Pada suatu hari Kusno pulang ke rumah dengan gairah sekali. Setengah melompat ia naik ke rumah. Ia seperti menemukan sesuatu. “Marhaenisme adalah sosialisme Indonesia dalam praktek”, katanya dengan tegas. Ia bercerita, telah mengayuh sepeda ke Cigerelereng di sebelah selatan sampai ke desa Cibintu, dan bertemu dengan seorang petani yang bernama Marhaen. Ia jelaskan, seorang Marhaen adalah orang yang mempunyai alat, orang kecil dengan milik kecil, dengan alat-alat kecil, sekedar cukup untuk dirinya sendiri. Penghasilannya pun kecil, hanya cukup untuk mengganjal perut sekeluarganya. Tak ada lebihnya sedikit pun. Tapi dalam pada itu, ia tidak bekerja untuk orang lain, dan tidak ada orang lain yang bekerja baginya. Tidak ada penghisapan tenaga seseorang oleh orang lain. Itulah penemuannya, Marhaenisme!. Kemudian suamiku bicara panjang lebar dengan teman-temannya mengenai Marhaenisme itu. Aku lalu lalang saja di tengah rumah, melayani tamu-tamu. Seperti biasa, dalam hati aku merasa justru aku yang selalu mendekatkan suamiku kepada orang-orang semacam Marhaen itu. Tapi aku tidak bisa menjelaskan, cuma bisa mengatakan, cintailah orang-orang macam itu. * Pada suatu hari kami mendapat kegembiraan khusus. Murtasi, kakakku yang perempuan, melahirkan seorang bayi perempuan yang diberi nama Arawati. Bersama Kusno aku pergi menengoknya. Dan sejak itu, entah mengapa, timbul hasrat besar untuk merawat bayi kemenakanku itu. Entahlah, aku seperti mendapat bisikan, tidak tahu dari mana, agar aku mengambil anak itu. Pada mulanya kakakku, Murtasi, tidak menghiraukannya. Akhirnya sewaktu anak itu berumur lewat empat puluh hari, hasratku dikabulkan. Pada hari pertama anak itu berada di rumah kami, ia sering sakit dan rewel. Maka kusno mengganti nama anak itu dengan sebutan Ratna Djuami. Tetapi ada-ada saja dengan suamiku itu, ia kadang-kadang memanggil anak kecil itu, Kroto, yang berarti anak-anak semut. Entah, mengapa ia menyebutnya demikian. Sejak itu aku mempunyai seorang anak yang pertama mendampingiku, yang menjadi asuhanku. Tetapi juga menjadi asuhan suamiku, dibawa-bawanya hampir setiap hari, setiap ia pergi kemana pun. Rupanya Kusno ingin melekatkan segala yang ada pada dirinya pada diri anak perempuan itu. Pendeknya anak perempuan ini menjadi segalanya. Anak ini menjadi mutiara kami, menjadi sumber tenaga kami. * ...Bersambung ke tulisan berikutnya: Kisah cinta Inggit dengan Soekarno [11]... * Catatan kaki : Tulisan sebelumnya, Kisah Cinta Inggit dengan Soekarno[09]dapat dibaca dengan mengklikdisini. Tulisan ini juga dapat dibaca diKompasianadengan mengklik disini. *
