Pemerintah Indonesia
itu kadang-kadang memang keterlaluan. Hanya memikirkan bagaimana berdagang di
pasar ekspor internasional dengan tujuan market Amerika dan Eropa saja (untuk
memperkuat soal devisa cadangan mata uang USD) sedangkan disatu sisi lainnya 
sibuk
memikirkan daya upaya agar bagaimana membuka pasar domestik dalam negerinya
untuk barang komoditi impor (agar disebut sebagai ramah dengan trend
globalisasi yg katanya tak mungkin dilawan itu) akan tetapi disisi yang lainnya
lagi malah jarang memikirkan bahwa penduduknya yang banyak ini adalah pasar
yang potensial malahan atraktif pangsa pasarnya.
 
Durian, tumbuhan
pepohonan buah yang asli Indonesia dan disukai banyak kalangan di masyarakat
Indonesia (tapi belum terdengar kabar bahwa orang Amerika Serikat dan Eropa
juga menyukainya) serta sudah sejak zaman dahulu banyak tumbuh diseluruh
pelosok Jawa dan Sumatera.
 
Mungkin karena durian
ini tak disukai oleh orang Amerika Serikat dan Eropa (tak boleh masuk kabin
pesawat terbang dan tak boleh dibawa masuk ke dalam bangunan hotel-hotel
berbintang kelas internasional) maka dianggap tak potensial untuk dikembangkan
pasarnya.
 
Akan tetapi, Thailand,
justru melihat bahwa pasar Indonesia sudah dianggap cukup untuk melandasi
kebijakan pemerintahan negaranya dalam menyisihkan budget untuk mengembangkan 
bebuahan
yang rasa maupun baunya sangat unik dan khas ini. 
 
Ternyata mereka
sukses. Jadilah kita gigit jari, dan gigit buah durian langsung diimpor dari 
Thailand.   
 
Alamak, jika si
pitung masiha ada pasti menjadi linglung. Seperti linglungnya kita melihat
lebih berpihaknya pemerintahan negara dalam mendorong Gandum (dan makanan
turunannya) sebagai Makanan Pokok Kedua Kita daripada mendorong Singkong dan 
aneka
ragam macam makanan turunannya.
 
Wallahualambishshawab. 
 
*****
 
Saya sebenarnya orang
yang sulit menahan amarah, inginnya berteriak, setelah itu selesai. Tapi,
kemarahan itu dapat ditahan kepada temanku dari Thailand namanya tak perlu
disebutlah, nanti dia marah juga.
 
Gara-garanya ketika
ia kuajak makan buah durian khas Asia Tenggara, saat aku ingin mengajak tidak
dapat durian lokal, warna hijau atau kuning kecil, tapi isinya lumayanlah jika
pinter memilih.
 
Nah, karena sudah di
lokasi tempat jual durian di Kalibata, Jakarta Selatan, hitung-hitung biar
temanku dari Thailand ini terkesan bahwa di Jakarta banyak buah durian.
Mendekati penjual
buah durian, semua jenis durian Moktong (mungkin salah menulisnya tapi kayaknya
bacaan seperti itu). Saya pikir sudahlah karena sampai di tempat, ya, pesan,
minta di buka, makan di tempat, lebih enakkan.
 
Tapi temanku panggil
aja Thai, malah tertawa ketika kutawarkan buah durian Moktong. Tentunya 
menjadi pertanyaan besar kenapa sahabatku ini mentertawakan durian yang
kutawarkan.
 
“Kamu ini bagaimana, sih, saya ditawarkan buah durian, yang tahu sendiri buah 
ini dari negara saya
Thailand,” katanya.
 
Aku menjadi merasa
tersinggung, tapi kupikir benar juga,  durian ini dari negaranya. Aku jadi
malu juga.
 
“Tapi, tidak apakan merasa
juga durian dari negara anda tapi adanyanya di sini,”  ucapku.
 
Thai malah tertawa
kecil lagi, ia berucap ;”Kamu ini tidak
sadar, ya, punya kekayaan alam luar biasa, seperti
durian, tapi malah makan durian jenis
Moktong..”
 
“Habis durian mana lagi yang bisa kita nikmati selain Moktong,”
ucapku.
 
“Mestinya kamu itu sadar sesadarnya bahwa buah dari negaramu dicuri oleh
negara lain, setelah di modifikasi diakui negara kami…”
 
Kalimat inilah yang
membuat aku ingin marah, karena tensi sudah tinggi gara-gara buah durian sudah
kumakan.
 
Aku tidak menyalahkan
temanku Thai yang mengingatkan bahwa jenis buah-buahan di Indonesia segera
diproteksi agar tidak diakui oleh negara lain bibit diambil di Indonesia,
setelah berbuah diakui hasil pertanian negara lain….
 
Justru aku
berterimakasih bahwa mulai sekarang kuingin berbagi pengalaman kepada petani
kebun buah-buahan, untuk memproteks jenis khas Indonesia.  Nah, marahpun
bisa reda kembali.
 
Artikel ini dapat
dibaca di :
Ingin Marah Gara-gara Durian Moktong
http://public.kompasiana.com/2009/07/31/ingin-marah-gara-gara-durian-moktong/
 
***


      

Kirim email ke