*Menu Bacaan Yang Menarik..*

    * AIDS, KONDOM-NISASI *
    * DAN SEKS BEBAS*

    Tanggal 1 Desember lalu baru saja Hari AIDS se-Dunia diperingati.
    Tahun ini, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)
    ditunjuk sebagai koordinator pelaksanaan peringatan Hari AIDS
    se-Dunia. Di Tanah Air, untuk pertama kalinya, sebuah kampanye
    berskala nasional bertajuk "Pekan Kondom Nasional" (PKN) 2007
    diselenggarakan, yaitu pada 1-8 Desember 2007. Tujuannya adalah
    untuk meningkatkan pemahaman dan penggunaan kondom sebagai salah
    satu cara untuk mengatasi Infeksi Menular Seksual (IMS), khususnya
    HIV. HIV adalah /Human Immuno Deficiency Virus/, suatu virus yang
    menyerang sel darah putih manusia dan menyebabkan menurunnya
    kekebalan tubuh sehingga tubuh mudah terserang (terinfeksi)
    penyakit. Adapun AIDS adalah /Acquired Immune Deficiency
    Syndrome/, yaitu timbulnya sekumpulan gejala penyakit yang terjadi
    karena kekebalan tubuh menurun akibat adanya virus HIV di dalam darah.
Selama sepekan, agenda PKN 2007 terdiri dari serangkaian kegiatan
    antara lain pembagian kondom gratis. "Pekan Kondom Nasional ini
    diharapkan akan meningkatkan lingkungan yang kondusif bagi
    penggunaan kondom," ungkap Christopher Purdy, Country Director DKT
    Indonesia. (/Aidsindonesia. or.id/, 6/11/2007).
Karena itu, di Semarang, misalnya, KPA Kota Semarang mengisi
    Peringatan Hari AIDS se-Dunia antara lain dengan membagikan 5.000
    kondom secara gratis kepada sopir dan kernet truk di Terminal
    Mangkang, Semarang. "Pembagian ini adalah bagian dari upaya
    antisipasi merebaknya HIV/AIDS di Kota Semarang," kata Ketua KPA
    Kota Semarang Soemarmo hari ini. Dia juga mengatakan, salah satu
    penyebab penyebaran epidemi HIV/AIDS sangat cepat karena belum
    optimalnya penggunaan kondom pada pelanggan wanita pekerja seks
    (WPS). (/Tempo.co.id/, 1/12/07).
Terkait dengan HIV/ADIS ini, data dari aktivis kesehatan
    menunjukkan bahwa hingga Maret 2007 ada 8.988 kasus AIDS dan 5.640
    kasus HIV di Indonesia. Yang mengejutkan, 57 persen kasus terjadi
    di usia remaja, yakni 15 tahun hingga 29 tahun. Sebagian besar,
    yakni 62 persen, terinfeksi narkotika yang menggunakan jarum
    suntik dan 37 persen dari seks tidak aman. (/Liputan6.com/,
    01/12/07).
    *
    Sebuah Kebohongan*

    Banyak orang di dunia yang yakin betul bahwa penularan virus HIV
    bisa ditangkal dengan penggunaan kondom. Berbagai kampanye dan
    argumentasi dikemukakan kepada khalayak agar mau menggunakan
    kondom sebagai 'senjata pamungkas' melawan virus ganas itu.
Keyakinan tersebut ternyata tidak beralasan. Prof. Dr. Dadang
    Hawari pernah menuliskan hasil rangkuman beberapa pernyataan dari
    sejumlah pakar tentang kondom sebagai pencegah penyebaran
    HIV/AIDS. Berikut sebagian pernyataan tersebut:

       1. Direktur Jenderal WHO Hiroshi Nakajima (1993), "/Efektivitas
          kondom diragukan/."
       2. Penelitian Carey (1992) dari /Division of Pshysical
          Sciences/, Rockville, Maryland, USA: /Virus HIV dapat
          menembus kondom/.
       3. Laporan dari Konferensi AIDS Asia Pacific di Chiang Mai,
          Thailand (1995): /Penggunaan kondom aman tidaklah benar/.
          Pada kondom (yang terbuat dari bahan latex) terdapat
          pori-pori dengan diameter 1/60 mikron dalam keadaan tidak
          meregang; dalam keadaan meregang lebar pori-pori tersebut
          mencapai 10 kali. Virus HIV sendiri berdiameter 1/250
          mikron. Dengan demikian, virus HIV jelas dengan leluasa
          dapat menembus pori-pori kondom.
       4. V Cline (1995), profesor psikologi dan Universitas Utah,
          Amerika Serikat, "/Jika para remaja percaya bahwa dengan
          kondom mereka aman dari HIV/AIDS atau penyakit kelamin
          lainnya, berarti mereka telah tersesatkan/."
       5. Hasil penelitian Prof. Dr. Biran Affandi (2000): Tingkat
          kegagalan kondom dalam KB mencapai 20 persen. Hasil
          penelitian ini mendukung pernyataan dari Prof. Dr. Haryono
          Suyono (1994) bahwa kondom dirancang untuk KB dan bukan
          untuk mencegah virus HIV/AIDS. Dapat diumpamakan, besarnya
          sperma seperti ukuran jeruk garut, sedangkan kecilnya virus
          HIV/AIDS seperti ukuran titik. Artinya, kegagalan kondom
          untuk program KB saja mencapai 20 persen, apalagi untuk
          program HIV/AIDS; tentu akan lebih besar lagi tingkat
          kegagalannya.

Prof. Dadang Hawari meyakini, dari data-data tersebut di atas
    jelaslah bahwa kelompok yang menyatakan kondom 100 persen aman
    merupakan pernyataan yang menyesatkan dan kebohongan.
    (/Republika/, 13/12/02).
    *
    Kondom-nisasi Mengkampanyekan Seks Bebas*
Jika sudah jelas penggunaan kondom tetap mengundang bahaya, lalu
    mengapa orang masih terus mengkampanyekan kondom? Tidak lain
    karena di balik kampanye kondom ada semacam pesan tersembunyi:
    "Bolehlah Anda melakukan hubungan seks bebas dengan siapa saja,
    asal memakai kondom." Kira-kira begitulah pesan dari kampanye
    penggunaan kondom.
Akibatnya, kampanye kondom bakal semakin meningkatkan pergaulan
    seks bebas. Hal ini pernah diungkapkan oleh Mark Schuster dari
    Rand, sebuah lembaga penelitian nirlaba, dan seorang pediatri di
    University of California. Berdasarkan penelitian mereka, setelah
    kampanye kondomisasi, aktivitas seks bebas di kalangan pelajar
    pria meningkat dari 37% menjadi 50% dan di kalangan pelajar wanita
    meningkat dari 27% menjadi 32% (/USA Today/, 14/4/1998).
Itulah sebabnya, pakar AIDS, R Smith (1995), setelah
    bertahun-tahun meneliti ancaman AIDS dan penggunaan kondom,
    mengecam mereka yang telah menyebarkan /safe sex/ dengan cara
    menggunakan kondom sebagai "sama saja dengan mengundang kematian".
    Selanjutnya ia merekomendasikan agar risiko penularan/penyebara n
    HIV/AIDS diberantas dengan cara menghindari hubungan seksual di
    luar nikah (/Republika/,/ /12/11/1995).
Namun demikian, orang-orang sekular, khususnya para pemuja HAM dan
    demokrasi, tentu lebih merekomendasikan untuk menebar kondom
    gratis ketimbang memberantas pergaulan bebas dan pelacuran.
    Mungkin pikir mereka, itu lebih manusiawi karena tidak melanggar HAM.
Berbagai konferensi tentang HIV/AIDS diselenggarakan di seluruh
    dunia. Namun, tak satu pun konferensi itu---yang bahkan di
    antaranya diprakarasai PBB---mengeluarkan rekomendasi untuk
    mencegah perilaku dan kehidupan seks bebas. Bulan Agustus lalu
    (19-23 Agustus 2007), misalnya, lebih dari 2500 orang dari 60
    negara di kawasan Asia dan Pasifik berkumpul dalam Konferensi
    Internasional AIDS Asia dan Pasifik (International Conference on
    AIDS in Asia and the Pacific, atau ICAAP) ke-8 di Colombo, Sri Lanka.

    Pertemuan selama empat hari ini mendatangkan berbagai pembuat
    kebijakan, pejabat pemerintah, pakar medis, akademisi, orang
    dengan HIV/AIDS (ODHA), pekerja komunitas dan media. Mereka
    membicarakan isu-isu seputar stigma dan diskriminasi, akses
    layanan bagi ODHA, pentingnya meyakinkan kembali para pimpinan
    politik untuk menepati janji mereka, serta memperluas layanan
    kesehatan bagi mereka yang terinfeksi HIV.

    Mereka juga saling bertukar pengalaman dan tantangan yang
    dihadapi, termasuk masalah hak asasi manusia, keamanan, gender dan
    seksualitas, serta keterlibatan ODHA yang lebih besar dalam
    program HIV/AIDS. Namun, tidak ada satu pun pembicaraan mereka itu
    mengarah pada akar penyebab penyebaran HIV/AIDS, yakni seks bebas
    (baca: zina). Padahal seks bebaslah penyebab utama merebaknya
    HIV/AIDS, di samping penyalahgunaan narkoba.
    *
    Akar Masalah dan Solusinya*
Mengapa perilaku dan kehidupan seks bebas sebagai penyebab utama
    penyebarluasan virus HIV/AIDS tidak mereka persoalkan? Alasan
    utamanya tentu karena perilaku seks bebas alias zina adalah salah
    satu perilaku yang dijamin dalam sistem demokrasi, sebagaimana
    yang diberlakukan di Indonesia saat ini. Di Indonesia, misalnya,
    salah satu buktinya adalah tidak adanya UU yang bisa menjerat
    pelaku perzinaan. Yang ada adalah pasal dalam KUHP yang terkait
    dengan delik pemerkosaan. Artinya, selama hubungan seks di luar
    nikah alias zina dilakukan suka sama suka maka hal itu tidak masalah.

    Wajar saja jika di Tanah Air lokalisasi pelacuran di berbagai
    tempat kerap dilegalkan, karena di sana transaksi seksual antara
    pelacur dan lelaki hidung belang memang dilakukan atas dasar suka
    sama suka.
Karena itu, satu-satunya solusi untuk mencegah penyebaran virus
    HIV/AIDS adalah dengan membuang demokrasi yang memang memberikan
    jaminan atas kebebasan berperilaku, termasuk seks bebas, sekaligus
    memberlakukan hukum Islam secara tegas, antara lain hukuman cambuk
    atau rajam atas para pelaku seks bebas (perzinaan). Allah SWT
    berfirman:

    ]ÇáÒøóÇäöíóÉõ æóÇáÒøóÇäöí ÝóÇÌúáöÏõæÇ ßõáøó æóÇÍöÏò ãöäúåõãóÇ
    ãöÇÆóÉó ÌóáúÏóÉò æóáÇó ÊóÃúÎõÐúßõãú ÈöåöãóÇ ÑóÃúÝóÉñ Ýöí Ïöíäö
    Çááåö Åöäú ßõäúÊõãú ÊõÄúãöäõæäó ÈöÇááåö æóÇáúíóæúãö ÇáÂÎöÑö[

    /Pezina wanita dan pezina laki-laki, cambuklah masing-masing dari
    keduanya seratus kali cambukan, dan janganlah rasa belas kasihan
    kepada keduanya mencegah kalian untuk (menjalankan) agama Allah
    jika kalian memang mengimani Allah, dan Hari Akhir. /(QS an-Nur
    [24]: 2).
Hukuman yang berat juga harus diberlakukan atas para pengguna
    narkoba. Sebab, di samping barang haram, narkoba terbukti menjadi
    alat efektif (mencapai 62%) dalam penyebarluasan HIV/AIDS.
Lebih dari itu, sudah saatnya Pemerintah dan seluruh komponen
    bangsa ini segera menerapkan seluruh aturan-aturan Allah (syariah
    Islam) secara total dalam seluruh aspek kehidupan. Hanya dengan
    itulah keberkahan dan kebaikan hidup---tanpa AIDS dan berbagai
    bencana kemanusiaan lainnya---akan dapat direngkuh dan ridha Allah
    pun dapat diraih.
    /Wallâhu a'lam bi ash-shawâb/. *[]*
    **

    KOMENTAR

    Dien Syamsuddin: *Pemerintah Harus Lepas dari Cengkeraman
    Kapitalisme* Global (/Eramuslim.com/, 4/12/07)./ Benar.
    Selanjutnya Indonesia harus menerapkan syariah Islam secara total
    dan menyeluruh./


Kirim email ke