Rachmadin Ismail - Piala Dunia

Daylife Johannesburg -     Batik menjadi barang ekslusif di Afsel. Gara-gara 
sering dikenakan  oleh mantan Presiden Nelson Mandela dan sejumlah menteri, 
harganya  melambung tinggi.

Batik yang dijual di Afsel memang bukan batik  biasa. Bahannya khusus dan 
dibuat 
oleh desainer-desainer ternama.

Mandela  pertama kali mengenakan batik setelah diberi oleh mantan Presiden  
Soeharto ketika melakukan kunjungan ke Indonesia. Setelah itu,  Madiba--julukan 
bagi Mandela, selalu mengenakan batik, termasuk  orang-orang di kabinetnya.

Sejak dikenakan Mandela, batik  tersebut menjadi barang mahal. Hanya masyarakat 
kelas atas saja yang  tertarik menggunakannya.

Sebagai contoh, di sebuah toko di  kawasan Sandton, Johannesburg, harga satu 
potong batik tangan panjang  bisa mencapai 2.000 rand atau setara dengan Rp 2 
juta.

Kedutaan  Besar Republik Indonesia di Afsel sedang berusaha keras agar publik 
di  
Afsel tahu jika batik yang dikenakan oleh pejuang anti-apartheid  tersebut 
adalah produk Indonesia. 


"Kita akan terus perjuangkan  batik tersebut supaya masyarakat di Afsel 
mengenalnya dan menjadi produk  andalan tanah air di sini," ujar Kedubes RI di 
Afsel, Syahril  Sabaruddin ketika bertemu dengan sejumlah wartawan asal 
Indonesia yang  meliput Piala Dunia. 


Namun untuk menjual batik di Afsel bukanlah  hal mudah. Sebab para pengusaha 
Indonesia masih memiliki citra negatif  terhadap negeri yang kini dipimpin oleh 
Jacob Zuma tersebut.

"Afsel  selalu mendapat citra negatif. Orang Indonesia tahunya kalau Afrika itu 
 
hitam dan kumuh, tapi Anda sudah melihat sendiri kenyataannya  bagaimana. 
Mereka 
sangat maju dalam bidang perekonomian," papar Syahril.

Saat  ini, nilai total perdagangan Indonesia dan Afsel mencapai USD 1,1  
miliar. 
Ekspor yang dihasilkan mencapai USD 700 juta, sementara impor  bernilai USD 400 
juta.

Komoditi utama Indonesia yang dikirim ke  negeri paling selatan di Afrika ini 
di 
antaranya adalah minyak kelapa  sawit, produk garmen, karet, dan otomotif. 
Beberapa produk kreatif dari  para perajin di Tanah Air juga menghiasi 
toko-toko 
.

"Batik  memang masih minim. Tapi semoga lewat Piala Dunia ini dan lewat Mandela 
 
kita bisa meningkatkannya di tahun yang akan datang. Sebelum ada negara  lain 
yang mengklaimnya lagi," tutupnya.


      

Kirim email ke