----- Forwarded Message ----
From: aris dianto <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Thu, June 3, 2010 10:04:07 AM
Subject: Re: -:: Milist NB::- Makna Tawakkal
Ini tulisan seorang teman nih di jejaring sosial, semoga kita semuanya menjadi
orang2 yang berfikir, merdekaaaaaaaaaaa.
Bismillahirrahmaani rrahiim
.
Untuk kesekian kalinya Israel memamerkan arogansinya di depan hidung
dunia internasional. Missi kemanusiaan di bawah bendera Freedom Frotilla di
atas kapal Mavi Marmara menuju pelabuhan Ghaza diserang tentara
Israel. Menurut data yang beredar, 19 relawan dunia meninggal, dan
sekitar 30-an lainnya terluka. Aksi seperti ini bukan sekarang saja.
Sudah menjadi “ritual” Israel, menumpahkan darah manusia secara zhalim,
sambil menari-nari memamerkan tawanya yang busuk.
Seperti biasa pula, publik dunia segera mengutuk aksi Israel, mengecam
keras, melancarkan demo besar-besaran, menggalang dana bantuan
kemanusiaan, merencanakan pertemuan DK PBB, menyiapkan resolusi khusus
–yang pasti akan ditolak Amerika-, dan lain-lain. Israel mempunyai
ritual khusus untuk membunuhi manusia, sementara kita juga mempunyai
“ritual khusus”, yaitu melakukan demo, mengecam, mengutuk, dan
seterusnya.
Disini ada beberapa poin penting yang perlu direnungkan:
[=] Kita tidak usah mengecam, mengutuk, demo, dan sebagainya.
Mengapa? Sebab semua itu terbukti tidak efektif. Berapa ratus kali Ummat ini
sudah mengecam, mengutuk, berdemo, lalu bagaimana hasilnya? Apakah
Israel peduli dengan demo-demo itu?
[=] Andaikan kita mengutuk Israel hari ini, maka bangsa itu sudah
merasa terkutuk sejak jaman Musa As masih ada. Mereka berkali-kali
dikutuk di jaman Musa, mereka dikutuk oleh lisan Dawud dan Isa As,
bahkan Rasulullah Saw menjelaskan arti kata “al maghdhubi ‘alaihim”
(yang dimurkai Allah) dalam Surat Al Fatihah, adalah bangsa Yahudi.
[=] Andaikan kita heran dengan keberanian Yahudi dalam menantang
dunia internasional, maka Al Qur’an sejak lama sudah memberitahu kita,
bahwa Yahudi itu berani menantang Allah. Mereka berani mengatakan
“Yadullahi magh-lulah” (Tangan Allah terbelenggu) . Kalau kepada Allah
saja mereka berani, apalagi kepada manusia biasa? Apalagi kepada orang
Indonesia yang sering terkena sindrom “hangat-hangat tai ayam”? Kita
selama ini “dikencingi” oleh babi-babi Yahudi itu.
[=] Andaikan kita heran melihat Yahudi yang sangat sering melanggar
hukum internasional, resolusi PBB, konvensi Jenewa, dll. maka Al Qur’an
telah menjelaskan bahwa dulu kaum Bani Israil sering melanggar
janji-janjinya kepada Allah. Termasuk ketika mereka berjanji, lalu Allah angkat
bukit Tursina di atas kepala mereka. Tetap saja semua janji itu
dikhianati. Tidak ada janji yang tidak dikhianati Yahudi, selain janji
mereka untuk memuaskan hawa nafsu mereka sendiri.
[=] Anda mungkin heran dengan kebrutalan Yahudi dan kesadisan mereka terhadap
kaum Muslimin Palestina. Tetapi Al Qur’an memberitahu kita,
bahwa kaum Yahudi ini sering membunuhi nabi-nabi yang diutus di tengah
mereka. Di jaman Musa As saja, mereka hampir membunuh Nabi Harun As,
karena beliau melarang mereka menyembah sapi betina. Jadi apa yang aneh
dari kekejaman, kebrutalan, kesadisan Yahudi? Mungkin kita saja yang
sering melupakan pesan Al Qur’an.
[=] Yahudi melakukan aksi-aksi kekejaman bukan tanpa maksud. Apakah
mereka sebodoh itu, melakukan aksi-aksi kekerasan tanpa tujuan? Tujuan
Yahudi jelas. Mereka ingin memperlihatkan dirinya sebagai bangsa yang
kuat, hebat, pemberani, perkasa, militan, sangat tegas, keras, pembunuh
yang efektif, prajurit-prajurit yang gagah, alat-alat senjata lengkap,
dan seterusnya. Dalam militer hal ini kerap disebut dengan ungkapan,
show of force. Atau untuk menimbulkan efek detteren. Dengan segala
aksi-aksi itu Yahudi ingin mengirim pesan kepada dunia, bahwa diri
mereka besar, kuat, dan menakutkan. (Dalam Surat Al Anfaal, kita
diperintahkan untuk membuat persiapan, sehingga dengan persiapan itu
kita bisa menakut-nakuti musuh Allah. Hal yang sama dilakukan Yahudi
terhadap masyarakat dunia, khususnya terhadap Ummat Islam. Hanya kita
saja yang tidak menyadarinya) .
Coba perhatikan pernyataan menarik yang disampaikan oleh PM Palestina,
Al Ustadz Ismail Haniyah, ketika beliau mengomentari serangan
monyet-monyet Yahudi ke kapal Mavi Marmara. Beliau menegaskan, bahwa
bangsa Palestina tidak merasa aneh melihat kelakuan Yahudi itu.
Kebrutalan seperti itu sudah sering mereka lakukan dan diulang-ulang
terus. Jika kemudian kawanan monyet-monyet liar itu menyerang missi
kemanusiaan, ia tidak aneh. (Apalagi dalam ideologi Yahudi, yang
dianggap manusia adalah mereka sendiri. Selain Yahudi, dianggap
binatang. Di mata Yahudi, missi Freedom Frotilla bukan dianggap missi
kemanusiaan, tetapi “misi kebinatangan”).
Saya mencatat ada 3 masalah utama kaum Muslimin dewasa ini. PERTAMA,
mereka tidak menegakkan Dua Kalimat Syhadat secara benar dan konsisten.
Ini problem asasinya. KEDUA, mereka berpecah-belah dalam ikatan
nasionalisme, kesukuan, madzhab fiqih, fikrah diniyyah, manhaj dakwah,
dll. Perpecahan ini merupakan konsekuensi dari masalah pertama. KETIGA,
Ummat Islam tenggelam dalam kehidupan hedonisme yang memuja-muja dunia
dan meremehkan Akhirat.
Meskipun begitu, kita jangan pesimis. Sesulit apapun kondisi, setiap
Muslim harus optimis. Benar memang, semua problema ini berat, rumit, dan
melelahkan; tetapi Allah Maha Besar, Keagungan dan Kemuliaan-Nya
mengatasi semua problema itu.
Sekali lagi, tidak perlu kita mengecam atau mengutuk Israel. Mereka
sudah dikutuk sejak jaman Nabi Musa As. Langkah yang bisa kita tempuh
adalah melawan, mematahkan, memerangi, atau melemahkan kekuatan
anjing-anjing Yahudi itu. Siapa yang sanggup melawan, lawanlah; siapa
yang belum sanggup, bersabarlah. Siapa yang ingin maju duluan, silakan;
siapa yang mau bertahan untuk membina kekuatan, silakan. Siapa yang bisa
memerangi Yahudi dengan tangan, lakukan; siapa yang bisa memerangi
Yahudi dengan uang, lakukan; siapa yang baru sanggup memerangi mereka
dengan doa, juga lakukan. Hadapi Yahudi dengan AMAL NYATA, bukan
RETORIKA.
________________________________