Salam,
Benar pak. Dalam keadaan berfikir saja hasilnya seperti ini.Apalagi kalu 
tidak.Sebarkan se-luas2nya!

Wasalam,
Wal Suparmo

--- Pada Sen, 24/5/10, Mujiarto Karuk <[email protected]> menulis:


Dari: Mujiarto Karuk <[email protected]>
Judul: -:: Milist NB::- Berpikirlah Sejak Kita Bangun Tidur
Kepada: [email protected], [email protected]
Cc: [email protected]
Tanggal: Senin, 24 Mei, 2010, 7:23 AM


  









Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

Bissmillahirrohmaan irrohiim(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil 
berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang 
penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau 
menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari 
siksa neraka. [QS. Al-Imran (3) : 191].


Tidak diperlukan kondisi khusus bagi seseorang untuk memulai berpikir. Bahkan 
bagi orang yang baru saja bangun tidur di pagi hari pun terdapat banyak sekali 
hal-hal yang dapat mendorongnya berpikir. Terpampang sebuah hari yang panjang 
dihadapan seseorang yang baru saja bangun dari pembaringannya di pagi hari. 
Sebuah hari dimana rasa capai atau kantuk seakan telah sirna. Ia siap untuk 
memulai harinya. Ketika berpikir akan hal ini, ia teringat sebuah firman Allah: 

"Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk 
istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha." [QS. Al-Furqaan, 
(25) : 47]
Setelah membasuh muka dan mandi, ia merasa benar-benar terjaga dan berada dalam 
kesadarannya secara penuh. Sekarang ia siap untuk berpikir tentang berbagai 
persoalan yang bermanfaat untuknya. Banyak hal lain yang lebih penting untuk 
dipikirkan dari sekedar memikirkan makanan apa yang dipunyainya untuk sarapan 
pagi atau pukul berapa ia harus berangkat dari rumah. 
Dan pertama kali ia harus memikirkan tentang hal yang lebih penting ini. 
Pertama-tama, bagaimana ia mampu bangun di pagi hari adalah sebuah keajaiban 
yang luar biasa. Kendatipun telah kehilangan kesadaran sama sekali sewaktu 
tidur, namun di keesokan harinya ia kembali lagi kepada kesadaran dan 
kepribadiannya. Jantungnya berdetak, ia dapat bernapas, berbicara dan melihat. 
Padahal di saat ia pergi tidur, tidak ada jaminan bahwa semua hal ini akan 
kembali seperti sediakala di pagi harinya. Tidak pula ia mengalami musibah 
apapun malam itu. Misalnya, kealpaan tetangga yang tinggal di sebelah rumah 
dapat menyebabkan kebocoran gas yang dapat meledak dan membangunkannya malam 
itu. Sebuah bencana alam yang dapat merenggut nyawanya dapat saja terjadi di 
daerah tempat tinggalnya. 
Ia mungkin saja mengalami masalah dengan fisiknya. Sebagai contoh, bisa saja ia 
bangun tidur dengan rasa sakit yang luar biasa pada ginjal atau kepalanya. 
Namun tak satupun ini terjadi dan ia bangun tidur dalam keadaan selamat dan 
sehat. Memikirkan yang demikian mendorongnya untuk berterima kasih kepada Allah 
Subhanahu Wa Ta’ala, atas kasih sayang dan penjagaan yang diberikan-Nya. 
Memulai hari yang baru dengan kesehatan yang prima memiliki makna bahwa Allah 
kembali memberikan seseorang sebuah kesempatan yang dapat dipergunakannya untuk 
mendapatkan keberuntungan yang lebih baik di akhirat. Ingat akan semua ini, 
maka sikap yang paling sesuai adalah menghabiskan waktu di hari itu dengan cara 
yang diridhai Allah Subhanahu Wa Ta’ala. 
Sebelum segala sesuatu yang lain, seseorang pertama kali hendaknya merencanakan 
dan sibuk memikirkan hal-hal semacam ini. Titik awal dalam mendapatkan 
keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah dengan memohon kepada Allah 
Subhanahu Wa Ta’ala agar memudahkannya dalam mengatasi masalah ini. 
Doa Nabi Sulaiman adalah tauladan yang baik bagi orang-orang yang beriman: 
"……..Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni'mat Mu yang telah 
Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk 
mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu 
ke dalam golongan hamba-hamba- Mu yang shaleh" [QS. An-Naml, (27) : 19]  
Bagaimana kelemahan manusia mendorong seseorang untuk berpikir? Tubuh manusia 
yang demikian lemah ketika baru saja bangun dari tidur dapat mendorong manusia 
untuk berpikir: setiap pagi ia harus membasuh muka dan menggosok gigi. Sadar 
akan hal ini, ia pun merenungkan tentang kelemahan-kelemahan nya yang lain.  
Keharusannya untuk mandi setiap hari, penampilannya yang akan terlihat 
mengerikan jika tubuhnya tidak ditutupi oleh kulit ari, dan ketidakmampuannya 
menahan rasa kantuk, lapar dan dahaga, semuanya adalah bukti-bukti tentang 
kelemahan dirinya.  
"Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia 
menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia 
menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan 
apa yang dikehendaki- Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa." 
[QS. Ar-Ruum, (30) : 54)  
Bagi orang yang telah berusia lanjut, bayangan dirinya di dalam cermin dapat 
memunculkan beragam pikiran dalam benaknya. Ketika menginjak usia dua dekade 
dari masa hidupnya, tanda-tanda proses penuaan telah terlihat di wajahya. Di 
usia yang ketigapuluhan, lipatan-lipatan kulit mulai kelihatan di bawah kelopak 
mata dan di sekitar mulutnya, kulitnya tidak lagi mulus sebagaimana sebelumnya, 
perubahan bentuk fisik terlihat di sebagian besar tubuhnya. Ketika memasuki 
usia yang semakin senja, rambutnya memutih dan tangannya menjadi rapuh.
  Bagi orang yang berpikir tentang hal ini, usia senja adalah peristiwa yang 
paling nyata yang menunjukkan sifat fana dari kehidupan dunia dan mencegahnya 
dari kecintaan dan kerakusan akan dunia. Orang yang memasuki usia tua memahami 
bahwa detik-detik menuju kematian telah dekat. Jasadnya mengalami proses 
penuaan dan sedang dalam proses meninggalkan dunia ini.  
Tubuhnya sedikit demi sedikit mulai melemah kendatipun ruhnya tidaklah berubah 
menjadi tua. Sebagian besar manusia sangat terpukau oleh ketampanan atau merasa 
rendah dikarenakan keburukan wajah mereka semasa masih muda.
  Pada umumnya, manusia yang dahulunya berwajah tampan ataupun cantik bersikap 
arogan, sebaliknya yang di masa lalu berwajah tidak menarik merasa rendah diri 
dan tidak bahagia. Proses penuaan adalah bukti nyata yang menunjukkan sifat 
sementara dari kecantikan atau keburukan penampilan seseorang. Sehingga dapat 
diterima dan masuk akal jika yang dinilai dan dibalas oleh Allah adalah akhlaq 
baik beserta komitmen yang diperlihatkan seseorang kepada Allah.  
Setiap saat ketika menghadapi segala kelemahannya manusia berpikir bahwa 
satu-satunya Zat Yang Maha Sempurna dan Maha Besar serta jauh dari segala 
ketidaksempurnaan adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan iapun mengagungkan 
kebesaran Allah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan setiap kelemahan manusia 
dengan sebuah tujuan ataupun makna.  
Termasuk dalam tujuan ini adalah agar manusia tidak terlalu cinta kepada 
kehidupan dunia, dan tidak terpedaya dengan segala yang mereka punyai dalam 
kehidupan dunia. Seseorang yang mampu memahami hal ini dengan berpikir akan 
mendambakan agar Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan dirinya di akhirat kelak 
bebas dari segala kelemahan.  
Segala kelemahan manusia mengingatkan akan satu hal yang menarik untuk 
direnungkan: tanaman mawar yang muncul dan tumbuh dari tanah yang hitam 
ternyata memiliki bau yang demikian harum. Sebaliknya, bau yang sangat tidak 
sedap muncul dari orang yang tidak merawat tubuhnya. Khususnya bagi mereka yang 
sombong dan membanggakan diri, ini adalah sesuatu yang seharusnya mereka 
pikirkan dan ambil pelajaran darinya.  


Diambil Dari "Bagaimana Seorang Muslim Berpikir?" Karya Harun Yahya, Robbani 
Press, Indonesia, 2000  


Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? [QS. Ar-Rahmaan (55) : 
13







Kirim email ke