrir yang menjadi wakil presiden dan perdana mentri di usianya yang 
ke-43 dan 36 tahun.

Singkat kata, stereotip tidak becus, berlagak doang, urakan, sulit diatur, 
apatis, dan seterusnya, dan seterusnya yang disematkan pada orang muda, boleh 
menjadi tidak sepenuhnya benar setelah kita melihat deretan prestasi yang 
diukir nama-nama orang muda di atas. Lewat mereka kita melihat bahwa orang muda 
bisa memimpin dengan becus. Bukan saja memimpin. Tapi dengan perubahan radikal 
yang dilakukan, orang muda dapat menjadi agen pembaharu pada satu keadaan yang 
carutmarut.

Gerakan Korektif

Di Indonesia, setelah lama dikurung dalam suatu jaman yang otoriter, yakni 
selama 3 dekade Orde Baru berkuasa, di mana rakyat melulu menjadi objek, 
menghasilkan kenihilan generasi muda. Sikap Soeharto yang melanggengkan 
kekuasaan tak memberi ruang berpikir untuk membidani kehadiran generasi 
berikutnya. Sehingga stok orang muda Indonesia yang berpolitik menjadi kosong.

Bukan itu saja. Sikap otoriter dan represif yang digunakan, membuat rakyat tak 
lagi mempunyai mimpi. Rakyat menganggap mimpi merupakan barang mewah untuk 
dikonsumsi. Maka rakyat hanya berharap, tak lagi bermimpi. Berharap agar 
pemimpin bangsa membawa mereka ke arah yang lebih baik. Namun tidak pernah 
berhasrat untuk membangun mimpi mereka sendiri. Rakyat menyerahkan mimpinya 
kepada pemimpin. Dan inilah yang melahirkan sebuah generasi muda yang apatis.

Sikap apatis ini ditunjukkan dengan enggannnya orang muda untuk membangun mimpi 
rakyat lewat politik. Mereka menganggap bahwa politik kotor dan culas, dan 
hanya dengan menjauhkan diri darinya, orang muda dapat terus mempertahankan 
idealismenya. Sehingga, selama ini masyarakat hanya menyaksikan aksi kolektif 
orang muda yang dibangun dalam ranah gerakan protes. Orang muda hanya menjadi 
gerakan korektif. Selama tidak ada yang perlu dikoreksi, mereka hilang dari 
peredaran dalam upaya membangun bangsa.

Di sisi lain, di mana orang muda gerah terhadap parpol, justru lewat parpol itu 
pulalah jalan menuju kepemimpinan dibukakan. Pada kondisi ini, perlu dipikirkan 
mengenai wacana calon presiden idependen yang tidak berdasarkan parpol. Atau 
memang para elit politik tua kita seakan sudah membentengi lingkaran kekuasaan 
mereka dengan undang-undang yang rapih, yang menghambat para orang muda untuk 
maju sebagai pemimpin.

Sekali lagi: Selamat Malam…

Bila pandangan sudah berkelana sampai pada baris ini, berarti catatan kecil ini 
sebentar lagi mau pamit. Pergi menjauh dari mata-mata yang menyapu kata-kata. 
Catatan ini akan kembali berpencar menjadi kata-kata yang berdiri 
sendiri-sendiri. Kata-kata ini yang kemudian mencari jalan sunyi untuk 
ditempuh. Sebuah jalan spiritual untuk menemukan kawanan kata yang lain, hingga 
berkumpul membentuk suatu panorama kalimat, atau suatu bangunan gagasan yang 
muluk.

Memang harus muluk untuk membangun mimpi. Karena mimpi adalah pribadi yang 
menjauh dari dunia realitas. Dunia nyata yang kejam dan tirus. Siapa yang tak 
pernah bermimpi, mungkin ia tak pernah merasakan buruknya dunia ini.

Kata-kata itu – dalam kesunyiannya – menemukan bentuk kembali. Mereka berkumpul 
dan membentuk sebuah kalimat. Dengan sopannya mereka membungkuk dan saling 
bergandeng merangkai diri:

Selamat malam, generasi tua…
Selamat pagi, Mas Presiden!

Catatan kaki:
1. Istilah kedokteran: gerontologi. Artinya menunjukkan pada satu fase mulainya 
penuaan dalam kehidupan seorang manusia. Dalam konteks politik, istilah ini 
diadopsi yang maknanya kurang lebih keadaan politik yang dikuasai kaum tua.

Dimuat dalam buku kumpulan esai Andai Presiden Kita Sehebat Harry Potter, 
Yogyakarta: Kanisius, 2008 


--
Posted By  Roy Thaniago  to Saung Kata at  3/31/2009 12:38:00 AM


      
___________________________________________________________________________
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru.
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

Kirim email ke