Betul, Neoliberalisme gagal, komunisme gagal, Syariah Islam udah lama gagal, Sosialisme juga gagal, lalu apa yang benar.
Kalo semuanya sudah gagal, lalu apa maunya??? Sebenarnya sebutan ataupun istilah diatas itu hanyalah label aja karena sumber kegagalan cuma terletak bagaimana caranya memperbaikinya. Syariah Islam contohnya disini adalah dogma yang gagal karena tidak boleh memperbaikinya, tidak boleh diperbaiki dan tidak mau memperbaiki kesalahan maupun menemukan kesalahan bahkan menolak mengakui kesalahan meskipun jelas2 salah. Jadi boleh semua label2 diatas dianggap gagal, tapi dipastikan Amerika itu berhasil bukan berhasil mempropagandakan label2nya tapi berhasil memperbaiki hal2 yang menjadi penyebab kegagalan2 yang dilakukan oleh label2 diatas. KEBERHASILAN hanya bisa dicapai dengan memperbaiki kegagalan bukan mengulangi, menyangkal dan mempertahankan hal2 yang sudah jelas2 gagal. Segala syariah2 yang tidak bisa diperbaiki atau tidak boleh diperbaiki akan lebih baik dicampakan jangan digunakan lagi karena banyak yang lebih baru dan lebih baik yang bisa berhasil menggantikannya. Ny. Muslim binti Muskitawati. --- In [email protected], KP-PRP <prppu...@...> wrote: > > > > > > > > > > > > > > PERNYATAAN > SIKAP > > PERHIMPUNAN > RAKYAT PEKERJA > > Nomor: > 228/PS/KP-PRP/e/IV/10 > > > > > > > Neoliberalisme > telah gagal mensejahterakan rakyat! > > Buruh > Berkuasa, Rakyat Sejahtera! > > > > > > Salam > rakyat pekerja, > > Sudah > hampir 12 tahun transisi demokrasi, dari Orde Baru ke Orde Reformasi, > telah berjalan. Tumbangnya diktator Soeharto yang berkuasa selama 32 > tahun, tadinya diharapkan dapat mensejahterakan kehidupan rakyat > Indonesia. Namun kenyataannya, Orde Reformasi yang saat ini berjalan > tak ubahnya seperti masa kekuasaan Orde Baru yang memberangus > kehidupan demokrasi rakyat. Kesejahteraan pun semakin jauh dari > jangkauan rakyat, karena rezim yang berkuasa menerapkan kebijakan > neoliberalisme. > Ketertundukan > pemerintah Indonesia terhadap neoliberalisme ditunjukkan dengan > kebijakan-kebijakannya yang semakin menyengsarakan rakyat. Krisis > ekonomi yang melanda Indonesia pada akhir tahun 2009, dan belum usai > hingga saat ini, kenyataannya menelurkan solusi yang tidak pernah > dapat dirasakan oleh rakyat Indonesia. Lihat saja hasil rekomendasi > National Summit yang > dilakukan oleh rezim ini pada bulan Oktober 2009, kenyataannya > hanyalah menguntungkan para pemilik modal. Percepatan pembangunan > infrastruktur yang dihasilkan dari pertemuan para penguasa negeri ini > hanya akan menyengsarakan rakyat. Konsekuensi dari percepatan > pembangunan infrastruktur tersebut hanya akan menggusur lahan-lahan > rakyat karena kebutuhan lahan bagi pembangunan infrastruktur. > > Kerusuhan > Koja, Tanjung Priok yang terjadi baru-baru ini menjelaskan, bahwa > penggusuran yang dilakukan oleh rezim neoliberal hanya untuk > kepentingan para pemilik modal. Dampak dari kerusuhan tersebut adalah > jatuhnya korban jiwa akibat berseterunya sesama rakyat pekerja (warga > versus Satpol PP). > > > Belum > lagi ketika kita melihat kebijakan-kebijakan yang diterapkan di > perburuhan. Sistem kerja kontrak dan outsourcing menjadi salah > satu andalan bagi para pemilik modal untuk mengeruk keuntungan > sebesar-besarnya. Kebijakan sistem kerja kontrak dan outsourcing > yang dimunculkan oleh pemerintah tentunya menjelaskan bahwa rezim ini > merupakan rezim neoliberal, yang tidak peduli terhadap nasib > rakyatnya. Belum ditambah dengan penerapan upah murah bagi > buruh-buruh di pabrik sementara rezim neoliberal memberikan > kenyamanan bagi para pemilik modal. > > Untuk > kesejahteraan rakyat pun dapat dilihat bahwa rezim neoliberal > berupaya menunda-nunda atau bisa dikatakan berupaya untuk tidak > memberikan kepada rakyat Indonesia. Lihat saja berlarut-larutnya > proses pengesahan RUU Badan Pelaksana Jaminan Sosial (BPJS). Sudah > seharusnya lah yang namanya sistem jaminan sosial tidak dianggap > sebagai urusan usaha bisnis atau upaya mengeruk keuntungan. > Dibentuknya sebuah sistem jaminan sosial justru menjadi jawaban atas > kegagalan usaha bisnis mewujudkan keadilan sosial sekaligus kepastian > perlindungan yang berkelanjutan bagi seluruh rakyat Indonesia. Namun > berbeda di negeri ini, sistem jaminan sosial yang seharusnya > diberikan untuk mensejahterakan rakyat, kenyataannya diupayakan > sebagai ladang bisnis. > > Inilah > kegagalan neoliberalisme yang menerapkan segalanya berdasarkan > keuntungan semata. Tidak ada dalam logika neoliberalisme untuk > mensejahterakan rakyat dan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh > rakyat Indonesia. > > > Maka > dari itu, kami dari Perhimpunan Rakyat Pekerja menyatakan sikap: > Neoliberalisme > telah gagal untuk mensejahterakan rakyat Indonesia, dan hanya dengan > SOSIALISME lah maka rakyat akan sejahtera. > > Bangun > kekuatan politik alternatif dari seluruh elemen gerakan rakyat untuk > melawan kekuasaan neoliberal di Indonesia. > > > > > > > > > > > > > > Jakarta, > 22 April 2010 > Komite > Pusat > Perhimpunan > Rakyat Pekerja > (KP-PRP) > > > > > Ketua > Nasional > > > Sekretaris > Jenderal > > > > > > > > ttd. > (Anwar > Ma'ruf) > > > > > > ttd. > (Rendro > Prayogo) > > > > > > > > > > filtered {margin:0.79in;}P {margin-bottom:0.08in;}-->___*****___Sosialisme > Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja! > Sosialisme Solusi Bagi Krisis Kapitalisme Global! > Bersatu Bangun PartaiĀ Kelas Pekerja! > > Komite Pusat > Perhimpunan Rakyat Pekerja > (KP PRP) > JL Cikoko Barat IV No. 13 RT 04/RW 05, Pancoran, Jakarta Selatan 12770 > Phone/Fax: (021) 798-2566 > Email: komite.pu...@... / prppu...@... > Website: www.prp-indonesia.org >
