kiaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa bicara soal obyektifitas dengan cara subjectif, huahahahahahahhaha, kagak ada ilmuan yang obyektif, kalo gitu caranya, huahahahhahahahahhahahahahha, lu aja subyektif malah bicara soal obyektif, bicara soal makanan saja cobak obyektif soal rasanya bagaimana hiahahahahaha, oh iya persepsi panca indra itu adalah subyektif, jadi bertolak belakang sama bahasan lu hiahkkahkahkakhakahkhkhaka.................
________________________________ From: muskitawati <[email protected]> To: [email protected] Sent: Sat, April 10, 2010 6:39:20 PM Subject: -:: Milist NB::- Persepsi Merupakan Resepsi Pancaindera Yang Objective Persepsi Merupakan Resepsi Pancaindera Yang Objective Rangsang2 kepada pancaindera kita tidak selalu diterima sesuai dengan rangsangnya, karena rangsang2 ini bisa diubah gambarannya oleh pengaruh kepercayaan, keyakinan, maupun perasaan2 subjective lainnya. Oleh karena itu, pendidikan utama dalam menjadi peneliti, scientist, dan pengamat ditujukan untuk melatih diri untuk bisa menerima persepsi se-objective mungkin. Namun disamping itupun harus disertai pengulangan pengamatan oleh ahli2 lain untuk memastikan bahwa hasilnya tetap sama. Penciptaan alat2 teknologi juga bertujuan untuk membantu persepsi yang objective ini mendapatkan hasil2 yang lebih akurat atau sesuai dengan realitasnya. Persepsi bias, atau penyesatan persepsi, atau penipuan persepsi adalah ciri utama dari penanaman keimanan, kepercayaan, keyakinan, dan penanaman konsepsi segala bentuk dongeng2 sebagai brainwashig. > Arif Budi utomo <budiutomoarif@ ...> wrote: > Betulkah ? betulkah manusia mampu > untuk membebaskan diri 'secara > murni' seperti kata anda ? > Seberapa objecktive-kah pikiran > manusia> itu ? mampukah ilmuan > itu terbebas dari presepsi-nya > sendiri? Enggak perlu didiskusikan, karena bisa atau tidak bisa manusia membebaskan diri dari keyakinan, kepercayaan dan subjectivitasnya bukan masalah besar dalam science karena selalu ada scientist lainnya yang juga ikut menelitinya sebagai saksi lain. Tapi bukan cuma begitu aja, alat2 teknologi yang kita ciptakan juga merupakan alat bantu persepsi kita yang juga pasti lebih objective. Selalu dalam science itu semua experiment di-ulang2 sepanjang zaman diseluruh dunia oleh semua ahli2 yang berbeda, kalo ada perbedaan hasil maka akan dilakukan pengamatan ulang oleh team2 lain yang dibentuk sehingga betul2 bisa didapatkan hasil persepsi yang bebas dari subjectivitas. Pedidikan menjadi scientist juga merupakan bagia latihan untuk berpikir dan melatih persepsi yang objective bukan berarti mematikan subjectivitasnya. Jadi ngalor ngidul debat kusir anda lainnya tidak akan saya bahas disini. Tidak ada kaitan urusan psiko-analisa. Juga tak perlu diskusi kusir tentang "atheist", karena "atheist" ini juga bukan istilah science, hanya istilah untuk object umat beragama menamakan target yang dibencinya. Atheist itu bukan agama bukan ideologi, dan bukan kelompok pemikiran. Atheist itu sama sekali tidak ada definisi yang konsistent karena setiap agama menggunakan istilah atheist untuk target kebencian yang ber-beda2. Atheist itu tidak punya buku suci, tidak punya cara2 beribadah, tidak mengenal dakwah, jadi sebenarnya tidak pernahada "atheist" dalam arti sebenarnya yang bisa didefinisikan dengan persepsi objective yang sama bagi umat semua agama. Mampu atau tidak mampu seorang ilmuwan melakukan persepsi yang objective menjadi tingkat reliability penilaian seorang ilmuwan, karena objectivitasnya bisa di-check dan re-check objectivitasnya oleh ilmuwan lain dan juga dengan pembuktian peralatan teknologi. Jadi memang, tidak ada persepsi yang sempurna, dan penciptaan alat2 bantu teknologi justru bertujuan meningkatkan objectivitas atau penyempurnaan persepsi tadi dari segala subjectivitas dan bias. Ny. Muslim binti Muskitawati.
