Salam, 
Gerakan yang sekarang sedang meluas di Indonesia dipimpin  oleh golongan yang 
kalah dalam pemilihan presiden yang lalu yang tidak rela dengan kekalahannya 
dengan berbagai macam alasan.Karena Indonesia sama sekali tidak mengenal apa 
yang dinamakan oposisi dan bagaimana cara bekerjanya, maka ditempuh jalan ini 
dengan nama gerakan rakyat.
Meningat bahwa presiden telah dipilih oleh rakyat dengan mayoritas yang sangat 
besar, belum dapat diharapkan bahwa perubahan akan terjadi, apalagi dalam waktu 
yang singkat.
Wasalam,
Wal Suparmo

--- Pada Rab, 2/12/09, Umar Said <[email protected]> menulis:


Dari: Umar Said <[email protected]>
Judul: -:: Milist NB::- Skandal Bank Century dan gerakan rakyat yang meluas
Kepada: [email protected]
Tanggal: Rabu, 2 Desember, 2009, 11:19 PM


  





Tulisan ini juga disajikan di website http://umarsaid. free.fr/
 
Catatan A. Umar Said
 
 
Skandal Bank Century dan 
gerakan  rakyat yang meluas
 
 
Sudah berhari-hari televisi dan pers Indonesia dibanjiri oleh berita atau 
tulisan-tulisan yang mencerminkan bahwa negeri kita memang sedang dirundung 
berbagai masalah yang parah, dan rumit, dan penuh misteri atau rekayasa yang 
berlatar belakang korupsi besar-besaran dalam kasus KPK dan Bank Century. 
Selain itu  juga banyak diberitakan  cerita menyedihkan tentang hukuman bagi bu 
Minah yang mencuri 3 kakao, atau pencurian satu semangka (di Kediri) yang 
diancam hukuman 5 tahun,  dan pemenjaraan  keluarga miskin (di Jawa Tengah) 
karena mencuri dua kilo kapas.
 
Banyak orang juga telah dibikin marah atau trenyuh oleh  pemandangan yang 
memilukan hati di layar televisi tentang banyaknya orang-orang yang 
berdesak-desakan sampai ada yang terinjak-injak dan jatuh pingsan ketika antri 
untuk mendapat pembagian daging kurban di Mabes Polri atau di mesjid besar 
Istiqlal. Semuanya ini  menambah lagi banyaknya indikasi atau bukti bahwa 
negeri kita memang betul-betul sedang sakit parah akibat kebejatan moral 
kalangan elitnya 
 
Tetapi, di samping itu ada juga banyak indikasi lainnya, yang menunjukkan bahwa 
negeri kita sedang bergolak dengan penuh gejolak besar oleh banyaknya aksi-aksi 
di banyak kota dan daerah, oleh perlawanan dan perjuangan berbagai kalangan di 
masyarakat luas, untuk mendesak dibongkarnya skandal besar Bank Century dan 
tuntutan dihukumnya Anggodo dan pejabat-pekjabat tinggi yang korup.  
 
Menyangkut lapisan atas negeri kita
 
Ini semua adalah perkembangan situasi yang sangat menggembirakan. Sebab, 
gemuruhnya gerakan yang diadakan secara luas sekarang ini merupakan pertanda 
bahwa banyak kalangan rakyat tidak rela  negeri ini  dirusak terus  oleh 
bedebah-bedebah yang terdiri dari pejabat-pejabat tinggi yang tersangkut dengan 
kasus kriminalisasi KPK atau perampokan Bank Century secara besar-besaran 
sebanyak Rp 6,7 triliun, dan kejahatan-kejahatan lainnya oleh para mafia hukum, 
mafia peradilan, mafia kekuasaan, mafia ekonomi, mafia pengacara dan mafia 
markus.
 
Hiruk-pikuk kasus kriminalisasi KPK (Bibit-Chandra) mulai kelihatan 
« mengendor » dengan dihentikannya pengajuan perkara ini ke pengadilan, yang 
diumumkan hari Selasa tanggal 1 Desember 2009 ini. Sudah tentu, berita tentang 
dibebaskannya Bibit-Chandra dari tuduhan menerima suap atau memeras Anggoro 
telah diterima dengan gembira dan kelegaan oleh banyak kalangan.
 
 Tetapi sebenarnya masih banyak persoalan yang sama sekali belum selesai. 
Karena, bagaimanapun juga, persoalan KPK (Bibit-Chandra) ada kaitannya dengan 
skandal raksasa berupa perampokan besar-besaran Bank Century, yang diduga 
menyangkut pertanggungan jawab banyak pejabat-pejabat tertinggi di negeri kita 
(antara lain Wakil Presiden Budiono, Menteri Keuangan Sri Mulyani, dan bahkan 
ada desas-desus bahwa mungkin termasuk juga presiden SBY sendiri).
 
Seperti yang kita saksikan bersama, persoalan kasus perampokan Bank Century 
sebesar  Rp 6,7 triliun sekarang ini sudah menjadi heboh besar di banyak 
kalangan masyarakat luas, dan juga di lapisan atas bidang eksekutif, 
legislatif, yudikatif negeri kita.  Bisalah kiranya dikatakan bahwa heboh besar 
ini sudah menggoncang negeri kita, lebih hebat dari pada banyak 
goncangan-goncangan sebelumnya, walaupun tidak sehebat peristiwa G30S yang 
memungkinkan jenderal Suharto akhirnya mengkhianati dan meggulingkan Bung 
Karno, atau peristiwa 1998 yang menyebabkan turunnnya Suharto dari kekuasaannya.
 
Munculnya  hak angket DPR
 
Hebatnya heboh sekitar Bank Century ini, yang sudah menyulut kegeraman atau  
mengobarkan kemarahan kalangan muda di seluruh negeri, dan  menimbulkan 
kemuakan di kalangan intelektual, serta menimbulkan berbagai reaksi di 
kalangan  partai-partai politik, menjadi lebih heboh lagi di DPR dengan 
munculnya soal hak angket DPR untuk menyelidiki kasus Bank Century, yang mulai 
dibicarakan tanggal 1 Desember ini.
 
Tanpa menaruh harapan (atau ilusi) yang terlalu besar terhadap keberhasilan DPR 
dalam menjalankan hak angket mengenai Bank Century -- berdasarkan 
kegagalan-kegagalan yang sudah dihadapi berkali-kali oleh DPR di masa-masa yang 
lalu – kita perlu bersama-sama seluruh kekuatan demokratis di negeri ini untuk 
mendorong, dan mengawasi atau mengawal supaya upaya-upaya (dari fihak manapun 
juga !)  untuk  menggagalkan hak angket ini, atau memacetkannya, dengan 
berbagai rekayasa atau manuvre, tidak akan berhasil.
 
Kita sudah bisa meramalkan bahwa masalah hak angket DPR soal Bank Century akan 
makan waktu berbulan-bulan (paling sedikit 3 bulan) untuk diselesaikan, dan itu 
pun kalau berjalan mulus dan tanpa halangan atau sabotase. Sebab, walaupun ada 
berita-berita bahwa usul hak angket ini sekarang (sebelum tanggal 1 Desember) 
sudah disetujui oleh semua partai di DPR, tetapi masih bisa saja terjadi 
surprise-surprise yang baru. Maklum, persoalan Bank Century ini menyangkut 
persoalan penggelapan atau perampokan dana yang besar sekali (Rp 6,7 triliun), 
dan melibatkan banyak orang-orang penting di berbagai bidang.
 
Karena adanya kemungkinan- kemungkinan bahwa pembongkaran kasus Bank Century 
ini akan dihalang-halangi atau dipersulit oleh oknum-oknum korup yang 
bersekongkol dengan  mafia hukum, mafia peradilan, mafia kekuasaan, mafia 
ekonomi, maka aksi-aksi massa atau gerakan rakyat untuk memberantas korupsi 
yang sudah marak dimana-mana akhir-akhir ini perlu didukung bersama-sama atau 
didorong terus supaya lebih berkembang lebih luas dan lebih menggelora lagi.
 
Kesedaran politik rakyat makin meninggi
 
Adalah gejala-gejala yang sangat menggembirakan dengan adanya aksi-aksi yang 
diadakan oleh KOMPAK (Komisi Masyarakat Sipil Antikorupsi) di Bunderan Hotel 
Indonesia, dan aksi berkemah dan mogok makan oleh kalangan mahasiswa/pemuda di 
pelataran gedung KPK selama hampir sebulan, serta demo-demo yang digelar di 
Bandung, Jogya, Solo, Makassar, Padang, Medan, Palangkaraya, dan berbagai  kota 
lainnya. 
 
Televisi sering menyiarkan tayangan aksi-aksi kalangan muda ibukota di depan 
Istana, gedung DPR, gedung PPATK dll. Yang juga merupakan perkembangan yang 
penting dan menarik adalah  terjunnya HMI dan PMII dalam berbagai aksi ini, dan 
pernyataan Din Syamsudin, Syafii Maarif  dan Amien Rais (tokoh-tokoh 
Muhammadiah) yang mendukung aksi-aksi mengenai Bank Century . Semua aksi atau 
berbagai kegiatan masyarakat luas ini merupakan gerakan extra-parlementer yang 
sangat penting yang akan ikut mengawasi jalannya hak angket DPR.
 
Patut diamati bersama bahwa berbagai siaran televisi (terutama Metro TV dan TV 
One) tiap hari menyajikan berita, reportase, perdebatan, interview tentang 
persoalan kriminalisasi KPK (Biibit-Chandra) dan Bank Century. Itu semua 
merupakan pendidikan politik yang sangat penting dan besar tiap harinya bagi 
puluhan juta orang di seluruh Indonesia. Dari banyaknya partisipasi para 
pemirsa televisi dalam berbagai siaran mengenai masalah-masalah politik 
tercerminlah ukuran betapa tingginya kesedaran politik banyak pemirsa dewasa 
ini. Ini merupakan perkembangan penting yang sangat menggembirakan, yang 
menunjukkan bahwa banyak orang sudah tidak seperti di jaman Orde Baru lagi, dan 
berani mengemukakan fikiran mereka secara bebas dan berani.
 
Dengan mengamati berkembangnya gerakan berbagai kalangan masyarakat sekitar 
heboh besar tentang kasus kriminalisasi KPK dan kasus perampokan Bank Century, 
maka nyatalah bahwa situasi sekarang ini sudah makin tidak menguntungkan lagi 
bagi sisa-sisa kekuatan politik yang pro-Orde Barunya Suharto. Dengan kalimat 
lain, bolehlah kiranya dikatakan bahwa perkembangan persoalan kriminalisasi KPK 
dan perampokan Bank Century menunjukkan bahwa « angin tidak menguntungkan lagi» 
kubu golongan pendukung pola berfikir Suharto lagi. 
 
Jalan Orde Baru adalah jalan buntu 
 
Sebab, makin banyak orang yang melihat bahwa kekisruhan di berbagai bidang yang 
bersumber dari kerusakan moral yang sama-sama kita saksikan  sekarang ini, 
adalah akibat ulah dari orang-orang atau oknum-oknum yang pada dasarnya (dan 
pada umumnya)  menganut politik atau pola berfikir yang dianut oleh para 
pendukung Orde Baru, yang anti rakyat, yang anti Bung Karno atau anti kiri. Di 
antara mereka ini masih banyak yang terus menganggap Suharto adalah pemimpin 
yang patut dihormati, dan yang juga masih terus anti Bung Karno dan anti 
ajaran-ajaran revolusionernya.
 
Kiranya, patutlah kita amati bahwa dengan adanya korupsi besar-besaran dan 
kerusakan moral  kalangan elite yang meluas, yang hanya sebagian kecilnya saja 
telah dan sedang dipertontonkan oleh heboh Polri-Kejaksaan- KPK dan oleh kasus 
Bank Century, maka berbagai kalangan mulai mempertanyakan kemampuan dan 
keabsahan pemerintahan SBY-Budiono untuk bisa membawa negeri kita ini ke arah 
perbaikan fundamental yang betul-betul mementingkan kepentingan rakyat banyak.
 
Sebab, politik yang dianut oleh pemerintahan SBY-Budiono pada dasarnya adalah 
pro-neoliberal dan anti-rakyat yang  terlalu menguntungkan kaum koruptor atau 
elite yang tidak bermoral. Kalau politik yang demikian ini terus ditempuh 
pemerintahan SBY-Budiono maka merupakan jalan sesat yang akan mencelakakan 
negara dan  bangsa. Dan perkembangan situasi di Indonesia di kemudian hari akan 
membuktikan bahwa jalan yang ditempuh dengan arah yang demikian itu adalah 
jalan buntu bagi cita-cita masyarakat adil dan makmur, seperti buntunya jalan 
yang ditempuh Orde Baru selama puluhan tahun.
 
Kekosongan pimpinan nasional yang seperti Bung Karno
 
Dalam situasi yang demikian ini, makin kelihatan jelas  bagi banyak orang bahwa 
bangsa kita memerlukan adanya pimpinan yang bisa membawa negeri kita ke arah 
yang benar-benar pro rakyat banyak, yang anti-neoliberalisme , yang bisa 
mendorong rakyat seluruh negeri untuk bersama-sama berjuang menciptakan 
masyarakat adil dan makmur, seperti yang dicita-citakan oleh Bung Karno beserta 
para pendukungnya.
 
Kekosongan adanya pimpinan nasional yang betul-betul pro-rakyat ini tidak hanya 
terasa sekarang saja, melainkan sejak digulingkannya  -- secara khianat !!! -- 
presiden Sukarno oleh jenderal Suharto. Jelas sekalilah bagi banyak kalangan 
dan golongan di Indonesia bahwa tidak ada satu pun tokoh Indonesia yang bisa 
menjadi pemimpin yang kewibawaan politik dan moralnya seagung Bung Karno.
Bung Karno merupakan sumber inspirasi besar bagi semua orang yang mau 
sungguh-sungguh berjuang untuk kepentingan rakyat banyak. Bung Karno adalah 
satu-satunya pemimpin bangsa yang telah menjadi pedoman moral (moral guidance) 
bagi banyak kalangan dan golongan. Bung Karno adalah tokoh agung satu-satunya 
yang telah menciptakan pedoman politik dan pedoman perjuangan yang bisa 
mempersatukan seluruh bangsa (ingat, antara lain : Pancasila, Bhinneka Tunggal 
Ika, Mesjid Istiqlal, Monas, Berdikari, Di bawah Bendera Revolusi, Revolusi 
Belum Selesai, dll dll dll).
 
Mengingat itu semuanya, kiranya kita bisa melihat bahwa persoalan besar 
mengenai KPK dan Bank Century telah membuka mata dan fikiran banyak orang bahwa 
rakyat atau bangsa kita sudah harus membuang  jauh-jauh sekali ilusi terhadap  
sistem politik yang selama ini sudah ditrapkan sejak jaman Orde Baru dan yang 
juga terbukti sekarang gagal dalam banyak bidang.
 
Artinya, kita bisa juga melihat bahwa kebejatan moral atau kerusakan akhlak 
yang dipertontonkan sejak lama sampai sekarang (dengan kasus KPK dan Bank 
Century) ini merupakan cambuk bagi seluruh kekuatan demokratis dalam masyarakat 
– tidak peduli dari golongan atau aliran politik yang mana pun juga ! -- untuk 
menyokong berkembangnya gerakan ekstra-parlementer dalam membela kepentingan 
rakyat, terutama rakyat miskin. Gerakan extra-parlementer yang luas dan kuat 
adalah senjata sekaligus pelindung bagi perjuangan rakyat, ketika dari DPR, 
dari DPD, dari pemerintah, dan dari partai-partai politik, sudah tidak bisa 
diharapkan lagi adanya tindakan-tindakan yang sungguh-sungguh memperjuangkan 
kepentingan rakyat banyak.
 
Gerakan extra-parlementer untuk perubahan besar
 
Gerakan extra-parlementer yang dewasa ini kelihatan mulai muncul dimana-mana 
adalah investasi penting untuk munculnya di kemudian hari kekuatan politik yang 
bisa mendorong terjadinya perubahan-perubahan fundamental bagi kepentingan 
rakyat banyak di negeri kita yang berpenduduk lebih dari 230 juta ini. 
Perubahan besar dan fundamental tidak bisa lagi diharapkan, atau tidak boleh 
terus-menerus digantungkan, dari kekuatan-kekuatan politik yang selama 32 tahun 
(dan juga sesudahnya) sudah terbukti membikin rusaknya bangsa dan negara kita. 
 
Dan, ikut sertanya secara aktif dan secara besar-besaran generasi muda kita 
dalam berbagai macam gerakan extra parlementer di seluruh negeri dewasa ini  
menimbulkan harapan bahwa hari kemudian  negara dan bangsa kita akan ada di 
tangan orang-orang yang tidak bermental korup, atau berakhlak bejat atau 
bermoral busuk, seperti yang kita saksikan sekarang di kalangan DPR dan di 
kalangan aparat negara atau badan-badan pemerintahan kita, termasuk di kalangan 
pemuka-pemuka masyarakat.
 
Berbagai macam aksi dan kegiatan yang dilancarkan oleh kalangan muda di seluruh 
negeri dewasa ini merupakan darah segar bagi kehidupan bangsa kita, yang sudah 
terlalu lama diracuni atau dibikin busuk oleh Orde Baru beserta para pendukung 
setianya. Gerakan yang meluas oleh kalangan muda dewasa ini merupakan pertanda 
penting yang menunjukkan adanya perpecahan antara generasi muda dengan 
partai-partai politik, dan juga mencerminkan ketidakpercayaan mereka terhadap 
pemerintahan SBY. Kelihatannya, generasi  muda kita mulai melihat lebih jelas 
bahwa jalan yang harus mereka tempuh untuk menyongsong hari kemudian bangsa 
bukanlah jalan buntu (jalan mati) yang sudah ditempuh oleh Suharto beserta 
pendukung-pendukung nya,
 
Dan, rupanya, kasus skandal raksasa Bank Century (dan heboh soal KPK) telah 
mempertinggi kesadaran politik tidak saja kalangan generasi muda kita, 
melainkan juga sebagian besar rakyat kita.
Sungguh, ini semua adalah perkembangan situasi yang menggembirakan kita semua !
 
Paris, 2 Desember 2009
 
 







      Wajib militer di Indonesia? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers! 
http://id.answers.yahoo.com

Kirim email ke