--- Pada Sel, 14/4/09, Wal Suparmo <[email protected]> menulis:
Dari: Wal Suparmo <[email protected]> Topik: Bls: [Spiritual-Indonesia] Karuhun / Leluhur Kepada: [email protected] Tanggal: Selasa, 14 April, 2009, 10:35 AM Salam, Nafas lega bahwa ada yang masih dapat menghargai warisan ajaran NENEK MOYANG sendiri. Dan masih ada orang Indonesia yang mempunyai kebanggaan sebagai bangsa Indonesia yang tidak kalah tingkatan kecerdasan dalam bidang kepercayaan atau agama yang berdasarkan BUDI PEKERTI LUHUR dan bukannya iming2 kESELAMATAN atau SORGA tetapi berdasarkan MANGHAYU HAYUNING BAWONO atau membuat penghidupan ini baik bagi dirinya sendiri MAUPUN orang lain karena ajaran menjadikan kehidupan ini menjadi INDAH, DAMAI dan SEJAHTERA. Lain sekali dengan apa yang dipraktekkan dan dibuktikan oleh ajaran2 pendatang atau import yang setelah ribuan tahun tidak menjadi manusia dan dunia menjadi baik malah sebaliknya.Dan khusus di Indonesia menjadikan Indonesia semakin terpuruk dan negara terkorup di Asia. Ajaran warisan lelukur kita telah terbukti selama ber-abad2 besifat toleran dengan kedatangan agama2 bangsa asing yang mau mengkolonisasi secara spiritual semua manusia ddi dunia termasuk Indonesia yang sekarang bahkan bangga untuk men-inggalkan ke Indonesiaannya dan menyembah serta ingin sekali bersikap dan menjadi bangsa asing dengan memeluk agamanya. Tentu saja ajaran budi pekerti nenek moyang bangsa Indonesia, dimusuhi oleh agama2 asing dan mereka dalam rangka membasmi kepercayaan asli bangsa Indonesia itu dengan mengatakan bahwa suatu kepercayaan baru bisa disebut agama , apabila mempunyai kitab yang disucikan dan nabi yang mempropagandakan agama itu. Dan itu yang tidak ada pada kepercayaan asli bangsa Indonesia karena sifatnya HUBUNGAN LANSUNG antara manusia dengan SANG PENCIPTANYA tidak melalui MAKELAR atau CALO yang diberi nama nabi.. Kepercayaan asli nenek moyang bangsa atau suku2 di Indonesia adalah KERUHUN,SUNDA WIWITAN atau KEJAWEN atau kepercayaan asli suku lain seperti suku Batak dsb. Tidak lupa pula oleh agama asing dan para ORIENTALIS BARAT, kepercayaan asli nenek moyang Indonesia di cap sebagai ANIMISME bahkan KLENIK dan PERDUKUNAN ( padahal juga memang ada di setiap kepercayaan dan agama lain). Di Indonesia sendiri yang sudah lepas dari penjajahan ekonomi/politik tetapi sekarang makin kuat dijajah secara spiritual oleh agama asing, kepercayaan terhadap ajaran nenek moyang dilarang mempergunakan istilah AGAMA tetap anehnya di SURINAME dipergunakan istilah AGAMA DJAWA diamping agama2 lain. Wasalam, Wal Suparmo --- Pada Sel, 14/4/09, kind_evil_06@ yahoo.com <kind_evil_06@ yahoo.com> menulis: Dari: kind_evil_06@ yahoo.com <kind_evil_06@ yahoo.com> Topik: [Spiritual-Indonesi a] Karuhun / Leluhur Kepada: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com Tanggal: Selasa, 14 April, 2009, 10:01 AM Dear rekan-rekan, Di tengah kesibukan dalam keseharian, tiba-tiba terlintas kata karuhun atau leluhur…tergambarkan dengan jelas konteks yang ditampilkan dan disajikan dalam kilasan hati…ijinkan berbagi kepada rekan-rekan sebagai bagian warna dalam mengisi relung kehidupan perjalanan hidup manusia…. Bahasa Sunda menyebut para pendahulu dengan kata “karuhun” dan dalam bahasa Indonesia diberi nama dengan “leluhur”. Sering sudah kata ini terdengar dan terucapkan, yang menarik untuk dikaji apakah konteks karuhun atau leluhur…. Secara sederhana, makna kata karuhun atau leluhur adalah pada pendahulu kehidupan manusia yang masih hadir di muka bumi ini…semua manusia yang sudah mengalami proses kepulangan, disebut dengan kata karuhun atau leluhur…tidak ada yang membantah bahwa setiap manusia yang hadir PASTI melalui mereka sebagai pendahulu….dan dengan perantara kejadian tersebut, maka manusia satu akan menyebut dengan nama “ayah” atau “ibu” untuk tunjukkan jenis kelamin bagi manusia yang hadir di muka bumi ini…. Konteks kata karuhun atau leluhur akan semakin jelas terkaji saat di sisi lain kata keturunan pun dilahirkan….Sehingga ada benang merah yang dikenal dengan “regenerasi”….secara sederhana bisa dipahami adalah “penerus” satu mata rantai hidup dalam kehidupan berkesinambungan….Semakin menarik lagi kajian saat kata-kata tersebut ditambah kajiannya dengan “apa sejatinya yang diregenerasikan’… Merujuk kepada fakta kehidupan manusia yang secara lahiriah dan batiniah memerlukan sarana dan prasarana dalam mengarungi kehidupannya, ternyata tidak ada manusia di muka bumi ini, yang tidak memerlukan apa yang disebut dengan pangan, sandang, papan, kesehatan, dan pendidikan…siapa pun manusia itu…berwarna kulit apa pun manusia itu….berbahasa apa pun manusia itu….beragama atau berkeyakinan apa pun manusia itu….Jika hal-hal di atas dibayangkan untuk dimasukkan dalam diagram venn, maka semua yang diperlukan manusia itu adalah potongan yang akan diarsir oleh semua manusia…… Lalu menjadi kajian, apa sesungguhnya hanya hal-hal demikian, maka kata ayah, ibu, keturunan, dan regenerasi dihadirkan di muka bumi ini? Jika “hanya” hal itu saja yang menjadi kebutuhan manusia dan sudah ada disediakan oleh alam ini, mengapa manusia satu dengan lainnya menjadi saling hisap….saling berebut untuk memenuhi itu semua…saling bersemangat untuk angkat-angkat dan jatuhkan….Dengan segala kepintaran, baik dalam tataran berpikir dan bertindak, manusia bisa menguasai sumber-sumber kebutuhan hidupnya…. Dengan memperhatikan bentuk kehidupan alam lainnya, seperti hewan dan alam semesta, ternyata manusia berupaya menata bentuk kehidupan antar sesamanya…dan ada bentuk atau pola yang senada atau pun berwarna….sehingga, manusia bisa menjalani kehidupan yang lebih mudah…lebih praktis…dan lebih-lebih lainnya….semua fakta kehidupan menunjukkan hal-hal ini….Maka, mulailah manusia “saling” mempengaruhi dalam warna-warna tatanan tadi….Ujud atau fakta demikianlah menjadikan manusia menyusun dan membentuk tatanan kehidupan….atau dalam bahasa disebut sebagai budaya…. Jika kata budaya digandeng dengan kata ayah, ibu, regenerasi, dan keturunan, maka lengkaplah manusia menjadi “penggerak” kehidupan itu sendiri….lho, ternyata hidup itu adalah demikian ya? J Beribu-ribu tahun manusia dengan segala konsepnya “menurunkan” kepada generasi manusia berikutnya, berupa tatanan kehidupan, baik dalam bentuk yang sudah ujud atau pun konsep….agar manusia itu sendiri bisa “survive” dalam menjalani kehidupan di muka bumi ini….Menjadi kodratnya manusia yang sudah dari sononya diberikan pikiran dan hati untuk membangun dan memelihara tatanan kehadiran satu budaya…..Dan sungguh satu kehormatan kodrat manusia, mampu mengejawantahkan itu semua dalam tataran yang demikian luas jangkauan dan pengaruhnya bagi kehidupan manusia satu dengan lainnya…bahkan antar benua sekali pun….Dalam tatanan kehidupan demikian, manusia tinggal di dalamnya….berbuat, berpikir, dan menjalani bentuk-bentuk kehidupan lainnya…bersama-sama dengan makhluk lainnya…. Merujuk perjalanan kehidupan manusia yang melandasi kepada ujud-ujud budaya, maka manusia memberi nama dari satu kurun waktu tertentu beralih kepada tatanan berikutnya…semua itu diberikan agar manusia menjadi bergairah…memberikan nuansa yang tidak melulu sajikan “lelakon” kemanusiaan dalam tataran kehidupan tertentu saja….dalam jiwa kegairahan, ada pula “nafas” yang mengisinya….ternyata nafas inilah yang mampu memilah, mana tatanan yang selaras dan mana tatanan yang sebaliknya…Dalam kesederhanaan ujud nafas inilah bisa terbaca dan terasa ujud tatanan kehidupan manusia dalam kebudayaannya….Dari sini pulalah awal manusia menjadi terpecah….manusia menjadi terbelah dalam hembusan nafas budaya….dalam ujudnya yang bermacam-macam…Seakan-akan manusia lupa bahwa dalam keberbedaan cara pandang dan aspek budaya, ujung dari setiap tatanan tersebut adalah dalam rangka memenuhi kebutuhan yang sama-sama diarsir dalam diagram venn-nya…. Merujuk gambaran singkat di atas, semakin jelas rangkaian kata karuhun atau leluhur, ayah, ibu, regenerasi, keturunan, dan budaya menjadi satu kebulatan TINDAKAN NYATA perbuatan manusia yang bernafaskan pilihan keyakinan diri menata hidup dalam kehidupannya….Kata keyakinan dimunculkan secara “tidak langsung” karena setiap manusia saat ini adalah penerus dari sekian banyak pilihan tatanan kebudayaan yang pernah hadir sebelumnya….dan dengan itu semua, manusia mulai menjalani dan mencapai kesujatian keyakinannya dari jalan kehidupan yang dilaluinya…. Dan muara dari itu semua adalah KESELAMATAN HIDUP….pemaknaan keselamatan hidup di sini adalah bentuk atau ujud kehidupan yang pernah memberikan kenyataan bahwa hidup dalam meyakini dan melakoni adalah memang membawa selamat setelah setiap diri melalui proses kehidupan itu sendiri saat ini dan ke depan….Maka, manusia pun akan selalu berupaya melalui bentuk pintu apa pun menemukan dan membuktikan bagi dirinya. Hidup sejatinya dalam kesendirian, di dalamnya ada kebersamaan…bersama dalam tatanan merujuk suri tauladan para pendahulu yang sungguh-sungguh ujudkan amanah yang berkepribadian budaya di mana manusia itu dilahirkan, tumbuh dan berkembang, dewasa, tua, dan akhirnya kembali…. Selamat datang para leluhur / karuhun bangsa…selamat datang di tanah nyawanya dunia…beri kami anak-anak keturunan yang mampu menjaga dan memelihara keselamatan dalam hidup dan berkehidupan bagi tanah pusaka ini, merujuk tatanan yang para karuhun / leluhur pernah ujudkan dalam budaya indah bangsa ini – musyawarah dalam kewelasasihan -saling asah, saling asih, dan saling asuh…. Bogor, 14 April 2009 salam hormat, semar dharma samiaji tulisan ini disajikan teriring lantunan doa bersama dengan saudara-saudara seperjuangan bagi umat manusia dan tanah air di pulau dewata, dalam rangka menyambut kehadiran para karuhun / leluhur di muka bumi ini, khususnya di tanah air tercinta – Indonesia …. Selalu bisa chat di profil jaringan, blog, atau situs web pribadi! Yahoo! memungkinkan Anda selalu bisa chat melalui Pingbox. Coba! Selalu bersama teman-teman di Yahoo! Messenger. Tambahkan mereka dari email atau jaringan sosial Anda sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/
