Omar Dhani Ikut Sukarno Menyaksikan Eksekusi Jendral2
                                           
Omar Dhani berada diHalim, tidak mampu membuat hubungan telekomunikasi dengan 
Bung Karno, juga tidak mengetahui dimana beradanya Bung Karno, karena itu dia 
mengambil keputusan sendiri dengan mengeluarkan "...pembersihan dalam tubuh 
Angkatan Darat dari anasir-anasir yang didalangi subversi asing dan 
membahayakan Revolusi Indonesia." Menurut Omar Dhani, seharusnya perintah ini 
dibicarakan dulu dengan Bung Karno tapi karena Bung Karno tidak bisa dihubungi, 
maka perintah harian ini didiskusikan dengan Leo Wattimena.

Saat Omar Dhani mau mengeluarkan perintah harian-nya, Bung Karno sudah hilang 
karena berada bersama penculiknya yang semuanya berwseragam Cakrabirawa 
sehingga supir Bung Karno juga tidak menyadari kalo semua itu adalah 
Cakrabirawa palsu.

Kemudian, Suparto supir Bung Karno menelepon ke Omar Dhani yang waktu itu 
berada di Halim, agar menyambut kedatangan Bung Karno di halim dan pada saat 
ini semua Cakrabirawa yang mengawal Bung Karno adalah palsu semuanya.  Kemudian 
di Halim, Omar Dhani sekalian diciduk dan dibawa serta untuk menyaksikan 
upacara eksekusi para jendral yang masih hidup yang diculiknya.

Setelah upacara pembantaian selesai, kembali Suparto menelepon Suharto untuk 
menjemput Sukarno dan Omar Dhani, dan serah terima pengawalan Bung Karno 
diserahkan kepada pasukan Suharto yang semuanya adalah baret merah RPKAD.  
Pasukan Cakrabirawa palsu selanjutnya kembali kepangkalannya di Halim terbang 
menghilang dengan menggunakan beberapa buah helicopter yang bersimbol 
Cakrabirawa.

Sampai detik inipun Suparto supir Bung Karno tidak tahu menahu kemana Bung 
Karno dan Omar Dhani dibawa, karena supir ini cuma diperintahkan komandan 
Cakrabirawa palsu ini untuk menunggunya diluar.

> Wal Suparmo <wal.supa...@...> wrote:
> Adalah hak saya untuk tidak begitu
> saja, membantah tetapi juga tidak
> mendukung tulisan Anda. Karena
> pertimbangan tertentu, bahwa Anda
> juga tidak begitu  mengetahui atau
> kebenaran yang Anda tulis juga
> semuanya benar. Dan itupun hak Anda.
> Saya memang sengaja membuka
> lahan baru supaya para pembaca bisa
> menararik kesimpulannya sendiri tanpa
> memenuhi selera Anda untuk mencari
> dukungan.

Mau membantah itu boleh saja tapi yang dibantah itu khan harus topiknya, lalu 
kalo ada pembaca yang membaca topiknya tertarik akan jawabannya, tentunya jadi 
kecewa karena isinya bukan bantahan dan bukan dukungan melainkan topik lain 
yang tidak ada hubungannya.

Ini bukan masalah selera anda, melainkan aturan dan teknik menulis untuk 
memudahkan pembaca.

G30S tetap masih dianggap mysteri, dan Omar Dhani adalah orang yang paling 
dekat dengan kejadian penculikan tsb.  Bahkan Omar Dhani mengakui bahwa operasi 
intelejen gerakan ini paling rapih dan dia mengakui tidak ada satupun jendral 
di Indonesia waktu itu yang mampu melakukan gerakan seperti ini.  Atas dasar 
inilah, saya membuat analisis berdasarkan fakta2 dilapangan.

Silahkan saja anda baca sendiri wawancara Omar Dhani dengan Wartawan Kompas 
dibawah ini:

http://harryyuliarto.multiply.com/journal/item/18/Wawancara_Omar_Dhani_dengan_Kompas
Kesangsian Omar Dani sampai sekarang ikut menjadikan peristiwa G30S 
sebuah misteri yang masih tetap gelap. Atau dalam kata-kata Kolonel 
Wisnoe Djajengminardo, ketika peristiwa G30S menjabat Komandan 
Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, "Misterinya mirip permainan 
jigzaw. Belum semua potongan kertasnya kita temukan, sehingga gambar 
keseluruhan juga masih tetap belum jelas." 

Dan dalam Bukunya "Pergunakanlah Hati, Tangan dan Pikiranku: Pledoi Omar Dani" 
anda bisa tetap membaca konsistensi pendirian Omar Dhani mengenai G30S.
http://openpdf.com/ebook/pergunakanlah-pdf.html
Pada waktu itu, nggak ada jenderal di Indonesia yang bisa membuat suatu operasi 
intelejen yang begitu canggih seperti G-30-S yang sampai sekarang belum ada 
titik terangnya.



Kirim email ke