Tindak Kekerasan di Hoka Hoka Bento MALL AMBASADOR
________________________________
GAn.......ane Copas dari forum sebelah....jadi miris ngebacanya.....apakah 
moral kita sudah separah ini...?


Pada hari Sabtu, 12/02/2010 saya dan suami yang kebetulan sedang berlibur ke 
Indonesia berkunjung ke Mall Ambasador. Karena sudah bertahun-tahun sejak studi 
di Australia saya jarang menikmati produk2 hokben kecuali ketika berlibur ke 
Indonesia, saya khususkan datang ke pusat perbelanjaan tersebut untuk dapat 
melepas kerinduan saya kepada hidangan2 nikmat dari Hokben (yang kebetulan 
walaupun suami saya orang asing, beliau juga suka makanan2 dari resto tsb 
setelah mencoba menu2 resto tersebut setiap kami berlibur ke jakarta).

Sesampainya di restoran tersebut, antrian cukup panjang. Tetapi dalam hati saya 
tidak menyerah, demi makanan favorit saya rela antri lama. Tiba-tiba, bapak 
yang berdiri di depan saya mengambil baki yang sudah suami saya ambil untuk 
membawa makanan yang kami pesan. Lalu suami saya ambil balik dari bapak 
tersebut, karena suami saya tidak bisa berbahasa Indonesia, saya diminta untuk 
menjelaskan ke bapak tsb. Saya berkata: 'Pak, Bakinya tolong ambil sendiri di 
tempat yang disediakan". Lalu bapak itu hanya tersenyum dan berkata "Oh, iya". 
Tiba-tiba perempuan yang berdiri di depan bapak tersebut membentak saya dan 
berkata "Belagu banget sih lo, cuma baki doang aja". Saya kaget, saya kan cuma 
menjalankan norma2 yang mestinya berlaku di masyarakat yang mengaku sebagai 
bangsa yang berbudi pekerti tinggi. Saya hanya menjawab kepada perempuan 
tersebut "Bukan masalah bakinya, tapi disiplin, toleransi dan sopan santun di 
muka umum yang penting buat saya". Tiba2 perempuan muda itu berteriak "Lo 
ngomong apa tentang bapak gue? Sopan santun? Jangan kurang ajar lo!" Di mulai 
maju mendekat ke saya dan seperti mau memukul saya, suami sayapun menjagai saya 
tetapi akhirnya bapak tsb berhasil mendorong saya hingga saya terpeleset dan 
untungnya suami saya menangkap sebelum saya jatuh ke lantai. Tiba2 tanpa saya 
sadari sudah ada Bapak tsb, putrinya, Istri dan anak lelaki mereka mengelilingi 
saya dan suami (anak lelaki tersebut sudah mendekat mau memukul saya tetapi 
sekuriti hokben tiba2 datang).

Hal yang paling mengecewakan dari kejadian ini adalah ketika sekuriti hokben 
meremas lengan saya dan berkata "Ibu kalo mau bikin keributan jangan disini". 
Saya langsung lunglai karena sekuriti tersebut tidak ada ketika semuanya 
bermula, dan yang berbuat onar dan berteriak2 justru anak perempuan dari Bapak 
tersebut, tetapi kenapa bapak sekuriti dari hokben ini dengan cepatnya menuduh 
tanpa mencari tahu dari sekeliling yang sudah melihat apa yang sebenarnya telah 
terjadi? Apa mungkin beliau berpikir saya yang hanya berdua suami tidak akan 
memesan makanan sebanyak keluarga yang telah berperilaku histeris tersebut 
sehingga beliau bersikap tidak adil terhadap permasalahan ini?. Suami saya 
hanya bisa termenung karena ia tidak bisa bahasa saya sama sekali sehingga ia 
tidak bisa menjelaskan bahwa beliau yang pada mulanya meminta saya untuk 
menjelaskan dalam bahasa Indonesia kepada bapak yang merebut baki kami tersebut 
bahwa sifat ketidakperdulian dan serba mau menang sendiri di tempat umum itu 
sangat tidak dapat ditoleransi dan hanya akan mencoreng nama bangsa kita di 
mata dunia (kejadian2 seperti ini sering terjadi di negara2 yang saya kunjungi 
dimana orang Indonesia/Asia memotong antrian, menyerobot dalam berbagai 
kesempatan) dan saya amat malu karena saya datang dari keluarga yang diajarkan 
oleh negara (ketika Almarhum ayah saya bekerja dan ditugaskan ke luar negri 
oleh Deplu) untuk bersikap dan berbudi pekerti yang luhur agar ketika kami 
berada di hadapan bangsa2 lain, kami menjaga keharuman nama bangsa Indonesia, 
bukannya malah merusak dengan perbuatan2 yang salah satunya seperti Bapak dan 
keluarganya yang menyerang kami tersebut karena mereka pikir mereka lebih punya 
nyali untuk bersikap seperti Tarzan yang hanya mengerti hukum rimba.

Akhirnya sayapun dan suami memutuskan untuk melangkah keluar dari resto 
hoka-hoka bento, sebagai bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi toleransi 
sesama, saya memilih untuk mengalah karena saya tidak ingin pengunjung yang 
lain merasa terganggu dengan teriakan2 putri dari bapak tersebut yang 
sepertinya tidak mau berhenti walaupun sudah tidak ada yang bicara. Pada malam 
harinya saya dan suami terbang kembali ke Australia, tanpa bisa sempat 
mencicipi hokben. Saat ini saya dan suami sedang mempertimbangkan untuk 
menempuh jalur hukum atas kekerasan fisik yang "DIBIARKAN" terjadi oleh 
Hoka-hoka bento terhadap saya sebagai pengunjung, dan juga kekerasan fisik dan 
psikologis yang dilakukan oleh petugas sekuriti yang merupakan "PEGAWAI" dari 
resto hoka-hoka bento tersebut terhadap saya. Semoga kejadian seperti ini tidak 
harus menimpa orang2 lain setelah saya dan semoga bapak Hendra Arifin ato Bapak 
Paulus Arifin membaca surat saya ini dan menindaklanjuti kejadian yang 
merugikan fisik dan psikologis saya ini dengan bijaksana.. Saya pribadi sangat 
tidak menyarankan keluarga, teman2, relasi2 saya dan masyarakat umum untuk 
membeli produk2 hokben jika service dari pegawai2nya masih sangat menyedihkan 
seperti ini. Saya yakin masih banyak outlet2 makanan lain di Indonesia yang 
tidak hanya menawarkan produk2 yang lezat dan terjangkau saja, tapi juga 
menawarkan komunikasi DUA ARAH, rasa aman dan customer service yang berkualitas 
tinggi terhadap konsumennya.


Salam,


Sofia Gallagher


Ni Link Aslinya
http://forum.kompas.com/keluhan-puji...ambasador.html<http://forum.kompas.com/keluhan-pujian/28031-tindak-kekerasan-di-hoka-hoka-bento-mall-ambasador.html>

sekalian di Rate ya......biar jadi HT...semua orang biar bisa 
baca.........untung2 ada anak hokben yang baca
<hr size=1 width="100%" noshade color="#d1d1e1" align=center>

CONFIDENTIALITY CAUTION: This message is intended only for the use of the 
individual or entity to whom it is addressed and contains information that is 
privileged and confidential. If you, the reader of this message, are not the 
intended recipient, you should not disseminate, distribute or copy this 
communication. If you have received this communication in error, please notify 
us immediately by return email and delete the original message.

Kirim email ke