PERNYATAAN
SIKAP
PERHIMPUNAN
RAKYAT PEKERJA
Nomor:
269/PS/KP-PRP/e/VIII/10
Usut
tuntas kasus penembakan terhadap nelayan di Kepulauan Walea!
Neoliberalisme
semakin menyingkirkan rakyat!
Salam
rakyat pekerja,
Citra
Kepolisian RI sebagai pengayom masyarakat kembali tercoreng. Demi
kenyamanan para pemilik modal, Kepolisian Indonesia rela dan tega
untuk membunuh rakyatnya sendiri. Hal ini yang terjadi di Kepulauan
Walea, Sulawesi Tengah. Seorang nelayan warga Desa Tanjung Jepara,
Banggai yang bernama Robby, berusia 14 tahun, tewas di tempat karena
kepalanya tertembus peluru seorang aparat kepolisian dari Satuan
Pengamanan Kota (Samapta) Walea Kabupaten Tojo Una-una.
Hal
ini bermula ketika beberapa nelayan dari Desa Tanjung Jepara,
Kecamatan Pagimana, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah hendak mencari
ikan di Kepulauan Walea pada tanggal 22 Agustus 2010 lalu. Rombongan
nelayan ini kemudian harus menginap di suatu pulau di Kepulauan Walea
karena mendapatkan izin dari Kepolisian setempat. Setelah mendapatkan
izin dari Kapolsek Dolong untuk melakukan penangkapan ikan, maka
nelayan-nelayan tersebut mulai menjalankan misinya untuk mencari
ikan. Izin yang diberikan oleh Kapolsek adalah selama 2 hari dan
didampingi oleh seorang anggota TNI yang bernama Komda Rusdi Mou.
Namun
selang 3 jam, saat rombongan nelayan sedang melakukan aktivitas
penangkapan ikan, kapal mereka kemudian didatangi sebuah speedboat
yang ditumpangi oleh 2 aparat kepolisian dari Polsek Walea Besar.
Kedua aparat kepolisian tersebut menggunakan speedboat dari PT
Walea (sebuah perusahaan asing yang mengelola tempat wisata) di
daerah tersebut. Speedboat yang mereka tumpangi berusaha
mengejar, namun salah seorang aparat kepolisian tersebut mengacungkan
senjata laras panjang. Tanpa memberikan tembakan peringatan, polisi
tersebut kemudian menembakkan senjatanya ke kapal nelayan. Seorang
nelayan yang bernama Robby langsung tersungkur bersimbah darah,
karena peluru tersebut menembus kepalanya. Setelah penembakan
tersebut, speedboat tersebut kemudian bergegas kembali menuju
PT Walea, namun tanpa melihat kondisi kapal nelayan yang mereka
tembak tersebut.
Namun
setelah kejadian tersebut dilaporkan oleh keluarga korban ke pihak
kepolisian, hingga saat ini tidak ada satupun tindakan dari Polsek
Pagimana untuk menindak aparat kepolisian yang telah membunuh nelayan
yang berusia 14 tahun tersebut. Pihak kepolisian juga tidak pernah
datang untuk bertemu dengan keluarga korban. Pihak kepolisian hanya
menitipkan uang duka untuk keluarga korban. Pengusutan yang dilakukan
oleh pihak kepolisian Pagimana hanya menanyakan 7 orang saksi yang
berada dalam satu kapal dengan korban melalui layanan pesan
singkat/sms.
Hal
ini kemudian menjelaskan beberapa hal. Pertama, aparat
kepolisian memang digunakan jasanya untuk menjadi tameng atau anjing
penjaga perusahaan asing yang bernama PT Walea. Aktivitas pencarian
ikan yang dilakukan oleh para nelayan di Kepulauan Walea, yang juga
dijadikan daerah wisata oleh PT Walea, tentunya telah mengganggu
kenyamanan “usaha” PT Walea. Karena terganggu kenyamanannya, maka
PT Walea meminta aparat kepolisian untuk mengusir para nelayan. Namun
pengusiran yang dilakukan oleh aparat kepolisian akhirnya menyebabkan
kematian bagi seorang nelayan.
Kedua,
tindakan pengusutan yang dilakukan oleh pihak kepolisian menunjukkan,
bahwa aparat kepolisian tidak ingin mengusut tuntas kasus ini. Hal
ini tentu saja akan menyebabkan PT Walea tersangkut dalam kasus ini,
karena penembakan terhadap nelayan tersebut menggunakan speedboat
milik PT Walea.
Ketiga,
peristiwa di atas semakin memperjelas bahwa neoliberalisme semakin
mencekik, menyingkirkan, memiskinkan, dan bahkan membunuh para rakyat
pekerja. Demi pengerukan keuntungan bagi para pemilik modal, maka
mereka tidak segan-segan untuk membunuh rakyat pekerja yang menganggu
kenyamanannya.
Berdasarkan
fakta kases di atas, kami dari Perhimpunan Rakyat Pekerja menyatakan
sikap:
Mengutuk
penembakan dan pembunuhan yang dilakukan oleh aparat kepolisian dari
Samapta Walea Kabupaten Tojo Una-una.
Mendesak
dilakukannya pengusutan secara tuntas kasus penembakan terhadap
nelayan warga Desa Tanjung Jepara, Kecamatan Pagimana tersebut, yang
terjadi di lokasi wisata Kepulauan Walea.
Selama
aparat penyelenggara negara bertekuk lutut di bawah kekuasaan
pemilik modal, maka kekerasan yang dilakukan oleh aparat
penyelenggara negara akan terus berlangsung. Peristiwa yang terjadi
di Kepulauan Walea tersebut bukanlah kejadian pertama kali yang
dilakukan oleh aparat keamanan, demi memberikan keamanan dan
kenyamanan kepada para pemilik modal.
Neoliberalisme
telah terbukti gagal dalam mensejahterakan rakyat, dan hanya dengan
SOSIALISME lah maka rakyat pekerja akan sejahtera
Jakarta,
28 Agustus 2010
Komite
Pusat
Perhimpunan
Rakyat Pekerja
(KP-PRP)
Ketua
Nasional
Sekretaris
Jenderal
ttd.
(Anwar
Ma'ruf)
ttd.
(Rendro
Prayogo)
filtered {margin:0.79in;}P {margin-bottom:0.08in;}-->___*****___Sosialisme
Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja!
Sosialisme Solusi Bagi Krisis Kapitalisme Global!
Bersatu Bangun Partai Kelas Pekerja!
Komite Pusat
Perhimpunan Rakyat Pekerja
(KP PRP)
JL Cikoko Barat IV No. 13 RT 04/RW 05, Pancoran, Jakarta Selatan 12770
Phone/Fax: (021) 798-2566
Email: [email protected] / [email protected]
Website: www.prp-indonesia.org