Pak Wal, mayoritas rakyat Indonesia memang mendukung, tapi apakah mayoritas 
penguasa juga mendukung?

--- Pada Ming, 22/11/09, Wal Suparmo <[email protected]> menulis:

Dari: Wal Suparmo <[email protected]>
Judul: Bls: -:: Milist NB::- Meramalkan hari Senin
Kepada: [email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], [email protected]
Tanggal: Minggu, 22 November, 2009, 8:21 PM







 



  


    
      
      
      Salam,
Saya kira kita tidak perlu mengajari seorang presiden dan jenderal, menghapi 
apa yang akan terjadi nantinya.Sebagai orang yang merasa didukung oleh 
MAYORITAS rakyat Indonesia, beliau dengan tegas mengetahui apa tindakan dan 
risiko yang akan diambil.
Wsalam,
Wal Suparmo


--- Pada Ming, 22/11/09, rifky pradana <rifkyp...@yahoo. com> menulis:


Dari: rifky pradana <rifkyp...@yahoo. com>
Judul: -:: Milist NB::- Meramalkan hari Senin
Kepada: Forum-Pembaca- kom...@yahoogrou ps.com, ekonomi-nasional@ yahoogroups. 
com, ppiin...@yahoogroup s.com, mediac...@yahoogrou ps.com, Nongkrong_Bareng2@ 
yahoogroups. com, zama...@yahoogroups .com, eramus...@yahoogrou ps.com, 
sab...@yahoogroups. com, syiar-islam@ yahoogroups. com
Tanggal: Minggu, 22 November, 2009, 4:22 PM


  




Ketidak jelasan sikap Presiden terhadap kasus dugaan upaya rekayasa 
mengkriminalkan pimpinan KPK, telah membuat semakin banyaknya tumpukan 
pertanyaan yang menggelayut di ranah publik.
 
Termasuk memunculkan beraneka dugaan, yang tak terelakan, telah menimbulkan 
beragam analisa dan dugaan. Termasuk pula analisa dan dugaan yang bernuansa 
spekulatif sehingga mengesankan sebagai prasangka yang bersyak wasangka. Walau 
kadangkala harus diakui bahwa beberapa diantaranya, terasa sebagai hal yang 
masuk akal.
 
 
Salah satunya diantaranya dilontarkan oleh Izzul Muslimin, Ketua Umum Pemuda 
Muhammadiyah. “Sikap SBY yang tidak jelas menimbulkan spekulasi adanya 
keterkaitan kepentingan SBY dalam kasus ini”, katanya.
 
Pernyataan yang dilontarkannya itu, sesungguhnya tidaklah aneh. Saat ini, 
sesungguhnya banyak pihak lain yang juga mempunyai dugaan yang serupa. Ada yang 
melontarkan pernyataannya itu ke ranah publik, ada pula yang hanya berupa 
berbisik-bisik di kalangan tertentu. Termasuk tak ketinggalan, 
gunjingan-gunjingan dalam obrolan di warung kopi.
 
Sesuatu yang wajar, mengingat berlarut-larutnya kesan sikap Presiden yang 
seakan mengambangkan persoalan, jika tak boleh menyebutnya sebagai seolah-olah 
kesengajaan untuk membikin situasi yang tak kunjung selesai secara tuntas.
 
 
Situasi yang demikian itulah yang barangkali mendasari empat dugaan yang 
dilontarkan oleh Eep Saefulloh Fatah dalam artikelnya yang berjudul ‘Disfungsi 
Presiden’. Empat dugaan itu secara garis besarnya adalah sebagai berikut :
 
Pertama, situasi itu merupakan sebuah indikasi ‘buramnya kaca istana’. Hal yang 
dikarenakan ketidakmampuan dan tiadanya kredibilitas di lingkaran politik dan 
birokrasi di sekitar Presiden yang menyampaikan informasi dan data yang tidak 
akurat. Dimana buramnya kaca istana itu membuat Presiden keliru menilai situasi 
sehingga akhirnya mengambil langkah atau kebijakan yang tak layak.
 
Kedua, situasi itu menggambarkan ‘karakter atau tabiat‘ diri pribadinya 
Presiden yang memang tak mampu bersigap-sigap, atau cenderung lamban dalam 
menjejeri dinamika publik yang serba cepat. Sebuah cerminan kualitas 
kepemimpinan yang bermasalah, dimana Presiden sebagai pemilik kekuasaan besar 
menjadi seolah tak tahu menggunakan kekuasaan itu dengan sepatutnya untuk 
mengatasi percekcokan antara kepolisian-kejaksaa n dan KPK.
 
Ketiga, situasi itu yang oleh banyak orang diduga bahwa kasus cicak versus 
buaya sebetulnya merupakan sebuah ‘puncak gunung es‘. Di baliknya diduga ada 
tumpukan persoalan atau skandal lain yang sejauh ini masih tersamar atau 
tersembunyi. Presiden memiliki kepentingan- kepentingan tersembunyi dalam 
kaitan dengan kasus ini. Dalam teori ini, Presiden pun menjadi kikuk berhadapan 
dengan tuntutan dan aspirasi khalayak, lantaran berkepentingan menyelamatkan 
diri dan/atau orang-orang di sekitarnya.
 
Keempat, situasi itu oleh sebagian kalangan diduga, jangan-jangan Presiden 
secara terselubung justru ‘berkepentingan‘ membikin percekcokan itu tak selesai 
secara tuntas, yang menegaskan betapa Presiden sesungguhnya tak menyokong 
penegakan hukum secara genuine.
 
 
Selain yang telah tersebut diatas, sesungguhnya masih teramat banyak 
analisa-analisa beserta dugaan-dugaan lainnya yang terkait dengan masalah 
tersebut diatas.
 
Sebagaimana telah dimahfumi bersama, Tim Delapan menyerahkan laporan akhirnya 
kepada Presiden, yang didalamnya mencakup hasil verifikasi data dan kesimpulan 
serta rekomendasinya. Berkait dengan itu, Presiden setelah menerima laporan itu 
kemudian telah memerintahkan kepada Kapolri dan Jaksa Agung untuk membuat 
tanggapan terhadap laporannya Tim Delapan tersebut.
 
Menurut kabar, tanggapan dari Kapolri dan Jaksa Agung, dalam tanggapan secara 
tertulis, telah diserahkan kepada Presiden.
 
Hanya ada perbedaan antara laporannya Tim Delapan dengan tanggapannya Kapolri 
dan Jaksa Agung. Perbedaan itu, jika laporannya Tim Delapan isinya diketahui 
oleh khalayak umum, sedangkan laporannya Kapolri dan Jaksa Agung tidak dibuka 
kepada khalayak umum.
 
Menurut kabar, besok pada hari Senin, Presiden akan mengumumkan keputusannya, 
yang konon katanya keputusan kebijakan dan tindakan yang akan diambil oleh 
Presiden itu berdasarkan laporannya Tim Delapan dengan tanggapannya dari 
Kapolri dan Jaksa Agung.
 
 
Selanjutnya, merupakan hal yang wajar jika itu kemudian menimbulkan bermacam 
spekulasi dan beraneka perkiraan terkaan perihal pada hari Senin nanti apa 
kebijakan yang akan diputuskan oleh Presiden.
 
Salah satu diantaranya, ada yang menyebutkan bahwa sangat besar kemungkinannya 
Presiden melakukan penggantian posisi terhadap Kapolri dan/atau Jaksa Agung.
 
Maksudnya, Kapolri yang saat ini dijabat oleh Jenderal (Pol) Bambang Hendarso 
Danuri, dan Jaksa Agung yang saat ini dijabat oleh Hendarman Supandji, 
kedua-duanya atau salah satunya akan diserah terimakan jabatannya kepada 
penggantinya.
 
Namun, seperti dugaan banyak kalangan menilik sikap dan pernyataan Presiden 
selama ini terkait soal KPK, maka diduga Presiden tetap akan membiarkan proses 
terhadap tuduhan pemerasan dan penyuapan serta penyalahgunaan wewenang yang 
dialamatkan kepada Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah, yang saat ini 
sedang diproses di Kepolisian dan Kejaksaan Agung, untuk tetap dilanjutkan 
sampai berhasil dilimpahkan ke Pengadilan.
 
 
Berkait dengan terkaan dan dugaan terhadap keputusan Presiden yang akan 
disampaikan pada hari Senin besok, adakah diantara para pembaca yang mempunyai 
terkaan dan dugaan yang lainnya ?.
 
Atau, jangan-jangan diantara para pembaca ada yang mulai pasang taruhan berkait 
dengan itu ?.
 
Namun, para kompasioner perlulah ingat, bahwa sampai dengan saat ini menurut 
undang-undang yang berlaku di negara ini, segala macam betuk perjudian 
merupakan kegiatan yang terlarang.
 
 
Wallahualambishshaw ab.
 
*
Meramalkan hari Senin
http://politik. kompasiana. com/2009/ 11/22/meramalkan -hari-senin/
http://politikana. com/baca/ 2009/11/22/ meramalkan- hari-senin. html
***
 
 
 



        Wajib militer di Indonesia?  
 Temukan jawabannya di Yahoo! Answers!

    
     

    
    


 



  






      Lebih Bersih, Lebih Baik, Lebih Cepat - Rasakan Yahoo! Mail baru yang 
Lebih Cepat hari ini! http://id.mail.yahoo.com

Kirim email ke