Spontan setelah menyaksikan debat terakhir ketiga pasang capres, seorang teman berkomentar, ”Gestur politik JK is the best !.” Ia menjelaskan bahwa JK memperagakan bahasa tubuh yang sederhana, ramah, dan bersahaja. Katanya lagi, inilah yang dibutuhkan bagi bangsa yang sedang berdemokrasi, yaitu bahasa tubuh yang tidak mereproduksi kebencian namun mendinamisasi atmosfer diskursus publik. Pada saat bersamaan, lanjutnya, tutur wacana JK padat, bisa ditafsir tanpa menggunakan instrumen analisis yang muluk-muluk, dan konkrit dengan merujuk pada dunia sehari-hari bangsa ini, namun tetap akademis. Ia pun mengajak berdiskusi pada pertama debat dibuka tanpa merusak cita rasa etika politik. Saya tercenung, apa benar gestur politik JK is the best dibandingkan SBY dan Megawati ?. Naluri saya sebagai orang yang mempelajari ilmu sosiologi bekerja untuk menafsirkan ini. Bahasa Tubuh. Jika merujuk pada pernyataan spontan tadi, gestur politik tampaknya dilihat pada bahasa tubuh dan tutur wacana. Yang pertama berkaitan dengan bagaimana subyek manusia memanfaatkan tubuhnya untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan subyek lain dalam arena-arena publik. Bagi Peter L. Berger (1966) melalui sosiologi pengetahuan, bahasa tubuh pun menampilkan realitas subyektif yang dibangun dari struktur kesadaran manusia yang telah melalui aliran sejarah dalam hidupnya. Artinya setiap bahasa tubuh yang tampil dalam interaksi sebenarnya menggambarkan struktur kesadaran subyektif manusia. Sebaliknya, melalui bahasa tubuh ini bisa ditafsir kesadaran subyektif yang paling original dari subyek manusia dan realitas apa yang sedang dikonstruksikan. Gestur politik Megawati, SBY, dan JK sungguh memperagakan kesadaran dan realitas subyektif yang berbeda. Walaupun ada pola kesamaan antara Megawati dan SBY yang bekerja keras menjaga citra sebagai sosok manusia yang bijak, berwibawa, dan karismatik. Pemimpin karismatik Max Weber adalah produk yang tidak diciptakan oleh rakyat terhadap pemimpin, namun hasil kerja internal sosok pemimpin dengan menciptakan hal-hal mengesankan seperti santun, murah senyum, berapi-api, atau tegas. Megawati dan SBY mengejar model pemimpin karismatik ini, sehingga kedua sosok pemimpin ini memainkan tata drama dalam bentuh bahasa tubuh yang harus mendukung bagi model pemimpin karismatik. Hal ini memberi makna bahwa baik struktur kesadaran Megawati dan SBY selalu bekerja keras menciptakan bahasa-bahasa tubuh yang mereproduksi karisma. Hal ini yang memberi pembedaan unik antara JK dengan kedua sosok pemimpin tersebut. JK cenderungan memperagakan bahasa tubuh yang tidak mengejar karisma, namun lebih ke atraksi pembebasan tubuh. Ia sering keluar dari podium untuk menatap kedua Megawati dan SBY, dan menggunakan kedua tangannya secara bebas. Menciptakan interaksi yang tidak bersembunyi di balik tabir mimbar. Tafsir subyektif saya, ini memang gaya tubuh demokratis. Mungkin tidak berkarisma, namun menciptakan suasana transparansi yang menjadi salah satu pondasi dalam demokrasi damai. Tutur Wacana. Jika bahasa tubuh merupakan representasi atas realitas melalui tanda-tanda tubuh, maka tutur wacana bekerja melalui pengetahuan subyektif. JK pada penyampaian visi misi mengkritisi bahwa SBY telah mereduksi demokrasi, menjadi demokrasi uang. Wacana pilpres cukup satu putaran saja untuk penghematan 4 trilyun rupiah merupakan manipulasi demokrasi, dengan alasan kerakyatan namun sebenarnya adalah hasrat kekuasaan. Tutur wacana JK membicarakan demokrasi yang perlu berjalan pada pondasi keadilan dan perdamaian. Karena penghematan bukan dilakukan pada substansi demokrasi, yaitu memanipulasi hak politik rakyat karena harus satu putaran saja, namun lebih pada teknis demokrasi seperti menekan KPU agar berhemat.. Kritik tersebut, yang merupakan bentuk pengetahuan subyektif JK, memberi makna mengenai bagaimana demokrasi seharusnya bukan sekedar hasrat kekuasaan berkedok kerakyatan. Sayangnya SBY menjawab, “….belum-belum sudah diganggu oleh Pak JK tadi !”. Tutur wacana ini memperagakan reaksi ketidaksukaan (reaksioner ?) bukan memperagakan respon konstruktif. Tutur wacana ini terbalik dari sosok SBY yang sering bekerja keras agar tampak anggun, berwibawa, dan tenang. Juga makna kata ”diganggu” selalu memberi justifikasi sedang diserang atau dilukai. Makna yang direproduksi SBY sejak 2004. Pada drama inilah sebenarnya, teman saya memperoleh kebenaran empirisnya, bahwa gestur JK memang is the best. Gestur politik yang apa adanya, jujur, dan tidak artifisial demi karisma yang merupakan politik irasional, dan belum tentu berkualitas bagi proses politik demokrasi. Bagaimana dengan tutur wacana Megawati di tengah SBY dan JK ?. Megawati tidak reaksioner pada tutur wacana lain. Pertama ada pusaran tutur wacana dominan antara SBY dan JK. Kedua, tutur wacana Megawati tidak berani memperlihatkan perbedaan konsep politiknya. Selalu saja dibawa pada wacana filosofis dan umum dalam tingkat sosok pemimpin nasional. Ini memperlihatkan ia tidak percaya diri dengan realitas kekuasaan apa yang sedang ia konstruksikan. Gestur politik ketiga sosok capres tersebut bisa saja ditafsirkan berbeda oleh siapapun, oleh saya dan teman saya. Anda yang membaca ini bisa memberi tafsir. Selama tafsir itu adalah produk dari cita rasa demokrasi, demi pembebasan bukan pembelengguan kesadaran. Nah, silakan bertafsir atas gestur politik ketiga capres !. Artikel ini dapat dibaca di : Gestur Politik JK…Is the Best? (dari Debat Terakhir). http://public.kompasiana.com/2009/07/02/gestur-politik-jk…is-the-best-dari-debat-terakhir/ ***
