SOK TAHU!!! SOK PINTAR!! SOK PALING BENAR! PADAHAL OTAK dan NYALI ANDA TEMPE!!
:: ER™:: -----Original Message----- From: "muskitawati" <[email protected]> Date: Sun, 11 Apr 2010 15:59:22 To: <[email protected]> Subject: -:: Milist NB::- Nenek Moyang Pencipta Kita Bisa Mati, Juga Tuhan !!! Nenek Moyang Pencipta Kita Bisa Mati, Juga Tuhan !!! Mata bukanlah pancaindera untuk membuktikan "adanya sesuatu". Karena apa yang anda lihat belum tentu itu ada, dan apa yang anda tidak lihat belum tentu itu tidak ada. Misalnya, di bioskop anda melihat Bung Karno lagi pidato, ternyata yang anda lihat itu bukanlah Bung Karno tapi cuma bayangan, cuma angan2 orang lain yang diprojeksikan kelayar perak. Karena Bung Karno sebenarnya tidak ada karena dia sudah mati. Dia pernah ada tetapi sekarang sudah tidak Ada. Jadi untuk membuktikan sesuatu itu ada, harus bisa dideteksi, Tuhan yang tidak bisa dideteksi tidak mungkin ada. Tuhan itu hanyalah angan2, bisa kelihatan se-olah2 ada, tetapi setelah dideteksi ternyata enggak ada karena Tuhan itu hanya berada dalam angan2, dan angan2 itu tidak bisa dideteksi. Lalu apakah keberadaan kita bisa menjadi bukti adanya Tuhan yang mencipta kita dulu ??? Sama saja, keberadaan kita karena ada ayah ibu kita yang menciptakan diri kita, tapi ayah ibu kita juga diciptakan oleh nenek dan kakek kita, demikianlah seterusnya, dimana permulaannya manusia diciptakan oleh Allah. Meskipun kita asalnya diciptakan kakek nenek moyang kita atau Tuhan kita, tetapi sekarang ini nenek moyang kita dan Tuhan pencipta itu sudah tidak ada lagi. Kalo dulu ada nenek dan kakek maka sekarang bukan berarti kakek dan nenek kita itu masih ada. Juga, kalo dulu ada Tuhan yang menciptakan kita, bukan berarti sekarang ini Tuhan itu masih ada. Kalo kakek nenek kita bisa mati lalu kenapa Tuhan itu tidak bisa mati??? Tentu saja bisa karena kakek nenek kita juga yangmenciptakan kita buktinya bisa mati. > A Nizami <nizam...@...> wrote: > Orang alim itu kemudian menampar > pipi si atheist dengan keras, > sehingga si atheist merasa > kesakitan. Begitu si Atheist > kesakitan. Si Alim bertanya, > Ah mana ada sakit. Saya tidak > melihat sakit. Di mana sakitnya? Bisa ada sesuatu yang tidak terlihat, seperti rasa sakit diatas, meskipun tidak bisa dilihat mata, tetapi bisa dibuktikan ada. Dokter punya cara2nya untuk membuktikan rasa sakit ini, itulah sebabnya, setiap orang yang dipukul, apabila dia mau nuntut ke pengadilan, maka pukulan atau rasa sakit itu harus dibuktikan dengan "Visum et Repertum", dalam memeriksa dan mendeteksi rasa sakit dari pemukulan ini, dokter boleh menggunakan alat2 diagnostik lainnya seperti rontgen, laboratorium dan lain2nya. Jadi sesuatu yang tidak terlihat bukanlah bukti adanya Tuhan, kalo cara2 begini digunakan untuk membuktikan adanya Tuhan, lalu apa bedanya dengan penyembah berhala juga bisa membuktikan adanya dewa desi, bahkan bisa juga ini dijadikan bukti adanya "dewa zeus" dll. Yaaa.... Cerita ini cuma digunakan ulama Islam saja untuk membohongi umatnya. Lagi pula, orang2 atheis yang enggak percaya Tuhan enggak pernah mau buang waktu memperdebatkan ada tidaknya Tuhan itu. Karena, Atheis itu bukan agama, juga bukan ideology, tidak ada kitab suci Atheist. Atheist itu cuma ciptaan umat beragama untuk merendahkan mereka yang menolak memeluk agamanya. Kalopun anda mau percaya Tuhan boleh2 saja, tetapi jangan dipaksakan kepada siapapun juga, mulanya cuma disuruh percaya Tuhan, tapi kemudian dipaksa menyembahnya, kemudian disuruh melakukan kewajiban2 yang katanya perintah Tuhan, dan akhirnya umat Islam Ahmadiah malah jadi halal di jarah harta bendanya, dibakar mesjidnya, dibunuh ulamanya, diperkosa massal amoy2, dijarah toko2 Cina, habis dijarah toko2 Cina dibakar, kemudian membakar gereja dll, menjadi teror jihad Islam yang menjanjikan pahala disorga dengan 72 bidadari perawan. Naaah..... ini yang jadi akibat dari percaya adanya Allah. Jadi kalo mau percaya Allah, diam2 aja tak perlu didakwahkan, tak perlu dipropagandakan, dan tak perlu memaksakan pahala itu kepada siapapun juga meskipun sama2 agamanya. Tak perlu memperingatkan sesama umat. Marilah kita tanya sama nurani kita, apakah bermoral apabila menganggap cuma muslimin saja yang dimuliakan Allah sedangkan mereka yang menolak Allah direndahkan sebagai se-rendah2nya binatang yang darahnya dihalalkan ???? Coba tanya nurani anda sendiri, apakah beradab atau biadab seseorang yang menolak Allah dianggap musuh Allah karena dunia ini hanya milik allah sehingga kalo tidak mau menyembah Allah tidak boleh menikmati nikmat Allah ???? Apa sih salahnya kalo anda yang percaya Allah menganggap agama anda hanya angan2 seperti juga hiburan yang hanya memberi kebahagiaan kepada semuanya tanpa perlu menggunakan agama sebagai mengadili menyalahkan atau membenarkan perbuatan seseorang, apalagi sampai menjadikan agama anda itu sebagai alat menghukum seperti menghukum umat Ahmadiah dengan kematian, dengan pengusiran, dengan penjarahan. Begitulah, gunakanlah agama MU untuk membahagiakan semua umat manusia tanpa perlu mem-beda2kan agamanya apakah mereka percaya ataupun tidak percaya. Cuma ada satu cara dalam beriman kepada Allah, yaitu dengan menegakkan HAM sehingga apapun agama anda, tentu anda akan masuk kesorga. Sehingga tidak perlu anda membomb dan membantai orang2 kafir, murtad, Yahudi, ataupun semua umat beragama yang menolak menyembah Allah, atau umat yang menggambarkan Allahnya sendiri secara berbeda dari gambaran Allah yang anda percaya. Islam itu milik umat Islam seluruh dunia, tidak ada copyright bahwa agama yang namanya "Islam" itu milik orang arab, milik MUI, milik Sunni, milik Syiah.... tetapi juga milik umat Islam Ahmadiah, milik umat Islam Kejawen, juga milik Islam Santriloka dan milik Islam2 lainnya yang mengaku agamanya Islam. Juga, nama Allah itu bukan copyright milik umat Islam saja, orang Nasrani juga boleh menamakan tuhannya sama sebagai Allah meskipun Jesusnya juga dianggapnya Allah. Anda harus sadar, bahwa semua agama sama2 dilindungi HAM tidak dibedakan apapun agamanya, tidak bisa menganggap bahwa hanya Islam yang harus lebih dilindungi dan yang lainnya harus dilarang. Ny. Muslim binti Muskitawati.
