Menakar Urgensi Partai Politik Kristen

Baca juga artikel politik lainnya: 
INDONESIA MENGGUGAT JILID II? (Bag 2)INDONESIA MENGGUGAT JILID II?Platform 
Presiden 2009 (Artikel 1)Platform Presiden 2009 (Artikel 2)Platform Presiden 
2009 (Artikel 3)Platform Presiden 2009 (Artikel 5-Jawaban Kwik Kia...Platform 
Presiden 2009 (Artikel 4)INDONESIA MENGGUGAT JILID II?  (Bag 9-End)INDONESIA 
MENGGUGAT JILID II?  (Bag 8)INDONESIA MENGGUGAT JILID II?  (Bag 7)INDONESIA 
MENGGUGAT JILID II?  (Bag 6)INDONESIA MENGGUGAT JILID II?  (Bag 5)INDONESIA 
MENGGUGAT JILID II?  (Bag 4)INDONESIA MENGGUGAT JILID II?  (Bag 3)
Serba Serbi 17 Agustus
Negara yang Diberkati dan Dikutuk Tuhan
ORANG KRISTEN TIDAK PERLU IJIN TEMPAT IBADAH
Kangen JK yang Cepat dan Tegas
PETA POLITIK INDONESIA: Blok S, M dan A
GOLPUT KARENA TERPAKSA & Serba-serbi
MERAH KUNING HIJAU DI LANGIT YANG BIRU
Perda Syariah Selama Pemerintahan SBY dan Jusuf Kalla
SELAMAT SBY-BOED PEMENANG PILPRES
Download Buku Terbaru Kwik Kian Gie
MENGURANGI KEJENUHAN PEMILU DG MENGURANGI JUMLAH P...

Kehadiran Partai Politik (parpol) Kristen di tengah-tengah bangsa 
Indonesia mengalami satu proses dinamika yang panjang. Namun, mengacu 
pada masa sekarang, kehadiran Partai Politik Kristen telah menjadi 
polemik tersendiri karena mengalami pro dan kontra di kalangan 
masyarakat Kristen. Parpol Kristen begitu dirindukan tetapi sekaligus 
juga di benci.

  

Masyarakat yang pro atau yang mendukung mengajukan
 segudang argumen demi membenarkan dukungannya, diantaranya, Parpol 
Kristen menurut mereka adalah sebuah keniscayaan dan mutlak diperlukan 
bangsa ini. Mengapa? Beberapa faktor yang dikemukakan adalah bahwa 
selama ini aspirasi Kristen tidak tersalurkan lewat partai lain dan terjadi 
marjinalisasi perannya. Juga fakta
 sekarang menjamurnya UU dan perda-perda yang berbau agamis tertentu 
yang menggerogoti empat pilar bangsa yakni UU 1945, Pancasila, NKRI, dan
 Kebhinekaan. Singkatnya kelompok pro ini berkesimpulan parpol Kristen yang 
kuat adalah jawaban semua itu.

  

Sebaliknya,
 disisi lain. Kelompok masyarakat yang menentang berpandangan bahwa 
kehadiran parpol Kristen adalah sebuah kemunduran. Itu sama saja tidak 
nasionalis karena cenderung jadi partisan dan sektarian. Bagi mereka, 
pengalaman selama empat pemilu, 1955, 1999, 2004 dan 2009 telah menjadi 
contoh kegagalan parpol Kristen. Satu-satunya solusi adalah menyalurkan 
aspirasi ke partai nasionalis. Dengan cara itu perkuat empat pilar.

  

Dalam
 rangka merayakan sewindu Majalah Gaharu, majalah ini mencoba menggagas 
sebuah Diskusi Panel tentang sebuah kajian ilmiah, perlu tindaknya 
sebuah partai politik Kristen di Indonesia. Diskusi ini mengusung tema, 
“Urgensi Partai Politik Kristen dalam Konstelasi Politik Indonesia abad 21.” 
Diskusi ini menghadirkan pembicara dari berbagai latar partai seperti ML Denny 
Tewu, Milton Pakpahan dan Boni Nababan,
 dan diskusi dipandu Putra Nababan. Diskusi yang dihadiri lebih dari 
seratus orang dari aktivis, mahasiswa, tokoh agama, wartawan itu 
berlangsung dengan seru dan ramai. Terjadi debat pendapat yang sengit 
antara narasumber dengan peserta diskusi. Bagaimana pandangan mereka 
tentang seberapa penting kehadiran partai Kristen di Indonesia? Apa 
aspek-aspek yang mendasari dan apa keuntungan bagi umat Kristen itu 
sendiri? Sebaliknya jika tidak penting, bagaimana dan kemana umat 
Kristen menyampaikan aspirasi perjuagannya?

  

ML Denny Tewu, Ketua 
Umum PDS Munaslub Manado berpandangan bahwa kebutuhan akan parpol 
Kristen sangat penting dalam memperjuangkan aspirasi Kristen. Menurutnya
 berbagai produk UU di DPR dan termasuk menjamurnya perda-perda syariah 
tidak mencerminkan keadilan dan pluralitas Indonesia. Nah kehadiran 
parpol Kristen, menurut Denny disini perlu untuk mengawal dan menjaga 
empat pilar bangsa. “Kami (PDS) telah bersuara di parlemen dan terbukti 
ketika masih di Senayan berhasil memperjuangkan kepentingan komunitas 
Kristen dan komunitas lainnya,” tutur lulusan program doktor Universitas
 Pajajaran Bandung Ini.

  

Lebih jauh Denny mengungkapkan, empat 
pilar bangsa sekarang mulai diguncang. Bahkan tidak mungkin kalau acuan 
demokrasi bisa menguburkan empat pilar sendiri jika melihat konstelasi 
pertimbangan politik di DPR. Denny memberi contoh hasil penelitian 
litbang Kompas yang menyatakan 80 persen masyarakat khususnya anak muda 
tidak suka Pancasila. “Pancasila secara ideologi tidak ada lagi berganti
 dengan ideologi agama. Ini pengorbanan secara sebuah generasi yang akan
 hilang,” ungkapnya kuatir sembari menguraikan sebuah data bahwa 25 triliun 
dana departeman agama hanya 25 milyar di peruntukan bagi Kristen. Ini
 menurut Denny sebagai ketidakadilan lain yang perlu dimonitor. Anggaran
 keadilan seharusnya berlaku proporsional. Masalah lain, UU Perbankan 
Syariah sebenarnya tidak penting, kalau itu bagian produk silahkan tidak
 bisa dihalangkan tetapi tidak harus UU sendiri. Disinilah menurut 
Denny, pentingnya peran parpol Kristen. “PDS sudah melakukan itu di DPR 
dan terbukti Bimas Kristen mendapat tambahan. Hal seperti ini tidak 
mungkin diperjuangkan parpol nasionalis lain, sekalipun orang Kristen 
banyak disana,” gugatnya.

  

Pandangan yang berbeda diungkapkan 
Milton Pakpahan. Politisi Demokrat yang juga anggota DPR RI ini lebih 
mengajak menelaah kebelakang sejarah perjalanan bangsa. Tahun 1908 
hingga 1928 adalah bicara soal kesatuan. Kita tidak terjebak untuk 
menerima minoritas. Jadi tidak harus menerima minoritas di DPR. Alumni 
ITB ini lebih menerima keberadaan politisi Kristen berkarya di DPR dan 
tidak harus partai Kristen. Menurutnya tahun 1971-1999 di DPR saja tidak
 ada partai Kristen tetapi banyak politisi Kristen yang bisa mengemban 
tugas menyampaikan aspirasi itu.

  

“Era 2009-2014 ini meski tidak 
ada partai Kristen di Demokrat sendiri ada 20 orang atau  sekitar 
sekitar 15 orang Kristen bahkan wakil ketua partai kita juga orang 
Kristen,” tukas anggota DPR Partai Demokrat dari daerah pemilihan Papua 
ini. “Saya mewakili Papua, yang kebetulan batak Kristen yang lahir di 
Jakarta. Saya ditugasi untuk memperjuangkan Papua. Kita jelas mewarnai 
mereka dengan membawa panji-panji Kristen,” kilahnya.

  

Keberadaan 
politisi Kristen di partai nasionalis, kata Milton, justru sangat 
penting. Melalui lobi dan berjuang dengan anggota separtai yang bukan 
Kristen, memperjuangkan penghapusan peraturan atau perda-perda yang 
tidak sesuai UUD 1945. “Perjuangan seperti ini lebih elegan dan lebih 
maksimal hasilnya,” tambahannya sembari menambahkan keberadaan mereka di
 partai bisa memperkuat sebagai jangkar di tengah, tidak ditarik ke kiri
 atau ke kanan. Lebih jauh, Milton malah menganjurkan agar orang Kristen
 berusaha berjuang dari semua parpol inklusif. “Sekarang PKS aja 
terbuka, kenapa kita coba masuk ke sana. Di sana kita bisa berperan 
lebih. Di pegunungan Papua sana, ada juga anggota dewan Kristen dari 
PKS,” tukasnya memberi contoh nyata.

  

Pendapat ini tentu saja 
disanggah oleh Denny Tewu. Menurutnya, politisi kristen di partai 
manapun, termasuk nasionalis seperti PD, PDIP dan Golkar, kebijakan partai amat 
tergantung kepada ketua partainya.
 “Contoh kecil saja lihat pembakaran gereja, mana ada bisa dibicarakan 
di partai-partai tertentu yang banyak kristennya sekalipun, ini 
menandakan kebijakan tergantung ketuanya. Beda dengan PDS atau partai 
kristen sebelumnya, walau sedikit di DPR mereka langsung menanggapi 
dengan serius,” ujar lulusan Fakultas Universitas Sam Ratulangi ini 
mencoba mementahkan argumen Milton.

  

“Perusakan rumah ibadah, 
masalah ijin, perlakuan diskriminatif dan sebagainya menjadi tantangan 
dan menjadi bagian dari kita bersama. Disini tidak hanya politisi tetapi
 juga pengamat, pers, LSM dan lainnya. Kuncinya lebih banyak bekerja 
dari orang lain,” timpal Milton mencoba memberikan pendapatnya.

  

Pendapat
 berseberangan kedua politisi kristen berbeda partai ini coba 
dijembatani pandangan Boni Hargens. Pengamat politik Universitas 
Indonesia ini lebih memandang dari sisi obyektifitas ilmiahnya. Apakah 
perlu partai kristen? “Bagi saya cara berpolitik yang baik adalah 
melampaui simbol. Dia harus berangkat dari standar nilai-nilai yang 
sama. Yang penting yang harus diperjuangkan universal itu,” tegasnya 
menanggapi paparan kedua narasumber lainnya.

  

“Dosa pemerintah terbesar adalah tidak peduli dengan masalah sosial.
 Sekian rumah ibadah dirusak oleh sekelompok orang yang anarkis 
dimana-mana. Seakan-akan ini film-film tontonan di layar televisi. 
Setelah adegan itu dibiarkan saja. Buat saya itu bukan kepribadian 
seorang pemimpin,” kritiknya tajam sembari menyayangkan masalah 
pluralisme yang makin menguatirkan sepeninggal Gus Dur.

  

Jika pertanyaannya: efektifkah keberadaan parpol kristen? Sebetulnya
 yang sedikit, kalau kita saling menonjolkan perbedaan, disana sama saja
 kita memperlihatkan warna kental masing-masing dan ini tidak 
menyelesaikan masalah, begitu katanya. Misalnya partai Hindu, Kristen 
ataupun Cina, ini akan membuat tercapainya mimpi pluralisme akan sulit. 
Boni Hargens mengutip pandangan Arnold Toinbee, yang mengatakan 
nasionalis akan menguat jika ada musuh dari luar. Jika masing-masing 
akan memperkuat identitas kelompok sendiri disana. Masing-masing akan 
saling unjuk gigi. Sesuai teori itu, keberadaan itu akan tajam dan pada 
gilirannya akan melahirkan ruang permusuhan.

  

“Saya mau bilang 
bukan partai subtansial, tapi bagaimana orang kristen harusnya bicara 
memberikan kontribusi untuk membangun bangsanya. Karena antara misi 
kekristenan dan pribadi, dan juga misi kekuasaan itu sulit dibedakan. 
PDS, Partai Katolik dan lainnya, dimata saya tidak melakukan sesuatu 
yang istimewa selama ini,” kritiknya. Menanggapi ini, Denny mengakui ada
 perbedaan harus didialogkan.

  

Kekristenan itu seperti ini lho dan
 harus disosialisasikan. Keberadaan partai kristen menurutnya menjadi 
penting karena untuk memperjuangkan aspirasinya. “Lebih muda lewat pintu
 sendiri daripada pintu orang lain. Faktanya memang begitu kok,” 
ujarnya. Selain itu, SDM kita juga bisa ditampung. Selama ini, kader 
GMKI dan GAMKI susah mendapat tempat di partai nasionalis.

  

Namun Milton justru lebih melihat pentingnya check and balance. “Saya 
kembalikan ke voters in human, mereka yang menentukan dan punya hak suara. 
Mereka akan melihat semua partai dan apa yang sudah dilakukan. PDS sendiri 
masih punya 200 wakil rakyat di daerah 
 mereka harus memberikan warna jelas sehingga mereka bisa bangkit kelak 
bisa menuju Senayan,” ujarnya diplomatis menantang PDS membuktikan diri 
ke pemilihnya. Milton menghormati hak itu, akan tetapi baginya tetap 
perjuangan itu tidak hanya satu rumah harus lebih membuka diri terhadap 
partai nasionalis. “PAN dan PKS menyatakan inklusif, kenapa kita gak 
coba, kan lebih baik nantinya kan?” tantangnya sembari mengingatkan 
dengan hanya menuju satu partai itu sama merusak ekosistem 
ke-Indonesia-an.

  

Mengacu pada latar belakang sejarah, demikian 
Hargens lebih jauh menguraikan, bahwa 9 partai pada pemilu 1971 
melakukan fusi, berdasarkan kelompok alirannya yakni agamis dan 
nasionalis. Menariknya Parkindo dan Partai Katolik waktu itu tidak mau 
dikelompokkan ke PPP atau kelompok agamis (kanan) tetapi mereka memilih 
bergabung dengan PDI kelompok paham nasionalis. Menurut Boni Hargens, 
ini seharusnya mencerminkan bahwa sikap kristen sejak dulu memang 
condong nasionalis. Identitas itu mampu tidak, dijaga sampai kini?

  

“Saya
 melihat partai Demokrat terlalu ke kanan. PDIP yang murni partai 
tengah. Itu yang benar. Coba ditimang kalau benar ke depannya, PBR akan 
membubarkan diri dan bergabung dengan Golkar di bawah Ical lalu juga PPP
 beralih ke Golkar, pertanyaannya adalah bagaimana dengan nasib PDS dan 
PKS? Apa akan memikirkan PDKS (gabungan keduanya), tentu sulit bukan? 
Partai agama apapun kita terima semua sah secara politik, namun secara 
alamiah ada seleksi alam nantinya. Nanti partai akan mengerucut ke 4-5 partai. 
Partai yang tidak bisa eksis pasti akan mati muda.

  

“Saya
 kira, jika terjadi pengerucutan seperti itu solusinya mau tidak mau PDS
 ke depan harus berafiliasi ke PDIP di tingkat pusat, dengan demikian 
mereka lebih konsentrasi di daerah-daerah yang memang khusus basisnya. 
Artinya PDS akan leading sebagai
 partai lokal, seperti terjadi di Aceh. Itu sebagai satu jalan keluar 
yang perlu dipikirkan petinggi PDS ke depan,” himbaunya memberikan 
analisa.(Sumber: Milis)

 

DUKUNG JUGA DALAM DANA KE BANK CENTRAL ASIA, 
KANTOR CABANG UTAMA DAAN MOGOT MELALUI ACCOUNT NOMER 198 3023 600 ATAS 
NAMA PARTAI DAMAI SEJAHTERA

  

 Mohon maaf, nama saya Sembah Sujud, karena saya memang suka menyembah dan 
bersujud.

  


 "Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu" 

  Markus 1:4 

  


Dede Wijaya
TOKO BUKU ROHANI DIGITAL
http://kristen-fundamental.blogspot.com
http://www.kristenfundamental.co.cc
http://dedewijaya.blogspot.com
http://dedewijaya83.blogspot.com
http://dedewijaya.multiply.com
http://dedewijaya83.multiply.com
http://dedewijaya.wordpress.com
http://www.webkristiani.co.cc
http://www.kompasiana.com/
http://gbiimalioboro.wordpress.com/


      

Kirim email ke