> Wal Suparmo <wal.supa...@...> wrote: > Re: Tidak Terbukti Pernah Ada Manusia Pertama > Sekali lagi 2Â manusia pertama telah > mengadakan INCEST atau anak mengenjot > ibu dan sebaliknya dan berpestapura > SALOME atau SATUÂ lobang RAME2. > Menurut ilmu kedokteran paling lama > 10 generasi seperti ini akan menghasilkan > manusia IDIOT. Seperti para manusia > percaya dan mengaku keturunan Nabi Adam > dan Hawa.
Anda benar sekali, salah satu hasil penelitian kedokteran membuktikan bahwa perkawinan satu keluarga menjadi penyebab utama keturunannya menjadi idiot turun temurun. Incest itu bukanlah cuma ibu yang bersenggama dengan anak laki2nya, atau juga bukan bapak yang menyetubuhi anak perempuannya. Dalam kasus yang banyak terjadi justru persetubuhan atau perkawinan antara sesama saudara meskipun berlainan ibu atau berlainan bapak juga akan mengakibatkan hasil keturunan2 yang idiocy ini. Itulah sebabnya, dunia kedokteran selalu mengkonsultasikan perkawinan yang sedarah kepada ahli2 genetika mengingat bahaya dan kemungkinan2 yang mengancam keturunan para pelakunya. Hal inipun menjadi salah satu bukti lainnya dari sekian banyaknya bukti2 yang sudah pernah saya tulis, bahwa sumber asal penciptaan manusia bukan cuma satu, artinya penciptaan pertama bukan berasal cuma dari satu manusia laki2 yang disusul dengan satu manusia perempuan untuk menemaninya seperti yang kita bisa baca dalam Quran ataupun Bible. Karena perkawinan sedarah hanyalah menghasilkan kepunahan manusia itu sendiri bukan malah berkembang seperti halnya sekarang ini. Jadi semua agama yang anda atau yang kita percaya tentang manusia pertama berupa Adam dan Siti Hawa sesungguhnya kebohongan yang keterlaluan. Orang2 dulu memang mudah dibohongi, tetapi kalo anda hidup dizaman sekarang tetapi tetap mengarungi otak anda sendiri dengan kebohongan2 yang sama seperti orang2 zaman dulu yang jadi korban, tentu sangat disesalkan tujuh keturunan. Tidak peduli, dan terlepas besarnya keimanan anda, besarnya ketakwaan anda, dan besarnya pengabdian anda kepada agama kepercayaan anda, kalo kenyataannya bohong, tetaplah bohong, jangan malah merusak otak anda dengan mempercayai kebohongan ini sebagai kebenaran. Ny. Muslim binti Muskitawati.
