Nama Rizal Mallarangeng (RM) belakang ini
sering disebut-sebut dan menjadi perhatian masyarakat. “Populer” nya RM ini 
terkait sikapnya yang dinilai banyak orang kurang santun karena sering berucap 
yang
membuat orang merasa terhina dan marah. 
 
RM melakukan tindakan dan perbuatan itu
dalam kapasitasnya sebagai Tim sukses
pasangan SBY-Boediono, dan perbuatannya yang kurang santun itu sering ditujukan
kepada lawan SBY-Boediono dalam Pilpres kali ini yaitu JK-Win dan Mega-Pro.
 
Sepak terjang RM di dunia politik bukan
kali ini saja, RM telah memasuki dunia politik sudah sejak lama. Sepulangnya
kuliah dari Amerika Serikat (AS) pertengahan 2001, RM makin masif terjun di
dunia politik dan ekonomi. Pada saat itu RM menjadi penulis pidato presiden.
 
Pada akhir tahun 2001, RM mempunyai ide
untuk mendirikan suatu lembaga pemikiran prestisius, dan pada akhirnya berkat
bantuan teman-temannya dan dukungan Abdurizal
Bakrie sebagai penggalang dana, maka terbentuklah sebuah lembaga yang
diberi nama “Freedom Institute”
(FINS), yang terletak di Jl. Irian No.8 Menteng Jakarta Pusat 10350. 
 
Lembaga ini memiliki misi utama yaitu
menyebarkan ide yang dalam hal ini dilakukan lewat beragam kegiatan seperti
diskusi publik, seminar, wawancara radio, lokakarya, penulisan artikel,
penulisan dan penerjemahan buku. Kegiatan-kegiatan lain, seperti
penyelenggaraan perpustakaan publik, pelatihan, serta pemberian penghargaan,
merupakan bentuk lain dalam penyebarluasan dan apresiasi terhadap kebebasan.
Sebagai lembaga nirlaba yang independen, FINS berkomitmen untuk terus memper-
juangkan terciptanya kebebasan, demokrasi, dan kesejahteraan di Indonesia. 
(Sumber)
 
Tekad RM untuk menggeluti dunia politik
memang tidak tanggung-tangung bahkan sempat
mencalonkan diri sebagai Capres dari Independen walaupun akhirnya mengundurkan 
diri berbarengan dengan peluncuran bukunya yang
berjudul “Dari langit” akhir tahun 2008
lalu. 
 
RM yang saat ini masih sebagai direktur
FINS, sering memberikan materi kepada publik dalam diskusi ataupun seminar.
Biasanya RM memberikan materi tentang ekonomi terutama ekonomi liberalis dan 
kapitalis,
menurut pengalaman saya yang kenal dengan FINS pertama kali pada akhir 2006
melalui teman saya, waktu itu kebetulan saya dan teman-teman kuliah mendampingi
Bpk. Juwono Sudarsosno (Menhan) yang juga memberikan materi dalam diskusi pada
waktu itu.
 
RM memiliki ciri khas dan keberanian yang
jarang dimiliki oleh orang di Indonesia khususnya. Ciri khas RM yaitu ketika
dia memberikan materi diskusi ataupun seminar kepada publik, baik itu yang
dilaksanakan di FINS maupun di luar, ia selalu menyerempet kepada kapitalisme 
dan liberalisme walaupun tema diskusi tidak menyinggung tentang hal
itu, sehingga saya sempat memberikan ciri khas tersendiri baginya yaitu “apapun 
masalah dan temanya, ujung-unjungnya
pasti kapitalisme atau liberalisme“.
 
Namun bagi saya ini merupakan
keberaniannya, yang secara langsung dan gamang mengatakan bahwa ia seorang 
liberalis/kapitalis sejati, hal ini jarang dilakukan oleh orang Indoenesia
yang berani mengaku kalau dirinya seorang liberalis/kapitalis, karena di
Indonesia, orang-orang beraliran seperti itu cenderung dibenci oleh masyarakat
dan selalu mendapatkan kritikan pedas.
 
Melihat dan mengamati sepak terjangnya
belakangan ini, selaku tim sukses SBY-Boediono, RM dinilai terlalu aktif dalam
menyerang pasangan lain sehingga mengundang kritikan dari banyak kalangan. 
 
“Tidak
santun” merupakan kritikan yang paling banyak dilontarkan. Perbuatan RM ini
juga berakibat berkuarngnya simpati masyarakat kepada SBY-Boediono karena
memiliki tim sukses yang “kurang santun”
itu.
 
Bahkan, Forum Rektor Indonesia Simpul
Sulawesi Selatan (FRIS-Sulsel) menilai pernyataan anggota tim kampanye nasional
capres SBY-Boediono, Andi Mallarangeng, sangat bertentangan dengan amanah UUD
1945 dan Bhinneka Tunggal Ika karena Indonesia masyarakat majemuk. 
 
Pernyataan kontroversial Andi Mallarangeng
itu diucapkan saat kampanye SBY-Boediono di GOR Andi Mattalatta, Rabu,
mengandung unsur SARA, yang menyatakan: “Belum
saatnya orang Sulsel memimpin bangsa Indonesia.” (Kompas.com, 2/7)
 
Memang sangat disayangkan perbuatan dan
tingkah laku RM sekarang ini, padahal dirinya dahulu sebelum menjabat sebagai
tim sukses, ia selalu memberikan ilmunya dan memberikan pencerahan tentang
politik dan ekonomi liberal/kapitalis pada khususnya kepada publik dan
mahasiswa bahkan keberadaan RM dan  FINS-nya sangat membantu bagi
mahasiswa-mahasiswa yang sedang mencari bahan untuk tugas kuliah sampai skripsi
karena di perpustakaan FINS terdapat banyak buku-buku
impor yang jarang ditemukan di perpustakaan kampus dan perpustakaan lain.
 
Saat ini kita hanya bisa berharap agar
masyarakat berpikir rasional dan cerdas serta tidak emosisonal menanggapi
perilaku elit politik kita yang justru menodai demokrasi Indonesia.
 
Artikel ini dapat dibaca di :
Rizal Mallarangeng dan Freedom Institute
http://nurulloh.kompasiana.com/2009/07/03/rizal-mallarangeng-dan-freedom-institute/
 
***
 
Mungkin ungkapan diatas sebuah ungkapan
yang biasa-biasa aja dalam diskusi orang pinggiran, dengan berbagai perdebatan 
ringan tidak akan menimbulkan
masalah. 
 
Tetapi diungkapkan seorang juru bicara presiden sekaligus tim sukses incumbent, 
SBY- berboedi,
menjadi hal sesuatu yang istimewa. 
 
Tokoh nasional yang mencederai rasa nasionalisme. Seakan negasi dari
penrnyataan tersebut “presiden masih
harus orang jawa”. 
 
Sebuah potret pembelajaran yang amat
jelek untuk berkehidupan berbangsa dan bernegara. 
 
Tuduhan black campaign kepada pasangan
yang lain, menjadi semakin dipertanyakan. 
 
Pernyataan kontroversial Andi Mallarangeng
itu diucapkan saat kampanye SBY-Boediono di GOR Andi Mattalatta, menjadi
gambaran lokomotif SBY penuh permainan
black campaign.
 
Pernyataan presiden jawa dan non jawa, muslim non muslim, jilbab atau non 
jilbab, seakan menandaskan bangsa ini masih terdikotomi pada
perasaan SARA, belum berakar pada nasionalisme. 
 
Perasaan satu sebagai bangsa. Perasaan
sebagai bangsa masih mudah tercabik dengan rasa primordialisme, yang justeru
digaungkan tokoh-tokoh pembesar Republik ini. Untuk melangkah menuju bangsa
profesinalisme pun masih terhalang badai SARA.
 
Pernyataan bahwa ada istri cawapres ada yang non muslim pun masih bisa menjadi 
polemik. 
 
Yang lebih mengherankan SBY dan yang
bersangkutan justeru membiarkan terus bergulir menjadi polemik. 
 
Masa kampanye adalah masa vakuum of power dalam pemerintahan RI,
bangsa indonesia kehilangan wasit dalam berbagai permasalahan. 
 
Kasus TKW yang disiksa dan meninggal
beberapa saat lalu di malaysia pun belum bisa diusut dan dituntaskan, maklum
kondisi darurat perang begini, lebih baik urus aja masing-masing dulu. 
 
Bahkan dengan polemik dibiarkan mengambang untuk menarik simpati masyarakat 
sebagai yang terus diserang dan didholimi.
 
Siapakah yang dimaksud kaum muntaber oleh
pak amien rais ?.
 
Artikel ini dapat dibaca di :
“Belum Saatnya Orang Sulsel Memimpin Bangsa Indonesia”.
http://public.kompasiana.com/2009/07/03/belum-saatnya-orang-sulsel-memimpin-bangsa-indonesia/
 
***
 
Pada Rabu 1 Juli kemarin di GOR
Mattoanging, Makassar, anggota timkamnas SBY-Boediono, Andi Alfian
Mallarangeng, menyampaikan pepatah berbahasa Bugis dan Makassar, “Maradeka to 
ugi’e, ademi ri popuang. Orang
Bugis merdeka, hanya adat yang dipertuan. Hanya hukum, prinsip, dan nilai yang
dipertuan. Bukan kekuasaan, bukan orang per orang. Itu dalam konteks mengapa
saya memilih SBY, yang saya anggap terbaik sebagai pemimpin bangsa.”
 
Selanjutnya Andi mengatakan, “Lalu bagaimana dengan orang Sulawesi Selatan
?. Ada waktunya masing-masing. Masa depan masih panjang dan banyak anak Sulsel
yang bisa memimpin bangsa ini suatu ketika.”
 
Pernyataan Andi yang dianggap berpendapat
belum saatnya orang Sulsel menjadi presiden ini menuai badai protes dan kecaman
karena dianggap rasialis. Andi dituntut meminta maaf, begitu pula dengan SBY
selaku penanggung jawab timkamnas.
 
Mungkin Alfian Mallarangeng akan berkata,
dialah saatnya nanti menjadi presiden orang dari tanah Bugis. Berikut ini saya
kutipkan pernyataan Forum Anak Bangsa yang dibacakan saat demo berlangsung;
 
Jauh-jauh ke negeri orang,..bukannya membanggakan
kampung halaman,..malah mengutuk kampung halaman,..seperti kisah Malin
Kundang,….
Pemimpin apa yang dia dambakan,..Bung
Mallarangeng,..siaapa pun pemimpin kita janganlah mengutuk kampoeng
sendiri,.ingat..kubur ayahandamu masih ada di Pare-Pare,……..
 
Waktu kecilmu kamu habiskan di Sulawesi,.kami tidak
menyukai ucapanmu,.mulutmu adalah harimau mu yang sewaktu-waktu memakanmu
sendiri,….
 
Jabatan apa yang kamu dijanjikan,…uang..harta,.tahta
atau wanita,.kamu boleh ambil semua,..isi kuburmu dengan itu semua,.agar
keturunanmu tidak semiskin kami,.tapi kami bangga dengan keadaan
sekarang,..kami tidak bangga kebudayaan asing…kami anak kolong,.yang menyesal
punya rakyat sepertimu…...
 
Pemilu tinggal menghitung hari,..saran kami,.hitung
juga harimu….kamu belum pernah rasakan dinginnya jadi anak gembel,..kamu belum
rasakan kelaparan,..ada pepatah…hujan emas dinegeri orang,.hujan batu dibegeri
sendiri,….


SIlahkan memilih…kami sepakat seluruh anak
bangsa untuk :
 
Memboikot dan tidak memilih no 2 karena ketika
pemimpinmu terpilih..kamu akan lindas semua,..apabila semua itu terjadi,.satu
kata,……………
Kini,.mulailah menghitung harimu,……..semua anak bangsa
yang telah merasa disepelekan,.mendoakan,..segeralah bertaubat karena ALLAH swt
maha pengampun dan maha Penyayang,…tapi bukan untuk orang-orang sombong
sepertimu,…..
 
Salam, Forum Anak Bangsa .
  
Artikel ini dapat dibaca di :
Demo Mengutuk Rasisme Mallarangeng di Makasar.
http://public.kompasiana.com/2009/07/03/demo-mengutuk-rasisme-mallarangeng-di-makasar/#more-27656
 
***


      

Kirim email ke