tak kenal maka tak sayang ..
________________________________ Dari: Wal Suparmo <[email protected]> Kepada: [email protected] Terkirim: Sel, 20 Juli, 2010 21:34:56 Judul: Bls: -:: Milist NB::- Beragama Tak Harus Percaya Salam, Apa sih kebanggaannya mengaku orang Islam? Wasalam, Wal Suparmo --- Pada Sel, 20/7/10, muskitawati <muskitawati@ yahoo.com> menulis: >Dari: muskitawati <muskitawati@ yahoo.com> >Judul: -:: Milist NB::- Beragama Tak Harus Percaya >Kepada: Nongkrong_Bareng2@ yahoogroups. com >Tanggal: Selasa, 20 Juli, 2010, 1:00 AM > > > >Beragama Tak Harus Percaya > >Banyak umat beragama terperosok kepada ajarannya se-olah2 untuk beragama kita >harus percaya Tuhannya yang begini dan begitu. > >Beragama itu intinya adalah bersosialisi dalam tradisi yang unik, sama sekali >tidak ada kewajiban mempercayainya. > >Memang ajaran agama masing2 maunya kita dipaksa percaya, tapi namanya manusia >yang berotak mana bisa dipaksa mempercayai sesuatu yang dia tahu memang enggak >ada ???? > >Apalagi, kepercayaan seseorang itu pun mustahil bisa dibuktikan, darimana anda >tahu bahwa seseorang itu mempercayai sesuatu kalo bukan cuma pengakuannya saja >??? > >Hanya dalam lingkungan agama Islam saja anda bisa menemukan kata2 takabur ini, >mereka suka mengatakan "kalo enggak percaya, jangan ngaku2 Islam dong". Mereka >pikir ngaku Islam itu merupakan copyright mereka sendiri yang berhak >menentukannya. > >> "ndeboost" <rambitesemak@ ...> wrote: >> Katanya ente beragama Islam. >> Gimana sih kok beragama ga percaya >> kepada yang ga ada? >> > >Akibat diracuni kepercayaan, otak anda jadi gobloknya luar biasa. Beragama itu >bukan berarti percaya, tapi berarti berbudaya atau bertradisi. > >Kalo saya hobby nonton Superman jangan diartikan saya percaya adanya Superman, >karena meskipun saya senang sekali dengan filem ini tapi saya enggak percaya >ada >manusia bisa terbang seperti Superman, biarpun bukti2 filemnya jelas ada. > >Lalu apa bedanya, saya beragama Islam juga sama dengan ber-pesta2 diwaktu >lebaran, makan banyak waktu buka puasa, sama sekali jangan dihubungkan bahwa >saya harus percaya adanya Allah. > >Anda tetap beragama Islam meskipun tidak percaya adanya Allah, tidak melakukan >shalat 5 waktu, bahkan tidak bisa berbahasa Arab. > >Begitulah, aturan2 yang kebanyakan diajarin oleh ulama sama sekali salah, sama >sekali tidak benar. Mereka mengatakan bahwa sebagai muslimin harus begini dan >begitu, padahal juga harus berbahasa Arab yang oleh mereka sengaja >disembunyikan. > >Menjadi muslimin kalo enggak bisa bahasa Arab janganlah mengaku muslimin, dan >itulah ajaran Islam yang sebenarnya, karena setiap muslimin harus bisa membaca >dan mengerti AlQuran, dan harus dari AlQuran yang berbahasa Arab. Artinya kalo >enggak bisa bahasa Arab sama saja bukan muslimin enggak ada excuse. > >Lalu kalo bahasa Arab anda anggap enggak wajib, apa bedanya shalat 5 waktu >juga >boleh dianggap enggak wajib, percaya Allah juga enggak wajib, mempersekutukan >Allah juga boleh tapi enggak wajib. > >Makanya, mikirlah, berpikirlah dengan akal yang sehat, bukan akal2an yang >penuh >tipu daya seperti yang diajarkan AlQuran dalam AlTaqya. > >Ny. Muslim binti Muskitawati. > >
