Salam, 
Kok tidak mengerti bahwa Indonesia bukan negara maju.
Soal kompor gas saja banyak yang meledak padahal sama2 bangsa Melayu seperti 
Malaysia dan Singapura, no problem.Semuanya karena bangsa belum maju sehungga 
terjadi  MANIPULASI tabung( oplosan),slang dan regulator yang dikorupsi 
kwalitasnya.Apalagi mau berjalan mundur ke 1500 tahun yang lalu.Alangkah 
indahnya, bukan? 

Wasalam,
Wal Suparmo

--- Pada Jum, 23/7/10, devi yuniarti <[email protected]> menulis:


Dari: devi yuniarti <[email protected]>
Judul: Re: Bls: -:: Milist NB::- Di-negara2 Maju, Label "Halal" Tidaklah Wajib 
!!!
Kepada: [email protected]
Tanggal: Jumat, 23 Juli, 2010, 10:45 AM


  







...........

--- On Mon, 7/19/10, Wal Suparmo <wal.suparmo@ yahoo.com> wrote:


From: Wal Suparmo <wal.suparmo@ yahoo.com>
Subject: Bls: -:: Milist NB::- Di-negara2 Maju, Label "Halal" Tidaklah Wajib !!!
To: Nongkrong_Bareng2@ yahoogroups. com
Date: Monday, July 19, 2010, 5:55 AM


  






Salam, 
Singkat kata hanya cara untuk mendapatkan fulus sebanyak2nya saja.

Wasalam,
Wal Suparmo

--- Pada Sen, 19/7/10, muskitawati <muskitawati@ yahoo.com> menulis:


Dari: muskitawati <muskitawati@ yahoo.com>
Judul: -:: Milist NB::- Di-negara2 Maju, Label "Halal" Tidaklah Wajib !!!
Kepada: Nongkrong_Bareng2@ yahoogroups. com
Tanggal: Senin, 19 Juli, 2010, 6:40 PM


  


Di-negara2 Maju, Label "Halal" Tidaklah Wajib !!!

Disemua negara maju, ada kalanya pabrik makanan menuliskan label "halal" pada 
produksinya padahal tidak ada MUI. Jadi label "halal" itu bebas mau ditulis 
boleh dan tidak ditulis juga boleh tidak dikenakan biaya tambahan sebagai 
pungli label "halal".

Lain lagi di Indonesia, satu2nya negara didunia yang memaksa setiap pabrik 
makanan untuk menuliskan "Halal" pada produksinya dan untuk tulisan ini harus 
membayar fee ke MUI sehingga harga produksinya jadi lebih mahal.

> Wal Suparmo <wal.suparmo@ ...> wrote:
> Selama fabrik itu memproduksi keju
> yang tidak berasal dari susu babi
> tetapi dari susu sapi, kejunya halal.

Aturan dalam Islam, semua makanan yang diolah harus dibacaain dulu dengan 
"bismillah" agar halal. Jadi kalo keju-nya meskipun bukan dari bahan babi 
tetapi tidak dibacain "bismillah" sering dianggap tidak halal.

Tetapi nabi Muhammad bilang, cukup sewaktu mau dimakan aja dibacain "bismillah" 
dan makanan tsb jadi "halal", bahkan racun juga jadi "tawar".

Dizaman Muhammad belum ada pabrik makanan, jadi tidak perlu diberi tulisan 
halal karena masyarakat juga tidak ada yang bisa membaca tulisan.

Beda dizaman sekarang, pabrik makanan dipaksa membayar label halal itu kepada 
penguasa Islam.

Tetapi di Inggris, penguasanya bukan Islam, jadi kalopun mau diberi label Halal 
tidak dikenakan tambahan biaya alias gratis.

Lain lagi di Indonesia, setiap supermie yang ada tulisan halal-nya harus 
membayar fee kepada MUI. Akibatnya harga supermie di Indonesia jadi lebih mahal 
karena ongkos label "halal" ini.

Seharusnya kalo mau fair, supermie dibolehkan menjual dua macam bungkus dimana 
yang satu ada label halal dengan harga lebih mahal, dan satu lagi supermie yang 
lebih murah yang tidak ada label "halal"nya, dan kemudian dibandingkan mana 
yang lebih laku. Karena isi kedua supermie itu sebenarnya sama bahannya yang 
beda cuma bungkusannya aja yang ada tulisan "halal" dan tidak ada tulisan 
halalnya. Dan yang bertulisan halal dipaksa bayar fee kepada MUI, se-olah2 
tanpa MUI semua makanan menjadi "haram".

Ny. Muslim binti Muskitawati.










Kirim email ke