Cahaya Di Dalam Hati

By: agussyafii

Di tengah malam bulan purnama bersinar nampak indah. Seorang laki-laki separuh 
baya sedang duduk termenung di Rumah Amalia. Mendengar lantunan ayat suci 
al-Quran. Ia dibesarkan dikeluarga yang berada dan berlimpah.  Ayah dan ibunya 
selalu mencukupi semua kebutuhannya bahkan cenderung memanjakannya. Bahkan 
untuk belajar mengaji, orang tuanya memanggil guru mengaji secara privat. 

Namun perjalanan hidupnya penuh liku. Ditengah berlimpahnya harta benda justru 
dirinya terperosok kepada kubangan yang teramat dalam. Tumbuh dewasa dengan 
mabuk dan mengkonsumsi pil ekstasi, hampir semua yang terlarang sudah pernah 
dicobanya.

'Saya tahu Mas Agus semua itu adalah perbuatan yang dilarang oleh Allah,' 
tuturnya dengan wajah menunduk.

Perjalanan itu dikenangnya sebagai perjalanan yang pahit dalam hidupnya. Ia 
menyesali apa yang telah dilakukannya karena tidak mampu menahan diri dari 
jebakan hawa nafsu yang tak pernah terpuaskan. Sampai pada titik nadir, pernah 
pada satu malam sedang 'sakauw' sementara tidak ada satu orangpun yang peduli 
terhadap dirinya. Ia berjanji untuk bertaubat bila Allah berkenan memberikan 
kesempatan hidup bagi dirinya.

Dengan penuh linangan air mata, ia bertutur, 'Allah masih sayang ama saya Mas, 
seperti ada cahaya masuk ke dalam hati saya, terasa hangat dan tenteram. 
Mengajak saya untuk menuju kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.  Ketika kumandang 
adzan subuh menggugah saya untuk mengambil air wudlu dan sholat subuh berjamaah 
di masjid.' Wajahnya terlihat sembab, air matanya terus mengalir tiada henti. 
Beberapa kali tangannya mengusap air mata yang jatuh dipipnya.

Disaat itu juga dirinya mampu melepaskan diri dari semua jalan yang keliru. 
Hanya jalan menuju Allah yang menyelamatkan hidupnya.  Selain mampu melepaskan 
diri dari segala bentuk narkoba, cara hidup yang salah semakin mampu mendekat 
diri kepada Sang Khaliq. 'Dan yang paling indah, saya menjadi mampu membuat 
hidup saya bermakna dengan bekerja sehingga saya mampu berbagi untuk anak-anak 
Amalia.' ucapnya. 

Berkali-kali terdengar kata mengucap puji syukur kehadirat Allah atas semua 
karunia yang terlimpahkan pada dirinya. 'Alhamdulillah Mas Agus, semua itu atas 
kuasa Allah yang telah membuka cahaya dihati saya. Terima kasih Ya Allah..' 
Malam itu anak-anak Amalia terdengar riuh sedang membaca surat al-Kaustar. 
Lantunan ayat suci itu membawa kesejukan dihati kami. Sementara hujan 
rintik-rintik membasahi bumi. cahaya sinar rembulan memasuki relung hati. Wajah 
laki-laki itu terlihat cerah dalam syukurnya kehadirat Ilahi Robbi. 

--
'Buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya, adapun yang 
memberi manfaat kepada manusia maka ia tetap di bumi.' (QS : al-Ra'd : 17).

Wassalam,
agussyafii
--- 
Yuk, hadir di Kegiatan 'Amalia Cinta al-Quran (ACQ).' Hari Ahad, Tanggal 20 
Juni 2010 Di Rumah Amalia, Jl. Subagyo IV blok ii, No.23 Komplek Peruri, 
Ciledug. Silahkan kirimkan dukungan dan partisipasi anda di 
http://www.facebook.com/agussyafii3, atau http://agussyafii.blogspot.com/, 
http://www.twitter.com/agussyafii atau sms di 087 8777 12 431




      

Kirim email ke