Salam,
Di Indonesia lagu Internasionale biasanya disulul dengan lagu DARAH RAKYAT.
Wasalam,

Wal Suparmo

--- Pada Sen, 26/4/10, Umar Said <[email protected]> menulis:

Dari: Umar Said <[email protected]>
Judul: -:: Milist NB::- Bangunlah kaum yang terhina dan  lapar
Kepada: [email protected]
Tanggal: Senin, 26 April, 2010, 7:04 AM







 



  


    
      
      
      



Tulisan ini juga disajikan dalam 
website http://umarsaid. free.fr yang 
sampai sekarang  
sudah dikunjungi lebih dari 601 
660 kali
  
Bangunlah kaum yang terhina 
 
bangunlah kaum yang 
lapar 
  
Menjelang datangnya Hari Buruh 
Sedunia tanggal 1 Mei yang akan datang, yang akan dirayakan di banyak penjuru 
dunia sebagai salah satu peringatan kemenangan perjuangan kaum buruh/pekerja 
melawan penindasan, pemerasan atau penghisapan kaum kapitalis reaksioner, maka 
di bawah berikut ini disajikan teks atau lirik lagu « Internasionale » 
dalam bahasa Indonesia.
  
Bangunlah kaum jang 
terhina, 
Bangunlah kaum jang 
lapar.
Kehendak jang mulja dalam dunia
senantiasa tambah 
besar.
Lenjapkan adat dan faham tua
kita Rakjat sedar-sedar.
Dunia 
sudah berganti rupa
untuk kemenangan kita.
Perdjuangan 
penghabisan,
kumpullah berlawan.
Dan Internasionale
pastilah di 
dunia.

Kitalah kaum pekerja s'dunia,
Tent'ra kerja nan 
perkasa.
Semuanya mesti milik kita,
Tak biarkan satupun penghisap!
Kala 
petir dahsyat menyambar
Di atas si angkara murka,
Tibalah saat bagi 
kita
surya bersinar cemerlang!
Perdjuangan penghabisan,
kumpullah 
berlawan.
Dan Internasionale
pastilah di dunia
  
  
Dikumandangkan oleh para perintis 
kemerdekaan
  
Lagu yang dijadikan oleh berbagai 
gerakan buruh dan golongan kiri di dunia sebagai lambang perjuangan ini juga 
sudah dikenal d Indonesia sejak jaman pemerintahan kolonial Belanda, dan 
dinyanyikan oleh gerakan–gerakan nasionalis  perintis kemerdekaan, serikat 
buruh dan 
anggota serta simpatisan PKI, baik secara terang-terangan maupun secara 
sembunyi-sembunyi.
  
Namun, seperti yang dialami atau 
diketahui oleh banyak orang di Indonesia, lagu « Internasionale » ini 
telah tidak bisa disuarakan dengan terbuka atau terang-terangan dalam jangka 
yang lama sekali, karena dilarang oleh rejim militer Orde Baru sebagai barang 
taboo dan dianggap berbahaya karena « berbau komunis ». Karena itu, 
lagu « Internasionale » ini kurang dikenal di Indonesia, tidak seperti 
di jaman pemerintahan Bung Karno ketika nyanyian ini sering terdengar 
dimana-mana.
  
Sedangkan, ketika 
« Internasionale » ini dilarang di Indonesia oleh rejim militer 
Suharto pada waktu itu, di banyak negeri di seluruh dunia lagu ini disuarakan 
dengan lantang oleh berbagai rakyat dalam macam-macam bahasa, yang jumlahnya 
melebihi 300 bahasa dan dialek, dan diterjemahkan dengan sedikit 
perobahan-perobahan dari teks aslinya. Di seluruh dunia, hanya di Indonesia di 
bawah Suhartolah lagu Internasionale dilarang atau ditabookan secara 
terang-terangan dan menjadi sikap politik yang resmi dari rejim Orde Baru.
 
  
Diciptakan semasa Komune  Paris
  
Padahal, sejak lagu ini 
diciptakan pada tanggal 30 Juni tahun 1871 oleh seorang penyair dan tukang kayu 
di Perancis, Eugene Pottier, sudah menjadi sangat terkenal secara internasional 
di kalangan gerakan buruh dan revolusioner. Eugene Pottier adalah anggota 
Komune 
Paris yang terkemuka, yang merupakan pemerintahan klas buruh yang pertama kali 
di dunia, yang berkuasa selama  72 
hari di Prancis   
  
Pemerintahan klas buruh Komune 
Paris dikalahkan  oleh kaum borjuis 
reaksioner, dan ribuan pendukung Komune dibunuh dan sekitar  50 000 orang 
diadili. Eugene Pottier 
sendiri dijatuhi hukuman mati in absensia, sehingga terpaksa melarikan diri 
untuk sementara ke Amerika Serikat, dan kemudian kembali lagi ke Prancis. Syair 
gubahannya, yang mengumandangkan semangat pembrontakannya melawan  penindasan, 
penghisapan dan 
kemiskinan  oleh klas borjuasi, 
kemudian diisi sebagai musik oleh Pierre Degeyter dalam tahun 1888.
  
Sejak itu, lagu Internasionale 
yang teksnya membangkitkan semangat perjuangan kaum buruh dan gerakan 
revolusioner atau gerakan kiri di banyak negeri di dunia, menjadi lagu yang 
disuarakan oleh berbagai golongan yang tergabung dalam macam-macam gerakan 
komunis, sosialis demokrat,  
trotskis, anarchis, atau golongan progresif lainnya. 
  
  
Disuarakan oleh gerakan 
revolusioner di dunia 
  
Sepanjang  sejarah perjuangan berbagai rakyat 
di  macam-macam negara di dunia 
dalam melawan fasisme dan kaum kapitalis dan klas borjuis reaksioner,  lagu 
Internasional merupakan sumber 
semangat yang besar dan  penting 
bagi banyak orang. Lagu ini dinyanyikan dalam kalangan Yahudi di ghetto-ghetto 
Warsawa ketika melawan fasisme Jerman-Hitler. Juga oleh pasukan-pasukan 
pembrontakan Spanyol melawan kekuasaan  
Jenderal Franco, atau di berbagai gerakan revolusioner menentang para 
diktator reaksioner di Amerika Latin.
  
Jadi, selama lebih dari 100 tahun 
lagu Internasionale sudah mempunyai daya yang besar untuk membangkitkan 
keberanian dan mendorong tekad bagi mereka yang mau mengadakan perlawanan 
terhadap segala macam penindasan,  
penghisapan dan ketidakadilan di berbagai penjuru dunia.
  
Pada dewasa ini, lagu 
Internasionale masih terus sering terdengar dalam pertemuan-pertemuan  penting 
dalam gerakan menentang 
neo-liberalisme dan globalisasi, yang dilakukan oleh bermacam-macam gerakan 
yang 
luas, dan tidak terbatas hanya oleh kalangan kiri, progresif, komunis, atau 
sosialis saja. Ini dapat disaksikan dalam kegiatan-kegiatan di kalangan Third 
World Forum, World Forum for Alternatives , di pertemuan-pertemuan di Porto 
Allegre (Brasilia), di Caracas (Venezuela), di Bogota (Bolivia), di Afrika 
Selatan, Mali, Kenya, atau di Prancis, Jerman, Italia, Spanyol dan 
negeri-negeri 
Skandinavia.
  
Mengingat itu semua, maka kiranya 
untuk selanjutnya di Indonesia pun lagu Internasional juga perlu dipakai 
sebagai 
pembangkit semangat perjuangan gerakan buruh, dan mendorong persatuan serta 
menggalang setiakawan dalam melawan segala macam ketidak-adilan dan pemerasan 
oleh kalangan kapitalis reaksioner nasional maupun internasional, yang 
bersekongkol dengan  para penguasa 
dalam pemerintahan SBY.
  
Tidak perlu takut-takut lagi menyanyikan 
Internasionale 
  
Di kalangan gerakan buruh 
Indonesia, dan juga di kalangan kaum kiri atau golongan progresif dalam 
masyarakat, sudah tidak perlu takut-takut lagi untuk mengumandangkan lagu 
Internasioale  dalam 
kegiatan-kegiatan penting. Sekarang ini, pemerintahan SBY, atau juga 
pemerintahan- pemerintahan lainnya sudah tidak bisa melarang atau mencegah lagi 
diperdengarkannya  lagu 
Internasionale. Sebab, tindakan sebodoh itu hanya akan membikin  lebih buruk 
lagi muka pemerintahan SBY, 
yang selama ini sudah terlalu buruk oleh karena berbagai persoalan besar dan 
kerusakan atau kebejatan yang meluas. Selain itu, pasti akan mendapat 
perlawanan 
dari masyarakat luas dan sebagian terbesar rakyat tidak mematuhi larangan 
 semacam itu.
  
Sebab, sebagai contohnya, 
walaupun  larangan terhadap 
beredarnya di negeri kita marxisme resminya masih belum dicabut, namun dalam 
prakteknya sudah banyak orang atau penerbit yang berani mengedarkan buku-buku 
yang  berisi ajaran-ajaran marxisme 
(atau berbau-bau komunis/PKI)
. 
Marxisme lewat Google di 
Internet
  
Lagi pula, dengan adanya 
Internet, maka larangan terhadap diedarkannya marxisme di Indonesia menjadi 
soal 
yang bisa dianggap kentut saja oleh banyak orang. Sekarang ini, melalui 
Internet, setiap orang yang berminat terhadap marxisme, komunisme, atau 
sosialisme, dapat memperoleh bacaan yang beratus-ratus ribu halaman setiap 
waktu.dan secara bebas, dengan membuka Google.
  
Contohnya : dalam website http://umarsaid. free.fr tersedia di halaman 
utama (index) rubrik yang berjudul Marxisme. Dalam rubrik ini dapat dibuka, 
setiap hari atau setiap saat,  
berbagai macam bahan bacaan tentang sejarah marxisme di Indonesia, Tan 
Malaka, Leon Trotsky, Lenin, dan seabrek-abrek bahan lainnya tentang 
marxisme).
  
Apa yang dikatakan Bung Karno 
  
Dengan demikian, kiranya makin 
jelaslah kebenaran apa yang dikatakan Bung Karno dalam tahun 1966 (setahun 
sesudah peristiwa G30S) bahwa marxisme tidak bisa dilarang  dan juga ketika ia 
mengatakan sebagai 
berikut : « Apa lagu Internasionale itu hanya  dinyanyikan oleh komunis tok ? 
Seluruh buruh ! Komunis atau niet communist, right wing atau left 
wing, semuanya menyanyikan lagu Internasionale. Janganlah orang tidak tahu 
lantas berkata, siapa melagukan Internasionale, ee,  PKI ! God dorie (bahasa 
Belanda,kira- kira artinya :  
Astaga atau Masya Allah) Lagu Internasionale dinyanyikan di London, 
di Nederland, di Paris, di Brussel, di Bonn, di Moskow, di Peking, di Tokio. 
Pendek, dimana-mana ada kaum buruh mengadakan serikat, menyanyikan lagu 
Internasionale » (dikutip dari buku  
« Revolusi belum selesai ,  jilid II, halaman 313).
  
Dewasa ini, bagi kita di 
Indonesia, mengumandangkan lagu Internasionale merupakan penghormatan kepada 
pengorbanan para Digulis yang banyak meninggal di pembuangan Tanah Merah dan 
para perintis kemerdekaan lainnya. Menyanyikan lagu Internasionale bisa juga 
berarti menunjukkan sikap marah dan kebencian kepada rejim militer Suharto 
beserta para pendukung setianya. Di samping itu, mengumandangkan lagu 
Internasionale juga berarti ikut 
melestarikan jiwa perjuangan revolusioner Bung Karno.
  
Paris, 26 April 2010 
  
A. Umar Said 
                                                                                
                                     
  
  
  
  
  
  
  
  
       
  
  
  
  
  
  



  
  
  


    
     

    
    


 



  





Kirim email ke