Wasalam,
Wal Suparmo

--- Pada Sab, 1/5/10, Hikayat <[email protected]> menulis:


Dari: Hikayat <[email protected]>
Judul: Re: Bls: Bls: [Spiritual-Indonesia] Detik: Ratusan Orang Rusak Bangunan 
dan Baka
Kepada: [email protected]
Tanggal: Sabtu, 1 Mei, 2010, 5:57 AM


  



"Saya Islam tapi saya mengutuk perilaku kelompok Islam picik "
Selalu dipersoalkan Islam Picik, Islam Moderat, Islam Abangan dan 
macam-macamlah. Kalau mau jelas tentang Islam harus kembali ke yang asli, yang 
orisinil, tidak lain apa yang dilakukan dan dicontohkan Muhammad. Muhammad 
merampok orang sebangsanya untuk nyambung hidup di Madinah, itulah Islam yang 
asli, Muhammad menggulingkan pemerintah suku Quraisy lalu merampas Kabah untuk 
dijadikan tempat suci Islam, itu Islam yang asli, Muhammad punya 11 istri yang 
semuanya disetubuhi secara bergiliran setiap hari, itu Islam yang asli. Ada 
orang merusak bangunan mulik orang lain di Indonesia di jaman itu, jelas 
mengikuti Islam yang asli dan agar menyadarkan masyarakat bahwa itulah Islam 
yang asli, mereka yang menggunakan Islam tiruan atau turunan yang sudah tidak 
asli sebaiknya memang dibuang saja.

"seharusnya belajar dari pendahulu, yang jelek dibuang yang bagus diteruskan.. 
. "

Betul Bung Karno tahun 1940 sudah memperlihatkan sebagain wajah Islam yang asli 
yang diterapkan di Indonesia waktu itu, walaupun tidak terang-terangan 
mengungkap Islam yang asli, Bung Karno sudah menyarankan untuk membuang ajaran 
yang jelek. Saya kutipkan tulisan Bung Karno untuk Anda.

Islam Sontoloyo, Baca: Islam Soontooloojoo

Di dalam surat kabar "Pemandangan" 8 April yang lalu, saya membaca berita yang 
ganjil : Seorang guru agama dijebloskan ke dalam penjara karena ia memperkosa 
kehormatan salah seorang muridnya yang masih gadis kecil. 

Bahwa orang dijebloskan ke dalam penjara kalau ia memperkosa gadis, itu 
tidaklah ganjil. Dan tidak terlalu ganjil pula kalau seorang guru memperkosa 
seorang muridnya. Bukan karena itu perbuatan perbuatan tidak bersifat 
kebinatangan, jauh dari itu, tetapi oleh karena mamang kadang-kadang terjadi 
kebinatangan yang semacam itu. Yang saya katakan ganjil ialah cara si guru itu 
"menghalalkan" ia punya perbuatan. Coba tuan baca yang berikut ini, yang saya 
ambil dari "Pemandangan" .

Keterangan lain-lain mengenai akalnya guru itu mempengaruhi murid-muridnya; 
kepada tiap-tiap yang menjadi murid diobroli bahwa ia pernah bicara kepada Nabi 
Besar Muhammad s.a.w., lalu masing-masing diajarkan untuk mendekati Allah 
tiap-tiap malam Jumat berzikir sejak magrib hingga subuh, dengan permulaan 
berseru ramai-ramai "Saya muridnya Kyai Anu", dengan seruan itu katanya supaya 
terkenal dan Allah mengampuni dosanya.

Tiap-tiap murid perempuan, meskipun masih kanak-kanak musti ditutup mukanya, 
pada waktu pertemuan malam Jumat, kelompok perempuan dipisahkan dalam rumah, 
untuk murid laki-laki ditempatkan di dalam langgar (Mushola). Kyai itu 
menerangkan dalam ajarannya: "Perempuan itu boleh disedekahkan" . Artinya 
demikian: Seperti ditegaskan di atas, murdi-murid perempuan itu meskipun masih 
kanak-kanak, harus ditutup mukanya, karena haram dilihat oleh laki lain yang 
bukan suaminya katanya.

Tetapi, dari sebab perempuan-perempuan itu perlu diajar olehnya, dan harus 
bertemu dan bercakap-cakap, maka murid-murid perempuan itu "dimahramkan 
dahulu", kata guru itu. Artinya: Perempuan-perempuan itu harus dinikahi 
olehnya. Yang menjadi Kyainya ia juga, yang menjadi pengantin ia juga.

Caranya demikian:

Kalau seorang murid laki-laki yang mempunyai istri yang jadi muridnya juga, 
istrinya itu dihadapan dia dijatuhkan talak tiga. Seketika itu juga perempuan 
itu dinikahkan dengan laki-laki lain, kawan murid itu, berturut-turut talak dan 
nikah sehingga tiga laki-laki dalam seketika dinikahkan dan diceraikan lagi, 
keempat kalinya dinikah olehnya sendiri.

Kecuali kalau janda atau gadis, tidak dinikahkan dengan lain orang, tetapi 
langsung dinikahkan dengan Dajal sendiri. Dengan cara demikian tiap-tiap istri 
yang jadi muridnya berarti istri dari Dajal tersebut dalam pemendangan kelompok 
ini.

Dengan cara demikian berlaku dengan gadis yang jadi perkara ini, oleh karena 
gadis itu sudah dimahramkan oleh guru itu....
Demikianlah, maka pada suatu hari gadis itu dipikat oleh guru itu masuk ke 
dalam satu rumah, dan di situlah ia dirusak kehormatannya. ....Halal, sah, oleh 
karena sudah istrinya! 

Sungguh, jika berita di surat kabar "Pemandangan" itu benar, maka 
benar-benarlah disini kita melihat Islam Sontoloyo! Sesuatu perbuatan dosa 
dihalalkan menurut kitab fiqh. Tak ubahnya dengan tukang merentekan uang yang 
menghalalkan ribanya dengan pura-pura berjual-beli sesuatu barang dengan orang 
yang mau meminjamkan uang. Tahukan tuan caranya tukang riba itu menghalalkan ia 
punya pekerjaan riba? Tuan mau pinjam uang daripadanya Rp. 100,- dan sanggup 
membayar pada ahir bulan Rp. 120,- Lalu ia mengambil sehelai kain, atau sebuah 
kursi, atau sebuah cincin, atau sebuah batu dan dijual barang itu dengan cara 
kredit kepada tuan dengan harga Rp. 120,- Tidak usah bayar tunai, nanti ahir 
bulan saja bayar Rp. 120,- Kain itu atau kursi atau cincin atau batu sekarang 
sudah menjadi milik tuan karena sudah tuan beli walaupun dengan cara kredit. 
Lalu barang itu di beli kembali dari tuan dengan harga tunai Rp. 100,- Sepakat? 
Nah inilah tuan terima uang pembelian tunai
 yang Rp. 100,- itu. Asal tuan jangan lupa, ahir bulan tuan bayar tuan punya 
hutang kredit sebesar Rp. 120,-
Simple comme bonjour! – kata orang Perancis. Artinya: "tidak ada yang lebih 
mudah dari ini" Bukan! Ini bukan riba, ini bukan merentenkan uang, ini dagang, 
jual-beli, - halal, sah, tidak dilarang oleh agama!
Benar, ini sah, ini halal, tapi halalnya Islam Sontoloyo! Halalnya orang yang 
mau main kikebu dengan Tuhan, atau orang yang mau main "kucing-kucingan" dengan 
Tuhan. Dan kalau mau memakai perkataan yang lebih jitu, halalnya orang yang mau 
mengabui mata Tuhan!

Seolah-olah Tuhan diabui matanya! Seolah-olah agama sudah dipenuhi atau sudah 
diturut, kalau dilahirnya syariat saja sudah dikerjakan! Tetapi tidakkah yang 
demikian itu sering kita jumpakan! (Di Bawah Bendera Revolusi Jilid Pertama 
Halaman 493-494)

--- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, "wawan" <selarasmilis@ ...> wrote:
>
> 
> saya orang islam, mendukung gerakan islamisasi indonesia...
> karena ini satu-satunya agama kebenaran...
> 
> anda kalau mau jadi islam harus total...ajaran islam yang benar harus 
> dijalankan secara total...nggak boleh setengah hati seperti anda ini...
> 
> --- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, "Handari Yektiwi" <masmirah331@ 
> > wrote:
> >
> > Saya Islam tapi saya mengutuk perilaku kelompok Islam picik yang mestinya 
> > dibuang jauh2 ke Afganistan atau Palestina untuk memuaskan nafsu 
> > membunuhnya. Jelas ini Negara Kesatuan Republik Indonesia yang Bhinneka 
> > Tunggal Ika. Pemimpin kita yang kurang tegas! Dikira gampang jadi presiden 
> > di NKRI...seharusnya belajar dari pendahulu, yang jelek dibuang yang bagus 
> > diteruskan.. . Kenapa dulu bisa dikendalikan, tetapi sekarang tidak? Dimana 
> > letak kekeliruannya? Mari kita menyuarakan ke Bhinneka an yang melekat pada 
> > setiap warga masyarakat di NKRI. Salam.
> > Powered by Telkomsel BlackBerry®
> >
>








Kirim email ke