Kusno sudah kembali dari Surabaya. Perceraian antara dia dengan Utari telah terjadi. Dalam pada itu aku sama sekali tidak mengira, bahwa peristiwa itu akan disambung dengan kejadian lain yang akan membelit aku. Hari yang satu diganti denagn hari yang lain. Malam hari seringkali kami berduaan. Dengan tidak terasa saat-saat sepi telah terenggut oleh lautan asmara yang menjalar dan naik pasang, serta kami tiada sadar telah tenggelam karenanya. Sampai pada suatu saat Kusno merayu aku, dan aku pun peka. Aku pun terdiri dari darah dan daging. Manusia biasa yang luluh oleh kesepian dan musnah oleh pijar sinar cinta yang meluap. “Aku cinta padamu”, katanya. Aku tidak menjawab, menahan perasaanku. Lalu aku melepaskan diriku dari pelukannya. Aku sadar, dan kemudian aku berbuat apa saja, menjauhkan diri dari bahaya yang lebih besar. Aku saksikan ketidakpuasan pemuda yang bersemangat itu. Aku masih mampu menahan diri dari langkah yang lebih jauh. Namun, dengan itu sadarlah aku, bahwa benih telah tumbuh, tinggallah kami yang harus pandai memilih. * ...Bersambung ke tulisan berikutnya: Kisah cinta Inggit dengan Soekarno [05]... * Catatan kaki : Tulisan sebelumnya, Kisah Cinta Inggit dengan Soekarno[03]dapat dibaca dengan mengklikdisini. Tulisan ini juga dapat dibaca di Kompasiana dengan mengklik disini. *
