Ini
kejadian yang teramat langka, karena kelangkaannya lebih pantas jika sekalian
saja diberikan tambahan penghargaan dari MURI.
Maka
pantaslah jika ketua KPU, Abdul Hafiz Anshary,
menjadi terharu karenanya. "Ini sejarah bagi KPU. Ini langka sekali. Ini
pertama kali KPU diberi ucapan terima kasih. Yang banyak itu KPU menerima
vonis. KPU dinilai curang, berpihak, dan segala macam,"
tutur Hafiz terharu.
PWI
(Persatuan Wartawan Indonesia) Reformasi Pokja Jakarta, menyampaikan ucapan
terima kasih dan penghargaan kepada KPU dalam menjaga demokrasi saat
pelaksanaan Pemilu 2009. "Kami
mengucapkan terima kasih atas tekad KPU dalam menjaga dan melaksanakan estafet
demokrasi Pemilu 2009", kata Asep Iskandar, ketua PWI pokja Jakarta.
Begitu cuplikan dari Kompas.Comdalam dalam salah satu berita yang diberi tajuk
‘Diberi Penghargaan, Ketua KPU Terharu’. Sumber beritanya dapat dibaca dengan
mengklik disini.
Terlepas dari perdebatan soal layak tidaknya
penghargaan yang telah membuat terharunya ketua KPU itu. Sesungguhnya, tak
salah jika soal terharu janganlah diperdebatkan, sebab terharu itu tak
berkaitan dengan soal layak atau tidak layak.
Terharu memang sesuatu yang tak bisa diperdebatkan,
karena ia adalah sesuatu yang hanya melibatkan rasa saja, yang nir logika, yang
berada diluar ranah pertimbangan rasional.
Apalagi jika kita bicara soal terharu dan teraniya itu
di tengah komunitas masyarakat bangsa-bangsa timur yang rata-rata menyukai
sinetron. Masyarakat yang berperangai santun, lembut perasaan hatinya, mudah
jatuh empati dan simpatinya. Walau terkadang tanpa mau tahu bagaimana duduk
persoalannya, jika sudah terharu langsung saja menjatuhkan keberpihakannya
kepada mereka yang dipersepsikan sebagai teraniaya.
Bahkan bukan tak mungkin seorang yang selicik drakula,
bisa juga bisa diopinikan sebagai korban yang teraniaya. Tabir maya yang
diciptakan seolah sebagai yang nyata, akan bisa menutupi yang nyata menjadi
seolah tak ada. Bahkan yang nyata akan dipersepsikan terbalik sebagai yang
maya.
Mengapa tidak ?. Persepsi penonton sinetronnya bisa
disetting, tergantung bagaimana kepiwaian sang penulis skenario ceritanya
membolak-balikkan fakta nyata. Jika drakula ditampilkan dengan tak menampakkan
gigi taringnya, tak memakai jubah kebesarannya, bertutur terjaga, berlaku
santun, namun memelas bagai korban teraniaya, maka siapa yang akan sangka bahwa
dialah sesungguhnya sang drakula ?.
Terlepas soal siapa drakula yang sesungguhnya, bisa
jadi di masa depan nantinya, para sutradara Hollywood dan Bollywood harus
belajar dari para sutradara sinetron Indonesia, agar selalu berhasil
mempresepsikan diri sebagai yang teraniaya.
Nah, soal seputar menjadikan mereka sebagai yang
selalu teraniaya, ada artikel soal Amerika Serikat yang harus menimba ilmu ke
Indonesia, jika ingin membacanya silahkan klik disini.
Faktor kepiawaian sang Sutradara memang faktor
terpenting, karena dialah yang mengimplementasikan naskah skenario ceritanya
agar terekam gambar kamera dengan menampilkan adegan yang bernuansa sesuai
kemauan setting ceritanya. Namun peran sang penulis skenario ceritanya juga
bukan hal yang dapat diremehkan begitu saja.
Alur cerita, bahkan juga dalam memanipulasi data agar
antara yang maya dan yang nyata menjadi kabur kebenarannya, merupakan hal yang
paling mendasar agar cerita menjadi utuh dan penonton pun menjadi terkuras
airmatanya.
Maka, jika ingin memperdalam soal pengkaburan fakta
yang nyata dengan rekayasa yang maya, sehingga membingungkan pemirsanya,
bolehlah membaca sebuah artikel yang dengan bernas mengungkapkan indikasi
adanya upaya memanipulasi canggih dan sistematis untuk menggiring opini publik.
Jika ingin membacanya silahkan klik disinidan disiniserta disini.
Nah, jadi ?, lebih canggih mana antara Indonesia
dengan Amerika Serikat ?.
Jika begitu, di masa depan masihkah Indonesia yang
harus bersusah payah merantau belajar ke Amerika Serikat diseberang lautan yang
nun jauh disana, ataukah malah sebaliknya ?.
Wallahualambishshawab.
Catatan Kaki :
* Artikel ini dapat dibaca
di Politikanadengan mengkilk disini.
* Artikel ini dapat dibaca
di Kompasianadengan mengkilk disini.
***