Ada suatu berita di Kompas.Comyang menggelitik rasa ingin
tahu saya, bagaimana kira-kira reaksi yang akan dilakukan oleh para pembaca
Kompasiana, andai peristiwa itu menimpa pada istrinya. 
 
Berita itu cukup serem isinya, suami
pasrah saja ketika istrinya diselingkuhi oleh lelaki lain. Berita soal
pasrahnya suami itu dapat anda baca langsung pada sumbernya di Kompas.Com 
dengan mengklik disini.
.
 
Ini berita memang serem (dalam arti kata, apakah mau jika itu menimpa anda) dan 
cukup unik (dalam arti kata, suaminya sudah nrimo tapi justru orang lain yang 
tidak nrimo).
Ceritanya, isteri seorang warga desa, diselingkuhi oleh seorang petinggi di
desanya. Suaminya sudah nrimo dan pasrah serta sudah menandatangi surat
bersegel yang menyatakan tidak akan melakukan penuntutan apa-apa atas kejadian
yang menimpa istrinya itu. Tapi rupanya, familinya dan juga orang-orang lain
yang se desa dengannya, belum bisa nrimo dan pasrah seperti suaminya itu.
 
Hal lainnya, ini juga dipicu oleh
pertanyaannya Boy Rachmaddi kolom
komentar yang menanggapi isi tulisan yang berjudul ‘Kisah cinta Inggit dengan 
Soekarno[07]’. Tulisan itu dapat anda baca di Kompasianadengan mengklik disini. 
 
Lha, ini aneh nggak ya ?. Istrinya
(sebagai pelakunya) berlaku nrimo dan pasrah sewaktu ditiduri, demikian juga
suaminya. Solider, ikutan nrimo dan pasrah saja.
 
Mungkin juga lho, sang suami ini sadar
bahwa istrinya nrimo dan pasrah ditiduri lelaki lain itu, juga karena tidak 
terpuaskan
dengan kegagahan dirinya. Singkatnya, sang suami itu mencoba bijaksana dan 
memaklumi
mengapa istrinya sampai nrimo dan pasrah saja ketika diajak tidur oleh lelaki
lain itu.   
 
Nah, bagaimana andai sang suami
itu adalah anda, apakah anda juga akan nrimo dan pasrah juga ?. Atau berang dan
marah ?. Mau berlaku bijaksana atau tidak bijaksana ?.
 
Ah, mungkin anda egp aja, mungkin
anda menyepelekannya, kok berandai-andai yang tidak-tidak. Boleh anda
berpendapat seperti itu, karena anda haqqul yakin bahwa hal seperti itu tak
akan mungkin terjadi pada diri anda. 
 
Semoga saja kehidupan rumahtangga
anda akan begitu selamanya. Atau jangan-jangan itu sebenarnya hanya karena
belum ketahuan saja ?.
 
Ah, sok mengada-ada,
melebih-lebihkan saja. Boleh anda berpendapat seperti itu, semoga benar
keyakinan anda itu.
 
Akan tetapi, apa salahnya jika
waspada?. Mengingat, seorang psikolog UI pernah menemukan suatu fakta bahwa 15%
wanita sudah menikah yang bekerja di kota besar seperti Jakarta, pernah
melakukan perselingkuhan (tidur dengan lelaki lain yang bukan suaminya) karena
alasan seputar haus perhatian dan petulangan seks serta cinta.
 
Bahkan ada yang melakukan penelitian
kecil-kecilan di beberapa lingkungan kerja, dan menemukan fakta bahwa 1 wanita
dari 3 wanita pekerja (sudah menikah)
pernah melakukan selingkuh dengan lelaki lain diluar suaminya.
 
Namun, seorang profesor di St
Thomas Hospital London menemukan juga fakta bahwa kasus perselingkuhan itu
terkadang tak memerlukan penyebab Psikologis,
namun berkaitan erat dengan faktor Genetis. 
 
Nah lho, gimana ini ?. Kata
profesor itu, setelah menemukan fakta dan dilakukan uji dengan sebuah studi
ilmiah, mengatakan bahwa Gen yang bertanggungjawab terhadap kecenderungan
berselingkuh pada wanita, kemungkinan besar merupakan proses evolusi Gabungan
Gen yang berasal dari berbagai sumber. 
 
Profesor itu juga menemukan fakta
ilmiah lainnya yang memperkuat temuannya itu, saat meneliti komponen genetik
sejumlah orang kembar diketemukan fakta bahwa jika satu dari orang kembar
tersebut punya sejarah berselingkuh, maka 55% kemungkinannya saudara kembarnya
itu juga suka berselingkuh.
 
Penelitian lainnya juga
menunjukkan bahwa wanita yang berselingkuh itu didominasi oleh wanita yang
bekerja diluar rumah dari pada wanita ibu rumah tangga. Bukannya ibu rumah
tangga (bekerja dilingkungan rumahnya)
tak ada yang berselingkuh, ada bahkan lumyan banyak, tapi perbandingannya jauh
lebih banyak perselingkuhan dilakukan oleh wanita yang bekerja diluar rumah.
 
Ini bukan disebabkan semata oleh
faktor adanya kesempatan dan kelonggaran waktu yang lebih memungkinkan saja. 
Juga
bukan soal intensitas pertemuan dengan lelaki lain diluar suaminya saja.
 
Namun, ada soal faktor lingkungan
kerja yang berpotensi menyebabkan ketegangan psikis (mungkin bahkan stress) 
yang memicu potensi untuk melakukan peredaan
ketegangan (atau mungkin bisa disebut
sebagai relaksasi psikis) dengan tidur bersama laki-laki lain yang bukan
suaminya. 
 
Kembali ke bahasan semula,
Bagaimana reaksi anda jika itu terjadi pada isteri anda ?
 
Tak ada salahnya merenung, karena
tak ada salahnya sedia payung walau awan hitam belum kelihatan. Bukan paranoid
sih, Cuma setiap tahun selalu ada musim hujan khan ?, maka mengapa tak sedia
payung dulu ?.
 
Wallahualambishshawab.
 
Catatan
Kaki :
        * Bahasan
kali ini memang dilimitasi pada kasus Isteri yang berselingkuh dikaitkan dengan
soal reaksi sang suami. Mengingat agar lebih fokus tema bahasannya, serta link
referensi tulisannya berkait dengan hal itu. Lain waktu, jika masih ada umur,
akan dibahas pada kasus suami yang berselingkuh dikaitkan dengan soal reaksi
sang isteri. Atau ada rekan lain yang akan membahasnya secara lebih mendalam ?.
Dipersilahkan.
        * Artikel
ini dapat dibaca di Kompasiana dan Politikana.
***


      

Kirim email ke