Sony Ericsson W 200i adalah salah satu ponsel yang setia menemani saya untuk
berkomunikasi dengan keluarga di Bekasi dan Surabaya.
Alasan saya membeli ponsel ini waktu itu karena musik. Saya memang sangat
suka mendengarkan musik jika tidak sedang ada aktivitas rutin. Sejak kecil saya
memang sudah akrab dengan musik karena aktif di gereja sebagai paduan suara.
Karena sering mendengarkan banyak lagu-lagu, sejak kelas 4 SD saya banyak
hapal lagu-lagu The Beatles, Queen, dan oldies barat lainnya. Kelas 5 SD, saya
belajar piano dan gitar di gereja diasuh oleh seorang romo.
Uang jajan yang diberikan bunda, tidak pernah saya pergunakan dan saya
tabung. Kelak, saat kelas 1 SMP, untuk kali pertama saya bisa beli kaset The
Beatles. Albumnya, please-plese me.. Wah seneng banget rasanya bisa beli kaset
dari uang jajan sendiri waktu itu. Maklum, saya berasal dari keluarga yang
serba pas-pasan.
Saya tidak pernah minder dengan teman-teman SMP yang rata-rata dari keluarga
berada. Saat itu, saya sudah fasih berbahasa Inggris. Termasuk bahasa ibu di
keluarga saya, Jawa dan Sunda. Jujur dari SMP saya sudah jatuh cinta dengan
pelajaran fisika. Nilai-nilai eksact selalu mendapatkan poin yang lumayan.
Musik selalu menjadi pelarian saya saat waktu senggang. Belajar pun tidak
bisa lepas dari musik. Ibu saya sampai ngomel-ngomel kalau saya nyetel
lagu-lagunya The Beatles dan Gary Moore. Tapi, omelannya bisa reda setelah saya
setelin Titik Sandora, Grace Simon, Ary Kusmiran, atau Dian Pisesha. Wah ngelu
rasane kepala saya kalau sudah begitu.. Tapi kalo gak begitu, bisa-bisa saya
gak dapet uang sangu.. aaah..
Hari-hari menjelang panggilan ke SMA Taruna Nusantara, Magelang, saya kena
tipes dan harus "bobo manis" selama 1 bulan. Ah kualat tenan aku iki.. lha wong
sebelumnya saya disumpahin sakit sama bunda karena ribut sama beliau, eh gak
taunya jadi kenyataan. Aku kuapok!! Nyesel.
Apes gara-gara musik!! tapi, saya ndak pernah kapok untuk ndengerin musik.
Lha wong wis kadung gandrung..
Dengan musik, saya bisa belajar, mengenang sesuatu, dan mensyukuri hidup.
Kebetulan di ponsel saya banyak tersimpan foto-foto Zahra semasa hidup. Jadi,
ya kalo kangen kadang saya buka. Aah.. wis-wis aku nggak tahan jadinya. Sedih,
ndan!!
Sejak menjadi mualaf dua tahun lalu, saya merasa sangat bahagia. Bahagia
sekali walaupun cobaan-cobaan berat selalu datang menyapa. Jadi, ya tidak hanya
musik yang saya simpan di ponsel, tapi lantunan ayat-ayat cinta Allah pun
senantiasa membuat saya nyaman untuk mendengarnya.
Tapi, hati-hati juga dengan musik karena bisa melenakan..
Lho kok?? Lha yok opo, wong saya pernah diceritain sama Pak Min, tetangga
saya di Sidoarjo, yang tidak dikasih "jatah" sama Bu Min gara2 pak Min terlena
ndengerin lagu dangdut favoritnya. Akhirnya, Bu Min ketiduran dan marah-marah
saat Pak Min mau minta "rapat terbuka".. tuuh khan.. Kapok gak, ndan? Pak Min
ngerayu-rayu, "bu, bu, ayo tho bu..."
Gimana reaksi bu Min? cuman ngelebatin tangannya thok.. akhirnya pak Min
ketularan apes saya juga hehehe...
Whatever-lah, pokoknya dengan musik kita bisa saling membagi ilmu dan
pengalaman.
jabat erat,
Pras
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo!
Answers