Dari  : Salmon Sihite ([email protected] )
Topik : Caleg yang diskriminatif
Kepada : 
 
 Komunitas JITU mengimbau kepada semua pemilih pemilu 2009 untuk tidak memilih 
caleg yang mempunyai catatan mendukung kebijakan diskriminatif. 
Demikian hal tersebut dinyatakan oleh Ismail Hasani penggagas JITU dan peneliti 
komnas perempuan di sela-sela acara peluncuran kampanye JITU, Jakarta, Sabtu 
(28/03).
Komunitas pemilih JITU yang digagas oleh Komnas Perempuan prihatin pada 
pelembagaan diskriminasi yang terjadi melalui kebijakan-kebijakan negara yang 
diskriminatif, baik di tingkat nasional, provinsi, kabupaten dan desa. 

Bentuk-bentuk diskriminasi tersebut terlihat dari kebijakan-kebijakan yang 
dibuat seperti halnya peraturan syariat di masing-masing daerah.
"Ini kan memicu pertikaian SARA nantinya," ujar Ismail. Praktik seperti ini 
juga dapat mengaburkan batas antara negara dan agama. Menurutnya pemerintah tak 
perlu mencampuradukkan masalah negara dan agama, sembari mengutip lirik lagu 
Manusia Setengah Dewa karangan Iwan fals, "Urus saja moralmu, urus saja 
akhlakmu". (dikutip  dari Kompas.com )

 
 
 
 
 
 
 

--- Pada Jum, 27/3/09, Erwin Arianto <[email protected]> menulis:


Dari: Erwin Arianto <[email protected]>
Topik: :: Milist NB :: Kampanye & Pemilu Tidak Bermanfaat Bagi Rakyat kecil
Kepada: 
Tanggal: Jumat, 27 Maret, 2009, 10:44 AM






Kampanye adalah sebuah tindakan yang bertujuan mendapatkan pencapaian dukungan, 
usaha kampanye bisa dilakukan oleh peorangan atau sekelompok orang yang 
terorganisir untuk mengais simpati,  atau bisa juga di gunakan untuk menolak 
suatu hal.Sebenarnya apa sih manfaat kampanye bagi rakyat? Rakyat tidak 
mendapat hasil apa-apa dari kampanye, walau banyak yang ikut kampanye tidak 
akan mendapat apa-apa meskipun partai yang mereka bela habis-habisan bisa 
menang mutlak, kadang harus mempertaruhkan nyawa mereka untuk terlibat kontak 
fisik dengan simpatisan partai lain.

Kampanye Saat ini umumnya dilakukan dengan slogan, pembicaraan, barang cetakan, 
penyiaran barang rekaman berbentuk gambar atau suara, simbol-simbol, pada 
sistim politik otoriter kampanye sering bisa dilakukan kedalam bentuk tindakan 
intimidasi, propaganda atau dakwah.Bentuk kampanye di Indonesia ini tergolong 
sebagai bentuk kampanye secara konversional yang hanya lebih mengarah pada 
Indoktrinasi atau Pencitraan individu atau golongan. Model kampanye 
konvensional selain rawan gesekan juga terkadang menimbulkan swinging voter di 
masyarakat.

Tidak jauh beda dengan pemilu-pemilu sebelumnya, pemilu dan kampanye yang 
sekarang juga penuh dengan hura-hura. Di setiap kampanye, terutama di kota 
besar pasti di sediakan acara konser gratis, entah itu konser dangdut atau 
konser rock. Bahkan untuk para partisan pun disediakan souvenir gratis yang 
biasanya berupa kaos parpol, bahkan mungkin lebih dari sekedar kaos, dan tidak 
lupa titipan agar mencontreng parpol yang bersangkutan bila saatnya tiba. hal 
tersebut dapat dibaca sebagai belum berubahnya paradigma pada petinggi partai, 
dan hal ini sangat menghawatirkan karena selepas kampanye, siapa yang duduk di 
DPR atau DPRD pasti akan mencari cara agar "investasinya" dapat menghasilkan 
kembali uang yang telah di keluarkan, dan berarti korupsi tidak akan bisa 
berhenti malah akan bertambah parah.

Coba anda fikirkan apakah kampanye model hura-hura seperti ini akan berhasil? 
Atau hanya membuang uang secara percuma? Mungkin ada baiknya dana kampanye yang 
mencapai puluhan milyar rupiah tersebut di kumpulkan untuk keperluan yang lebih 
mulia, misalnya memperbaiki gedung sekolah yang sudah rusak, menambah buku-buku 
di perpustakaan sekolah, membuat lab komputer, Membantu kesehatan masyarakat 
desa, membangun sumber air untuk daerah yang kekeringan, dan masih banyak 
lagi.Dari pada sekedar menghadirkan artis dangdut untuk bergoyang erotis di 
depan masa dari segala usia yang hnaya menampilkan aurat yang terbuka, malah 
membuat dosa secara masal..Ingat Masyarakat sekarang tidaklah bodoh dan tidak 
mudah untuk di bodohi.

Kampanye para caleg, meski lewat poster, baliho, bendera partai, stiker, atau 
spanduk sebatas ”kecap”, membuat opini agar dirinya yang terbaik, terpeduli 
pada wong cilik, serta memikirkan rakyat. Mereka menggunakan kata-kata: Peduli 
wong cilik, berjuang untuk rakyat, bersih, teruji, profesional, dll. Mereka 
belum berani menampilkan program yang nyata dan mencantumkan alamat jelas atau 
no telepon/HP yang bisa dihubungi! Inikah sikap para calon legislatif kita? 
Inikah sikap para caleg yang nantinya akan mewakili rakyat?Dengan kata lain, 
belum jadi anggota Dewan saja tidak mau berbuat jujur. Apalagi setelah duduk di 
kursi Dewan! yang ada korupsi lagi-lagi korupsi.

Dan ujung-ujungnya rakyat juga yang diminta menanggung beban yang besar, Anda 
harus ingat ketika Harga BBM meningkat, Saat Biaya Tol dinaikan, Kunjungan 
pelesiran Anggota DPR keluar Negeri, dan Untuk tidak terjebak eforia ingatlah 
keburukan-keburukan para anggota Legislatif yang katanya wakil rakyat ketika 
rakyat kesusahan mereka hanya hilang tak membantu, Saat ini saat kampanye Kita 
rakyat Indonesia saatnya menjadi Sombong karena mereka butuh kita, Jangan jual 
murah suara anda, karena semua yang dilakukan para Caleg & partai saat kampanye 
hanyalah sebuah kosmetik yang semu, seperti DPR saat ini yang telah terlihat 
belangnya, begitu juga para caleg saat ini, jangan mau tertipu kembali.

Jadi bermanfaatkah kampanye bagi rakyat, yang ada cuma pembodohan kembali bagi 
rakyat kecil, pandai-pandailah kita memilih. Pilihlah yang memang layak 
dipilih. tidak perlu silau dengan besar dan lamanya kampanye di media. Tidak 
perlu terbujuk oleh klaim dan pengakuan-pengakuan sepihak yang mengatakan akan 
membawa perubahan. Ingatlah, ke Bobrokan Anggota dewan yang mengaku terhormat, 
eh tersengkut kasus korupsi, pelecehan seksual, atau aksi provokasi lainya, 
ujungnya anggota DPR tidak terhormat malah jadi terhujat.  Memilih atau tidak 
memilih adalah hak kita sebagai warga negera. kalau kita memutuskan untuk tidak 
memilih, ikuti kata Nurani anda, bila anda tidak memilih itu juga adalah sebuah 
Pilihan. jangan termakan bujuk rayu, karena Politik itu adalah busuk dan 
Munafik. Ingat apakah Kampanye dan Pemilu Bermanfaat Kepada Kita temukan 
jawabanya di Hati dan Logika Anda.

Semoga Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009 bisa terwujud di negeri kita 
tercinta indonesia ini dan semoga masyarakat lebih bisa memilih 
pemimpin-pemimpin yang berpihak kepada rakyat.

Depok 26 Maret 2009
Erwin Arianto
http://erwin- informasi. blogspot. com

-- 
Best Regard
Erwin Arianto,SE
エルイン アリアント (内部監査事務局)
------------ --------- --------- -------
SINCERITY, SPEED,  INOVATION & INDEPENDENCY
















      Berselancar lebih cepat dan lebih cerdas dengan Firefox 3
http://downloads.yahoo.com/id/firefox/

Kirim email ke