prett ..prettt jangan2 ngobul lagi nich? sapa juga bisa nulis bahwa saya ini siapa? apalagi se kaliber muskit si pembohong
Preeeett From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of muskitawati Sent: Monday, March 29, 2010 10:49 AM To: [email protected] Subject: -:: Milist NB::- Sekilas Mengenal Latar Belakang Pendidikan Saya !!! Sekilas Mengenal Latar Belakang Pendidikan Saya !!! > Irwansyah Fans Club <irwansyahfansc...@...> wrote: > Re: Siapakah Gerang Ny. Mus itu? > Kami jadi pensaran dgn ny. Muskitawati ini. > dan setelah search akhirnya kami dapatkan ini: > Membedah Nyonya Hajjah Muskitawati binti Muslim > http://www.freelists.org/post/ppi/ppiindia-Membedah-Nyonya-Hajjah-Muskitawat i-binti-Muslim Terima kasih saya ucapkan kepada mereka yang melestarikan atau mengarsibkan banyak tulisan2 saya dimana saya sendiri tidak memiliki arsipnya. Dalam kesempatan ini biarlah saya ulangi mengenai aspek sejarah pendidikan saya di Indonesia. Ayah saya yang memang fanatik Islam sangat keras perangainya, sudah biasa memaksakan kehendaknya baik kepada saudara2ku juga kepada ibuku yang menjadi isteri kedua dari isteri sebelumnya. Meskipun saya bukan satu2nya anak wanitanyam, tapi boleh dikatakan saya yang paling bandel tetapi malah paling disayang dan menjadi iri hati saudara2ku yang lainnya. Memang Islam sangat merendahkan derajat wanita, tapi beruntung, ayahku gagal merendahkan diri saya justru jadi kebalikannya, ayah paling minder dan paling takut kepada saya dibandingkan anak laki2nya yang tinggi besar mengerikan badannya itu. Hal ini disebabkan saya adalah anaknya yang paling cerdas, paling gemilang dalam kualitas pendidikannya, semua serba bisa bukan cuma bisa menjahit dan memasak saja, tapi juga bisa memperbaiki mobil, turun mesin mobil, bahkan juga jago berantem menguasai beberapa aliran bela diri nasional, Jepang, dan sedikit yang dari Cina. Memang, mulanya ayah marah besar karena menganggap aku anaknya ternyata kafir, dianggapnya murtad, dan dia merasa berdosa karena gagal menjadikan aku seorang muslimah yang kafah seperti ibuku dan saudara2ku yang lain. Tetapi setelah berulangkali mengalami debat besar sampai hampir2 aku dibunuhnya, akhirnya dia mengakui dan merasa kalah, mungkin karena ekonominya makin sulit dan akulah satu2nya menjadi mesin penghasil uang yang paling potensial bagi keluarga besar kami. Ayah sering dan berulangkali bisik2 kepadaku agar jangan berkhotbah agama seperti kepada ayahku, karena sebenarnya ayahku malu kepada ulama2 lainnya karena merasa gagal menjadikan diriku seorang muslimah yang seharusnya. Jadi sudah kebiasaan aku ber-basa basi, pura2 percaya Allah dan Muhammad dimuka tetangga dan teman2 ayah maupun guru2 dipesantrennya. Dalam hal ini aku harus menghormati kepercayaan ayah dan ibu bukan harus ikut mempercayainya. Memang betul, aku bukanlah fotocopy ayahku ataupun ibuku, aku adalah manusia dengan kepribadian tersendiri yang menjadi pemilik diriku sendiri dan tidak boleh orang lain memiliki diriku dengan memaksakan mengcopykan kepercayaannya kepada diriku. Salah besar ajaran Islam yang mewajibkan orang tua untuk memaksa anaknya pendidikan agama seperti takwa dan iman yang dimilikinya agar bisa menambah pahalanya. Biadab sekali ajaran Islam yang menghukum orang tua dengan dosa karena gagal mendidik anaknya hingga menjadi murtad terhada0p agamanya. Pada mulanya ayahku memaksa aku masuk ke IAIN, tidak sulit bagiku untuk kuliah di IAIN karena semuanya adalah sahabat karib ayahku. Hati kecilku sendiri sebenarnya menolak masuk ke IAIN, tapi kebiasaan jelek ajaran Islam betul2 telah merusak jangkauan cakrawala masa depan yang bisa aku pilih. Aku sama sekali tidak punya pilihan masa depan sama sekali. Wanita Islam dipingit dan direndahkan, dianggap lahir karena kecelakaan yang membawa kesialan bagi keluarga ayah, hal inilah yang juga berlaku kepada diriku. Aku lulus dan gampang mendapatkan gelar S1 dengan nilai tertinggi, tidak ada yang berkesan dalam dalam dunia Islam dan pendidikan Islam dalam diriku. Tetapi sewaktu tingkat satu di IAIN, kejadian luar biasa menimpa nasibku yang menjadi berobah 180 derajat. Aku berkenalan dan selanjutnya bersahabat karib dengan anak seorang rektor IAIN yang ber-cita2 menjadi dokter dan menolak untuk kuliah di IAIN. Sang rektor ayah sahabat karibku ini ternyata juga akrab dan mengenal ayak dan keluargaku. Aku sering diajak sahabatku kemanapun juga apalagi dia anak orang kaya, rektor IAIN gampang korupsi dan dipercaya umat sebagai pejabat jujur sehingga bisa bertahan lama dalam jabatan basah begini. Sebutlah disini sahabat karibku bernama Zubaidah (nama samaran) dan aku cuma memanggilnya "zub". Untuk bisa berhasil lolos test FKUI, zub mengambil les private ketempat Sikky Mulyono di Salemba Raya seberang UI. Begitu eratnya ikatan batin zub kepadaku hingga meskipun aku tidak memikirkan untuk ikut test FKUI, tetapi karena zub minta aku juga menemaninya les di Sikky Mulyono ini, akhirnya aku juga mengikutinya les ditempat yang sama di-Sikky Mulyono. Sama2 les ditempat yang sama, tapi nasibnya berbeda, aku yang tadinya belum punya niat jadi dokter karena lulus test FKUI yang menjadi impian banyak orang, akhirnya terpaksa aku ganti haluan, sudah duduk ditingkat akhir di IAIN, aku berhenti mendadak dan melanjutkan kuliah di FKUI dan lulus jadi dokter dalam 5 tahun. Zub yang gagal dalam test FKUI sangat depressi, dia betul2 breakdown dan menganggap aku seperti malaikat saja, semua yang aku bilang pasti dia percaya, bahkan lebih percaya kepada diriku daripada ayah bundanya, mungkin lebih percaya kepadaku daripada kepada Allahnya. Yaah.... begitulah orang yang sudah breakdown dalam depressi yang parah. Hanya aku yang bisa mengobati depressi yang dialami zub, dia hampir2 bunuh diri karena malu dan putus asa, apalagi dia bukan anak yang bodoh, juga terkenal sebagai anak yang cerdas. Aku ajari zub untuk ikut test ulangan ditahun depan dimana aku jadi jokinya. Enggak susah membuat KTP palsu dengan identitas zub sekedar untuk maju test FKUI sekali lagi membantu zub. Tentu berhasil sukses, zub seperti orang gila kegirangan, aku dipeluknya, diciumi dan apapun yang aku minta dia penuhi. Zub juga akhirnya lulus jadi dokter setahun dibawah kelasku. Demikianlah liku2 penuh tipuan menyebabkan aku sulit bekerja sebagai dokter di jakarta, oleh karena itu untuk sementara ijazah IAIN ku ini kugunakan untuk bekerja di departemen agama yang penuh dengan sahabat2 ayah maupun gang rektor IAIN ayahnya zub ini. Suksesku di departement agama juga penuh akal muslihat yang tidak perlu aku ceritakan. Singkatnya aku berhasil mendapatkan beasiswa dari Amerika kepada pemerintah RI. Aku berhasil lulus Doctor dengan cumlaude. Setelah lulus di Amerika, aku coba cari2 kerja, tapi cuma kerja2 gaji kecil saja yang bisa kudapat. Memang jurusan agama makin tidak laku, maklum tidak ada perusahaan yang bersedia menggaji ilmu angan2 seperti jurusan Islam meskipun bertitel doktor. Sedangkan untuk bekerja sebagai dokter aku harus lulus test persamaan dokter yaitu USMLE ataupun CFMG. Aku tidak mampu mengikuti test ini karena biaya registrasinya sangat mahal diluar kemampuan kantongku. Akhirnhya aku sekolah atau kuliah lagi mengambil jurusan Physics yang juga merupakan jurusan yang agak kurang laku di Amerika ini sehingga tersedia banyak beasiswa dan juga kerjaan sebagai peneliti di pemerintah. Di Amerika ini lucu, kalo kita jadi pengangguran enggak bisa dapat kerjaan yang bergaji cukup, maka agar bisa dapat kerjaan baik rahasianya adalah kuliah lagi karena di Universitas banyak sekali tawaran kerjaan yang bergaji aduhai. Gara2 nganggur malah aku menambah gelar ilmuwan bukan karena cita2, bukan karena kebanggaan, tapi karena mengisi waktu daripada jadi pengangguran. Gara2 pengangguran aku jadi banyak gelar2 penelitim, banyak pengalaman, banyak tambah teman2 yang jabatannya penting2, yang kesemuanya membuka jalan makin lebar untuk sukses hidupku di Amerika. Jangan tanya lagi masalah keluargaku, ayah ibuku bangga sekali kepada anaknya yang murtad ini, ke-mana2 diceritakan kepada teman2nya tentang suksesku ini akibat berkat dari Allah yang dipercayanya meskipun aku sendiri sama sekali tidak percaya, tidak pernah shalat. Aku dijadikan muslimah teladan dikampungku untuk mendorong umat Islam lebih bertaqwa kepada Allah agar bisa mengikuti jejak kesuksesan diriku. Kadang kala aku merasa jadi sombong karena kesuksesanku ini, tapi kalo pulang kampung aku enggak berani sombong, takut dibunuh komando jihad. Aku pura2 taqwa, pura2 rendah hati, tapi ayah ibuku tetap saja tidak mungkin dibohongi dia tahu aku enggak percaya gitu2an, tapi tetap dia menganggap aku sebagai muslimah yang paling soleh dalam keluarga.... Lucu bukan ???? Banyak teman2 di Universitas, setiap ada sales di Library, aku borong buku2nya dan aku sumbangin ke beberapa pesantren baik pesantren keluarga milik ayah, dan juga pesantren lain milik sahabat2 ayahku. Meskipun Islam ajaran biadab, tetapi semua muslimin dan ulama sangat menyayangi, sangat mengagumi, dan sangat telaten dalam melindungi dan menjaga keamanan diriku ini. Semua ini sangat mengharukan, bahkan adik2 dan kakak laki2 ku yang biasa memeras toko2 Cina berhasil aku larang, tentu dengan pemberian uang modal untuk usaha ataupun mencari kerjaan. Jadi aku sebenarnya sangat mencintai Islam beserta segala kebohongan2 ajarannya karena dari sinilah aku dilahirkan, dan sampai sekarang juga menjadi kepercayaan ayah ibuku, saudara2ku, dan juga sahabat2ku termasuk lingkungan yang Islamiah dikampungku. Tapi apakah karena aku mencintai Islam dan musliminnya menjadi excuse untuk berbohong membenarkan kebiadaban2 ajaran2 Islamnya ??? Sebagai ilmuwan aku tidak boleh berbohong, sebagai ilmuwan aku harus membela semua manusia tanpa membedakan agamanya. Sebagai ilmuwan aku harus berdiri diatas kebenaran yang tidak membedakan agamanya, sebagai ilmuwan aku tak boleh curang cuma membela umat agamaku saja dan menjadikan umat lainya korban2. Kebaikan harus kita dharma baktikan, kejahatan harus kita tumpas, dan ajaran biadab harus kita ubah. Kesemuanya ini komplet tertulis dalam deklarasi HAM ditambah lagi sumpah hippocrates dan sumpah professional yang pernah kuucapkan. Dharma baktiku adalah berbakti kepada semua umat manusia tanpa mem-beda2kan terutama mereka yang selama ini tertindas, bukan berbakti kepada agama kepercayaan, sama sekali tidak akan berbakti kepada ajaran yang menindas wanita, menindas kafir, menindas orang murtad, menindas pemuja berhala, ataupun menindas orang Yahudi. Perjuangan hidupku bukan cuma membahagiakan umat Islam saja tetapi juga memberi kebahagiaan yang sama kepada orang2 murtad, kepada orang kafir, kepada penyembah berhala dan juga kepada umat lain yang bukjan Islam termasuk kepada umat Islam Ahmadiah yang teraniaya karena dianiaya menjadi korban ketaqwaan sesama muslimin. Jadi, aku bukan musuh Islam, juga bukan memusuhi Islam, tetapi pembela Islam yang berjuang untuk membersihkan cemongan2 dalam ajaran Islam agar bisa menjadi ajaran atau agama kasih sayang sama seperti ajaran agama2 lainnya yang menjalankan ibadahnya diatas rel HAM. Ny. Muslim binti Muskitawati.
